Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 memperlihatkan pergeseran peta kekuatan yang amat dinamis. Di balik layar, pertarungan tidak hanya berkisar pada perebutan suara struktural, tetapi juga benturan narasi ideologis dan kultural yang mengakar kuat di level akar rumput. Salah satu fenomena paling mencolok adalah menguatnya posisi Gus Kikin (KH. Abdul Hakim Mahfudz) dan meredupnya peluang Prof. Nasaruddin Umar (Prof. Nazar) dalam konstelasi bursa kepemimpinan PBNU dari kubu inkumben.
Poros Legitimasi Tebuireng dan Kembalinya Sanad Lokal
Persaingan utama antara kubu inkumben dan penantang semakin terasa. Gus Yusuf Hudari direpresentasikan sebagai penantang terkuat kubu inkumben. Sebelumnya Prof Nazarudin Umar sebagai calon kubu inkumben dinilai di atas angin. Tapi beberapa hari ini peta bergeser ke Gus Kikin. Keunggulan Gus Kikin dalam ranah perpolitikan kultural ini tidak lepas dari posisi strategis beliau sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus cicit dari sang Pendiri NU, Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Dalam tradisi pesantren, modal nasab dan legitimasi sejarah Tebuireng memegang peranan krusial. Arus bawah NU—yang dimotori oleh simpul-simpul kiai sepuh, PWNU, serta PCNU—tampak sedang mengonsolidasikan diri dalam gerakan pengarus-utamaan sanad keilmuan lokal (Jawa/Nusantara). Pilihan untuk mendorong figur yang mengakar kuat di pesantren episentrum Jombang seperti Gus Kikin menjadi jawaban atas kerinduan warga nahdliyin untuk mengembalikan kepemimpinan ke poros khittah kultural.
Terjegal Polemik Keturunan dan Isu JATMA
Di sisi lain, Prof. Nasaruddin Umar yang semula dipandang sebagai kandidat kuat dari unsur akademisi dan birokrat, bahkan konon mengantongi restu istana, mulai menghadapi perlawanan pasif di tingkat basis. Posisi beliau terbilang riskan akibat keterkaitannya dengan isu-isu sensitif yang tengah menjadi sorotan di kalangan kiai sepuh. Kedekatan Prof. Nazar dengan tokoh-tokoh yang kini digugat arus bawah atas dugaan pembelokan sejarah NU serta narasi nasab, seperti Habib Lutfi bin Yahya, membuat posisinya rentan diserang secara kultural.
Munculnya JATMA yang dinilai memicu keretakan dan dianggap sebagai “NU Tandingan” terhadap institusi resmi JATMAN PBNU memicu kegelisahan mendalam di lingkungan pengasuh pesantren. Pemberian karpet merah Prof. Nazar terhadap JATMA milik Habib Lutfi di Istiqlal beberap waktu lalu, telah melukai Kiai-Kiai Tarikat NU. Hal ini menjadi beban politik yang cukup berat untuk Prof. Nazar untuk dijual ke pengurus daerah dan wilayah.
Kalkulasi Pragmatis Ring Satu dan Strategi Lapangan
Melihat berhembusnya angin perubahan di tingkat PWNU dan PCNU, para perancang strategi di lingkaran kekuasaan bergerak cepat melakukan penyesuaian (balik kanan). Tokoh-tokoh kunci seperti Gus Ipul (GI) dan Nusron Wahid (NW) dipandang lebih memilih menyelaraskan diri dengan kehendak arus bawah daripada melawan arus.
Peralihan dukungan ke figur Gus Kikin (GK) serta pemetaan poros pendamping/penyeimbang melalui Gus Rozin (GR) yang mewakili garis Tambakberas/Kajen adalah bentuk kalkulasi taktis. Gus Kikin dianggap sebagai safe haven—sosok yang netral dari perselisihan JATMA, bersih dari polemik nasab non-kultural, sekaligus mengantongi legitimasi tertinggi dari Mbah Hasyim Asy’ari.
Fenomena ini menegaskan bahwa dalam Muktamar NU, kelengkapan administrasi dan dukungan elit elite Jakarta sering kali harus tunduk pada gelombang kesadaran kultural pesantren yang menginginkan NU tetap dijaga oleh nasab dan sanad keilmuan aslinya.
Oleh: Didin Syahbudin