• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Pustaka Kitab

Kedahsyatan Kalimat Laa Ilaha Illa Allah

by Admin
27 November 2023
in Kitab, Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Hamdan Suhaemi

Latar Belakang

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya mengadakan tahlilan ketika orang tua, atau sanak keluarganya meninggal dunia. Menjadi tradisi yang berbeda dari negara-negara lainnya yang berpenduduk muslim. Potret ritual seputar kematian yang sudah jadi tradisi sejak dulu, entah berawal dari anjuran Wali Songo penyebar Islam di Jawa ataukah satu abad belakangan, yang jelas tahlilan sudah jadi adat mendoakan orang yang meninggal dunia.

Tentu adat dan tradisi itu terbentuk berdasarkan ajaran, anjuran dan cara pandang orang dulu untuk kebaikan. Saya baik sangka bahwa pada dasarnya adat dan tradisi itu berdasarkan kebaikan demi kemaslahatan keturunan dan generasi setelahnya.

Apa Itu Tahlilan

Tahlilan itu istilah masyhur yang isinya pembacaan tawassul, baca al-Quran surat al-Ikhlas, al-Mu’awidzatain ( Falaq binnas ), baca istighfar, dzikir ” laa Ilaha Illa Allah” kemudian ditutup do’a untuk orang yang meninggal dunia. Dalam kegiatan do’a untuk orang yang meninggal dunia itu ada dzikir tahlil yang kemudian populer dikenal Tahlilan.

Ulama-ulama terdahulu dari kalangan mazhab Syafii, Hambali, Maliki maupun Hanafi berpendapat boleh, dan pahalanya dihadiahkan kepada orang yang meninggal dunia itu sampai, seperti yang di sampaikan oleh Syaikh Usman bin Ali Az-Zaila’i dalam kitabnya ” Tabyinul Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq ” ( juz 5, h.131) dari Mazhab Hanafi bahwa seseorang di bolehkan menjadikan amalnya untuk orang lain, baik shalat, puasa, haji, sedekah, bacaan Al-Qur’an, dzikir atau sebagainya, berupa semua jenis amal baik. Pahala nya itu sampai kepada mayit dan bermanfaat baginya.

Dalam kitab Rahmatu al-Ummati fi ikhtilafi al-Aimmati (h.73), keempat imam madzhab berkesempatan menghukumi mubah dan pahala tahlilan itu wushul ( sampai ) kepada mayit.

وأجمعوا على الاستغفار و الدعاء و الصدقة و الحج و العتق تنفع الميت و يصل إليه ثوابه و قراءة القرآن عند القبر مستحبة.

Artinya: dan semua imam madzhab menetapkan atas istighfar, do’a, sedekah, dan pahala haji, dan pahala membebaskan budak itu bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya sampai kepadanya, kemudian baca Qur’an di sisi kuburnya adalah dibolehkan.

Kemudian Imam Muhyiddin al-Nawawi dalam kitabnya al-Raudloh memfatwakan bahwa pahala bacaan untuk mayit itu sampai, begini penjelasannya.

واختاره النووى في الروضة ثواب القراءة يصل إلى الميت و يحصل له نفعه

Termasuk Imam Ibnu Sholah, ulama dari madzhab Syafi’i menjelaskan.

ولا خلاف في نفع الدعاء و وصوله و اهل الخير قد وجدوا البركة في مواصلة الاموات بالقران و الدعوات

Artinya: tidak ada perbedaan pendapat dalam hal manfaat do’a, dan sampainya do’a, kemudian golongan orang baik selalu mendapatkan keberkahan dalam keterampilan pahala baca Qur’an dan do’a untuk orang yang mati.

Jika merujuk para Imam madzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah, terutama Imam-imam dalam madzhab Syafi’i ternyata sudah memfatwakan kebolehan tahlilan yang isinya baca Qur’an, dzikir, dan doa untuk orang yang meninggal dunia, kemudian pahalanya sampai kepadanya.

Berarti para Wali Songo di abad 15 masehi menerapkan tahlilan itu karena fatwa madzhab Syafi’i membolehkan, sebab mereka adalah ulama yang berasal dari madzhab Syafi’i dan rata-rata para wali songo itu pengamal tarekat, karena itu pula di dalam lafal tarekat selalu ada dzikir “laa Ilaha Illa Allah” maka kalimat tersebut dikenal sebagai Tahlilan.

Baca Juga

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Kalimat Laa Ilaha Illa Allah

Kalimat tahlil “laa Ilaha Illa Allah” sebagai kalimat yang lebih utama, dan utama-utamanya dzikir. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW terkait keutamaan kalimat tauhid tersebut.

قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم افضل ما قلت أنا و النبيون من قبلي لا اله الا الله

Artinya: yang lebih utama dari apa yang saya ucapkan dan para nabi sebelum ku adalah kalimat laa Ilaha Illa Allah.

Masih berdasarkan hadits Rosulullah S.a.w tentang kemanfaatan kalimat tahlil untuk yang masih hidup maupun untuk yang telah meninggal dunia.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

Artinya: sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang membiasakan baca laa Ilaha Illa Allah dan dengan berharap karena Allah semata.

Dalam kitab Kasyifatu al-Saja ( h. 14 ), Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan.

و فضائلها لا تحصى منها قوله صلى الله عليه وسلم من قال لا إله إلا الله ثلاث مرات في يومه كانت له كفارة لكل ذنب اصابه في ذلك اليوم

Artinya: dan keutamaan-keutamaan kalimat Laa Ilaha Illa Allah itu tidak terhingga seperti halnya sabda Rasulullah S.a w ” siapa yang membaca dzikir laa Ilaha Illa Allah tiga kali di setiap harinya maka dosa yang dibuatnya setiap hari itu tertebus (dihapus).

Adalah Syaikh Muhammad Idrus Qoimudin al-Buthoni, ulama abad 19 Masehi, dalam kitabnya Mu’nasatu al-Qulubi fi al-Dzikri wa Musyahadatu Allami al-Ghuyubi ( h.21 ) menjelaskan.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قال لا إله إلا الله خالصا من قبله ومدها بالتعظيم كفر الله عنه أربعة آلاف ذنب من الكباءر فإن لم يكن عليه أربعة آلاف ذنب من الكباءر كفر الله عن أهله و جيرانه

Artinya : Rosulullah bersabda siapa yang membaca dzikir laa Ilaha Illa Allah dengan ikhlas dari hatinya dan membiasakannya dengan tadhim maka Allah hapus empat ribu dosa dari dosa dosa besar, kemudian bila tidak ada empat ribu dosa baginya maka Allah hapus dosa keluarga dan tetangganya.

Dalil dari hadits Rosulullah ini, jadi dasar kenapa Tahlilan ditradisikan di Indonesia oleh masyarakat muslim yang berpegang pada madzhab ahli Sunnah wal Jama’ah, ini salah satu alasan kuatnya, dan Tahlilan yang berisi tawassul, baca al-Quran, dzikir laa Ilaha Illa Allah dan doa yang pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal, begtu besar manfaatnya.

Kalimat Akhir

Kalimat tahlil laa Ilaha Illa Allah begtu dahsyatnya, ia adalah pokok dzikir dari setiap tarekat, ia pula mengandung keutamaan-keutamaan yang oleh Rosulullah S.a.w anjurkan untuk umatnya, terlebih bagi yang orang yang telah meninggal yang mengharapkan doanya dari kita yang masih hidup.

Serang, 27 November 2023

ShareTweetShare
Previous Post

Menghindari Kekerasan atas Perempuan

Next Post

Epistemologi Kitab Shahih Bukhari dan Nasab Ba Alawi

Related Posts

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
21

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
30

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
56

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
133

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
61

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
98

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
412

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
79

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
74

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
266
Next Post

Epistemologi Kitab Shahih Bukhari dan Nasab Ba Alawi

Paling Banyak Dilihat

Opini

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

by Admin
26 Oktober 2026
21

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah_Rembang) Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan klaim...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25