• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Santri Hikmah

Membenci dan Memerangi Klan Habib Baalwi adalah Kemuliaan

by Admin
23 November 2024
in Hikmah, Opini, Peristiwa, Pesantren, Pustaka, Santri, Sejarah
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kgm. Rifky Zulkarnaen

Di tengah percakapan publik mengenai Nasab Habib bukan Cucu Nabi, ada narasi tentang kebencian. Pihak Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya melemparkan tuduhan bahwa Kyai Imad dkk (kita) mengajarkan dan menyebarkan kebencian. Di pihak yang bersepakat dengan Kyai Imad dkk ada sebagian orang yang bersikeras menepis bahwa ini bukan mengajarkan kebencian melainkan menyampaikan kebenaran.

Ditilik dari motifnya, lemparan tuduhan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya tidak disemangati oleh ketulusan dan kejujuran; ia disemangati spirit menghalalkan segala cara guna mencapai tujuannya. Tipikal perilaku orang-orang licik dan munafik dan kita dapat menyaksikannya dari pola track record perilaku mereka.

Sementara segolongan orang yang menepis tuduhan dari Klan Habib Baalwi bahwa dirinya tidak mengajarkan dan menyebarkan kebencian, ditenagai oleh kebaikan dan ketulusan kepada masyarakat supaya betul-betul ini tidak memadat menjadi kebencian. Penulis sangat memahami niatnya baik. Namun, menurut penulis tidak perlu menolak kebencian itu sendiri hingga berlebihan sampai-sampai menajis-najiskan kebencian, anti kebencian. Seolah-olah meletakkan suatu kepastian nilai, dalam bahasa matematis meminjam terma fiqh:

benci = haram [= dosa besar = dilaknat Allah],

dan;

cinta = wajib [= pahala = dicintai Allah].

Tanpa disadari kita, manusia, melakukan statisasi psikologis pada sesuatu yang sifatnya dinamis. Di mana kebencian itu pasti sesuatu yang tidak baik, buruk, bahkan dimaknai sebagai sebuah kejahatan dan kehinaan yang sangat. Fix! Sama sekali tidak boleh dilakukan. Fix! Haroooooom hukumnya, seperti perkataan Habib Hanif mantu Imam Cebol. Sebaliknya, cinta distatiskan sebagai sesuatu yang pasti baik dan mulia.

Lho, tunggu dulu.

Penulis amat memahami kita tidak berlandas kebencian kepada siapa pun. Kita itu orang-orang yang malas membenci karena tidak ada manfaatnya. Kita ini membenci saja malas apalagi melakukan, tentu lebih malas lagi kecuali terpaksa karena melampaui batas.

Begitu kan?

Tetapi, andai, ada orang yang memang membenci Klan Habib Baalwi, memangnya kenapa? Apa salahnya, di mana salahnya, bagaimana salahnya, mengapa bisa salah. Kalau penulis akan berkata kepada orang tersebut bahwa boleh membenci dan memerangi Klan Habib Baalwi itu. Malahan justru berada di ruang lingkup yang diperintahkan Allah Swt.

Lho kok bisa?

Lho gimana kok gak bisa? Wong di Al Quran ada.

Penulis berminat mengajak pembaca kembali menengok Surat Al Hujuraat ayat 07 sampai 10. Penulis kutipkan terjemah Surat Al Hujuraat ayat 07 sampai 10 versi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (UII) di mana Gus Baha berada di dalam tim penerjemah UII tersebut:

07 – Ketahuilah bahwa di antara kamu ada Rasulullah. Sekiranya Rasulullah harus mengikuti kehendakmu pasti kamu berbuat banyak kesalahan. Tetapi Allah membuat kamu teguh (habbaba, mencintai) beriman dan menjadikan iman indah dalam hatimu. Allah menumbuhkan dalam hatimu kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Itulah orang-orang terpimpin ke jalan yang benar (lurus, raashiduun).

08 – dan merupakan karunia dan nikmat dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

09 – Jika ada dua kelompok orang Beriman bertengkar, damaikanlah mereka secepatnya. Bila salah satu di antaranya berlaku zalim kepada yang lain, tekanlah (faqotiluu, perangilah) golongan yang zalim sampai kembali ke jalan Allah. Kalau telah kembali, damaikanlah dengan cara yang adil dan benar (setegak-tegaknya, sepresisi mungkin, bil adli wa aqsituu). Allah sungguh suka (cinta) kepada orang-orang yang berlaku adil.

10 – Seluruh orang mukmin sungguh bersaudara, damaikanlah antara saudaramu dan takwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmatNya.

Di atas, perhatikan ayat 07 dan 08 saja dulu.

Pembaca telah menemukan bahwa ada kebencian yang kemunculannya bersifat alamiah-transeden yang itu Allah Swt sendiri yang menumbuhkan pasca Allah Swt membuat seseorang teguh dan mencintai keimanan dan mencapai stabilitas mental state (maqom) penyaksian keindahan pada iman; bahwa iman itu ternyata indah. Keadaan batin yang stabil di penyaksian keindahan akan iman, keadaan itu memunculkan kebencian. Kebencian terhadap apa? Kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Siapa yang menumbuhkan? Allah Swt.

Lebih fenomenalnya lagi, malahan orang yang membenci seperti itu distatusi oleh Allah sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk jalan yang benar (lurus); terpimpin pada jalan yang lurus. Ulaaika humurroshiduun. Allah Swt menggelari orang-orang yang seperti itu dengan gelar Ar-Rashid. Selain digelari Ar-Rashid, Allah juga menyatakan bahwa itu merupakan karunia dan nikmat dari-Nya. Fadhlamminallahi wa ni’matan.

Lho gimana? Boleh kan membenci? Baik tidak membenci itu, Sudareekk?? Mulia tidak membenci itu, Sudareekk?

Kan bergantung konteks dan subyek-obyeknya. Jika patuh kepada Al Hujuraat 07-08, justru membenci itu menjadi wajib ada dan haram hukumnya ditiadakan dalam tatanan uulaika humurrashidin dan fadhlamminallahi wa ni’matan. Mengapa? Karena Allah sendiri yang menjadi subyek utamanya, pelaku utamanya itu Allah, kita manusia sekedar obyek yang ndak bisa apa-apa kecuali nderek algoritma psikologis yang dicoding oleh Gusti Allah; di mana predikatnya adalah membuat manusia cinta keimanan, menjadikan iman indah dalam hatimu, dan menumbuhkan kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Jika tatanan batinnya benar, ya itulah perjalanan yang pasti terjadi.

Baca Juga

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Oleh karenanya, jika ada orang membenci kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan, itu artinya durhaka kepada Allah. Wah, bahaya itu. Apalagi jika terpeleset-peleset pembalikan: habbaba ilaikumul kufra wal fusuqa wal ‘isyan bahkan wa zayyanahu fi qulubikum. Lantas yang paling parah wa karraha ilaikumul iman wa zayyanal kufra wal fusuqa wal ‘iisyana fi qulubikum. Nah, itu sangat indikatif ada pada budak-budak Klan Habib Baalwi. Naudzubillahimindzalik.

Jadi, boleh tidak membenci Klan Habib Baalwi? Ini bukan tentang boleh atau tidak boleh. Melainkan memang begitu itu realitas psikologis yang diciptakan Allah dan itulah kemuliaan. Uulaika humurrashidiin dan fadhlamminallah wa ni’matan. Kita bilang boleh atau tidak boleh tidak berpengaruh apa-apa. Kita bilang boleh atau tidak kek, babbaah ora ngaruh blas.

Kalau ndak terima, bikin ‘Quran’ (dalam tanda kutip) sendiri aja. Silakan. Saya ndak.

Kalau Klan Habib Baalwi ndak apa-apa bikin kitab ‘suci’ sendiri karena Klan Habib Baalwi kan agama tersendiri, berbeda dengan Islam. Sebut saja agama Klan Habib Baalwi adalah agama TAII (Tarim Institute of Ideology) karena Nabinya Klan Habib Baalwi adalah Faqih Muqaddam bukan Muhammad Saw.

Bagaimana dengan Al Hujuraat 09-10? Jika ada dua kelompok orang beriman bertengkar, damaikanlah mereka secepatnya. Bila salah satu di antaranya berlaku zalim kepada yang lain, tekanlah (faqotiluu, perangilah) golongan yang zalim sampai kembali ke jalan Allah. KarenaKlan Habib Baalwi dan budak-budaknyatidak kunjung kembali ke jalan Allah maka fasenya mentok di faqotiluu terus-menerus. Tekanlah. Perangilah. Terus-menerus. Lho.. itu perintah Allah. Meski bagaimana manifestasi faqotiluu dalam perilaku, ayo kita rembug bareng. Tapi kan perintahnya jelas faqotiluu. Mengerjakan perintah Allah itu mulia atau tidak? Mulia kan? Ya sudah.

Kesimpulannya: membenci dan memerangi Klan Habib Baalwi adalah masuk ruang lingkup mengerjakan perintah Allah di mana taat mengerjakan perintah Allah adalah kemuliaan bagi manusia yang taat mengerjakan. Inna akromakum inddallahi atqokum.

ShareTweetShare
Previous Post

“Tarekat” Alawiyah Tidak Memenuhi Syarat Disebut Tarekat Muktabaroh Dalam Lingkup Nahdlatul Ulama

Next Post

RESIKO PERNIKAHAN SEDARAH DARI KLAN HABIB BA’ALWI DITINJAU DARI SISI GENETIKA

Related Posts

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
17

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
25

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

24 Oktober 2026
32

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
54

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
130

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
61

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
95

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
410

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
79

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
67
Next Post

RESIKO PERNIKAHAN SEDARAH DARI KLAN HABIB BA’ALWI DITINJAU DARI SISI GENETIKA

Paling Banyak Dilihat

Opini

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

by Admin
26 Oktober 2026
17

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah_Rembang) Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan klaim...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25