Pondok Pesantren Al Raudlah Putri Kampung Sidadung, Desa Sindangmandi, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Minggu, 18 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Ponpes Al Raudlah Putri ini tidak sekadar menjadi peringatan ritual, tetapi momentum ruhani untuk menanamkan kesadaran bahwa perjalanan agung Rasulullah SAW adalah sumber nilai pembentukan karakter, khususnya bagi santri putri sebagai calon pendidik generasi masa depan. Di ruang pesantren ini, kisah langit diturunkan ke bumi, dibaca dan direnungkan oleh perempuan-perempuan muda yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Pimpinan Ponpes Al Raudlah Putri, Ustadz Abdul Hay Nasuki, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh wali santri yang hadir. Kehadiran wali santri bukan hanya bentuk dukungan moral, tetapi penguatan mata rantai pendidikan antara pesantren, keluarga, dan masa depan anak-anak. Dalam Islam, perempuan bukan sekadar penerima pendidikan, melainkan pendidik utama di dalam rumah. Karena itu, mendidik santri putri berarti menyiapkan generasi, sebab dari rahim ilmu dan akhlak seorang ibu, lahir peradaban yang kokoh.
Acara inti diisi dengan pembacaan Kitab Qishshotul Mi’raj karya Ad-Dardir oleh para santriwati. Pembacaan dilakukan secara bergiliran: teks Arab dibaca, dimaknai dalam bahasa Jawa, lalu dijelaskan dengan bahasa Indonesia. Proses ini mengajarkan bahwa santri perempuan bukan hanya pendengar pasif, tetapi subjek ilmu yang aktif. Mereka belajar membaca teks, memahami makna, dan menyampaikan pesan—sebuah bekal penting bagi perempuan yang kelak akan mengajarkan nilai tauhid, shalat, dan akhlak kepada anak-anaknya sejak dini.
Para asatidz, wali santri, dan tamu undangan menyimak dengan penuh kekhusyukan. Majelis ilmu terasa hidup dan reflektif. Isra Mi’raj dipahami bukan sekadar mukjizat Nabi, tetapi juga pesan pendidikan: bahwa shalat, disiplin spiritual, dan kedekatan dengan Allah harus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sinilah peran perempuan menjadi sentral—sebagai penjaga nilai, penanam adab, dan pembentuk kesadaran religius anak sejak usia paling awal.
Melalui kegiatan ini terjalin silaturrahim yang erat antara wali santri dan keluarga besar pesantren. Kebersamaan ini menegaskan bahwa pendidikan santri putri adalah investasi jangka panjang umat. Pesantren mendidik dengan ilmu, keluarga menguatkan dengan teladan, dan santri putri kelak meneruskan dengan pengasuhan yang berlandaskan iman. Dari sinergi inilah diharapkan lahir muslimah shalihah yang bukan hanya saleh secara personal, tetapi juga mampu melahirkan dan mendidik generasi yang saleh.
Peringatan Isra Mi’raj di Ponpes Al Raudlah Putri Sidadung menjadi penegasan bahwa perempuan dalam Islam adalah tiang peradaban. Santri putri tidak hanya dipersiapkan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk masa depan umat. Di pesantren ini, mi’raj bukan sekadar kisah langit, melainkan amanah pendidikan—bahwa perempuan berilmu adalah cahaya, dan ibu yang berilmu adalah jalan panjang keselamatan generasi.
Oleh: Abdul Hay Nasuki, S.Pd.I
Sekretaris RMI PWNU Banten