• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Menjadi Pengurus NU: Antara Amanah, Nikmat Khidmat dan Mozaik Perjuangan

by Admin
23 Agustus 2025
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU), setiap posisi, sekecil apapun, bukanlah sekadar jabatan administratif, melainkan sebuah amanah. Menjadi pengurus NU, baik di tingkat pusat, wilayah, cabang, maupun ranting, tidak pernah dipahami semata sebagai kedudukan, melainkan sebagai khidmat. Seorang Nahdliyyin yang diberikan kepercayaan untuk terlibat dalam struktur organisasi NU sejatinya tengah menerima anugerah yang besar. Anugerah itu bukan berupa kehormatan duniawi, melainkan sebuah kesempatan untuk ikut serta menyalurkan tenaga, pikiran, bahkan doa untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat serta bangsa.

Menjadi pengurus ibarat sebuah jalan syukur yang terbuka lebar. Hakikatnya bukan hanya pada lisan, melainkan mengerahkan segala potensi untuk kebaikan umat dengan niat yang ikhlas. Ketika amanah diberikan, maka sesungguhnya Allah sedang menguji: apakah seseorang akan menjadikannya beban atau justru melihatnya sebagai ladang amal yang sangat besar? NU, dengan sejarah panjang dan kedalaman tradisinya, telah membuktikan dirinya sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah terbesar yang lahir dari rahim pesantren dan doa para ulama. Terlibat di dalamnya, bahkan pada peran yang tampak sederhana sekalipun, sesungguhnya adalah bagian dari mozaik besar perjuangan.

Kebesaran NU tidak hanya terletak pada tokoh-tokoh besar atau keputusan dari pucuk pimpinan, melainkan pada jutaan warga Nahdliyyin dan jutaan pengurus dan mantan pengurus yang ikhlas menjaga ranting-ranting hingga cabang-cabangnya. Di situlah ruh NU berdenyut, tumbuh, dan hidup. Maka, menjadi pengurus NU meski hanya di level anggota adalah kebanggaan tersendiri. Dari situlah lahir kesempatan untuk menyambung sanad khidmat kepada para muassis dan ulama, menjadi perpanjangan tangan umat di akar rumput, serta meneruskan tradisi pengabdian yang menjadikan NU bukan sekadar organisasi, tetapi keluarga besar yang mengayomi.

Khusus di lingkungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, keterlibatan dalam kepengurusan memiliki nilai yang lebih mendalam. RMI adalah lembaga yang secara langsung menaungi seluruh pondok pesantren NU, sementara pesantren adalah marwah NU itu sendiri. Dari pesantrenlah lahir kultural NU, tradisi keilmuan, sanad keilmuan, amaliyah, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang kemudian tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru negeri, bahkan hingga ke berbagai belahan dunia. Dengan demikian, berkhidmat di RMI berarti ikut menjaga jantung NU, menjaga marwah pesantren, serta memastikan ruh keilmuan dan kultural NU tetap hidup dan berkembang.

Baca Juga

Popularitas Historiografi Genealogi: KH Imaduddin Utsman, Menjaga Integritas Sejarah Dari Interpolasi Ba’alwi 

Epistemologi Kritis Gus Dur: Menjawab Hegemoni Keberagaamn Digital dan Fragmentasi Otoritas di PBNU

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Menjadi pengurus Lembaga RMI NU misalnya dengan peran sekecil apapun sejatinya adalah suatu kehormatan, sebab di sanalah seseorang berkesempatan menjadi garda penjaga pesantren, menyambung tradisi ulama, dan membesarkan NU melalui jalur pendidikan pesantren. Keterlibatan itu bukan hanya sekadar menjalankan program, melainkan wujud penghormatan kepada para muassis NU yang sebagian besar adalah para kiai pesantren. Maka, seorang pengurus RMI sejatinya sedang berdiri di mata rantai panjang perjuangan ulama, menjadi bagian dari gerakan yang terus menyalakan cahaya ilmu dan akhlak.

Sekecil apapun peran yang diemban, bila dijalankan dengan ketulusan niat dan keikhlasan hati, insyallah ia dapat bernilai agung di hadapan Allah. Seorang pengurus NU sejatinya adalah pelayan umat. Ia tidak sedang membesarkan dirinya, tetapi membesarkan khidmat. Ia tidak sedang mengejar kemuliaan dunia, tetapi menanam amal yang semoga kelak akan dipetik hasilnya di akhirat.

Menjadi Nahdliyyin adalah anugerah. Dan dipercaya menjadi pengurus, meski hanya di tingkat ranting atau sekedar anggota NU, adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab mulia. Terlebih bagi mereka yang berkhidmat di RMI NU, “kebanggaan” itu bisa berlipat, karena bukan hanya mengabdi kepada NU, tetapi juga kepada pesantren, rumah besar yang menjadi sumber lahirnya NU. Dari pesantren, NU lahir. Dari pesantren, NU hidup. Dan bersama pesantren, NU akan terus menyebarkan cahaya Islam rahmatan lil ‘alamin, membawa keteduhan, kesejukan, dan keberkahan bagi bangsa dan umat manusia. Wallahu a’lam bisshowab.

Oleh: Didin Syahbudin

ShareTweetShare
Previous Post

Gelar Bahtsul Masail Nasab Ba Alwi LBM PCNU Batam Tidak Standar Ulama LBM

Next Post

إثبات الشيخ احمد بن محمد بن علوي المالكى لا يؤثر لبطلان نسب با علوي

Related Posts

Popularitas Historiografi Genealogi: KH Imaduddin Utsman, Menjaga Integritas Sejarah Dari Interpolasi Ba’alwi 

30 Oktober 2026
20

Epistemologi Kritis Gus Dur: Menjawab Hegemoni Keberagaamn Digital dan Fragmentasi Otoritas di PBNU

29 Oktober 2026
28

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
47

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
48

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
64

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
142

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
64

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
106

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
428

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
83
Next Post

إثبات الشيخ احمد بن محمد بن علوي المالكى لا يؤثر لبطلان نسب با علوي

Paling Banyak Dilihat

Opini

Popularitas Historiografi Genealogi: KH Imaduddin Utsman, Menjaga Integritas Sejarah Dari Interpolasi Ba’alwi 

by Admin
30 Oktober 2026
20

Di tengah derasnya arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, diskursus publik melalui virtual mengenai genealogi kerap terjebak dalam romantisisme...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Popularitas Historiografi Genealogi: KH Imaduddin Utsman, Menjaga Integritas Sejarah Dari Interpolasi Ba’alwi 

ASYRAF HIJAZ TURUN TANGAN MEMBONGKAR KEPALSUAN NASAB PEMBELA KLAN BA’ALWI IBRAHIM BIN MANSUR

Epistemologi Kritis Gus Dur: Menjawab Hegemoni Keberagaamn Digital dan Fragmentasi Otoritas di PBNU

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.3k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25