Dr. Musthafa Sulaiman Abu al-Thayyib
(Doktor Asal Mesir dalam bidang sejarah Islam, dengan spesialisasi silsilah suku-suku Arab)
Bayangkan bahwa satu sel dari rongga mulut Anda mampu menentukan asal-usul antropologis Anda. Hal ini diidentifikasi melalui analisis kromosom-Y (Y-Chromosome) yang terdapat di dalam struktur genetik asam deoksiribonukleat (DNA).
Untuk memanfaatkan disiplin ilmu ini dalam merekonstruksi silsilah, sejarah, dan asal-usul populasi, berbagai lembaga ilmiah, akademisi, serta peneliti di banyak negara Arab dan dunia telah melakukan studi historis yang komprehensif. Ilmu genetika populasi ini telah berkembang pesat di dunia Barat dan global sejak sekitar sepuluh tahun lalu, ditandai dengan munculnya berbagai proyek, institusi, dan korporasi bioteknologi yang secara khusus berfokus pada bidang ini, termasuk di dunia Arab.
Dalam rangka menyelaraskan diri dengan perkembangan sains ini serta guna mempelajari sejarah, asal-usul, dan relasi bangsa Arab dengan populasi dunia lainnya, sejumlah peneliti dan pakar Arab mendirikan berbagai proyek genetika serta forum ilmiah. Melalui studi klasifikasi genetik ini, mereka berhasil mencapai temuan ilmiah yang signifikan. Mayoritas hasil studi tersebut menunjukkan konsistensi yang tinggi dengan catatan silsilah klasik (ilmu ansab) mengenai asal-usul, klasifikasi, serta hubungan eksternal bangsa Arab. Proyek-proyek ini melibatkan ratusan partisipan dari berbagai klan dan suku Arab terkemuka, baik dari klasifikasi keturunan Adnan maupun Qahthan, yang tersebar di seluruh kawasan Dunia Arab.
Berdasarkan hasil analisis genetik yang representatif dari suku-suku Arab saat ini, ditemukan bahwa mereka secara dominan terafiliasi ke dalam tiga garis keturunan paternal utama (haplogrup):
- Haplogrup J1 (Mutasi Genetik M267)
Haplogrup ini diklasifikasikan sebagai Garis Keturunan Suku-Suku Arab. Berdasarkan estimasi penanggalan genetik, haplogrup ini berusia sekitar 10.000 tahun. Wilayah Yaman diidentifikasi sebagai pusat persebaran utama atau konsentrasi tertinggi dari entitas etnis ini. Prevalensi haplogrup J1 di Yaman mencapai 70%. Sementara itu, frekuensi genetiknya tersebar di wilayah lain sebagai berikut:
• Populasi Palestina: 34% – 38,4%
• Populasi Suriah: 30%
• Populasi Aljazair: 35%
• Populasi Tunisia: 30%
• Populasi Arab Badui: meningkat hingga 65,6%
• Mencapai puncaknya pada komunitas Badui di Gurun Negev dengan persentase 82% (secara historis diketahui bahwa komunitas Badui Negev berasal dari suku-suku Arab murni).
• Etnis Oromo di Etiopia: 33,3%
• Populasi Mesir: mayoritas memiliki komponen genetik Arab yang lebih dominan daripada komponen Afrika sub-Sahara.
• Populasi Lebanon: 19%.
Seiring waktu, terjadi mutasi-mutasi baru (sub-klade) yang membagi haplogrup ini menjadi beberapa cabang filogenetik, seperti J1a, J1b, J1c, J1d, dan J1e. Fokus utama dalam konteks antropologi Arab saat ini adalah sub-klade J1e.
• Sub-klade J1e (Mutasi P58): Mayoritas populasi Arab dari trah Qahthan dan Adnan (termasuk konfederasi suku Adnaniyyun, Qudha’ah, dan mayoritas Qahthaniyyun) berada pada sub-klade ini. Komponen ini juga ditemukan pada populasi Yahudi (keturunan Ishaq), karena mereka berbagi leluhur patrilineal yang sama (common ancestor) dengan bangsa Arab. Berdasarkan kalkulasi perusahaan genetika Family Tree DNA (FTDNA), leluhur bersama tersebut hidup sekitar 5.000 tahun yang lalu, yang secara kronologis diasosiasikan dengan Nabi Ibrahim As., atau leluhur dekat sebelum era tersebut seperti Abir (Eber) atau Hud As.
• Para peneliti saat ini sedang mengidentifikasi mutasi spesifik hilir yang dapat memisahkan cabang-cabang internal tersebut secara definitif. Sub-klade ini diyakini sebagai Garis Keturunan Ibrahim (Abrahamic Lineage), yang juga merupakan garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Temuan ini memberikan konfirmasi ilmiah terhadap silsilah suku Qahthan dan keterhubungannya dengan jalur Ismail As., selaras dengan hadis Nabi SAW kepada klan dari suku Qahthan (Aslam dan Anshar): “Memanah lah kalian, wahai keturunan Ismail, karena sesungguhnya leluhur kalian adalah seorang ahli panah.” (HR. Bukhari). Serta hadis dalam Shahihain dari Abu Hurairah yang menyapa kaum Anshar dengan merujuk pada Hajar (ibu Ismail As.): “Maka itulah ibu kalian, wahai Bani Ma’ al-Sama'”.
• Di sisi lain, terdapat suku-suku kuno dari peradaban Saba’, Himyar, dan Ma’in yang secara silsilah tidak bertemu langsung pada Ismail, namun memiliki kedekatan genetik yang sangat rapat karena seluruhnya berada dalam klade besar J1e.
- Haplogrup J2 (Mutasi Genetik M172)
Haplogrup ini memiliki prevalensi sekitar 15% di antara suku-suku Arab. Komponen ini diidentifikasi sebagai representasi dari populasi Arab Kuno di Semenanjung Arabia. Sebagai bagian dari garis keturunan Semit, haplogrup ini juga terkonfirmasi memiliki konsentrasi tinggi di wilayah Irak Utara, populasi Kurdi, dan Anatolia, dengan hipotesis migrasi awal yang berasal dari wilayah Irak Selatan.
- Haplogrup E1b1
Haplogrup ini memiliki estimasi frekuensi sekitar 15% pada populasi suku Arab, dan dihipotesiskan merepresentasikan salah satu komponen populasi Arab kuno.
Selain tiga komponen utama di atas, terdapat beberapa garis keturunan lain yang terdeteksi dalam genom populasi Arab dengan persentase minoritas, seperti Haplogrup R, T, dan G.
Detail Percabangan dan Distribusi Filogenetik Populasi Global
A. Haplogrup A
Garis keturunan ini bersifat endemik dan terbatas di benua Afrika. Haplogrup A terbagi menjadi empat cabang utama: A1, A2, A3, dan *A (simbol asteris * menunjukkan paragrup atau klade yang belum teridentifikasi mutasi spesifik turunannya).
• Cabang A1 memiliki mutasi penanda M31 (huruf ‘M’ merupakan singkatan dari Mutation).
• Cabang A2 dicirikan oleh klaster mutasi seperti M6, M23, M49, M71, dan lainnya. Haplogrup ini tersebar di Afrika Timur (khususnya Etiopia dan Sudan), serta ditemukan dalam frekuensi rendah di Afrika Barat dan Selatan, serta sekitar 1,1% pada populasi Afro-Amerika.
• Mayoritas Yahudi Beta Israel (Falasha) terafiliasi dengan haplogrup ini (41%), diikuti oleh etnis Amhara di Etiopia (14,6%), etnis Oromo (10,3%), dan mencapai frekuensi tertinggi di Sudan sebesar 42,5%. (Referensi: Underhill et al. 2000, Cruciani et al. 2002, Luis et al. 2004).
B. Haplogrup B
Terbagi menjadi sub-klade *B, B1, dan B2. Cabang B1 dan B2 terbagi lagi menjadi sub-klade yang lebih spesifik. Garis keturunan ini secara filogenetik tidak bermigrasi keluar dari benua Afrika, dan merepresentasikan sekitar 2,3% dari total populasi Afro-Amerika. (Referensi: Cruciani et al. 2002, Semino et al. 2002).
C. Haplogrup C
Terbagi menjadi cabang *C, C1, C2, C3, C4, dan C5.
• Keturunan *C ditemukan di anak benua India, Sri Lanka, dan sebagian Asia Tenggara.
• C1 ditemukan secara eksklusif di Jepang.
• C2 tersebar di Papua Nugini, Polinesia, dan Melanesia, merepresentasikan pola migrasi kuno yang kompleks.
• C3 mengalami migrasi melintasi koridor jembatan es (Beringia) yang menghubungkan Asia Utara dan benua Amerika pada zaman es. Garis keturunan ini dominan di Asia Tengah, termasuk bangsa Mongol (keturunan Jengiz Khan terafiliasi pada klade ini).
• C4 ditemukan secara eksklusif pada penduduk asli Australia (Aborigin).
• C5 ditemukan dalam frekuensi rendah di wilayah India dan Pakistan. (Referensi: Bortolini et al. 2003, Kayser et al. 2002, Hammer et al. 2006).
•
D. Haplogrup D
Terdiri dari sub-klade *D, D1, D2, dan D3. Keturunan *D dan D3 ditemukan di Asia Tengah. Cabang D1 tersebar di Asia Tengah, Mongolia, dan Asia Selatan. Sementara itu, cabang D2 berpusat di Jepang dan dianalisis sebagai populasi yang terisolasi secara geografis selama rentang waktu 12.000 hingga 20.000 tahun. Komponen ini membentuk 35% dari populasi Jepang modern dan mencapai 50% pada populasi Tibet. (Referensi: Bortolini et al. 2003, Kayser et al. 2002, Hammer et al. 2006).
E. Haplogrup E
Haplogrup ini memiliki diversifikasi mutasi yang sangat luas, terbagi menjadi *E, E1, E2, E3, dan E4. Cabang E3 mengalami diferensiasi geografis yang krusial:
• Sub-klade E3a: Mengalami migrasi balik ke pedalaman benua Afrika dan menjadi komponen genetik paling dominan di wilayah sub-Sahara. Mayoritas populasi Afro-Amerika diturunkan dari klade ini.
• Sub-klade E3b: Merupakan komponen genetik utama bagi populasi Afrika Utara (Timur Laut dan Barat Laut), termasuk masyarakat Mesir Kuno (Firaun) dan etnis Berber (Amazigh) di Maghribi, serta populasi Etiopia dan Somalia.
•
Sub-klade E3b terbagi lagi menjadi E3b1, yang melahirkan tiga garis keturunan dengan sebaran terluas:
- E3b1a (Mutasi M78): Dominan pada populasi Afrika Timur Laut (Mesir, Etiopia, Somalia).
- E3b1b (Mutasi M81): Diklasifikasikan sebagai Garis Keturunan Berber/Amazigh di wilayah Afrika Utara/Maghribi.
- E3b1c: Berkembang di wilayah Syam (Levant) dalam persentase yang signifikan.
Garis keturunan E3b1a dan E3b1c terdeteksi di Semenanjung Arabia sejak periode kuno. Beberapa analisis mengaitkan komponen ini dengan konfederasi dinasti Hyksos yang menginvasi Mesir, serta peradaban Arab kuno yang telah punah (al-Arab al-Baidah) seperti kaum ‘Ad, Tsamud, dan Amaliqah. Komponen genetik kuno tersebut mengalami reduksi di Semenanjung Arabia seiring dengan ekspansi dominan dari Haplogrup J1.
Secara menarik, sub-klade E3b1a bermigrasi ke arah utara menuju benua Eropa dan membentuk komponen genetik yang signifikan di wilayah Balkan: Albania (35%), Makedonia, Yunani, Serbia, dan Bosnia. Penting untuk dicatat secara akademis bahwa asal-usul filogenetik suatu haplogrup di Afrika tidak berkorelasi langsung dengan karakteristik fenotipe fisik eksternal (seperti warna kulit).
Faktor Penyebab Ekspansi Klade E ke Eropa:
• Fase Pertama (Revolusi Neolitik): Penyebaran teknologi pertanian dari kawasan Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur) menuju arah utara yang memicu migrasi populasi manusia secara masif.
• Fase Kedua (Era Fenisia): Asimilasi komponen genetik E3b1a dengan populasi Semit bermutasi J2 (bangsa Fenisia), yang kemudian terbawa dalam rute maritim perdagangan di sepanjang pesisir Laut Mediterania.
• Fase Ketiga (Era Klasik Yunani dan Romawi): Ekspansi teritorial kedua imperium besar ini memfasilitasi mobilitas populasi secara sukarela maupun paksa dari dan menuju Eropa.
• Fase Keempat (Ekspansi Islam): Penaklukan wilayah Andalusia (Spanyol), Prancis Selatan, Sisilia, dan pulau-pulau Mediterania oleh militer Muslim yang komposisinya didominasi oleh etnis Berber (Afrika Utara) dan Arab. Hal ini menjelaskan sebaran varian genetik E3b1a2 di wilayah Asia Barat dan Eropa Barat. (Referensi: Bortolini et al. 2003, Alonso et al. 2005, Capelli et al. 2006, Cruciani et al. 2002).
•
F. Haplogrup F
Terbagi menjadi *F, F1, dan F2. Konsentrasi utamanya berada di anak benua India. Komponen kecil *F yang terdeteksi di Portugal dianalisis sebagai dampak dari relasi kolonial historis antara Portugal dan wilayah jajahannya di India (Goa).
G. Haplogrup G
Terbagi menjadi cabang *G, G1, G2, G3, G4, dan G5. Haplogrup ini terbentuk di wilayah geopolitik antara Timur Tengah bagian utara, Pakistan, dan Afganistan, yang sering disebut sebagai Garis Keturunan Kaukasus. Distribusinya meliputi:
• Eropa Barat Laut: 2%
• Spanyol, Italia, Yunani, Turki: ~10%
• Georgia dan Azerbaijan: 30%
• Ossetia Utara: 50%
• Komunitas Druze: 18%
• Yahudi Ashkenazi: 10%
• Yahudi Maroko: 20%
• Populasi Mesir: 9,5% (diasosiasikan dengan peninggalan genetik dinasti Mamluk).
• Tokoh Historis: Joseph Stalin (Pemimpin Uni Soviet) terkonfirmasi secara genetik berada pada haplogrup G ini. (Referensi: Cinnioglu et al. 2004, Alonso et al. 2005, Behar et al. 2004, Nasidze et al. 2004).
•
H. Haplogrup H
Terdiri dari *H, H1, dan H2. Haplogrup ini berkembang di anak benua India, membentuk sekitar 35% komponen genetik pada populasi kasta bawah dari trah Dravida. Garis keturunan ini juga ditemukan pada etnis Pashtun (4%), Iran (4%), dan Tajik (12,5%). Di Eropa, kehadiran haplogrup ini dibawa secara eksklusif oleh rute migrasi historis kaum Gipsi (Romani) yang berasal dari India. (Referensi: Cinnioglu et al. 2004, Kivisild et al. 2004).
I. Haplogrup I
Haplogrup ini dicirikan oleh cabang dominan I1 (paragrup *I belum ditemukan). Cabang I1 terdiversifikasi menjadi *I1, I1a, I1b, dan I1c. Haplogrup I merupakan Garis Keturunan Eropa Murni (Autochthonous European) yang tidak ditemukan di luar Eropa, kecuali dalam frekuensi sangat rendah di Timur Tengah (diduga sebagai peninggalan genetik dari era Perang Salib).
• I1a: Memiliki frekuensi tinggi di kawasan Skandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia) dan Islandia, yang merepresentasikan penanda genetik bangsa Viking/Jermanik Utara.
• I1b: Tersebar di Eropa Tenggara, Balkan, dan pulau Sardinia. Data ini menunjukkan bahwa populasi Slavia di Eropa Timur memiliki kekerabatan filogenetik dengan rumpun Jermanik/Viking.
• I1c: Terdeteksi dalam jumlah terbatas di Jerman dan Belanda.
•
J. Haplogrup J (Klade Semit)
Secara filogenetik, Haplogrup J merupakan sister-clade (saudara satu leluhur) dari Haplogrup I Eropa. Disebut sebagai Garis Keturunan Semit karena menjadi komponen genetik utama yang melahirkan populasi berbahasa Semit. Garis keturunan ini muncul di Timur Tengah sekitar 30.000 tahun yang lalu dan terbagi menjadi dua cabang utama: J1 dan J2.
Pertama: Haplogrup J2 (Mutasi M172)
Garis keturunan ini dianalisis berkembang di bagian utara kawasan Fertile Crescent, khususnya di wilayah Anatolia. Setiap individu yang memiliki penanda mutasi M172 diklasifikasikan sebagai keturunan filogenetik dari klade J2. Garis keturunan ini bermigrasi sejak era kuno menuju Asia Tengah, Iran, India, serta Eropa (mengikuti jalur yang sama dengan migrasi E3b).
Prevalensi Geografis J2:
• Kurdi Muslim: 28,4%
• Georgia: 26,7%
• Turkmenistan: 27,9%
• Irak: 24%
• Lebanon: 24%
• Yahudi Ashkenazi: 23%
• Yahudi Sephardim: 28,6%
• Iran: 23%
• Uzbekistan: 18,4%
• Pakistan: 14,7%
• Yunani: 20,6%
• Albania: 19,6%
• Spanyol: Variasi antara 16,7% hingga 29,1%
• Pashtun Afganistan: 5,2%
Di India, haplogrup ini terwakili oleh sub-klade J2a dan J2b2 yang bermigrasi pada periode kuno melalui invasi eksternal, yang kemudian mendesak populasi lokal berhaplogrup asli H, C, dan D. Komponen J2 di India tersebar di struktur sosial klaster kasta: Kasta Atas (18,6%), Kasta Menengah (21%), dan Kasta Bawah (14%), menjadikan India sebagai salah satu wilayah dengan tingkat pencampuran genetik (genetic admixture) tertinggi di dunia. (Referensi: Sengupta et al. 2006).
Kedua: Haplogrup J1 (Mutasi M267)
Haplogrup ini memiliki estimasi usia minimal 10.000 tahun dan berkembang di bagian selatan kawasan Fertile Crescent (berkebalikan dengan J2 yang berkembang di utara), dengan hipotesis titik awal di Irak Selatan. Garis keturunan ini mengalami dua gelombang migrasi besar:
- Gelombang Pertama (Kuno): Terjadi sekitar 10.000 tahun lalu menuju Eropa, Semenanjung Arabia, dan Afrika Timur (Etiopia melalui jalur Selat Bab al-Mandab/Eritrea). Komponen J1 kemudian mengalami amplifikasi populasi yang masif di kawasan Semenanjung Arabia dan Yaman. Sekitar 3.000 tahun SM, terjadi migrasi balik dari Semenanjung Arabia oleh populasi purba seperti kaum Kasdim, Babilonia, dan lainnya menuju Irak dan Syam.
- Gelombang Kedua (Ekspansi Mayoritas): Membentuk 90% dari total persebaran J1, yaitu arus migrasi besar bangsa Arab pasca-Ekspansi Islam ke wilayah Irak, Syam, Mesir, Afrika Utara, hingga Semenanjung Iberia (Spanyol).
Mutasi penanda M267 merupakan indikator definitif dari haplogrup J1. Dalam konteks antropologi Timur Tengah, penanda ini diidentifikasi sebagai Gen Semenanjung Arabia atau Gen Suku-Suku Arab (baik dari rumpun Himyar, Kahlan, Mudhar, Qays, Rabi’ah, maupun Qudha’ah).
Prevalensi Geografis J1:
• Palestina: 39%
• Suriah: 33%
• Aljazair: 36%
• Tunisia: 33%
• Suku Badui: Meningkat hingga 65%
• Gurun Negev (Palestina): 82%
• Irak: 33%
• Mesir: 20% (Menjadi komponen utama di Irak dan Syam, serta berkompetisi dengan komponen asli Afrika Utara/Firaun E3b1a yang berada di angka 18%).
Catatan Akademis: Para peneliti memproyeksikan bahwa persentase riil dari J1 di dunia Arab kemungkinan jauh lebih tinggi dari data di atas, mengingat sampel-sampel awal didominasi oleh studi eksternal (Barat) dengan kondisi lapangan yang belum stabil di beberapa wilayah konflik seperti Irak.
Analisis Genetika Populasi Yahudi (Studi Kasus Klon Kohanim): Dalam studi genetika populasi yang bertujuan mengidentifikasi tanda genetik (genetic signature) dari keturunan Israel Kuno (Bani Israel), para peneliti memfokuskan sampel pada kelompok Kohanim (silsilah patriarkal yang secara historis diklaim sebagai keturunan Harun As.). Melalui analisis DNA terhadap kelompok Kohanim Ashkenazi (Eropa) dan Kohanim Sephardim (Timur Tengah) yang telah terpisah secara geografis selama ribuan tahun, ditemukan hasil yang konvergen: lebih dari 50% dari mereka memiliki satu leluhur patrilineal yang sama yang membawa 6 indikator penanda (6 markers) yang disebut sebagai Cohanim Modal Haplotype (CMH). Seluruh komponen CMH tersebut secara filogenetik divalidasi masuk ke dalam Klade Arab J1. Sementara itu, sisa populasi Yahudi modern lainnya (91,7%) menunjukkan diversifikasi genetik yang luas dari berbagai haplogrup global non-Semit. (Referensi: Thomas et al. 1999, Semino et al. 2004, Sengupta et al. 2006).
K. Haplogrup K
Terdiri dari cabang *K, K1, K2, K3, K4, K5, K6, dan K7. Berkembang di Asia Barat Daya (Iran) dan ditandai dengan mutasi M19. Sub-klade K2 terkonfirmasi sebagai profil genetik dari mantan Presiden AS, Thomas Jefferson. Haplogrup K merupakan basis filogenetik yang kemudian melahirkan garis keturunan independen yang terpisah seperti Haplogrup L, M, dan N. (Referensi: Kayser et al. 2001, 2006).
O. Haplogrup O
Berpusat di Asia Timur dan terbagi menjadi *O, O1, O2, dan O3. Cabang O3 merupakan komponen genetik paling dominan di Tiongkok dan secara kuantitas daratan merupakan garis keturunan manusia terbesar di dunia. Sementara cabang O1 dan O2 tersebar di Asia Tenggara (termasuk Malaysia, Vietnam, Indonesia), Tiongkok Selatan, Jepang, dan Korea. Berbeda dengan Tiongkok yang didominasi tunggal oleh haplogrup O, wilayah India memiliki karakteristik diversifikasi haplogrup yang sangat heterogen.
Q. Haplogrup Q
Muncul di Asia Tengah dan terbagi menjadi *Q, Q1, Q2, Q3, Q4, Q5, dan Q6.
• Q1: Ditemukan di Tiongkok dan minoritas etnis Hazara di Afganistan.
• Q2: Terkonsentrasi di Siberia Tengah.
• Q3: Merupakan penanda genetik utama bagi populasi Bumiputera Amerika (Indian Amerika/Native American) yang bermigrasi melintasi selat Bering ke Amerika Utara dan Selatan.
• Q5: Terdeteksi dalam persentase kecil pada populasi Yahudi Yaman (merepresentasikan migrasi populasi kuno).
• Q6: Ditemukan dalam frekuensi rendah di India dan Pakistan.
Paduan Akhir: Haplogrup R
Komponen utama dari haplogrup ini adalah *R, R1, dan R2.
• R1a: Diperkirakan terbentuk di wilayah utara Laut Hitam (Eurasia), kemudian bermigrasi menuju Eropa Timur, Eropa Selatan, hingga menembus wilayah India.
• R1b (Indo-Eropa): Tersebar luas di Eropa Barat dan diidentifikasi sebagai rumpun masyarakat Indo-Eropa. Menjadi komponen dominan yang mencapai persentase hingga 100% di beberapa area di Irlandia, serta menjadi garis keturunan utama di Britania Raya, Spanyol, Prancis, dan Jerman. Dalam literatur genetika populasi, klade ini sering disebut sebagai The Atlantic Haplotype.
• R2: Terkonsentrasi di Asia Selatan, khususnya di wilayah India, dengan frekuensi yang sangat terbatas di kawasan Asia lainnya.
•
Sumber:
https://aboeltayb.ahlamontada.net/t4704-topic