Nasab Raja Yordania adalah salah satu nasab paling sahih sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW jalur paternal (laki-laki). Nama-nama dalam susunan silsilah nasabnya treverifikasi seluruh kitab nasab mulai abad ke-3 sampai abad ke-15 Hijriah. Hasil tes Y-DNA nya mereka valid dan berkesesuaian dengan nasab keluarga Nabi yang sahih lainnya seperti Al-Rassi, Al-Muhanna dan yang lainnya. Dalam tulisan ini, saya akan menjawab video Rumail yang menjawab tulisan saya untuk Pesantren Sarang. Ada beberapa poin dari tulisan Rumail itu, di antaranya: Rumail mempertanyakan nasab Banu Qatadah bin Idris. Raja Abdullah II Yordan adalah bagian dari keturunan Qatadah bin Idris. Menurut Rumail nasab Qatadah bin Idris bermasalah. Benarkah?
Rumail berupaya membangun pondasi berfikir dalam membaca kitab nasab yang berjejer itu agar nampak bahwa di dalam nasab Qatadah bin Idris ada masalah. Pertama: kapan nama itu pertama kali ditulis dalam kitab nasab? Kedua, apakah kitab nasab yang mendaftar saudara-saudaranya menyebut dia? Ketiga apakah sumber tertuanya dari keluarganya yang diuntungkan?
Ini tiga pertanyaan yang Rumail nisbahkan kepada saya. Kata Rumail cara saya dalam membatalkan nasab Ba’alwi ia simpulkan seperti itu. Apa benar kesimpulan Rumail itu? Apa benar ini metodologi saya dalam membatalkan nasab Ba’alwi? Tidak. Rumail hanya sedang pura-pura tidak faham bangunan metodologi saya yang sederhana. Tiga point itu terlalu banyak. Metode saya hanya dua saja. Rumail simpulkan dengan tiga poin itu karena dengan tiga poin itulah ia akan mencoba membatalkan nasab Qatadah bin Idris. Apa kira-kira usaha Rumail akan berhasil? Untuk sekedar memberi semangat para kibin bahwa mereka masih punya cara untuk melawan, hal itu perlu dihargai. Tapi untuk bisa membatalkan nasab kokoh dan asli seperti Qatadah bin Idris, perlu usaha lebih unik dan lebih lebih licik, misalnya dengan mendaftarkan tes Y-DNA keluarga Qatadah dengan sampel air liur Taufiq Assegaf. Karena, seandainya pun nasab Bani Qatadah batal secara tradisi historis, ia tetap akan diakui selama tes Y-DNA nya sama dengan keturunan Nabi Muhammad lainnya.
Yang saya gunakan dalam membatalkan nasab Ba’alwi hanya dua metode sederhana. Keduanya adalah perkawinan antara teori ilmu nasab dan kritik historis. Pertama: apakah nama-nama dalam susunan silsilah itu tercatat dalam kitab nasab dan sejarah yang sezaman atau yang mendekatinya atau tidak? Kedua: apakah kitab-kitab yang terbaru bertentangan dengan kitab sebelumnya atau tidak? catatan kitab nasab sezaman atau yang mendekatinya saya gunakan untuk mengetahui apakah para ahli nasab sezaman atau yang mendekatinya mengisbat nasab tersebut atau tidak. Catatan kitab sejarah yang sezaman atau yang mendekatinya saya gunakan untuk mengetahui apakah nama-nama yang ada dalam silsilah itu sosok historis atau bukan. Dengan dua cara sederhana itu saya dapat menyimpulkan dengan kesimpulan yang sangat meyakinkan secara ilmiyah bahwa nasab Ba’alwi adalah nasab palsu dan 11 nama dari mulai Maula Dawilah sampai Ubaidillah adalah sosok fiktif yang, jangankan terbukti sebagai keturunan Nabi Muhammad, sebagai manusia yang pernah dilahirkan pun tidak. Ali al-Sakron, sang creator nasab Ba’alwi, wafat pada tahun 895 H. merekayasa silsilah nasab Ba’alwi seperti ini:
1.Ahmad bin Isa
2.Ubed
3.Alwi
4.Muhammad
5.Alwi
6.Ali Khaliqosam
7.Muhammad Sahib Mirbat
8.Ali
9.Muhammad Faqih Muqoddam
10.Alwi Gayur
11.Ali Darak
12.Muhammad Maula Dawilah
13.Abdurrahman
14.Abubakar
15.Ali Sakron
Dari 15 nama ini, 11 nama dari Muhammad Maula Dawilah sampai Ubed adalah nama fiktif. Tidak ada satupun kitab, baik nasab maupun sejarah, antara abad 8-4 Hijriah, di mana di rentang itulah nama-nama itu diasumsikan hidup, yang menyebut nama mereka. Sebelas nama ini, Jangankan dapat dibuktikan sebagai keturunan Nabi, sebagai manusia yang pernah dilahirkan di alam dunia pun tidak bisa. Kenapa? Karena sebelas nama itu diciptakan serampangan demi hanya untuk menyambungkan nasab Ali al-Sakran sampai kepada Ahmad bin Isa.
Dan yang paling krusial: metodologi ahli nasab yang saya gunakan: apakah kemunculan pertama kali nama Ubed atau Ubaidillah atau Abdullah bertentangan dengan kitab sebelumnya atau tidak? Kenyataanya, munculnya nama Ubed sebagai anak Ahmad bin Isa bertentangan dengan kitab sebelumnya Al-Syajarah al-mubarakah yang menyatakan dengan seksama bahwa anak Ahmad bin Isa hanya tiga Muhammad, Ali, dan Husain. Tidak ada anak Bernama Ubed. Tidak ada.
Kata Rumail nasab Bani Qatadah bin Idris kedudukannya sama seperti nasab Ba’alwi tersebut. Sekali-kali tidak. Mari kita buktikan! Pertama apakah Qatadah bin Idris sosok historis? Apakah ada kitab sezaman atau yang mendekatinya yang menjadi saksi keberadaannya? Kedua apakah nasabnya terverifikasi sebagai cucu Nabi Muhammad SAW dalam kitab-kitab nasab?
Baik. Kita mulai mengetahui apakah Qatadah bin Idris yang wafat tahun 617 H. itu, ada ulama yang mereportase dan mencatat namanya pada masanya atau tidak. Silahkan buka kitab Al-Takmilah li-al Wafayat al-Naqalah karya Abdul Adzim al-Mundiri (W. 656 H.). Pengarang kitab ini, Al-Mundziri, lahir tahun 581 H. ketika Qatadah wafat tahun 617 H. umurnya sudah 26 tahun. berarti ia sejarawan yang hidup semasa dengan Qatadah bin Idris. Apakah ia mencatat nama Qatadah bin Idris? Iya, ia mencatat nama Qatadah bin Idris. Apakah ia mencatat nasabnya sebagaimana piagam Raja Yordan? Jawabannya iya ia mencatatnya. Kalau tidak percaya Lihat dalam kitabnya tersebut juz 3 halaman 17.
١٧٤٩ – وفي أواخر جمادى الآخرة توفي الشريف الأجل أبو عزيز قتادة ابن الشريف الأجل أبي مالك إدريس بن مطاعن بن عبد الكريم بن عيسى بن حسين بن سليمان بن علي بن عبد الله بن محمد بن موسى بن عبد الله بن موسى بن عبد الله بن الحسين بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب -عليهم السلام- القرشي الهاشمي العلوي الحسني، بمكة –شرفها الله تعالى- ويقال: إنه بلغ تسعين سنة. وكان مولده بوادي ينبع، وبه نشأ، وتولى إمرة مكة مدة. رأيته بها وهو يطوف بالبيت –شرفه الله تعالى- ويدعو بتضرع وخشوع كثير. وكان مهيبا، قوي النفس، مقداما فاضلا. وله شعر. وقدم مصر غير مرة. أملى علي نسبه كما ذكرته أخوه الشريف الأجل أبو موسى عيسى بن إدريس حين قدم مصر. وقيل: كانت وفاته سنة ثماني عشرة وست مئة.
Terjemah:
1749 – Pada akhir bulan Jumada al-Akhirah, Syarif yang mulia Abu Aziz Qatadah—putra dari Syarif yang mulia Abu Malik Idris bin Muta’in bin ‘Abd al-Karim bin ‘Isa bin Husayn bin Sulayman bin ‘Ali bin ‘Abd Allah bin Muhammad bin Musa bin ‘Abd Allah bin Musa bin ‘Abd Allah bin al-Husayn bin al-Hasan bin al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Talib (semoga Allah Yang Mahaagung melimpahkan kesejahteraan kepada mereka semua)—wafat di Makkah (semoga Allah Yang Mahaagung memuliakannya). Beliau berasal dari garis keturunan Quraisy, Hasyimi, ‘Alawi, dan Hasani. Konon, beliau mencapai usia sembilan puluh tahun. Beliau lahir dan dibesarkan di Wadi Yanbu‘, serta pernah menjabat sebagai gubernur Makkah untuk suatu masa. Saya pernah melihat beliau di sana sedang melakukan tawaf mengelilingi Baitullah (semoga Allah Yang Mahaagung memuliakannya) dan memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati serta kekhusyukan. Beliau adalah sosok yang memancarkan kewibawaan; beliau memiliki jiwa yang tangguh, pemberani, dan berbudi luhur. Beliau juga menggubah syair. Beliau pernah mengunjungi Mesir lebih dari satu kali. Saudara beliau, Syarif yang mulia Abu Musa ‘Isa bin Idris, mendiktekan silsilah beliau kepada saya—persis seperti yang telah saya catat di sini—ketika beliau berkunjung ke Mesir.”
Perhatikan! Satu kitab ini saja sudah dapat membuktikan dua hal krusial dalam diskursus nasab: apakah dia historis; apakah nasabnya verifikatif dan tidak bertentangan dengan kitab sebelumnya?. Keduanya terjawab dengan satu kitab sezaman ini: Al-Takmilah li-al Wafayat al-Naqalah karya Abdul Adzim al-Mundiri (W. 656 H.). ia tidak mencatat Qatadah dari kejauhan, tetapi ia mencatatnya dan pernah melihat sosoknya langsung di Makkah ketika Qatadah sedang tawaf di Ka’bah dan memanjatkan do’a dengan penuh kekhusyu’an. Kata Rumail ini bukan kitab nasab. Ya betul, tetapi kitab ini adalah kitab yang menjadi transmitter kevalidan antara kitab nasab sebelumnya dan sesudahnya.
Apakah nama Alwi dan Ubaid serta 9 nama lainnya sampai Maula Dawilah ada ulama sezaman yang pernah mereportase demikian? Tidak ada. Sekali lagi tidak ada. Ia baru muncul dalam pengakuan seorang Ba’alwi yang Bernama Ali al-Sakran pada tahun 895 H. berarti sangat salah jika Rumail menyamakan Ba’alwi dengan Bani Qatadah.
kitab belakangan boleh saja mencatat nama yang sunyi dari catatan masa lalu tetapi dengan sarat tidak bertentangan dengan kitab sebelumnya (an la mukhalifatan lil Ushul-tidak bertentangan dengan kitab-kitab asal). Begitupula orang yang mempunyai kepentingan boleh saja diterima dengan sarat tidak ada qarinah kedustaan. Tetapi muculnya nama Ubed sebagai anak Ahmad bin Isa pada tahun 895 H. bertentangan dengan kitab-kitab nasab masa lalu yang mencatat anak Ahmad bin Isa hanya tiga: Muhammad, Ali, dan Husain. Dan dalam pengakuan itu, terang benderang qarinah dari Ali al-Sakran bahwa ia hanya cocokologi nama Ubed dengan nama Abdullah yang ada di kitab Al-Suluk. Maka sungguh tidak tahu malu orang yang menyamakan nasab Qatadah bin idris yang bagaikan matahari di siang hari, dengan nasab kaum Ba’alwi yang gelap gulita bagaikan palung mariana.
Lalu apakah masih ada kitab sezaman atau yang mendekatinya yang mencatat nama dan nasab Qatadah bin Idris? Jawabannya banyak, di antaranya lihat kitab Tarikh al-Mustabshir karya Ibnul Mujawir (w. 690 G.) yang ditulis pada tahun 625 H., berarti kitab ini ditulis hanya 8 tahun setelah wafatnya Qatadah bin Idris. Ibnu al-Mujawir menyatakan di halaman 4:
والأمير حسن بن قتادة بن إدريس بن مطاعم بن عبد الكريم بن عيسى بن الحسين بن سلمان بن علي بن عبد الله بن موسى الجون،
Terjemah:
“Dan Pangeran Hassan bin Qatada bin Idris bin Muta’im bin Abdul Karim bin Issa bin Al-Hussein bin Salman bin Ali bin Abdullah bin Musa Al-Jun”
Perhatikan! Jelas nama Qatadah bin Idris telah ditulis plus nasabnya oleh sejarawan yang mencatatnya hanya 8 tahun setelah wafatnya. Masih sangat bisa dipercaya.
Jika masih kurang akan saksi kitab sezaman atau yang mendekatinya yang menyebut nama Qatadah bin Idris, silahkan buka kitab Al-Kamil fi-al-Tarikh karya Ibnul Atsir (w. 630 H.) juz 10/378.
فِي هَذِهِ السَّنَةِ سَارَ الْمَلِكُ الْمَسْعُودُ أَتْسُزُ ابْنُ الْمَلِكِ الْكَامِلِ مُحَمَّدٍ، صَاحِبُ مِصْرَ، إِلَى مَكَّةَ، وَصَاحِبُهَا حِينَئِذٍ حَسَنُ بْنُ قَتَادَةَ بْنِ إِدْرِيسَ، الْعَلَوِيُّ الْحَسَنِيُّ، قَدْ مَلَكَهَا بَعْدَ أَبِيهِ، كَمَا ذَكَرْنَاهُ.
Terjemah:
“Pada tahun ini, Raja Al-Mas’ud Atsiz, putra Raja Al-Kamil Muhammad, penguasa Mesir, pergi ke Mekah. Penguasanya saat itu adalah Hasan bin Qatada bin Idris, Alawi Al-Hasani, yang telah mengambil alih kekuasaan setelah ayahnya, seperti yang telah kami sebutkan.”
Perhatikan! Pengarang kitab itu Bernama Ibnul Atsir. Ia lahir tahun 555 H. berarti ia hidup sezaman dengan Qatadah bin idris yang wafat tahun 617 H. dalam kitabnya ia mereportase Qatadah bin Idris sebagai seorang raja Makkah, seorang Alawiy (keturunan Ali), dan seorang Hasyimi (keturunan Bani Hasyim).
Bandingkan dengan nasab kaum Ba’alwi! Jika Alwi dan Ubed itu sosok historis dan orang besar keadaannya akan seperti Qatadah: dicatat dan direportase. Tetapi tidak. Bahkan 9 nama lainnya dalam silsilah nasab Ba’alwi tidak dicatat sekalipun, baik dalam kitab nasab maupun kitab sejarah. Pertanyaannya mengapa? Jawabannya karena silislah nasab Ba’alwi itu silsilah wayang: mengurut nama-nama yang tidak ada sosoknya.
Kemudian apakah ada kitab nasab sezaman atau yang mendekati yang mencatat Qatadah bin Idris? Jawabannya tentu ada. Silahkan bukan kitab Al-Ashili karya Al-Mawarzi (w.709 H.) halaman 105.
وأما مطاعن بن عبد الكريم ، فعقبه من ولديه : ثعلب ، وادريس ، ولثعلب : علي. وأما ادريس بن مطاعن ، فله ثلاثة أولاد ، شبرقة، والحسين ، وقتادة أبي عزيز . ولشبرقة : علي وكان قاضياً بالمدينة، وللحسين بن ادريس : ادريس . ولقتادة أمير مكة وينبع أربعة أولاد : علي الأصغر ، وراجح فارس شجاع شهير، وادريس، وعلى الأكبر .
Terjemah:
“Adapun Muta’inn ibn Abd al-Karim, keturunannya berasal dari kedua putranya: Tha’lab dan Idris. Putra Tsa’lab adalah Ali. Idris ibn Muta’in memiliki tiga putra: Shubraqa, al-Husayn, dan Qatada Abu Aziz. Shubraqa memiliki seorang putra bernama Ali, yang merupakan hakim di Madinah. Al-Husayn ibn Idris memiliki seorang putra bernama Idris. Qatada, Emir Mekah dan Yanbu, memiliki empat putra: Ali al-Ashgar, Rajih, seorang ksatria terkenal dan pemberani, Idris, dan Ali al-Akbar.”
Perhatikan! Dalam kitab nasab abad ke-7, abad di mana Qatadah hidup, nama Qatadah di catat dan di itsbat. Bukan hanya nama Qatadah bahkan keturunannya ke bawah, keturunannya ke atas nama-nama yang menjadi rantai silsilah raja Yordan dicatat 22 nama dari mulai nama Nabi Muhammad SAW sampai nama Ramitsah bin Muhammad dari mulai halaman 54 sampai 106.
Nama silsilah Bani Qatadah bin Idris secara umum, dan silsilah Raja Yordan secara khusus telah dicatat dalam kitab-kitab nasab awal tanpa saling bertentangan (mukhalafah) antara kitab yang baru dengan kitab yang lebih tua. Gugatan Rumail bahwa ada beberapa nama yang baru muncul belakangan tidak signifikan ketika kaidah ilmu nasab menyatakan bahwa hal krusial yang harus diperhatikan adalah: apakah kitab itu bertentangan dengan kitab sebelumnya? apakah ada nama-nama yang muncul dalam kitab baru yang dalam kitab sebelumnya sudah di “hasr” (dibatasi). Ini kaidah sangat penting: tidak hanya sebuah nama disebut dalam sebuah kitab, tetapi ia tidak boleh bertentangan dengan kitab yang baru. Bahkan jikapun suatu nama tidak disebut beberapa waktu, lalu muncul pada masa berikutnya, jika tidak bertentangan dan ada qarinah bahwa tidak disebutkannya itu bukan berarti fiktif, maka penyebutan baru itu masih bisa diterima. Berbeda dengan penyebutan Ubed/Ubaedillah/Abdullah, penyebutannya sebagai anak Ahmad bin Isa pada tahun 895 H. bertentangan dengan kitab nasab sebelumnya, dan qarinah sangat kuat menyimpulkan bahwa Ubed ini bukan sosok historis.
Nama-nama dalam silsilah nasab Raja Yordan tersedia lengkap. Antara satu kitab dengan kitab sebelumnya tidak saling bertentangan. Hanya saja banyaknya kemiripan nama dan gelar dalam susunan keluarga Bani Hasyim, bahkan satu ayah mempunyai dua anak Bernama Muhammad, membuat penelusurannya memerlukan sedikit konsentrasi tambahan untuk mengurutnya dengan benar.
Di bawah ini saya akan buktikan bahwa susunan silsilah nasab Raja Yordan telah terverifikasi dalam uji petik kitab nasab dan sejarah dari abad ke-3 sampai ke-15 Hijriyah. Sebelumnya saya sajikan nasab seperti berikut ini:
1. Nabi Muhammad Saw.
2. Fatimah Az-Zahra
3. Hasan Al-Mujtaba
4. Hasan Al-Mutsanna
5. ‘Abdullah Al-Mahdi
6. Musa Al-Jun
7. ‘Abdullah Ar-Ridha
8. Musa al-Tsani
9. Muhammad Ats-Tsa’ir
10. ‘Abdullah al-Akbar
11. ‘Ali As-Salami
12. Sulaiman
13. Husein
14. ‘Isa
15. ‘Abdul Karim
16. Mutha’in
17. Idris (Amir Makkah)
18. Qatadah (Amir Makkah)
19. ‘Ali Al-Akbar
20. Hasan Abu Sa’ad (Amir Makkah)
21. Muhammad Abu Numai Al-Awwal (Amir Makkah)
22. Rumaitsah (Amir Makkah)
23. ‘Ajlan (Amir Makkah)
24. Hasan (Amir Makkah)
25. Barakat Al-Awwal (Amir Makkah)
26. Muhammad (Amir Makkah)
27. Barakat al-Tsani (Amir Makkah)
28. Muhammad Abu Numai al-Tsani (Amir Makkah)
29. Hasan (Amir Makkah)
30. ‘Abdullah (Amir Makkah)
31. Husein
32. ‘Abdullah
33. Muhsin
34. Syarif ‘Aun (Datuk Asyraf Marga Al-‘Auni)
35. ‘Abdul Mu’in
36. Muhammad (Amir Makkah)
37. ‘Ali (Amir Makkah)
38. Syarif Husein (Amir Hijaz)
39. Syarif Abdullah Al-Awwal
40. Syarif Thalal
41. Syarif Husein
42. Raja Abdullah II (Raja Jordania)
Di bawah ini kitab-kitab nasab dan sejarah yang telah mencatat dan mengisbat pongkol-pongkol nasab silsilah Raja Yordan setiap abad mulai dari abad ke-3 Hijriyah:
Kitab-kitab abad ke-3 Hijriyah:
1.Tabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad (w.230 H.) disebutkan 7 nama silsilah Raja Yordania dari Nabi Muhammad SAW sampai Abdullah bin Musa al-Jun (lihat juz 5 halaman 385 Al-Maktabah al-Syamilah). Kitab ini kitab sezaman untuk Musa al-Jun (w. 180 H.) karena pengarang kitab ini, Ibnu Sa’ad, lahir pada tahun 168 H. duabelas tahun sebelum wafatnya Musa al-Jun. kitab ini pula sezaman dengan Abdullah bin Musa al-Jun karena Abdullah wafat pada 240 H.
2.Kitab Nasab Quraisy karya al-Zubairi (w. 236) disebutkan 7 nama silsilah Raja Yordania dari Nabi Muhammad SAW sampai Abdullah bin Musa al-Jun (lihat halaman juz 1 halaman 55 cetakan Darul Ma’arif). Kitab ini kitab sezaman untuk Musa al-Jun karena Al-Zubairi lahir tahun 156 H. ia sudah berumur 24 tahun ketika Musa Al-Jun wafat. Kitab ini pula sezaman dengan Abdullah bin Musa al-Jun karena Abdullah wafat pada tahun 240 H.
3.Kitab al-Mu’aqqibin min Wuld al-Imam Amir al-Mu’minin karya al-Aqiqi (w. 277). Disebutkan 6 nama silsilah Raja Yordan mulai dari Nabi Muhammad sampai Musa al-Jun (lihat halaman 253 cetakan Aruqah).
Kesimpulan: silsilah nasab Raja Yordan sampai Abdullah bin Musa al-Jun yang wafat tahun 240 H. (no. 7) tereportase kitab sezaman.
Kitab-kitab abad ke-4 Hijriyah:
1.Kitab Tarikh Tabari karya Imam Tabari (w. 310 H. ) disebutkan 8 nama silsilah Raja Yordan mulai nama Ali bin Abi Talib sampai Musa al-Tsani (w.256 H.) (lihat juz 9 halaman 276 Al-Maktabah al-Syamilah). Kitab ini adalah kitab sezaman untuk Musa al-Tsani karena Imam Thabari lahir pada tahun 224 H. ketika Musa al-Tsani wafat umur Imam Tabari sudah mencapai 32 tahun.
2.Kitab Sirr al-Silsilah al-Alawiyah karya Abu Nashr Al-Bukhari (w. 341) disebutkan 8 nama silsilah dari Nabi Muhammad sampai Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun (lihat halaman 10 cetakan Al-Haidariyah).
3.Kitab-kitab Maqatil al-Thalibiyin karya Al-Ashfihani (w. 356). disebutkan 8 nama silsilah dari Nabi Muhammad sampai Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun (lihat halaman 530 Al-Maktabah al-Syamilah).
Kesimpulan: nama Musa al-Tsani tereportase kitab sezaman. Sedangkan nama anaknya yang Bernama Muhammad Al-Akbar al-Tsa’ir, disebut oleh kitab sezaman abad ke-5 H. Tahdzibul Ansab
Kitab Abad ke-5 Hijriyah
1.Kitab Tahdzibul Ansab karya Al-Ubaidili (w.435 H.) disebutkan 11 nama dari silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Ali bin Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir (lihat halaman 31-49 ditahqiq oleh Muhammad al-Kadzim). Kitab Tahdzibul Ansab ini adalah kitab sezaman untuk Abdullah bin Muhammad Al-Tsa’ir yang wafat sekitar tahun 348 H. karena pengarangnya yaitu Al-Ubaidili lahir tahun 335 H. ketika Abdullah wafat ia telah berumur 13 tahun. kitab Tahdzibul Ansab pula kitab sezaman untuk Ali bin Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir yang wafat sekitar 381 H. ketika Ali wafat Al-Ubaidili telah berumur 66 tahun.
2.Kitab Al-Majdi karya Al-Umari (w. 459 H.) disebutkan 11 nama dari silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Ali bin Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir (lihat dari halaman 187 sampai 242 cetakan ke-2 Al-Mar’asyi). Kitab Al-Majdi adalah kitab sezaman untuk Ali bin Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir yang wafat sekitar tahun 381 H. karena Al-Umari Lahir tahun 348 H. waktu Ali wafat, Al-Umari telah berumur 33 tahun.
3.Kitab Muntaqilah al-Thalibiyah karya Ibrahim Thabathaba (w.479 H.) disebutkan 9 nama dari silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Muhammad al-tsa’ir (lihat halaman 306 cetakan Al-Haidariyah).
4.Kitab Jamharat Ansab al-Arab karya Ibnu Hazm (w.456 H.) disebutkan 8 nama dari silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Musa al-tsani (lihat halaman 47 Al-Maktabah al-Syamilah).
5.Tarikh Bagdad karya Al-Khatib al-Bagdadi (w. 463 H.) disebutkan 8 nama dari silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Musa al-tsani (lihat juz 15 halaman 31 Al-Maktabah al-Syamilah).
Gugatan Rumail Abas bahwa kitab Lubabul Ansab karya Al-Baihaqi yang wafat tahun 565 H. menyatakan bahwa Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir tidak mempunyai anak tertolak langit dan bumi. Karena dua kitab nasab utama yang lebih tua dari lubabul Ansab yaitu Tahdzibul Ansab dan Al-Majdi dengan tegas menyatakan bahwa Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir mempunyai anak Bernama Ali sesuai dengan daftar silsilah Raja Yordan. Lubabul Ansab sendirian dalam masalah itu dan termasuk dalam kategori Riwayat munkar.
Kitab abad 6 Hijriyah:
1.Kitab Lubabul Ansab karya Dhahiruddin al-Baihaqi (w. 565 H.) disebut 9 nama dari Nabi Muhammad SAW sampai Muhammad al-Akbar (al-ts’ir) (lihat halaman 58 Maktabah al-Syamilah)
2.Kitab al-Syajarah al-Mubarakah karya Imam Fakhruraji (w. 606 H.). kitab ini saya masukan ke dalam kitab abad ke-6 karena ditulis tahun 597 H. di dalam kitab ini dicatat 10 nama dari silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Ali bin Abdullah bin Muhammad al-Tsa’ir (lihat halaman 22 cetakan ke-2 Al-Mar’asyi).
Kitab abad ke-7:
1.Kitab Al-Fakhri karya Al-Marwazi (w. 614 H.) mencatat 11 nama dari silsilah nasab Raja Yordan dari mulai Nabi Muhammad SAW sampai Ali (lihat halaman 89 cetakan ke-1 Al-Mar’asyi).
2.kitab Tarikh al-Mustabshir karya Ibnul Mujawir (w. 690 G.) yang ditulis pada tahun 625 H. kitab ini menyebut nama Qatadah lengkap dengan silsilahnya sampai Musa Al-Jun. kitab ini adalah kitab sezaman untuk Qatadah karena pengarangnya, Ibnul Mujawir lahir tahun 601 H. ketika Qatadah wafat tahun 617 H. ia sudah berumur 16 tahun.
3.kitab Al-Kamil fi-al-Tarikh karya Ibnul Atsir (w. 630 H.) kitab ini menyebut nama Qatadah bin Idris al-Alawi al-Husaini sebagai penguasa Makkah (lihat juz 10 halaman 378 Al-maktabah al-Syamilah). Kitab ini adalah saksi sezaman untuk Qatadah bin Idris karena pengarangnya, Ibnul Atsir hidup semasa dengan Qatadah yang wafat tahun 617 H.
4.kitab Al-Takmilah li-al Wafayat al-Naqalah karya Abdul Adzim al-Mundiri (W. 656 H.). kitab menyebut 18 nama dari Nabi Muhammad sampai Qatadah bin Idris (lihat juz 3 halaman 17 Al-Maktabah al-Syamilah). Kitab ini adalah kitab sezaman untuk Qatadah bin Idris karena pengarang kitab ini, Al-Mundziri, lahir tahun 581 H. ketika Qatadah wafat tahun 617 H. umurnya sudah 26 tahun. kitab ini pula menjadi saksi sezaman untuk Ali al-Akbar bin Qatadah karena Ali wafat tahun 650 H. ia juga saksi sezaman untuk Hasan Abu Sa’ad bin Ali al-Akbar yang menjadi Amir tahun 647 H. kitab ini pula saksi untuk Idris bin Mutha’in karena Idris adalah ayah dari Qatadah, sangat kecil kemungkinan penguasa seperti Qatadah tidak diketahui nama ayahnya oleh masyarakat banyak.
5.Kitab Al-Ashili karya Ibnu al-Thaqtaqi (w. 709 H.) mencatat 22 nama dari silsilah Raja Yordan mulai dari Nabi Muhammad SAW sampai Rumaitsah (lihat halaman 54 sampai 106 cetakan ke-1 Al-Mar’asyi). Kitab ini adalah saksi sezaman Muhammad Abu Numai yang wafat tahun 701 H. dan untuk Rumaitsah karena ia wafat pada 748 H. kitab Al-Ashili tidak mencatat nama anak Rumaitsah yang Bernama Ajlan karena Ajlan lahir pada tahun 707 H. atau dua tahun sebelum wafatnya pengarang Al-Ashili. kemungkinan untuk mengetahui anak seumur dua tahun dalam istana kerajaan sangat sulit.
6.Kitab Al-Tsabat al-Mushan karya Ubaidillah Al-A’raji (w. 787 H.) disebut 24 nama dari silsilah Raja Yordan dari mulai Nabi Muhammad sampai Hasan bin Ajlan (lihat halaman 320 cetakan Shiabooknet tahqiq Mahdi al-Roja’i). kitab ini adalah kitab sezaman untuk Hasan bin Ajlan dan Ajlan bin Rumaitsah.
Kitab abad ke-9 H.
1.Kitab Al-Ibar karya Ibnu Khaldun (w. 808 H.) disebutkan 24 nama sampai Hasan bin Ajlan (lihat juz 4 h. 139).
2.Kitab Umdat al-Thalib karya Ibnu Inabah (w.818 H.) disebut 24 nama dari silsilah Raja Yordan mulai Nabi Muhammad sampai Hasan bin Ajlan (lihat sampai halaman 136 cetakan Markaz Tahqiq bi Kumbuter Ulum Islami). Kitab ini adalah kitab sezaman untuk Hasan bin Ajlan (w. 839 H.) karena Ibnu Inabah menegaskan bahwa penguasa saat ini adalah Hasan bin Ajlan.
3.Kitab Nihayat al-Irbi karya Al-Qolqosyandi (w.821 H.) disebut dalam kitab ini bahwa penguasa Makkah saat itu adalah Banu Qatadah yang merupakan keturunan Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib (lihat h. 127 Al-Maktabah al-Syamilah).
4.Kitab Sihah al-Akhbar karya Al-Rifa’I (w.858 H.) disebut 18 nama dari Nabi Muhammad sampai Qatadah bin Idris dan disebut bahwa ia menguasai Hijaz dan mempunyai keturunan dari 9 anak yang disebut Bani Qatadah (lihat h. 64 cetakan Dar al-Arab tahqiq Arif Abdulgani)
Kitab abad ke-10
5.Kitab Al-Musyajjar al-kasyaf karya Amididdin al-najafi (w. 927 H.) disebutkan 22 nama sampai Rumaitsah (juz 1 h. 997)
6.Kitab Tuhfat al-Thalib karya Al-Samarqandi (w. 996 H.) disebutkan nama sampai Qatadah bin Idris dan disebutkan bahwa keturunannya disebut Banu Qatadah keturunan Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun (lihat h. 30 Al-Khazanah al-Kutbiyah).
Kitab abad ke-11 H.
Kitab Tuhfatul Azhar karya Dlomin bin Syadqum (w. 1090 H. ) disebut 31 nama dari silsilah Raja Yordan mulai dari nabi Muhammad SAW sampai nama Husen bin Abdullah bin Hasan bin Muhammad Abi Numai ( jilid 1 h. 539 penerbit Miratutturats tahqiq Al-Jaburi ). kitab ini adalah kitab sezaman untuk Husen bin Abdullah bin Hasan bin Muhammad Abi Numai.
Kitab abad ke-12
Kitab Khulshat al-Atsar karya Al-Muhibbi (w. 1111 H.) menyebut nama Abdullah bin Hasan bin Abi Numai sebagai Sahibu Makkah yang memerintah Makkah tahun 1040 H. (lihat juz 3 halaman 38 Al-Maktabah al-Syamilah).
Kitab Abad ke-13
Kitab Mausu’ah Mir’atil Haramain karya Ayub Shabri Basya (w. 1290 H.) dalam kitab ini disebutkan 36 nama yang terdapat dalam silsilah Raja Yordan dari Nabi Muhammad sampai Muhammad bin Abdul Muin bin Aun (w. 1274) (lihat juz 5 halaman 84 ) kitab ini adalah kitab saksi sezaman untuk Muhammad bin Abdul Muin bin Aun.
Kitab Abad ke-14
Kitab Al-Muntakhab karya Abdurrahman Al-Mugayyiri (w. 1364 H.) disebut keluarga Bani Qatadah dari masa ke masa sebagai penguasa Makkah yang kemudian dilanjutkan oleh Bani Ajlan bin Rumaitsah leluhur Raja Yordan (lihat h. 61 Al-Maktabah al-Syamilah)
Kitab abad ke-15 Hijriah
Mu’jam Asyraf al-Hijaz karya Syarif Ahmad Dlliya Al-Anqawi kata pengantar oleh syarif Hiza’ bin Syakir al-Abdali (h. 1309 Penerbit Muassasah Al-Rayyan ) disebut 42 nama dari mulai Nabi Muhammad SAW sampai Raja Abdullah II bin Husen Bin Talal (raja yang berkuasa hari ini di Yordania).
Lihat dari masa ke masa 42 nama yang ada dalam silsilah nasab Raja Yordan terverifikasi kitab-kitab nasab dan sejarah. Antara kitab yang baru dan kitab sebelumnya tidak saling bertentangan. Linier, mulus, sahih.
Namun, Sejak dulu keluarga Nabi Muhammad SAW memiliki para pendengki dan pembenci yang ingin mengahancurkan kemuliaan dan keagungannya. Cara mereka membenci dan mendengki sejak dulu bermacam-macam begitupula cara menyakitinya. Salah satu cara menyakiti Nabi Muhammad adalah dengan memasukan orang-orang hina dina sebagai keturunannya dan mengeluarkan keturunannya yang asli yang penuh kemuliaan seperti Raja Yordan. Para pemalsu nasab Nabi dari golongan pezina, penipu, pemabok, pendusta, murtaddin, pelaku LGBT diakui sebagai keturunannya, sementara keturunan Nabi yang asli yang penuh kilauan kemulyaan sebagai Raja di antara manusia berusaha dikeluarkan. Rupanya Rumail dan para kibin-kibin Ba’alwi ingin melihat manusia memandang seakan-akan darah Nabi tidak mempunyai keramat dan keistimewaan karena tidak berbeda dengan darah lainnya. Lalu apa arti ayat “Li Yudzhiba ankumurrijsa ahlal baiti wa yutahhirakum tathiro”?. Inilah cara menyakiti Nabi Muhammad yang berjalan pada hari ini: mengakui orang-orang hina dan fasik sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dan mengeluarkan keturunannya yang asli yang penuh kemuliaan. Naudzubillah.
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani