• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Cara NU Melawan Isu PKI

Merebaknya isu PKI di musim pandemi Covid-19, sepertinya termasuk konspirasi busuk mereka para petualang politik. Kondisi kepanikan akan wabah ini rupanya dimanfaatkan untuk kemudian bertujuan kekuasaan.

by Admin
30 September 2021
in Opini
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kyai M. Hamdan Suhaemi

Belakangan isu PKI bangkit, terus dihidupkan untuk kemudian menjadi opini umum bahwa PKI masih hidup. Tak kurang orang-orang pandai pun turut meramaikan isu itu, dan bagi politisi diluar pemerintahan (oposisi banci) dengan merebaknya isu tersebut seperti menghadapi “nasi yang mau digoreng”. Terserah mereka mau digoreng cepat atau lama, sebab resonansi politiknya berakhir ke siapa itu tidak penting, yang terpenting “gaduh”.

Meme Pahlawan Revolusi (Desain: Generasi Muda NU)

Tinjauan Sejarah

Pasca demokrasi parlementer, konstitusi negara beralih ke demokrasi terpimpin degan cirinya kekuasaan absolut dan klimaksnya berkuasa seumur hidup. Bung Karno saat 5 Juli 1959 di depan Istana Merdeka telah mengumumkan berlakunya dekrit presiden dengan maksud memberlakukan demokrasi terpimpin, dari kondisi itulah muncul Naskom (nasionalisme dan komunisme). Penggabungan dua paham ideologi dan dua partai politik PNI dan PKI telah memicu sentimen negatif dari banyak pihak, terutama klompok Islam dari Masyumi.

Era 60-an disebut era emasnya PKI dibawah naungan Presiden Soekarno, Pangti, Pemimpin Besar Revolusi. Kondisi nyaman itu dimanfaatkan betul oleh D.N. Aidit (sebelum aktif di PKI namanya Achmad Aidit) selaku Ketua C.C. PKI. PKI telah merangsek ke pusat kekuasaan sebagai patner politik yang cenderung ” pasang badan ” bagi Bung Karno dalam upayanya konfrontasi atas Malaysia, bagi Bung besar, PKI adalah kawan setia.

Baca Juga

MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains

HAPLOGROUP BANI HASYIM SUDAH KONSENSUS J1: MENJAWAB USAHA RUMAIL HIBUR BA’ALWI

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Al-Jawi Asy-Syafi’i Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Adalah KH. Wahab Chasbullah, Rois Am PBNU kala itu dengan cerdiknya melakukan strategi masuk Naskom dengan memberi gelar terhadap Bung Karno sebagai Waliyu al-Amri bi al-Dloruri wa al-Syaukah. Gelar itu baru disematkan saat Bung Karno meresmikan Masjid Bait al-Rahman di Istana Merdeka atas keinginan Kiai-kiai NU. Itu dimaksud melegitimasi kekaffahan Islamnya Bung Karno. Strategi Kiai Wahab dengan bergabungnya NU di Naskom itu artinya ingin mengontrol dan melawan PKI dari dalam kekuasaan, biarpun kemudian dampak dari bergabungnya NU tersebut kiai-kiai NU dicecar, dihina, disumpah serapah oleh kelompok Islam sebagai pengkhianat, sebagai kaum oportunis, sebagai penjilat dan antek PKI. Apakah Kiai Wahab bergeser, jawabnya tidak.

Ada politik langit yang tidak dimiliki oleh siapapun, hanya Kiai NU yang khos memiliki kemampuan tersebut. Itu dimaksud “petunjuk” Gusti Allah dalam menuntun hambanya. Maka pilihan bergabung dengan Naskom hingga menjadi Nasakom (Nasionalisme Agama dan Komunisme) tidak luput dari “istikharoh politik”. Pada perjalanannya PKI sedikit terganggu dengan aktifnya kiai-kiai NU di ring istana, tampak ada kedekatan Bung Karno dengan kalangan NU.

Diluar sistem, NU membuat banyak tandingan dalam upaya melawan PKI. Untuk menandingi Genjer-Genjer, NU menggubah Sholawat Badar menjadi hymne partai selain Syubbanul Wathon. Menandingi kegiatan seni sastra PKI dengan Lekra-nya, maka NU membuat Lesbumi. Ketika PKI membentuk PR (pemuda rakyat), NU pun membentuk Banser (Barisan Ansor Serba Guna) yang brasal dari bekas Laskar Hizbulloh yang tidak berdinas di TNI, para veteran perang kemerdekaan ini, ambil bagian dalam upayanya melawan PKI. Bahkan untuk menandingi Gerwani, NU pun membentuk Fatayat.

Sikap perlawanan NU atas PKI tersebut diramu dengan cara diplomatis, dialektis, dan konfrontatif. Puncaknya peran NU di tahun 1965-1967 dalam upayanya melawan PKI adalah keterlibatan aktif Banser dan Pagar Nusa yang mendampingi TNI dibawah komando RPKAD yang diterjunkan di medan pertempuran hingga ke pelosok kampung.

Tinjauan Kekinian

Merebaknya isu PKI di musim pandemi Covid-19, sepertinya termasuk konspirasi busuk mereka para petualang politik. Kondisi kepanikan akan wabah ini rupanya dimanfaatkan untuk kemudian bertujuan kekuasaan. Isu PKI adalah target antara, tujuannya jelas ingin menghantam NU dengan menuduh NU seolah membela PKI dengan begitu NU dicap sekongkol dengan PKI. Menjadi “fokus tuduhan” atau isu tunggal bahwa NU pro komunis. Yang diharap reaksi umat Islam seluruhnya untuk memusuhi NU dan kiai-kiainya. Ini sungguh bejat, jahat, sadis, brengsek dan begitu bedebah.

Ekspektasi kita agar KH. Maruf Amin, mau bersikap ” gereget ” dalam pola komunikasi politiknya baik di level sangat rahasia, setengah rahasia dan di forum kabinet. Tampak tenggelamnya peran strategis Kiai Ma’ruf Amin, menjadi disesalkan oleh kalangan muda NU yang cenderung kaku dan tak berkutik. Jikapun disebut saham, maka saham terbanyak atas berdirinya NKRI hingga sekarang adalah kontribusi NU, baik ketika perjungan maupun kini dalam kesetiaan menjaganya. Dalam hal Ini harusnya negara mempertimbangankan figur Kiai Ma’ruf Amin sebagai representasi NU agar diberikan kekuasaan yang hasilnya menguntungkan kehidupan setiap umat beragama, agar pula diberi kewenangan khusus memajukan pemikiran dan kehidupan peribadatan semua agama. Sebab karakter NU sudah pasti mengayomi semua umat.

Prinsip ikhtiyath (kehati-hatian) menjadi kensicayaan bagi kalangan muda NU untuk tidak terprovokasi atas isu kebangkitan PKI. Unsur politis begitu kuatnya dalam dagangan isu tersebut.

Sikap menegara, ini adalah sikap yang mengutamakan ketertiban, keamanan dan kondusifitas negeri adalah mutlak diperlukan. Kalangan NU tidak lagi berfikir pragmatika politik, namun sikap yang jauh lebih muia, apa itu? Tegak dan tegas dengan tangan terkepal menyelamatkan negara dari rongrongan para pengkhianat negara. Dengan cara apa? berfikir, berbuat dan bertindak sesuai garis instruksional.

Sikap dialektis, adalah juga penting ketika benturannya dengan ideologi, paham, dan pemikiran. Jika serangan hujjah kita lawan dengan hujjah, jika serangan media kita lawan dengan meda, jika serangan hoax kita tampilkan nalar rasional dan fakta. Kalaupun kontak fisik terjadi maka gunakan beladiri.

Sikap transformatif, itu diharapkan bahwa NU tidak harus terjebak dalam permainan isu, namun harus banyak memberi perubahan cara pandang bangsa dengan prinsip keindonesiaan kita, Pancasila kita, kebhinnekaan kita, dan kebangsaan kita. Maka ada tindakan konkrit agar isu PKI itu diselesaikan dengan cara tegaknya hukum. Yang membuat isu tanpa dasar yang kuat itu hukum yang menyikapinya.

Ingat, Karl Marx bilang “komunisme sebagai penggantian positif dari hak milik pribadi sebgai pengasingan diri manusia dan karenanya penguasaan atas esensi manusia yang sebenarnya melalui dan bagi manusia, ia adalah pemecah teka teki sejarah dan mengetahui dirinya sendiri sebagai pemecahan itu” (lihat Economic and Philosophical Manuscripts).

Pentup

Sadar akan permainan isu, bahwa ideologi akan mati dengan sendirinya jika sudah menemukan eksistensi baru yang jauh lebih mudah, bahagia dan nyaman.

Serang 29 September 2021
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten Indonesia

ShareTweetShare
Previous Post

Manusia Langit, Keramat Di Bumi

Next Post

Ulama Kharismatik NTB Restui KH. Said Aqil Siroj Pimpin Kembali NU

Related Posts

MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains

12 Februari 2026
24

HAPLOGROUP BANI HASYIM SUDAH KONSENSUS J1: MENJAWAB USAHA RUMAIL HIBUR BA’ALWI

8 Februari 2026
164

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

23 Januari 2026
191

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

22 Januari 2026
126

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Al-Jawi Asy-Syafi’i Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

10 Januari 2026
209

Fase Akhir Bung Karno dan Kedekatannya dengan Ulama NU (1960–1967)

29 Desember 2025
73

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Ahmad Bin Hasan Al-Athas Ba’Alwi: Untuk Rumail Abbas

22 Desember 2025
308

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Klan Habib Ba’Alwi

19 Desember 2025
382

Indonesia Milik Bangsa Nusantara

14 Desember 2025
83

اَلشَّخْصِيَّاتُ الوَهْمِيَّةُ المذكورة في تاريخ حضرموت

10 Desember 2025
203
Next Post

Ulama Kharismatik NTB Restui KH. Said Aqil Siroj Pimpin Kembali NU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains

by Admin
12 Februari 2026
24

Selama berabad-abad, peradaban Islam telah terperangkap dalam sebuah paradoks yang ironis. Ia terbalut kabut sejarah dan terjajah berhala darah. Di...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

MANIFESTO KEJUJURAN: Runtuhnya Hegemoni Nasab Palsu Berhadapan dengan Pedang Sains

Proyek Y-DNA Bani Hasyim Asyraf dan Sadah Alawiyyin: Haplogroup J1 – L859-FGC10500

Dr. Hadi al-Amili administrator di FamilyTreeDNA (FTDNA) Konfirmasi J1-L859 sebagai Marker Genetik Asyraf dan Sadah Alawiyyin

Haplogrup Y-DNA Nabi Ibrahim (Abraham) dan Keturunannya

HAPLOGROUP BANI HASYIM SUDAH KONSENSUS J1: MENJAWAB USAHA RUMAIL HIBUR BA’ALWI

المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.5k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.7k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.1k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25