Syatibi lahir di Kampung Sanding Desa Sumur Bandung kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak pada 7 Juni 1957, dari ayah KH. Hambali dan ibu Hj. Ratu Sunaiyah atau masyhur dipanggil Ibu Hajjah Uyung putri KH. Tb. Ali Akbar. Tahun kelahirannya bertepatan masa normalisasi Indonesia pasca revolusi kemerdekaan, dua tahun sebelum keluarnya Dekrit Presiden Soekarno pada 9 Juli 1959.
Kehidupan Syatibi kecil saat era Orde Lama ditandai tengah giatnya pembangunan nasional, terutama pembangunan Monumen Nasional, Masjid Nasional Istiqlal dan gedung pemerintah lainnya, keadaan umum suasana kemerdekaan yang tengah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Saat usia 6 tahun, Syatibi kecil belajar di SD Sumur Bandung hingga selesai di tahun 1970 dan pada tahun 1971, Syatibi remaja pergi mondok ke pesantren Cengkudu Baros, dibawah bimbingan KH. Abdul Salam, menantu Abuya Syaikh Ahmad Sidiq Combong.
Selain ngaji ke Abah Salam, Syatibi pun ngaji ke KH. Badruddin atau panggilan masyhur nya Abah Abad, cucu mantu dari Syaikh Sidiq Combong pendiri pesantren Riyadul Awamil. Syatibi remaja menempuh pendidikan di Cengkudu selama 6 tahun, terutama mendalami ilmu gramatika Arab, sebab Combong saat itu menjadi basis kajian sastra Arab, terutama juga Abuya Sidiq yang telah menginspirasi Syaikh Nawawi Mandaya dalam mengarang kitab murod Amil Imam Jurjani dan Murod Jurumiyah Imam Sonhaji.
Pada tahun 1977, Syatibi muda pergi ngaji ke Pesantren Darul Hikam di Goalpara, Cibeureum Sukabumi Jawa Barat, di bawah asuhan Aang KH. Hasan Syadeli putera Ang Sepuh KH. Mahmud Zarkasyi, pendiri pesantren. Selama 3 tahun di Cibeureum, Syatibi muda ngaji 12 fan ilmu alat.
Mungkin Ang Sepuh KH. Mahmud Zarkasyi salah satu murid Mama Syaikh Syatibi Gentur Cianjur, seorang pewaris ilmu-ilmu alat dari Syaikh Adzra’i Garut. Transmisi ilmu alat Tatar Pasundan, diindikasikan tidak jauh dari Poros Garut sebagai jejak awal penguasaan 12 fan ilmu alat.
Selain di dua pesantren yang disebut di atas, Syatibi muda ngaji pasaran di beberapa pondok pesantren, antara lain di Pesantren Kadukawang Pandeglang, Pesantren Cikole Tasikmalaya, Pesantren Rengasdengklok Karawang, Pesantren Ciapus Bogor dan khusus pendalaman ilmu agama pada pamannya yakni KH. Tb. Rafei Ali di Jaha Labuan, ayah dari Dr. H. Tb. Ace Hasan Syadzili ( Gubernur Lemhannas).
Tahun 1980, Syatibi muda menikah dengan Siti Ammah dan kemudian dikaruniai putra dan puteri yaitu Abdurrahman ( Gus Gaban), Dede Sa’adah, Dede Mardiah, Neng Atiqoh, dan yang bungsu Puput Nadifah.
Setelah selesai rihlah ilmiyah di beberapa pesantren di Banten dan Jawa Barat, pada tahun 1985 Syatibi yang dikenal dengan Kiai Syatibi mendirikan pesantren salafiyah di Sarian Cikulur, dan beliau namakan pesantrennya Qothrotul Falah setelah pindah tempat yang semula pesantrennya di Kampung Sanding, peninggalan ayahnya KH. Hambali.
Sejak kepulangan dari ibadah haji, KH. Syatibi mulai aktif berharokah di NU dimulai tahun 1993 di tingkat MWC NU Kecamatan Cikulur. Keaktifannya di NU mengantarkan KH. Syatibi Hambali masuk jajaran Pengurus Cabang Kabupaten Lebak ( PCNU Kab. Lebak) sejak tahun 2000, saat mana di Banten tengah diperjuangkan statusnya sebagai provinsi baru Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketika Konfercab PCNU Kab. Lebak tahun 2018 silam, Abah KH. Syatibi Hambali terpilih sebagai Rois Syuriah PCNU Kab. Lebak priode 2018-2023, setelah masa kememimpinan di MUI Kab. Lebak sebagai ketua selama 2 priode dari tahun 2007-2012 dan 2012-2017.
Lalu, pada tanggal 29 Januari 2025 saat Konferwil PWNU Provinsi Banten digelar di Pondok Pesantren Ashhidiqiyah, Batu Ceper Kota Tangerang, Abah KH. Syatibi Hambali terpilih melalui musyawarah mufakat para kiai sepuh Banten yang tergabung di forum Ahwa menetapkannya sebagai Rois Syuriah PWNU Provinsi Banten priode 2025-2030 bersamaan terpilihnya Abi KH. Hafis Gunawan sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Banten di forum Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Banten.
Figur Abah KH. Syatibi Hambali bagi kalangan muda NU seperti Ayah dalam keluarga, seperti guru dalam ilmu, seperti orang tua yang selalu jadi tempat berkeluh kesah, sikapnya yang tegas, namun bijaksana. Sosok kiai NU yang memiliki kharisma yang khas, dan beliau pun adalah juga kiai tarekat.
Kesederhanaan Abah KH. Syatibi Hambali di setiap momentum kegiatan ke-NU-an, ketenangannya dalam melihat situasi negara, keistiqomahannya dalam ibadah dan pencerahan ilmu, sikap ngayomi kaum muda adalah tauladan bagi kita kalangan muda NU, seperti halnya penulis sudah menganggap Abah KH. Syatibi Hambali itu adalah orang tuanya.
Serang, 17 September 2025
Oleh: Hamdan Suhaemi
Sumber :
– Wawancara dengan Abah KH. Syatibi Hambali tanggal 16 September 2025
– KH. A. Syatibi Hambali, Konsultasi Maya (Pustaka Qi Falah: 2013)
– KH. A. Syatibi Hambali, Nasihat untuk Santri (Inspira: 2017)