• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

by Admin
31 Mei 2026
in Opini
5 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Saya menyimpan satu komentar dari seorang netizen pada sekitar 1 (satu) tahun awal-awal polemik nasab. Sengaja saya simpan untuk saya bahas ketika situasi mulai settle. Dia bilang begini sekaligus jawaban ringkas saya saat itu:[1]

Saat itu saya menjawab ringkas begitu daripada saya menjelaskan panjang lebar karena umumnya orang yang model percakapannya begitu adalah orang ngeyel. Saya berpengalaman lebih dari 10 tahun di bidang sales through chat (STC) dan menangani (dan mengobservasi) puluhan ribu chat konsumen. Jadi, saya mengerti language pattern yang mengindikasikan personality, emosi dan kecenderungan behaviour tertentu. Percakapan macam itu berkemungkinan besar berujung pada ngeyel tak produktif. Daripada begitu langsung saja saya berikan petunjuk agar dia langsung melakukan social experiment supaya dia bisa melihat, mengalami, menyaksikan dan merasakan secara langsung apa yang terjadi.

Begitu pula bagi Anda dan atau budak-budak habib yang ngeyel ‘jangan menggeneralisir habib Baalwi’ silakan lakukan petunjuk yang saya berikan pada gambar di atas lalu lihat sendiri, alami sendiri, saksikan sendri dan rasakan sendiri apa yang terjadi. Daripada saya jelaskan melalui kata-kata dengan panjang lebar kemudian Anda sangkal-sangkal beginilah begitulah atau pakai dalil ayat, hadits, dll yang Anda pelintir-pelintir atau penggunaannya miskonteks maka supaya nyata dan no debat mari buktikan saja dengan cara Anda lakukan apa yang dilakukan Habib Baalwi.

Silakan Anda lakukan ini sebagaimana yang dilakukan Klan Habib Baalwi:

  1. Teriakkan ke ruang publik bahwa Anda dan keluarga Anda atau kelompok Anda atau suku Anda adalah cucu Nabi Muhammad Saw satu-satunya di dunia dan selain kelompok Anda adalah bukan cucu Nabi dan oleh karenanya semua suku lain yang bukan keluarga/suku/kelompok Anda fardhu mencintai dan menghormati Anda dan golongan Anda. Jika tidak, berarti dia mendapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir dan masuk neraka. Rumusnya: Kami orang/suku [masukkan nama suku/keluarga/kelompok/ormas Anda] adalah Cucu Nabi Muhammad Saw, di dalam tubuh kami mengalir darah suci Nabi Muhammad Saw. Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!
  2. Teriakkan ke ruang publik bahwa satu orang keluarga Anda, kelompok Anda atau suku Anda yang bodoh, maksiat, lebih mulia daripada 70 orang dari suku yang lain yang alim amilin karena kami cucu Nabi sementara dia bukan cucu Nabi Muhammad Saw. Rumusnya: satu orang [masukkan nama suku/keluarga/kelompok/ormas Anda] lebih utama dan lebih mulia dibanding 70 orang [suku/keluarga/kelompok/ormas lainnya] yang alim amilin.
  3. Cukup dua poin begitu saja.

Contoh 1: dalam skala ormas. Coba teriakkan, “Satu kaki orang NU yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala orang Muhammadiyah yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!” Atau sebaliknya, “Satu kaki orang Muhammadiyah yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala orang NU yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!”

Contoh 2: dalam skala keluarga. Coba teriakkan, “Satu kaki orang Tubagus (Banten) yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala Teuku (Aceh) yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!” Atau sebaliknya, “Satu orang Teuku (Aceh) yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 Tubagus  (Banten) yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!”

Contoh 3: dalam skala institusional. Coba teriakkan, “Satu  kaki Polisi yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala TNI yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!” Atau sebaliknya, “Satu kaki TNI yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 Polisi yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!” Atau, “Satu kaki santri pesantren Dalwa Imigran Yaman yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala santri Lirboyo gabung Ploso sekalian yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!” Atau, “Satu supporter Jakmania yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia dan lebih utama daripada 70 Bonekmania!”

Contoh 4: dalam skala kesukuan. Coba teriakkan, “Satu kaki orang Madura yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala orang Papua yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!” Atau sebaliknya, “Satu kaki orang Papua yang bodoh, yang maksiat, lebih mulia daripada 70 kepala orang Madura yang alim allamah! Kalian wajib mencintai dan menghormati kami; jika tidak, maka kalian dapat laknat Allah, tidak mendapat syafaat Nabi, kualat, kafir, dan masuk neraka!”

Anda boleh melakukannya sendirian atau ajak 2, 3, orang untuk melakukannya. Lakukan saja sesimpel 3 (tiga) contoh di atas lalu lihat apa yang terjadi. Lakukan begitu saja; tidak perlu  mengaku sebagai cucu Nabi dan tidak perlu komprehensif sampai membaalwikan aqidah, makam, sejarah, silsilah leluhur pribumi, pahlawan, propaganda neokolonialis Jawa bintu Tarim & Indonesia milik aulia Tarim, caci maki dan persekusi kepada yang di luar golongannya, dan part-part lain Klandestin Baalwisasi-Yamanisasi yang dilakukan Klan Habib Baalwi.

Ayo coba lakukan kalau berani. Lakukan supaya langsung jelas terasa nyata mengenai duduk perkaranya apakah yang Anda lakukan dinilai atau ternilai oleh masyarakat sebagai perbuatan individu atau perbuatan yang mewakili kelompok secara keseluruhan dan menyerang kelompok lain secara keseluruhan pula (in group-out group)

Banyak orang, terutama budak Habib, yang kekeuh menyatakan bahwa tak semestinya Klan Habib Baalwi digeneralisir: bahwa adanya habib-habib yang jahat memang iya betul, dan itu fakta, tapi yang baik juga ada, jadi tidak semua habib Baalwi itu jahat sebagaimana di suku-suku lain juga ada yang jahat juga ada yang baik. Kyai-kyai juga ada yang gak benar, Kyai tidak maksum, Gus juga ada yang jahat, Gus tidak maksum, begitu pula Habib tidak maksum. Pandangan semacam itu terdengar benar dan mulia namun pada kenyataannya salah total karena konteks kasusnya berbeda. Mereka tidak paham kelengkapan konteksnya pada kasus yang dilakukan Klan Habib Baalwi, atau sengaja menutup mata.

Salah satunya ditunjukkan pada salah satu komentar baru-baru ini (28-29 Mei 2026) sebagaimana tangkapan layar di bawah ini.

Salah satu komentar:

Jawaban ringkas saya:

Bagi pembaca dan siapa

pun yang masih tidak terima bahwa semua Habib Baalwi jahat—mengatakan “jangan digeneralisir”—dengan senang hati saya meminta Anda membuktikannya langsung di lapangan realitas dengan cara melakukan sebagaimana apa-apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi ke kaum pribumi. Anda mengatakan ‘oknum habib’ atau ‘beberapa habib’ kan? Anda juga oknum atau beberapa oknum, maka lakukan saja. Petunjuk dan contohnya sudah kami berikan di atas. Sudah, tidak perlu diskusi panjang lebar adu teori atau adu argumentasi. Sudahlah, lakukan saja. Silakan lakukan lalu lihat apa yang terjadi. Disclaimer: resiko tanggung sendiri.


[1] di akun YouTube saya yang lama yang rungkad karena distrike oleh budak-budak klan habib Baalwi

ShareTweetShare
Previous Post

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Next Post

Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern

Related Posts

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
38

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
25

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
69

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
268

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
63

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
61

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
252

“Laknat Allah, Malaikat, dan Manusia”: Telaah atas Pemaknaan Hadis dalam Polemik Nasab Ba Alwi

16 September 2026
133

Prof. Ahmad Zahro Bersumpah Habaib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

10 September 2026
144

Menyelaraskan Genetika dan Kitab Suci: Jejak DNA Neanderthal dan Denisovan Pada Manusia Modern

7 September 2026
512
Next Post

Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern

Paling Banyak Dilihat

Opini

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

by Admin
16 Oktober 2026
38

Oleh: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Daftar Kunjungan Habib Umar bin Hafidz Habib Umar bin Hafidz berkunjung ke Muhammadiyah tgl 12...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25