• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

by Admin
24 Juni 2026
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

​Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) secara historis memiliki daya tawar geopolitik dan elektoral yang sangat strategis. Kendati secara struktural Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkomitmen pada Khittah 1926 (independensi politik), dalam praktiknya, dinamika internal PBNU tidak dapat dipisahkan dari intervensi dan ekspektasi kelompok kepentingan, baik internal maupun eksternal. Dinamika kepemimpinan PBNU hari ini setidaknya dipengaruhi oleh konvergensi lima arus kepentingan utama yang berusaha membangun pengaruh strategis di tubuh organisasi.

​Pertama Kepentingan Rezim Prabowo

​Kelompok kepentingan pertama berpusat pada konsolidasi politik pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Istana berkepentingan memastikan stabilitas politik nasional dengan menempatkan figur-figur struktural PBNU yang akomodatif terhadap agenda pemerintah.

​Faksi ini melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan birokratis maupun kultural dengan lingkaran kekuasaan. Di antara calon-calon potensial dari kepentingan ini adalah: K.H. Ma’ruf Amin, K.H. Miftachul Akhyar, K.H. Marzuki Mustamar, K.H. Saifuddin Halim, Gus Miftah, K.H. Nasaruddin Umar, Gus Irfan Yusuf, Gus Kikin, Gus Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Nusron Wahid, dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
​
Kelompok Kepentingan PKB

Baca Juga

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

​Kelompok kepentingan kedua datang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, para elite PKB berkepentingan agar posisi Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU diisi oleh figur yang memandang pentingnya relasi organik antara struktur PBNU dan partai politik sebagai wadah aspirasi warga nahdliyin di parlemen.

​Calon-calon potensial dari kepentingan ini diwakili oleh figur-figur seperti:K.H. Ma’ruf Amin (mantan Ketua Dewan Syuro PKB), K.H. Said Aqil Siroj (pandangan politik dekat PKB), K.H. Marzuki Mustamar (pandangan politik dekat PKB), K.H. Abdussalam Shohib (Gus Salam), K.H. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), ​K.H. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) K.H. Imam Jazuli.
​
Kelompok Kepentingan Habaib

Kelompok ​kepentingan ketiga adalah Habaib Ba’alwi. ​Dinamika internal NU juga beririsan kuat dengan diskursus keagamaan kontemporer, khususnya polemik keabsahan nasab keturunan Ba’alwi yang diinisiasi oleh tesis kritis K.H. Imaduddin Utsman. Kelompok kepentingan dari kalangan Habaib berkepentingan agar tampuk kepemimpinan PBNU diisi oleh figur-figur moderat yang tidak mengadopsi gerakan pembatalan nasab tersebut demi menjaga status quo tradisi penghormatan keagamaan.

​Tokoh-tokoh yang dipandang akomodatif terhadap faksi ini meliputi:
​K.H. Miftachul Akhyar, K.H. Zulfa Mustofa, K.H. Fahrur Rozi (Gus Fahrur), Gus Miftah dan Gus Faiz.

Kelompok Intelektual pro Masyayikh Pribumi

​kelompok kepentingan keempat adalah kelompok para kiai trah walisongo dan intelektual NU yang dikenal kritis terhadap habaib. Beberapa tahun ke belakang muncul arus balik yang mengkristal dari kalangan akademisi, kader Gusdurian, dan pengasuh pesantren yang mendukung dekonstruksi nasab habaib. Faksi ini mendorong pembersihan pengaruh eksternal kehabiban dalam struktur NU dengan argumen historis bahwa pada tahun 1926, organisasi kehabiban (Rabitah Alawiyah) berdiri terpisah dari NU. Kelompok ini menuntut PBNU dipimpin oleh figur yang tegas memprioritaskan kepemimpinan berbasis ulama pribumi (masyayikh).

Calon-calon potensial dari kelompkk ini di antaranya: K.H. Said Aqil Siroj, K.H. Saifudin Halim, K.H. Marzuki Mustamar, K.H. Ahmad Muwafiq, K.H. Imaduddin Utsman, dan K.H. Abbas Billy (Gus Abbas Buntet).

Kelompok Politik Non Prabowo dan Non PKB

​Kelompok kepentingan kelima adalah entitas politik eksternal non-pemerintah dan non-PKB yang berharap PBNU konsisten menerapkan politik jarak lurus (menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik). Mereka berkepentingan agar PBNU bertindak sebagai payung moral bangsa (moral force) ketimbang agen politik praktis.

​Figur yang saat ini merepresentasikan corak ini dalam menjaga keseimbangan relasi antar-partai. Calon yang potensial dari kelompok ini adalah ​K.H. Yahya Cholil Staquf dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), yang saat ini mengusung gagasan kemandirian organisasi.

​Pertarungan pengaruh di tubuh PBNU hari ini merupakan refleksi dari pergeseran NU dari sekadar ormas keagamaan menjadi episentrum modal sosial dan politik di Indonesia. Kendati terdapat berbagai kepentingan lain yang saling berkelindan, konvergensi dari lima arus kepentingan di atas: negara, partai politik, identitas nasab, gerakan kritis historis, dan dorongan netralitas, akan menjadi faktor determinan utama yang membentuk wajah kepemimpinan PBNU di masa depan.

#WongNUmelek

Oleh: Didin Syahbudin

ShareTweetShare
Previous Post

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

Related Posts

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
60

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
98

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
82

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
176

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
35

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
97

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
139

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
68

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
290

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
249

Paling Banyak Dilihat

Opini

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

by Admin
24 Juni 2026
46

​Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) secara historis memiliki daya tawar geopolitik dan elektoral yang sangat...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.3k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25