• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Berita

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

by Admin
14 Oktober 2026
in Berita, Opini
7 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rifky Zulkarnaen

Penulis mulai dengan pernyataan bahwa penulis tidak berminat berdebat sebab dalam konteks ini debat tidak ada gunanya. Silakan pembaca memegang pendapatnya sendiri dan terapkanlah secara konsisten ke internal pribadi masing-masing dan ke eksternal pada segala arah dan demikian pula bagi penulis dan siapa saja. Adalah sebuah ketidakadilan ketika kita menilai A plus kepada seseorang dan menilai Z minus kepada orang yang lain padahal perilaku keduanya sama. Mari kita adil sejak dalam pikiran dan tak hanya sejak dalam pikiran namun sejak dalam qalbu.

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

Di berita yang dipublikasikan detik.com berjudul ‘Ahmad Muzami: Dakwah Habib Umar Beri Optimisme dan Berisi Pesan Persatuan” dengan link sebagai berikut https://news.detik.com/berita/d-8704517/ahmad-muzani-dakwah-habib-umar-beri-optimisme-dan-berisi-pesan-persatuan bertanggal 13 Oktober 2026 Pkl 11.05 WIB dengan penulis Matius Alfons Hutajulu. Berikut ini tangkapan layarnya, tanda panah dan shape-shape berwarna merah merupakan tambahan dari penulis untuk menavigasi perhatian pembaca:

Baca Juga

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

RMI PWNU BANTEN DORONG SINERGI PEMBERDAYAAN PESANTREN, SAMBUT POSITIF RENCANA PERGUB BANTEN

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

Pertama yang butuh pembaca perhatikan: foto di atas adalah foto resmi yang dirilis detik.com bukan hasil foto yang direkayasa oleh penulis. Penulis telah memberi kotak merah pada keterangan di bawah foto tersebut yang bertulis “Muzani bertemu dengan Habib Umar (Dok. Istimewa)”. Jadi jangan sekali-kali menudingkan jari kepada penulis dengan mengatakan foto itu rekayasa penulis karena itu akan menjadi fitnah yang Anda akan berhutang permohonan ampun daarri penulis. Di samping itu link berita dari detik.com telah penulis sertakan sejak awal dan penulis telah memberi tangkapan layar lengkap beserta header yang bertulis atau berlogo “detiknews”. Dengan demikian Anda bisa membuktikannya sendiri sekarang juga sebab ada kemungkinan berita dengan foto tersebut akan ditakedown atas permintaan Klan Habib Baalwi baik secara langsung atau tidak langsung. Bila itu terjadi di waktu mendatang, tangkapan layar saat ini telah ada sebagai bukti.

Perhatikan dengan cermat komposisi foto pertemuan di atas. Pada foto tersebut hadir pula Habib Ali Hasan Al Bahar yang merupakan Klan Habib Baalwi yang menjabat sebagai Ketua LAZISNU PBNU, dia duduk di samping tangan kiri Ahmad Muzani, Ketua MPR RI. Jadi ada tiga ekor habib pada pertemuan itu: Habib Umar bin Hafidz, putra Umar bin Hafidz, dan Habib Ali Hasan Al Bahar. Di hadapan Ketua MPR RI Ahmad Muzani, putra Habib Umar bin Hafidz duduk di atas kursi dengan mengangkat kakinya sementara Umar bin Hafidz dan Habib Ali Hasan Al Bahar membiarkannya begitu saja.

Pada pertemuan itu, konteksnya adalah pertemuan formal di mana Ahmad Muzani saat itu bertindak membawa dirinya sebagai Ketua MPR RI. Konteks tersebut dapat dipahami dari komposisi situasi ruangan yang digunakan dan isi berita detik.com tersebut di mana Ahmad Muzani bertindak membawa dirinya sebagai Ketua MPR RI dan berbicara atas nama rakyat dan bangsa Indonesia. Maka dengan demikian, perlakuan bangsa asing kepada Ahmad Muzani pada momen itu juga berarti perlakuan terhadap marwah kehormatan dan harga diri rakyat dan bangsa Indonesia. Jika Ahmad Muzani diperlakukan dengan cara yang tak terhormat atau bahkan dilecehkan oleh bangsa asing maka itu berarti juga melecehkan marwah kehormatan dan harga diri bangsa dan negara Indonesia. Begitu pula, sebaliknya. Makna ini berbeda dan tidak bisa disamakan apabila pertemuan dengan Ahmad Muzani terjadi pada pertemuan antar keluarga internal atau pertemuan tingkat RT, dan situasinya lesehan kasual tanpa kursi.

Pertanyaannya: mengangkat kaki saat bertemu dan berhadapan dengan Ketua MPR RI, boleh atau tidak? Pantas atau tidak? Sopan atau tidak? Melecehkan atau tidak? Kurang ajar atau tidak?

Jawabannya: terserah pembaca dan penulis tidak akan mendebat jawaban atau penilaian Anda. Anda bisa menjawab dengan sederhana, singkat dan cepat; Anda juga bisa menjawab dengan panjang dan mendalam dengan analisis yang komprehensif menggunakan perspekstif budaya, komunikasi, politik, dalil agama, critical discourse analysis,  interdisipliner atau lainnya. Namun, untuk setiap jenis jawaban pasti akan berujung pada substansi “iya atau tidak”, jawaban yang ambigu “antara iya atau tidak” berarti “iya” sebab jawaban ambigu berarti mengizinkan mengangkat kaki di hadapan Ketua MPR RI yang notabene merupakan representasi marwah kehormatan dan harga diri Bangsa dan Negara Indonesia.

Jika Anda menjawab “iya” di mana artinya “boleh, pantas, sopan, tidak melecehkan, tidak kurang ajar, mengangkat kaki di pertemuan dengan Ketua MPR RI” maka konsekuensinya adalah ke depannya Anda tidak boleh mengkritik atau marah  dengan dalil apapun itu apabila ada orang berperilaku yang secara nilai sama dengan putra Habib Umar bin Hafidz—kepada Presiden atau ke kiai-kiai NU. Jika Anda menjawab “tidak” di mana artinya “tidak boleh, tidak pantas, tidak sopan, melecehkan, kurang ajar” maka Anda harus bersuara di ruang publik mengutuk perilaku putra Habib Umar bin Hafidz sekaligus mengutuk Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Hasan Al Bahar yang membiarkan begitu saja  perilaku putra Habib Umar bin Hafidz. Menyuarakan ini di samping penjagaan terhadap marwah dan harga diri bangsa juga sebagai pendidikan kepada publik dan penetapan standar nilai yang harus ditegakkan bersama. Sementara yang tahu peristiwa ini namun tidak bersuara mengutuk, berarti masuk kategori “iya” yaitu mengizinkan itu terjadi.

Pilihan bagaimana Anda mensikapinya sepenuhnya berada di kekuasaan Anda. Anda punya pilihan, saya punya pilihan, masing-masing menanggung konsekuensi atas apa yang kita pilih.

Tak Hanya Sekali, Ia Adalah Kultur

Perilaku putra Habib Umar bin Hafidz dan Klan Habib Baalwi yang mengangkat kakinya di atas kursi di depan bangsa pribumi tak hanya sekali. Berikut ini salah satu contoh lainnya, silakan tonton video pada link ini https://youtube.com/shorts/WtdvtLUgAWc?si=TDaYBpZB-uONAian untuk lengkapnya dan berikut ini tangkapan layarnya, nama akun YouTube yang mengupload juga disertakan:

Nuansa dan kesan dari peristiwa itu dapat bermacam-macam. NU dapat memaknai itu sebagai adab yaitu bahwa santri bangsa pribumi berada di bawah atau lantai dengan menunduk sementara Klan Habib Baalwi muda di atas kursi dengan menaikkan kakinya dan menengadahkan wajahnya ke atas, merupakan adab yang luhur. Pihak lain, boleh saja mengartikannya sebagai perbudakan atau gambaran mentalitas inferior bangsa pribumi terhadap bangsa asing yaitu Klan Habib Baalwi, atas nama dalil-dalil bernuanasa agama misalnya yang selama ini digemar-gemborkan oleh NU bahwa al adab fauqol ilmi, adab di atas ilmu. Selain dua contoh perilaku di atas, ada banyak contoh lagi lainnya yang sejenis di tubuh NU misalnya sekelas kiai duduk di bawah dan Habib Umar bin Hafidz duduk di atas kursi di mana kiai tersebut membaca kitab seolah-olah ia diuji kefasihannya oleh Habib Umar bin Hafidz.

Saya bisa saja memperpanjang pembahasan tentang adab di atas ilmu, misalnya mengapa NU tidak menuntut bangsa asinglah yang wajib beradab kepada pribumi dengan cara Klan Habib Baalwi yang duduk di bawah dengan menunduk sedangkan pribumi yang duduk di atas kursi dengan gestur yang gagah. Tetapi saya memilih tidak membahas panjang dan mempersilakan NU mengambil sikapnya saja dan saya tidak akan mendebat atau menggugat apapun pilihan sikapnya. Saya hanya sebatas mengajak mari konsisten menerima konsekuensi atas pilihan tersebut.

Bagaimana Sikap NU Itulah Konsekuensinya

Meski Anda tahu bahwa di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung, ada pula kemungkinan orang-orang khususnya warga NU berargumentasi untuk memaklumi perilaku Klan Habib Baalwi itu bahwa Klan Habib Baalwi layak dimaklumi karena mereka orang udik, orang kampungan, yang tidak beradab, sebagaimana perilaku niradab orang Badui dimaklumi oleh Rasulullah Saw. Argumentasi seperti itu pun tak akan penulis gugat meski argumentasi itu jauh dari ketepatan penerapann sebab konteksnya kedua peristiwanya berbeda pada situasi sosial dan personal power and influece para pelakunya khususnya Rasulullah Saw. Namun demikian, pandangan bahwa perilaku Klan Habib Baalwi adalah niradab harus disuarakan di ruang publik supaya masyarakat tahu bahwa Klan Habib Baalwi itu orang udik, orang kampungan, seperti orang Badui yang tidak beradab. Ini supaya jelas di pemahaman masyarakat, agar masyarakat tak keliru memahami mana yang beradab mana yang tidak beradab. Jika tak dijelaskan begitu maka jangan uring-uringan dan jangan protes apabila kemudian tercipta normalisasi standar nilai dan perilaku di tengah masyarakat bahwa perilaku seperti Klan Habib Baalwi di atas merupakan perilaku yang beradab.

Jadi jika NU tak menjelaskannya, maka NU tidak berhak marah bila nanti ada orang memperlakukan Anda dan NU seperti itu. Mengapa? Karena Anda menetapkan standar normalnya begitu. Sedangkan saya dan mungkin orang lain, tidak menerima standar perlakuan seperti itu, sehingga saya dan orang lain yang sepemahaman, memiliki hak dan dibenarkan untuk marah dan menghardik orang yang berperilaku yang kami nilai melecehkan kami berdasar standar kami. Maka, masing-masing silakan menanggung konsekuensinya atas standar dan pilihannya.

Semua Dapat Terjadi Karena NU

Klan Habib Baalwi dapat berperilaku seenaknya begitu   mengabaikan nilai dan budaya lokal bahkan kepada Ketua MPR RI karena keberadaan dan kespesialannya dilegitimasi dan dikarpeti merah oleh NU. Seperti Habib Umar bin Hafidz diposisikan oleh NU sebagai ulama besar dan guru yang dijunjung-junjung NU. Hanya NU yang melegitimasi Klan Habib Baalwi seperti itu, ormas lain tidak. Andai NU tidak demikian, tentu Klan Habib Baalwi tidak memiliki power untuk datang ke Indonesia dan berperilaku bebas seenaknya sendiri. Oleh karenanya, NU turut bertanggungjawab atas perilaku-perilaku Klan Habib Baalwi terlepas pilihan penilaian NU bagaimana atas perilaku mereka itu. Jika perilaku Klan Habib Baalwi itu dinilai mulia oleh NU, maka kemuliaan bagi NU. Jika perilaku Klan Habib Baalwi dipandang tidak mulia bahkan pada derajat perilaku yang terkutuk, maka terkutuklah NU.

Enak sekali ya jadi Klan Habib Baalwi: memalsu makam ditolerir oleh NU, memalsu sejarah ditolerir oleh NU, menghina bangsa pribumi tidak mengapa bagi NU, mencaci maki juga tidak apa-apa, bangsa pribumi didawir Klan Habib Baalwi diizinkan oleh NU, bangsa pribumi dipersekusi tidak apa-apa bagi NU, bangsa pribumi dilecehkan secara verbal dan seksual juga tidak apa-apa, logo NU dirusak tidak apa-apa. Dapat dikatakan tidak ada sikap dari NU atas semua itu, semua dibiarkan. Alhamdulillah, mulia sekali kultur dan akhlak organisasi NU. Jangan-jangan nanti bendera merah putih dijadikan keset oleh Klan Habib Baalwi juga tidak apa-apa karena bendera merah putih dipandang oleh NU hanyalah sekedar kain belaka.

Alhamdulillah

Saya sangat ‘bersyukur’ bila saya dan pribumi lainnya diberi NU privelege yang sama seperti kepada Klan Habib Baalwi. Sungguh aneh bila tidak begitu sebab sebagaimana perkataan Mbah Nun, “Sekarang kalau nasab atau keturunan yang dimaksud itu kan level biologis, antropologis, kultural atau level ruh atau level Nur, kan begitu. Kalau pakai level jasad belum tentu saya turunan Rasul belum tentu juga bukan, kan harus diselidiki.”[1] Kalau NU husnudzan kepada Klan Habib Baalwi, tidak ada catatan bukan berarti tidak ada, bagaimana jika kelak di akhirat ternyata benar; jika demikian prinsip NU lalu mengapa kepada kami, bangsa pribumi, NU memasti-mastikan bahwa kami bukan sehingga Anda (NU) tak memberi privilege yang sama kepada kami seperti ke Klan Habib Baalwi bahkan menindas-nindas kami secara verbal dan kebijakan. Ini bukan kami demanding untuk dihormati, ora patheken tentang itu, melainkan ini tentang menguji sikap adil.

Tetapi membahas seperti keadilan pun sebenarnya sia-sia kepada NU karena organisasi NU tidak memiliki moral standing untuk berbicara tentang moralitas, keadilan, akhlak, adab, dan seterusnya. Bagaimana bisa NU memiliki hak bicara tentang itu padahal dirinya gagal dan melanggar itu semua: suap jadi budaya yang norrmal, tidak adil dalam bersikap, mempaving makam pribumi demi Klan Habib Baalwi, memanipulasi akidah Islam, tidak melakukan apa yang dinarasikan secara besar-besaran—tentang ilmu, adab, akhlak, dls. Kaburo maqtan indallahi antaquluu maa laa taf’aluun. Sungguh besar murka di sisi Allah NU bicara apa yang tak NU lakukan.

Jadi, bagusnya NU melakukan moratorium untuk bicara dan mengajarkan hal-hal seperti itu—terlalu ndakik bagi NU—dan fokus saja mengurus moral dan akhlaknya sendiri. Lirik Iwan Fals ini cocok buat NU: masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri, urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau, tegakkan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu, pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa.

Perlu digarisbawahi supaya tidak salah paham dan akurat persepsinya: NU itu organisasi. Yang NU adalah strukturalnya dan para elitenya yang melekat pada dirinya sebagai representasi NU. NU dan warga NU itu dua hal berbeda: warga NU bukan NU sebab warga NU tidak berhak bicara atas nama NU. Perilaku NU dan perilaku warga NU itu juga dua hal berbeda meski perilakunya bisa jadi sama dan bisa jadi juga berbeda. Yang saya sebut dalam esai ini adalah NU—bukan warga NU individu per individu, meski—sekali lagi, perilakunya bisa jadi sama dan bisa jadi juga berbeda.


[1] Kita Semua Habib | Seri Habib 1 / 4 https://youtu.be/YLLtZ0LpoDs?si=LmCnl6YDJeGxFLxG (04 Desember 2020). Definisi yang dijelaskan Pak Muzamil tentang habib adalah sebelum polemik nasab.

ShareTweetShare
Previous Post

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Next Post

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Related Posts

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
5

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
58

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
59

RMI PWNU BANTEN DORONG SINERGI PEMBERDAYAAN PESANTREN, SAMBUT POSITIF RENCANA PERGUB BANTEN

9 Oktober 2026
43

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

8 Oktober 2026
83

Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

3 Oktober 2026
198

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
244

Resmi, Ini Struktur Lengkap PBNU Masa Khidmah 2026–2031

1 Oktober 2026
152

BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

28 September 2026
125

Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

24 September 2026
241
Next Post

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Paling Banyak Dilihat

Opini

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

by Admin
14 Oktober 2026
5

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Islam UIN Walisongo Semarang) Kejayaan keemasan Islam lahir dari keterbukaan berpikir dan keberanian intelektual....

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

RMI PWNU BANTEN DORONG SINERGI PEMBERDAYAAN PESANTREN, SAMBUT POSITIF RENCANA PERGUB BANTEN

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.1k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25