• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Pesantren

Kisah Santri, Pesantren Dan Banten

Banten dari asal muasal “bantah” atau membantah. Dalam artian berani menolak sesuatu yang dianggap “salah” sekalipun harus nyawa meregang. Karakter orang Banten Non kooperatif pada kezaliman dari itu lebih baik istana hancur lebur daripada jatuh ke tangan musuh.

by Akhmad Basuni
23 Juni 2021
in Pesantren, Santri
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Klan Ba’alawi Melamar Putri Kiai, Ditolak Keluarga Jauh Dengan Alasan Kafa’ah: Nikah Tetap Sah?

Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

Melawan Hegemoni Ba’alwi: Menuju Dekolonisasi Mental Pesantren

Setelah Ramadan dan Idul Fitri: Menjaga Jejak Kebaikan dan Menyambung Rantai Istiqamah

Banten identik dengan “Jawara” pun “Santri”. Banten ujung barat pulau jawa, menyimpan sejuta cerita dari klenik hingga kesaktian mandraguna.

Banten dari asal muasal “bantah” atau membantah. Dalam artian berani menolak sesuatu yang dianggap “salah” sekalipun harus nyawa meregang. Karakter orang Banten Non kooperatif pada kezaliman dari itu lebih baik istana hancur lebur daripada jatuh ke tangan musuh.

Banten sebagai negara berdaulat (kerajaan Islam) sempat gemilang pada zamannya, bahkan di generasi kedua setelah sultan Hasanuddin turun tahta. Banten tercatat sebagai kota keadaban sekaligus peradaban. Ini diapresiasi dalam Cerat Centini, banyak pengkaji dari luar Banten, datang untuk mengobati dahaga akan ilmu “pengeweruh” tentang agama pun “kesakten”. Pesantren Karang sebagai pusatnya.

Era Cicit Hasanuddin itu Banten inten terhadap pembentukan karakter building atau pemberdayaan sumberdaya manusia. Hingga tak heran jika manuskrip warisan cendekiawan Banten itu jumlahnya melimpah ruah, yang kini tersimpan di museum negeri kincir angin.

Barat dalam hal ini Belanda, menjajah nusantara tidak serta merta hanya menguras kekayaan negeri nusantara berupa harta benda, tetapi kekayaan intelektualpun mereka boyong. Kaca pandang kolonialisme selalu memandang rendah bangsa pribumi bahkan dianggap bodoh, ternyata memiliki makna secara psikologis warga pribumi minder, disamping secara politis warga pribumi dibuat bodoh.

Tidak boleh sekolah, kecuali kaum ninggrat. Di tambah era dulu yang bisa bersentuhan dengan dunia ilmu pengetahuan memang kaum “borju” anak raja ataupun kaum brahmana.

Tak harus diingkari karena jejak hindu memang nyata ada di nusantara. Santripun sesungguhnya merupakan idiom dari “Shastri”, bahasa sansekerta yang memiliki makna kaum yang membaca, atau dalam hindu mereka yang ahli kitab hindu.

Akses pendidikan era itu mutlak milik kaum bangsawan, sehingga rakyat jelata tetap saja dalam gurita kebodohan sepanjang masa.

Semburat cinta mulai tampak manakala langit jazirah Mekah bak purnama bertabur cahaya. Kala itu terlahir manusia istimewa yang kelak disebut sebagai nabi akhir jaman.

Kemilau cahaya itu, sesuai hukum kecepatan cahaya memancar sampai Banten. Singkat cerita abad ke-13 ajaran Islam secara signifikan telah mengakar bahkan di Jawa berdiri kerajaan Islam.

Islam salah satu kelebihannya tidak mengenal istilah kasta dalam status sosial. Sehingga sekalipun hamba sahaya, atau kaum sudra bisa mulia asalkan berkepribadian luhur dalam tingkah laku.

Dari islam itu sebagai ajaran merubah tradisi “shastri” menjadi santri, tempatnya disebut pesantren bisa diakses oleh semua kalangan baik priyai ataupun rakyat biasa.
Pesantren pada masa itu mirip, mihrabnya era Rasulullah, tempat mendadar kaum cerdik pandai sahabat utama.

Tak heran Santri kala itu merupakan agen of change. Sebut saja tokoh-tokoh pergerakan nasional mereka sebelum mengenyam pendidikan “Londo” adalah santri. Bahkan dalam satu kisahnya beredar riwayat sahih bahwa Soekarno pun pernah Riyadhah Bathin ngelmu di pamuragan Cirebon.

Jadi, Santri dengan pesantrennya adalah sub-kultur yang merupakan warisan leluhur bijak bestari bumi pertiwi bernama Indonesia.

Era Wahidin Halim pesantren masuk program primadona, kenapa primadona, karena selama ini pesantren tradisional hanya dianggap sebagai tempatnya orang-orang terbelakang. Didatangi hanya waktu pemilu untuk mohon do’a restu kyai, atau agar dianggap saleh mendekat kyai dengan buah tangan sarung bertuliskan tiga “huruf”. Hanya sebatas itu pesantren dianggap ada.

Tetapi kini seiring jaman ternyata pesantren dengan segala keunikannya, mampu paling tidak sebagai benteng umat dari rongrongan sampah peradaban pun limbah pemahaman agama parsial.

Ternyata santri mampu dengan mudah terhindar dari faham radikalis. Dari itu pengajian model “liqo” tak pernah mampu mengakar pada mahasiswa yang berlatar belakang pesantren yang mengadopsi kitab kuning ciri khas pesantren nusantara.

AA Bass, bersambung …

ShareTweetShare
Previous Post

RMI PWNU Banten Adakan RAKER Pertama

Next Post

Kitab Kuning, Politik dan Teologi Kebangsaan

Related Posts

Klan Ba’alawi Melamar Putri Kiai, Ditolak Keluarga Jauh Dengan Alasan Kafa’ah: Nikah Tetap Sah?

14 September 2026
159

Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

2 September 2026
482

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

9 April 2026
912

Melawan Hegemoni Ba’alwi: Menuju Dekolonisasi Mental Pesantren

25 Maret 2026
170

Setelah Ramadan dan Idul Fitri: Menjaga Jejak Kebaikan dan Menyambung Rantai Istiqamah

21 Maret 2026
80

Isra Mi’raj di Pesantren Sidadung: Spirit Santri Putri Menjemput Cahaya dan Amanah Peradaban

19 Januari 2026
108

RMI PWNU Banten Siapkan Program Pemberdayaan Ekonomi Pesantren Sesuai Amanat Undang-Undang

15 Januari 2026
66

17 Perbedaan Ajaran Nahdlatul Ulama dan Ajaran Habaib: Kritik Kepada KH Ma’ruf Khozin Yang Menyatakan Kesamaan Ajaran NU & Baalawi

12 Januari 2026
686

RMI PWNU Banten Gelar Digitalisasi Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi Umat Sambut Harlah ke-100 NU

8 Januari 2026
127

Peringatan HSN 2025 di PP Nahdlatul Ulum Kresek Berlangsung Khidmat

22 Oktober 2025
242
Next Post

Kitab Kuning, Politik dan Teologi Kebangsaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

by Admin
26 Oktober 2026
17

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah_Rembang) Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan klaim...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25