• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Epistemologi Kitab Shahih Bukhari dan Nasab Ba Alawi

by Admin
28 November 2023
in Opini, Pesantren
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Oleh: Alwiyan Qosyid Syam’un (Pengasuh Pesantren Al-Khaeriyah Citangkil Cilegon)

Banyak yang tersentak dan tidak mampu menjawabnya ketika dihadapkan dengan pertanyaan, mengapa kita dan para ulama percaya bahwa dalam kitab shahih Bukhari benar-benar berisikan kata-kata Nabi Saw? Padahal kitab tersebut ditulis jauh setelah Nabi Saw dan para sahabatnya wafat.

Kitab Shahih Bukhori dipercaya sebagai kitab yang berisikan kata-kata Nabi Saw bukan karena personifikasi Imam Bukhori ansich tapi karena standar epistemologi, ontologi dan aksiologi terutama metodologi Imam Bukhari yang dipandang ilmiah dan ketat oleh para ulama. Dari sekian puluh ribu matan hadits yang dihafal oleh Imam Bukhari berikut rangkaian sanad dan perawinya tapi yang dimasukan ke dalam kitab shahihnya hanya kisaran 7.000an hadits dan selebihnya yang puluhan ribu matan tidak dimasukan karena oleh Imam Bukhori dipandang tidak memenuhi standar metodologi yang digunakan oleh Imam Bukhari, baik dari sisi matannya, sanadnya maupun perowinya dengan syarat-syarat yang telah ditentukan kepada masing-masingnya.

Hal tersebut mengisyaratkan betapa ketatnya standar metodologi Imam Bukhari dalam menetapkan syarat syarat terhadap matan, sanad dan perowi sebagai wujud kehati-hatian dalam menetapkan status sebuah hadits. Inilah mengapa sebagian besar ulama mempercayai bahwa di dalam kitab Shahih Bukhari isinya adalah kata-kata Nabi Saw, bahkan jumhur ulama berpendapat bahwa kitab yang paling shahih setelah Alqur’an adalah kitab Shahih Bukhari. Bahkan ketika Imam Bukhari menilai seorang yang meriwayatkan hadits dalam konteks jarh wata’dil dengan fihi nadzor, maka tidak satupun hadits shahihnya yang mengambil riwayat dari orang dengan status fihi nadzor.

Apa intinya?
Kebenaran itu bukan ditentukan oleh siapa yang mengatakannya atau karena sedikit atau banyak yang setuju atau tidak setuju tapi karena syarat syaratnya terpenuhi. Karenanya, tak perlu silau kepada seseorang kecuali ia adalah sosok pemilik otoritas kebenaran seperti para Nabi dan Rasulullah. Lihatlah apa yang dikatakannya bukan siapa yang mengatakannya, periksalah secara epistemologis sebagai upaya verifikasi dan validasi pengetahun, karena siapapun itu jika tidak memiliki skill berpikir epistemologis maka patut diduga kesimpulannya salah. Epistemologi merupakan mahkamah konstitusi scientific yang berfungsi menguji validitas pengetahuan atau pernyataan scientific.

Seperti halnya perkara benar atau tidaknya pengakuan Ba’alawi atau para habaib bahwa nasab geneologis mereka tersambung kepada Nabi Saw harus dibuktikan secara ilmiah dengan standar metode tertentu bukan karena perkataan seseorang yang tidak teruji kebenarannya. Konsekuensi dari sebuah pengakuan adalah pembuktian, sama dengan ketika kanjeng Nabi Muhammad Saw mengaku sebagai utusan Allah, masyarakat minta bukti, maka turunlah mukjizat. Begitupun ketika ada orang yang mengaku cucu Nabi Saw, masyarakat minta pembuktian, ya tinggal dibuktikan saja secara ilmiah, biasa saja kan?

Kita ketahui bersama bahwa perkara pengakuan nasab Ba Alawi yang tersambung kepada Rasulullah Saw bukanlah perkara agama, karena tidak ada satupun teks agama yakni Alqur’an atau hadits secara tersurat maupun tersirat yang mengatakan bahwa Ba’alawi adalah dzuriyyat Nabi Saw. Bukan pula perkara yang bersifat subjektif seperti barokah atau tidak barokahnya Ba’alawi, baik atau buruknya akhlak seorang Ba’alawi, cerdas atau bodohnya seorang Ba’alawi, berjasa atau tidaknya hidup seorang Ba’alawi, membenci atau mencintai Ba’alawi, banyak yang setuju atau menolaknya “TETAPI” perkara yang harus dibuktikan melalui penelitian secara ilmiah, itu baru namanya objektif dan adil menempatkan sesuatu pada tempatnya, Wallahu a’lam.

Tags: ba alawiba alawi rungkadBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan RasulullahKRT. FAQIH WIRAHADININGRATmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsunasab rungkadpemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahya
ShareTweetShare
Previous Post

Kedahsyatan Kalimat Laa Ilaha Illa Allah

Next Post

Makna Simbolik Bismillah

Related Posts

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
17

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
71

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
167

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
136

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
108

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya

24 Juni 2026
105

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

24 Juni 2026
116

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
138

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
138

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
124
Next Post

Makna Simbolik Bismillah

Paling Banyak Dilihat

Berita

PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

by Admin
21 Juli 2026
42

GROBOGAN — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Grobogan menerbitkan surat instruksi resmi yang meminta badan otonomnya, yakni PC GP...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.5k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.5k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25