• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Kita Dan Era Metaverse

Metaverse mungkin akan membuat seluruh aktivitas dalam dunia pendidikan nantinya dapat dilakukan dalam dunia virtual. Sekolah akan dibangun di dunia virtual, kelas-kelas akan terdapat di dunia virtual, pembelajaran dilakukan secara virtual, bahkan administrasi sekolah juga dapat dilakukan secara virtual.

by Admin
28 April 2022
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Smartphone, kini genggaman wajib setiap orang dari bocah, remaja, dewasa hingga tua dan itu penuh waktu. Fenomena ini menjadi penanda bahwa peradaban telah bergeser ke arah praktis, ada transformasi dari manual menjadi serba digital, dari offline atau tatap muka menjadi online. Sepertinya era digital adalah takdir manusia yang tak bisa dihindarkan, sesuatu yang datang dengan cepat bersamaan kecanggihan teknologi IT, kini pun tengah menuju era metaverse. Sekali lagi future shock tengah melanda kita. Jika kita tidak ikut laju cepat perkembangan itu artinya kita masuk kotak sampah peradaban. Memang mengerikan.

Kata “metaverse” merupakan gabungan kata “meta” dan “universe”. Meta artinya adalah digital sedangkan universe berarti semesta. Saat bergabung, kedua kata ini memiliki makna sederhana yaitu Semesta Digital. Meski terdengar sederhana, Metaverse harus dibedakan dengan dunia digital yang saat ini kita tahu. Dunia digital yang kita tahu saat ini mungkin sejauh penggunaan internet untuk membantu aktivitas kita sehari-hari.

Menurut Valent Budiono bahwa Metaverse adalah dunia nyata yang diciptakan oleh konvergensi virtualitas dan realitas. Dunia virtual ini berinteraksi dengan dunia nyata pada tingkat yang sepenuhnya baru. Metaverse adalah langkah evolusioner berikutnya setelah munculnya internet dan media sosial. Metaverse tidak hanya mengubah cara kita terhubung ke internet, tetapi juga apa yang kita sambungkan ke internet.

Dalam analisa Ramilury Kurniawan, bahwa dunia pendidikan tidak dapat menolak kemajuan teknologi. Justru kita wajib memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut sebagai alat untuk melakukan kegiatan yang positif. Dengan adanya pengembangan metaverse oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, maka dunia pendidikan mau tidak mau harus menyiapkan diri menyambut teknologi tersebut. Metaverse (jika memang berhasil dikembangkan) akan menjadi dejavu ketika internet dulu juga mulai masuk dalam dunia pendidikan.

Baca Juga

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Metaverse mungkin akan membuat seluruh aktivitas dalam dunia pendidikan nantinya dapat dilakukan dalam dunia virtual. Sekolah akan dibangun di dunia virtual, kelas-kelas akan terdapat di dunia virtual, pembelajaran dilakukan secara virtual, bahkan administrasi sekolah juga dapat dilakukan secara virtual. Metaverse membuat kita dapat melakukan apa pun tanpa harus bertemu secara langsung. Jika hal ini terjadi, tentu menjadi sebuah disrupsi bagi dunia pendidikan masa kini.

Nasib bangsa ini belum selesai di era 4.0, tiba-tiba sudah masuk pada era 5.0, suatu tekanan peradaban yang sangat cepat, mendorong kita lebih berfikir dinamis dan universalis, karena dunia sudah saling tatap, bukan saling jangkau lagi. One world, adalah target kapitalisme dunia yang semakin merubah wajah dunia, yang tidak lagi saling bertemu. Tapi saling pandang, saling lempar senyum di alam maya. Tragis bagi peradaban manusia yang masih memegang moralitas dan agama. Karena kemajuan Metaverse inilah akan menggeser nilai agamis dan moralis menjadi nilai jual, nilai cuan. Orang akan mengarah pada agnostic, tidak lagi dalam posisi nyaman dalam beragama, seoalah agama adalah belenggu. Ya belenggu hati yang menginginkan damai dan tenang ketika agama selalu menyuguhkan pertentangan, ketika agama sebagai representasi kelembagaan, representasi dari kegelisahan jiwa manusia.

Manusia abad ini, memang unik. Satu hal ingin keluar dari fenomena tanpa mampu menggali noumena-nya, ada pula yang sanggup menggali noumena tapi tidak mampu menterjemahkan pada tindakan-tindakan fenomenalogis. Orang sekarang begitu manja ingin mengalami kenyamanan, tapi ketidaknyamanan yang sering jadi fenomena tersebut tidak serta merta jadi bahan reflektif, bahwa itu adalah kondisi suatu zaman yang sifatnya tidak perrenial.

Pada tahun 1968, sosiolog terkemuka Peter Berger mengatakan kepada New York Times bahwa pada “abad ke-21, umat beragama cenderung ditemukan hanya dalam sekte kecil, berdesakan bersama untuk menolak budaya sekuler di seluruh dunia”. Sekarang setelah kita benar-benar berada pada abad ke-21, pandangan Berger tetap menjadi artikel pedoman bagi banyak sekularis. Para penerusnya tetap bertahan dengan hasil survei yang menunjukkan bahwa di banyak negara, makin banyak orang menyatakan bahwa mereka tidak beragama. Sungguh ini tantangan yang paling berat menjadi manusia milenial. Padahal agama isinya keimanan yang dipraktekkan melalui perintah agama dan ajaranya.

Jangan sampai era metaverse, justeru menjadi bentangan Maya yang menghalangi manusia untuk meyakini Tuhannya, atau menjadi bias dari sikap kepasarahan manusia pada Tuhannya, dan manusia akan cenderung menghindari pertemuan, akibat peradaban dunia maya dikelola secara virtual. Jika sudah begitu, jauh abad Voltaire, filsuf Perancis abad ke-18 telah menulis “Jika Tuhan tidak ada, maka sangat perlu untuk menciptakannya.” Sungguh ini adalah der teragodie ( tragedi ) manusia.

Membaca zaman serta fenomenanya tidak lagi pada teks-teks tertulis, tapi sudah pada teks-teks 3 dimensi Metaverse. Lalu, bagaimana nasib membaca buku? Masihkah itu dipertahankan sebagai nilai peradaban, ya pasti. Membaca kalimat justeru tengah membaca masa depannya. Percayalah bahwa kondisi zaman mengharuskan kita menjadi pembaca, pelihat dan perubah. Bahkan harus mampu cepat mengimbangi, dan bila perlu menjadi pelaku atas peradaban Metaverse tersebut.

Serang, 26/4/2022
Oleh : Hamdan Suhaemi
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Editor: Kang Diens

ShareTweetShare
Previous Post

RMI 29 Kecamatan Se-Kab. Serang, Gelar Bukber Dan Santunan Anak Yatim

Next Post

Memahami Lailatul Qadar Melalui Tafsir

Related Posts

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
8

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
61

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
146

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
130

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
103

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya

24 Juni 2026
104

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

24 Juni 2026
113

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
137

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
137

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
122
Next Post

Memahami Lailatul Qadar Melalui Tafsir

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

by Admin
20 Juli 2026
8

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Pendidikan Islam dan Pengasuh PP As Shuffah Rembang) Dinamika sosial hari ini sering kali...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Daftar Reportase Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.5k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.5k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25