• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Berita

“Jangan Bawa-bawa NU,” Kata Gus Fahrur Kepada Kiai Imaduddin

by Admin
19 April 2024
in Berita, KH Imaduddin al Bantani, Opini, Peristiwa, Pesantren, Sejarah
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Polemik nasab Ba’alawi yang dibongkar oleh Kiai Imaduddin Utsman Al Bantani mendapatkan sanggahan keras dari Ketua Harian PBNU Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi dalam debat panas di Padasuka TV dengan host Yusuf Mars yang tayang dikanal YouTube Padasuka TV dengan deskripsi DEBAT SERU! KH. IMADUDDIN VS GUS FAHRUR PBNU TAK BISA HENTIKAN POLEMIK NASAB HABIB HABAIB?

Sebelumnya banyak orang mengikuti tesis Kiai Imaduddin pasti faham bagi yang suka. Secara mengejutkan tesis Kiai Imaduddin menghentak diskursus keagamaan kalangan Islam tradisional Indonesia, yaitu kalangan warga Nahdliyyin. Tesisnya secara akademis nasab klan Ba’alawi terputus (muntaqi) dari jalur keturunan nabi Muhammad SAW.

Temuan tesis Kiai Imaduddin telah menimbulkan pro dan kontra. Mengingat kaum Ba’alawi yang tokoh-tokohnya di Indonesia disebut Habib kalau jamaknya orang biasa menyebut dengan Habaib dan sudah puluhan tahun diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Bukannya menjawab tesisnya Kiai Imad (panggilan Kiai Imaduddin Utsman Al Bantani), para tokoh Ba’alawi justru merespon dengan emosional.

Baca Juga

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Banten

Lepas Jalan Sehat Sarungan Hari Santri Nasional 2026 di Pandeglang, Andra Soni Tegaskan Peran Strategis Santri bagi Banten

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Respon penolakan terhadap tesis Kiai Imad datang juga dari Ketua Harian PBNU Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi. Gus Fahrur dalam argumen awalnya ketika ditanya oleh hostnya, “Gus Fahrur mengatakan mohon dihentikan polemik nasab.” Maka dijawab oleh Gus Fahrur, “Saya sudah mengikuti polemik ini hampir satahun, sudah setahun saya selalu melihat berseliweran di medsos terutama di WhatsApp, banyak sekali setiap hari sampah caci maki, kebencian, statmen – statmen yang menjurus ke arah rasisme, kebencian terhadap satu kelompok tertentu dan saya melihat ini sudah menjadi sesuatu yang menyemesta, digeneralisir, jadi semua orang habib itu dikarungi sebagai orang yang jahat, antek penjajah, antek apalah, antek ini dan menurut saya itu tidak sopan.”

Dari keterangan dari Gus Fahrur jelas bahwa beliau menolak tesis Kiai Imad, yang menganggap, “Landasan teori Kiai Imad aneh, salah dalam menggunakan metode penelitian dan menentukan objek penelitian. Intinya Kiai Fahrur menolak tesis Kiai Imad dan mengakui bahwa kaum Ba’alawi adalah keturunan Nabi Muhammad SAW.

Pada menit ke 54 Gus Fahrur berucap, jangan bawa-bawa nama NU untuk berkonflik ya, kalau anda ingin meneliti silahkan penelitian itu atas nama saudara Imaduddin, dan yang saya kritik mengapa memakai situsnya RMI Banten, itu juga tidak perlu. Saya ketua PBNU yang membawahi RMI.”

“Jangan bawa-bawa nama NU ya, NU tidak dalam posisi polemik ini.”

Oleh Kiai Imad statemen Gus Fahrur dijawab dengan ilmiah. “Saya berbicara tidak atas nama NU, Pak Fahrur juga tidak mewakili NU kan, kalau pendapat yang mewakili PBNU harus ada forumnya, bisa forum Muktamar atau Munas Alim Ulama atau forum Bahtsul Masail yang ditandatangani oleh Syuriah PBNU dan itu menjadi sebuah keputusan Nahdatul Ulama secara organisasi.”

“Seperti tesis saya yang membatalkan nasab Ba’alawi itu tidaklah mewakili NU, Ba’alawi itu sahih juga tidak ada dalam forum Muktamar NU. Sejak berdirinya NU 1926 sampai Muktamar terakhir di Lampung, tidak ada satupun Muktamar NU, keputusan bahwa Nasab dari Bani Ba’alawi ini sahih, ini tidak ada. Kalaupun ada narasi-narasi bahwa NU tidak pernah membatalkan ya karena memang NU juga tidak pernah mensahihkan. Mengapa Ulama-ulama tidak membatalkan, karena dari dulu belum ada ulama yang mensahihkan, misalnya Kiai Haji Hasyim Asy’ari mensahihkan juga tidak ada. Kita lihat dalam kitab-kitabnya Kiai Hasyim Asy’ari yang mensahihkan Bani Ba’alawi juga tidak ada. Apa benar ulama-ulama di luar negeri juga mensahihkan Ba’alawi? Dari abad ke 5,6,7,8,9 tidak ada yang menyatakan bahwa Bani Ba’alawi ini keturunan dari Baginda Nabi Muhammad SAW, itu tidak ada sama sekali, Pak Fahrur bisa dicek dalam kitab-kitab nasab dari abad ke 5 sampai abad ke 9. Disitulah titik kritis sebuah nasab sahih atau tidak di dalam rentang abad ke 5 sampai abad ke 9.”

“Sementara pengakuan bahwa Ba’alawi itu keturunan dari Baginda Nabi Muhammad SAW itu mulai ada sejak abad ke 9, yaitu dimulai dari Abu Bakar As Sakran Ali. Beliau keturunan Ba’alawi.”

“Yang jelas saya membuat tesis yang membatalkan nasab Ba’alawi tidak atas nama PBNU, saya juga pengurus PBNU.”

Yang menjadi pertanyaan penulis adalah Padasuka TV itu mengundang DR. KH. Ahmad Fahrur Rozi dan Kiai Imad itu sebagai pribadi atau sebagai pengurus PBNU. Karena jelas bertemunya Kiai Fahrur dan Kiai Imad akan menaikkan rating di PadasukaTV.

Karena ini Podcast menurut penulis ya atas nama pribadi, bukan atas nama organisasi NU.

Yang jelas polemik nasab Ba’alawi memang adanya di NU. Karena kaum Ba’alawi ini mendekati ulama-ulama dan warga Nahdliyyin.

Jadi dari podcast Gus Fahrur dan Kiai Imad kita terutama warga NU mulai berfikir, kira-kira mau ikut Gus Fahrur yang terus mencintai Habib sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau ikut Kiai Imad yang membatalkan kaum Ba’alawi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW tapi keturunan Ubaidillah. Atau Alawiyyin adalah Ba’alawi atau Bani Alawi (keturunan Alawi). Ba’alawi adalah nama keluarga bagi mereka yang memiliki jalur laki-laki kepada Alawi bin Ubaidillah.

Bagi yang ikut Kiai Imad semakin faham, bahwa kaum Ba’alawi itu bukan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Tapi yang sudah cinta mati kepada kaum Ba’alawi ya silahkan, yang menolak ya silahkan, itu bukan termasuk rukun Islam, seperti yang dikatakan oleh Gus Fahrur pada podcast tersebut.

Yang jelas Kiai Imad harus selalu ingat pada pesan Gus Fahrur, “jangan bawa-bawa NU.”

Padahal Gus Fahrur sendiri dalam podcast itu sering menyebut kalau dia pengurus PBNU, Ketua PBNU. Ya silahkan pembaca menyimpulkan sendiri.

Dari komen-komen di podcast menunjukkan bahwa masyarakat sudah cerdas, mana yang perlu diikuti dan mana yang tidak perlu diikuti.

Jadi kesimpulan penulis podcast antara Gus Fahrur dan Kiai Imad ini tambah seru. Opini pribadi Gus Fahrur dijawab secara ilmiah oleh Kiai Imad.

Kalau tidak percaya silahkan lihat dan dengar sendiri podcast tersebut di PadasukaTV.

Penulis: Nurul Azizah penulis buku Muslimat NU Militan Untuk NKRI.

Tags: ba alawiba alawi rungkadBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDzuriyyahDzuriyyah NabiegalitergenetikaGus Fahrurhabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsukemanusiaankesetaraanketua PBNUKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan RasulullahKRT. FAQIH WIRAHADININGRATmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsunasab rungkadPBNUpemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahya
ShareTweetShare
Previous Post

Peradaban Adiluhung Tradisi Islam Di Asia Tengah Di Bawa Oleh Sufi Agung Tarekat Kubrawiyah Al Hamadani Sayyid Husein Jamal-ad-Din Kubrawiyah Dan Putranya Sayyid Ibrahim Zainul Kubrawiyah/Ibrahim Samarqondi Ke Nusantara

Next Post

Pembelokan Sejarah NU

Related Posts

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
16

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

19 Oktober 2026
61

Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Banten

19 Oktober 2026
34

Lepas Jalan Sehat Sarungan Hari Santri Nasional 2026 di Pandeglang, Andra Soni Tegaskan Peran Strategis Santri bagi Banten

18 Oktober 2026
17

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
99

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
46

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
84

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
349

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
71

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
63
Next Post

Pembelokan Sejarah NU

Paling Banyak Dilihat

Opini

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

by Admin
20 Oktober 2026
16

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Islam UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah Rembang) Fenomena self-love yang mengisi...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Banten

Lepas Jalan Sehat Sarungan Hari Santri Nasional 2026 di Pandeglang, Andra Soni Tegaskan Peran Strategis Santri bagi Banten

Biografi Abah KH. Junaidi, Sang Fakih dari Jati

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25