Oleh: Rifky Zulkarnaen J. Baswara
Dua hari terakhir nama KH. Hasan Abdullah Sahal kembali menyita perhatian publik. Sikap, pembawaan diri dan potongan ceramah Pengasuh Pondok Modern Gontor Ponorogo (PM Gontor) di acara Kesyukuran 100 tahun PM Gontor bersama Presiden Prabowo viral di berbagai platform media (cross-platform).[1] Berdasar video rilis resmi PM Gontor, dinyatakan secara terbuka bawa Trimurti Gontor (pendiri) merupakan keturunan ke-14 Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel. KH. Hasan Sahal sendiri merupakan anak pendiri, maka beliau berada di urutan turunan ke-15 Sunan Gunung Jati.[2] Jadi Kiai Hasan Sahal masih saudara dengan Kiai Maruf Amin, Kiai Imaduddin Utsman Al Bantani, Tubagus Mogi Nurfadil, Kiai Said Aqil dan trah Cirebon-Banten lainnya. Mudah-Mudahan orang Banten bisa kembali merajut silaturahim antara Banten dengan Gontor.
Angka turunan ke-15 Sunan Gunung Jati pada Kiai Hasan Sahal ini sejajar masanya dengan Presiden Jokowi yang menurut analisa Kiai Hanan Madura (LP3SN) merupakan turunan ke-16 Sunan Giri. Kiai Hanan sendiri menyatakan bahwa analisanya merupakan analisa sepihak dan butuh dikonfirmasi kepada keluarga Presiden Jokowi. Angka turunan ke-15 Sunan Gunung Jati pada Kiai Hasan Sahal juga sejajar dengan Jenderal Dudung Abdurrahman yang merupakan turunan ke-16 Sunan Gunung Jati.[3] Presiden Prabowo sendiri diketahui merupakan trah Sultan Hamengkubuwono II (dua) Keraton Jogja di mana Keraton Jogja diketahui merupakan trah Wali Songo dari berbagai jalur Sunan.[4] Ini kita belum memasukkan nasab Presiden Gus Dur, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa elite-elite bangsa ini baik di wilayah ruhani maupun wilayah birokrat masih satu saudara.
Jadi, seumpama mereka bertengkar, ah itu pertengkaran sesama saudara saja. Yang penting Nusantara ini milik Pribumi bukan milik Klan Habib Baalwi Imigran Yaman atau pun bangsa-bangsa tamu lainnya.
Kembali ke Kiai Sahal. Gestur, sikap mental dan pembawaan dirinya saat bersama Prabowo dikontraskan oleh publik dengan bagaimana sikap tokoh-tokoh ormas agama seperti Menag Nazarudin Umar yang juga pengurus NU, membungkuk semi mencium tangan Prabowo (sumber: beredar di X).

Isi pidato Kiai Sahal diapresiasi oleh publik. Tiga poin di antaranya:
“Sekarang banyak orang yang cari muka. Orang tidak punya ijazah, cari ijazah. Orang tidak punya nama, cari nama. Orang tidak punya uang, cari uang. Orang tidak punya jabatan, cari jabatan. Orang tidak punya muka, cari muka.” Sebelumnya, beliau juga sempat berkelakar bahwa jika Presiden Prabowo hari itu tidak datang, maka dirinyalah yang harus “cari muka” karena bingung harus menaruh mukanya di mana. Kiai Hasan Sahal menyampaikan kritik sosial yang tajam tanpa mencaci maki seperti Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya. Ia kemas kritikannya dengan satire dan humor segar dengan tanpa kehilangan ketajaman arti. Ungkapannya itu menyindir fenomena orang-orang di masyarakat maupun lingkaran kekuasaan yang selalu mengejar sesuatu yang belum mereka miliki demi sebuah pengakuan. Bila kita extend, karena ditayangkan secara luas, selain menyindir pemerintah ini juga menyindir orang yang katanya ulama yang mencari-cari muka untuk memperoleh jabatan dan Klan Habib Baalwi yang mencuri-curi nasab dan mencari-cari muka dengan nasab—itu karena Klan Habib Baalwi tidak punya nasab mulia dan tidak punya muka.
Kiai Hasan secara gamblang terbuka menyatakan bahwa kultur dan nilai hidup pimpinan pondok tidak boleh melebihi para santrinya. Beliau bahkan mempersilakan dirinya dikritik atau didemo jika kedapatan hidup mewah. “Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo. Inilah Gontor,” tegasnya. Tentu saja kultur ini kontras dengan kultur NU terutama di Jawa Timur seperti Ploso, Lirboyo, amit-amit jabang bayi—Sarang Kibin Rembang, lebih-lebih di Madura di mana kiai bukan lagi setengah dewa tetapi sudah menjelma menjadi Tuhan. Kiai-kiai mereka tidak boleh dikritik, apalagi didemo, dikritik saja sudah langsung keluar jurus saktinya: kualat, suul adab, tidak tahu sopan santun, mati suul khotimah, kalau berjalan depan kiai harus menunduk seperti budak, bila perlu ngesot dan mencium kaki. Sudah sebelas dua belas dengan Klan Habib Baalwi. Penulis tidak mengatakan itu buruk, khazanah yang demikian itu bisa dipandang sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa kita hanya saja berbeda 180 derajat dengan PM Gontor yang didirikan oleh trah Sunan Gunung Jati. Orang memiliki kebebasan memilih lebih cocok yang mana, apakah orientasi orang tuanya ingin anaknya dididik jadi budak atau jadi manusia yang jiwa dan pikirannya merdeka, itu keputusan masing-masing.
Di depan Presiden Prabowo Kiai Hasan Sahal menyampaikan dengan tanpa ragu-ragu, “Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah”. Yang dimaksud beliau adalah prinsip kemandirian dan kebebasan pondok pesantren, tidak berada di bawah pengaruh kekuasaan atau kepentingan apa pun kecuali hanya kepada Allah Swt. Pesan itu ke pemerintah itu merupakan garis demarkasi yang tegas tanpa ragu-ragu, ke santri itu adalah pendidikan pedoman nilai-nilai hidup, mungkin juga bisa kita maknai sindiran ke segala arah seperti bagi mereka yang memposisikan dirinya sebagai ulama yang hidupnya “Di atas selalu Baalwi, pribumi harus di bawah, dan Allah tidak ada!” atau ada Allah tapi dianggap tidak penting. Contoh hal itu adalah sebagaimana ditunjukkan oleh Rais Aam PBNU, Syekh Miftachul Akhyar, dan bestie-bestienya.
Mungkin ada irisan darah Banten di Kiai Sahal yang masih kental, mentalitas Bantennya keluar dengan sangat mencolok pada suatu kesempatan sekitar 8 tahun yang lalu beliau berorasi:
“Pesantren berdiri berabad-abad untuk membentengi Bangsa Indonesia, membentengi umat Islam dari pengaruh-pengaruh kekafiran, dan dari pengaruh-pengaruh penjajah dan penjajahan! MAKA, KALAU ADA KIAI TIDAK ANTI PENJAJAH DAN PENJAJAHAN ITU KIAI PALSU! KALAU SANTRI, ADA SANTRI TIDAK ANTI PENJAJAHAN, ITU SANTRI PALSU! KALAU PESANTREN TIDAK ANTI PENJAJAHAN, ITU PESANTREN? PALSU! Kita ini akan dijajah, Nak, sedang dijajah dan akan dijajah kembali! Subhanallah. Dengan caranya masing-masing oleh kaum lan tardho!”[5]
Menurut Kiai Hasan Sahal, kiai, santri, dan pesantren yang tidak anti penjajah dan penjajahan adalah kiai palsu, santri palsu dan pesantren palsu. Dalam konteks hari ini kita mengalami dan menjalani peristiwa penjajahan oleh Klan Habib Baalwi.[6] Kita saksikan dengan kepala mata sendiri ada kiai yang membela Klan Habib Baalwi, maka merekalah kiai palsu; ada santri yang membela Klan Habib Baalwi, maka merekalah santri palsu; ada pesantren yang membela Klan Habib Baalwi, pesantren itulah pesantren palsu. Yang tiga-tiganya masuk kriteria Kiai Sahal sebagai kiai palsu, santri palsu, dan pesantren palsu dengan pasti meyakinkan adalah Pondok Pesantren Al Anwar. Lain di Rembang Jawa Tengah, di Banten ada pula seperti Kurtubi Lebak dan Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi. Nanti kita tabulasi kiai palsu, santri palsu, dan pesantren palsu lainnya berdasar kriteria Kiai Sahal. Ada baiknya Anda bukanlah salah satu yang akan masuk daftar itu.
[1] RESEPSI KESYUKURAN 100 TAHUN GONTOR BERSAMA PRESIDEN RI BAPAK PRABOWO SUBIANTO https://www.youtube.com/live/K27kEOke5dM?si=oIBcwMiqcmgh0mHX (19 September 2026) [2] PROFIL PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR | 100 TAHUN GONTOR https://youtu.be/OC6g3jZV-Og?si=OZSiCqUvzXBqefyy (21 September 2026) [3] JENDRAL DUDUNG ABDURRAHMAN CUCU SUNAN GUNUNG JATI GENERASI 16 @sayyidbaharbinsumaithofficial https://youtu.be/lc6-Wv35pUw?si=ogqHNK55v7jXH7j8 (24 Mei 2023) [4] Keluarga Trah Ungkap Darah Sultan HB II Mengalir Dalam Tubuh Presiden Prabowo Subianto https://www.krjogja.com/yogyakarta/1246424110/keluarga-trah-ungkap-darah-sultan-hb-ii-mengalir-dalam-tubuh-presiden-prabowo-subianto (12 Agustus 2025) [5] Kh. Hasan Abdullah Sahal : BLUE SHOES CAN’T 😂😂 https://youtu.be/omZNx2BmCcc?si=2G80Ae-V8dMIPR18 (2018) [6] Klan Habib Baalwi, Dulu Antek Penjajah Belanda Kini Penjajah Bangsa Nusantara https://rminubanten.or.id/klan-habib-baalwi-dulu-antek-penjajah-belanda-kini-penjajah-bangsa-nusantara/ (05 Agustus 2024)