• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Apa Yang Sudah Kita Berikan Untuk Indonesia

Sebagai anak bangsa yang dibesarkan di alam demokrasi, adalah bentangan kebebasan ekspresif dan estetik. Demokrasi akan menyediakan ruang (space) kosong untuk dipenuhi ide dan gagasan memajukan. Tentu konsekuensi logisnya adalah pertentangan paham hal itu akan terjadi meski irisan konfliknya tidak lebar. Sebab tidak semua isi kepala akan sama.

by Hamdan Suhaemi
19 Agustus 2021
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Oleh: Kyai M. Hamdan Suhaemi

Pertanyaan Dasar

Pertanyaan sekaligus judul tulisan ini hendak menanyakan kembali pada diri kita, tentang sikap dan komitmen kebangsaan kita?. Sehubungan dengan momentum perayaan dan peringatan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia kali ini. Menjadi tanda tanya besar ketika sikap kecintaan, sikap kebanggaan, dan sikap menjaganya hanya sekedar simbolik. Yang saya kenali arti nasionalisme itu bagi kebanyakan hanya bertumpu pada simbolik yaitu pemasangan bendera merah putih di depan rumah. Mungkin itu sudah cukup dianggap bagus.

Tapi, mari kita dalami pada diri kita khusus generasi 4.0 ketika menatap masa depan ke-indonesiaan kita begitu bias, kemana peradabannya kita bangun ? sementara masih kita dapati polarisasi politis, sentimen golongan, sentimen madzhab, sentimen dukungan. Ini tatapan yang riil, itu kita lihat sebagai kecemasan ( angst ). Bangsa ini secara linier tidak tengah bersamaan dengan visi misi pemerintah yang tengah melakukan upaya maksimal dalam membangun dan memajukan bangsanya. Setiap kebijakan selalu dianulir oleh kehendak umum yang diciptakan oleh barisan sakit hati, barisan kalah tanpa disikapi pemerintah dengan tindakan efektif, rupanya dukungan hanya pada saat pilpres tapi tidak pada kebijakan, tidak pada visi misi yang tengah dijuangkan. Ini ada apa ?. Untuk apa mendukung jika tidak untuk memperkuat negeri ini sebagai negeri demokrasi, negeri yang kaya akan alam, negeri yang memilki sumberdaya manusia yang melimpah. Lalu dengan sikap apa yang harus ditempuh? Ketika mereka kaum yang diracuni hoax begitu bebasnya menyemburkan hoax tanpa ada sikap negara atas itu.

Menurut Maurice Duverger, ada dua pengaruh yang ditimbulkan dari kekuasaan. Pertama bilamana orang melihat politik pada dasarnya sebagai arena pertarungan. Kekuasaan dijadikan objek dalam merebut dan mempertahankan. Disamping itu ada pula yang menentang dan ingin merebut kekuasaan untuk tujuan yang sama. Dalam hal ini kekuasaan adalah biang konflik. Kedua bilamana orang menganggap politik sebagai upaya untuk menegakan keadilan dan ketertiban. Dalam hal ini politik sebagai pelindung kepentingan dan kesejahteraan umum. Melalui paradigma ini kekuasaan memainkan peranan integratif dan melindungi kepentingan bersama.

Meutia Hatta, anak Wakil Presiden RI Drs. Moh Hatta telah mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia bagi Bung Hatta memiliki makna mendalam, terutama kepada seluruh rakyat Indonesia. Rakyat harus mengetahui dan memahami Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, setiap warga negara harus terus belajar, terutama bagi generasi muda penerus bangsa. Setelah kemerdekaan dicapai, Bung Hatta menilai kedaulatan perlu dijaga. Prinsip yang dikedepankan adalah persatuan. Bukan sekadar berbangsa, rakyat perlu hidup bersama dan memiliki perasaan sehati.

Pemikiran dan Tindakan

Sebagai anak bangsa yang dibesarkan di alam demokrasi, adalah bentangan kebebasan ekspresif dan estetik. Demokrasi akan menyediakan ruang (space) kosong untuk dipenuhi ide dan gagasan memajukan. Tentu konsekuensi logisnya adalah pertentangan paham hal itu akan terjadi meski irisan konfliknya tidak lebar. Sebab tidak semua isi kepala akan sama.

Pandangan pluralisme, adalah pandangan yang mendasar bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu sikap yang melintasi batas-batas dogmatik dan asketis. Dengan pandangan itu kita menghindari otoritarianisme kelompok agama tertentu, eksklusivitas kesukuan. Pluralisme adalah pemikiran dan tindakan besar yang diprinsipi jiwa Pancasila.

Pandangan teomorphis, bahwa kita adalah anak bangsa yang punya dasar totalitas kepasrahan atas Tuhannya, telah memposisikan kita sebagai wakil Tuhan di Bumi. Debgan itu berarti tumbuh tindakan bahwa negara harus benar-benar dijaga dengan konsepsi himayatu al-daulah yang kuat dan permanen.

Gagasan inovatif, menjadi barometer dari segala kontribusi kita untuk kemajuan bangsa tanpa melihat siapa tengah berkuasa. Kolektivitas kita adalah menjaga dan memajukan negara bukan totalitas personal, tapi jelas negara.

Kalimat Penutup

Negeri ini terlalu besar jika harus dikerdilkan oleh perilaku-perilaku bodoh yang mabuk agama, tindakan bodoh orang yang sok tahu politik tapi apolitik. Takdir menjadi bangsa yang besar, adalah keniscayaan untuk memajukan bangsa besar itu dengan cita-cita bersama kita, negara yang maju, aman dan damai.

Curug 18-8-21
Wakil ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

ShareTweetShare
Previous Post

Nusantara, Ibu Kandung Bangsa Indonesia

Next Post

RMI PBNU Serahkan Hibah Alat Broadcasting Untuk RMI Banten

Related Posts

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
66

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
31

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
72

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
297

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
66

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
61

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
255

“Laknat Allah, Malaikat, dan Manusia”: Telaah atas Pemaknaan Hadis dalam Polemik Nasab Ba Alwi

16 September 2026
138

Prof. Ahmad Zahro Bersumpah Habaib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

10 September 2026
146

Menyelaraskan Genetika dan Kitab Suci: Jejak DNA Neanderthal dan Denisovan Pada Manusia Modern

7 September 2026
514
Next Post

RMI PBNU Serahkan Hibah Alat Broadcasting Untuk RMI Banten

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Biografi

Biografi Abah KH. Junaidi, Sang Fakih dari Jati

by Admin
18 Oktober 2026
7

Oleh: Hamdan Suhaemi Riwayat Kelahiran Junaidi lahir dari ayah bernama Samar dan ibu bernama Jubaidah pada tanggal 2 Januari 1958...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Biografi Abah KH. Junaidi, Sang Fakih dari Jati

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25