TANGERANG – Satu hari penuh, banyak panggung, dan lapangan yang nyaris tak pernah sepi. Begitulah Hari Santri Nasional di Pesantren Tahfidz & Entrepreneur Baitul Muqoddas Tangerang, Kamis (22/10/2026). Rangkaiannya dimulai dari Upacara Memperingati Hari Santri Nasional, berlanjut ke perlombaan, dan memuncak pada Muhadhoroh Kubro pukul 15.30 hingga 17.45 WIB di lapangan pesantren.
Pagi hari, para santri berkumpul untuk mengikuti upacara. Selepas itu, suasana berganti ke arena lomba. Kaligrafi dan nasyid termasuk yang dipertandingkan, dan hasilnya diumumkan pada sesi pembagian hadiah di akhir acara.
Siang hari diisi istirahat dan gladi. Menjelang sore, santri melaksanakan salat Ashar dan membaca Dzikir sore bersama, lalu bersiap menuju acara puncak.
Panggung yang Hangat Sejak Menit Pertama
Pukul 15.30, Muhadhoroh Kubro dibuka. Para santri tampil di hadapan KH. Fadhil selaku Mudir, Mudiroh, Kepala MTs, Kepala MA, tokoh agama, serta para wali santri.
Pembukaan dipandu tiga pembawa acara yang masing-masing menggunakan bahasanya sendiri: Hayya (Arab), Qurny (Indonesia), dan Faiz (Inggris). Cara pembukaan yang tidak biasa ini langsung memberi warna pada acara.
Setelah itu, tiga qori, Viki, Fayyad, dan Fadhil, melantunkan ayat suci bergantian. Suasana makin hidup saat hadroh tampil, disusul juara nasyid putra dari kelas 10 dan juara nasyid putri dari kelas 9. Sepanjang acara, penonton tampak amat terhibur. Setiap kali sebuah penampilan selesai, tepuk tangan meriah mengiringi para santri turun dari panggung.
Khitobah ‘Ammah Tiga Bahasa
Sesi terpanjang adalah Khitobah ‘Ammah tiga bahasa, berlangsung sekitar satu jam sepuluh menit. Delapan santri naik panggung bergantian membawakan pidato dan story telling:
- Pidato Bahasa Indonesia: Nuraone Roliansyah, Halwa Zhafira Uzma Lathifa, Muhammad Pasha Paningron, dan Khalisa Hasibuan
- Pidato Bahasa Inggris: Andrian Jovan Ramadhan
- Story Telling Bahasa Inggris: Izza Miftahul Jannah
- Pidato Bahasa Arab: Muhammad Zaidan Husain Al Faruq dan Hafsah Liyana Zahira
Perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain membuat sesi yang panjang ini tetap terasa segar. Tepuk tangan penonton pun terus terdengar di setiap penampilan.
Menjelang akhir, doa dipimpin Zakie Rizieq Ramadhan. Setelah itu, hadiah dibagikan kepada para juara lomba, dan acara ditutup oleh pembawa acara tiga bahasa.
Para Juara Lomba
Kaligrafi putra: Yusuf Karim Artiansa (juara 1), Rafa Firdaus Ekaputra (juara 2), Justin Daffa Naufal (juara 3).
Kaligrafi putri: Ilmie Septiani Very Kesit (juara 1), Aqueela Fithriana Tuba’a (juara 2), Fatimah Husna Al Ghaziyah (juara 3).
Nasyid putra: juara 1 kelas 10, juara 2 kelas 9, juara 3 kelas 8.
Nasyid putri: juara 1 kelas 9, juara 2 kelas 10, juara 3 kelas 7.
Kesan Mudir dan Wali Santri
Bagi KH. Fadhil, sore itu meninggalkan kesan yang dalam. “Acara yang sederhana tapi membawa kesan yang luar biasa untuk santri dan wali santri BM. Performa santri begitu memukau. Ke depannya acara seperti ini perlu dilanjutkan, untuk memupuk daya juang tinggi pada santri,” ujarnya.
Dari bangku wali santri, kesannya senada. “Alhamdulillah acara sangat meriah, ma syaa Allah. Kami juga tidak menyangka anak-anak sesemangat itu. Semoga menambah energi buat anak-anak agar semakin istiqomah dan semangat menjadi penghafal Al-Qur’an,” tutur salah satu wali santri.

Ia juga berterima kasih kepada para ustadz dan ustadzah yang mendampingi putra-putri mereka, dengan harapan para pendidik diberi kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing. Ia turut mendoakan agar pesantren semakin sukses ke depan.
Muhadhoroh Kubro sore itu memberi santri kesempatan tampil di hadapan guru, pimpinan, dan orang tua mereka sendiri, dengan sambutan hangat dari penonton di setiap penampilan. (Din)