• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Kritik Atas Hubungan Fungsi Kekuasaan Menurut Jean Jaques Rousseau

Rousseau menentang rencana Voltaire mendirikan sebuah teater di Jenewa (Rousseau bersikeras bahwa teater merupakan sekolah yang membejatkan moral), Rousseau dibenci habis-habisan oleh Voltaire

by Admin
8 November 2021
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Kyai Hamdan Suhaemi

Dalam buku Du Contract Social, satu dari sekian karya-karya Jean Jaques Rousseau, seorang filsuf Prancis abad 18 M, saya coba memahami dengan sederhana dan ingin sekali menyajikan tulisan ini sebagai ajakan untuk memahami konsep hubungan fungsi antara kekuasan legislatif dengan kekuasaan eksekutif. Pada pasal-pasal UUD 45 dari bab 2 hingga 5 telah dipaparkan penjelasan-penjelasan terkait power sharing (pembagian kekuasaan) sebagai ciri dari konstitusi negara kita dan diatur pula dengan UU MD3 yang baru-baru ini.

Persoalannya kemudian hubungan tersebut semakin tidak jelas ketika lebih menonjol kepentingan politik personal di balik itu semua, artinya keajegan keduannya sebagai bangunan trias politica negara demokrasi tidak serta merta lepas dari kekuatan kepentingan personal. Pada pelaksanaannya fungsi dari kekuasan legislatif dan kekuasan eksekutif tidak berajalan seiring dengan kepentingan umumnya rakyat.

Menurut Rousseau kekuasaan publik membutuhkan seorang agen sendiri untuk mengikat kekuatan itu bersama dan membuatnya berjalan di bawah kehendak umum untuk melayani sebagai alat komunikasi antara negara dan penguasa, serta untuk melakukan bagi pribadi kolektif sedikit banyak seperti apa yang dilakukan oleh kesatuan jiwa dan badan untuk manusia.

Baca Juga

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

Disini kita mendapatkan apa yang menjadi dasar pemerintahan di dalam negara yang sering kali secara salah dicampuradukan dengan penguasa sebagai tuannya. Peran me-negara tidak lain hanya kebutuhan pribadi yang menghendaki kelanggengan berkuasa. Sampai sejauh ini skema berdemokrasi telah memasuki bentuk barunya dengan kita istilahkan demokrasi ala monarki. Kekuasaan dari skema tersebut terus ditradisikan dengan generasi klan berikutnya, sementara rakyat sangat jauh dari menikmati makna dan hakikat demokrasi an sich yang pada intinya terletak pada kedaulatan rakyat.

Jean-Jacques Rousseau ini sebenarnya terlahir di Jenewa Swiss, Kemudian Rousseau sendiri meninggalkan Jenewa tahun 1728 ketika umurnya menginjak enam belas tahun. Sekitar tahun 1750 saat masih usia tiga puluh delapan mendadak Rousseau jadi tenar. Akademi Dijon menawarkan hadiah esai terbaik tentang pokok soal: apakah seni dan ilmu pengetahuan memang punya manfaat buat kemanusiaan?, ia berhasil dapat hadiah pertama. Sesudah itu namanya melangit. Beruntun muncullah karya-karya lainnya, termasuk Discourse on the Origin of Inequality (1755), La Nouvelle Heloise (1761), Emile (1762), The Social Contract (1762), Confessions (1770) yang kesemuanya itu melambungkan kemasyhurannya. Tambahan lagi, karena Rousseau suka musik dia menggubah dua opera masing-masing les muses galantes dan le devin du village.

Kendati mulanya Rousseau temasuk penulis pembaharu Perancis seperti hanya Denis Diderot dan Jean d’Alambert, jalan pikirannya segera bersimpang jalan dengan mereka. Karena Rousseau menentang rencana Voltaire mendirikan sebuah teater di Jenewa (Rousseau bersikeras bahwa teater merupakan sekolah yang membejatkan moral), Rousseau dibenci habis-habisan oleh Voltaire. Disamping itu cita rasa Rousseau berbeda dengan rasionalisme Voltaire dan kaum Encyclopedist.

Mulai tahun 1762 dan seterusnya, Rousseau menghadapi kesulitan dengan pihak penguasa karena tulisan-tulisan politiknya. Beberapa kawan dekatnya mulai menjauh darinya dan bersamaan dengan saat itulah Rousseau tampak mengalami kelainan jiwa. Meskipun sejumlah orang masih bersahabat dengannya, Rousseau bersikap bermusuhan dengan mereka karena sifatnya sudah menjadi penuh curiga dan kasar. Selama dua puluh tahun sisa hidupnya, dia umumnya menjadi orang penuh benci dan kecewa serta dirundung kemurungan tak bahagia. Dia meninggal dunia 1778 di Ermenonville Perancis.

Tulisan-tulisan Rousseau terkait perjanjian sosial yang lebih membela kepentingan rakyat sebagai pemegang kedaulatan, dan rakyat sebagai komponen utama negara demokrasi, sebenanya hampir sama dengan pemikir Prancis lainnya. Cuman dalam hal pandangannya ini orang berpendapat bahwa pemikiran Rousseau menjadi faktor penting bagi pertumbuhan sosialisme, romantisme, totaliterisme, anti-rasionalisme, serta perintis jalan ke arah pecahnya Revolusi Perancis ( 1789) dan merupakan penyumbang buat ide-ide modern menuju demokrasi dan persamaan. Dia juga dianggap punya sumbangan penting dalam hal pengaruh teori pendidikan modern yang telah lama dipermasalahkan di bidang teoritis bahwa manusia hampir pada hakekatnya merupakan produk alam sekitarnya, karena itu mudah berubah serta peka.

Akhirnya saya menyimpulkan bahwa grund gedangke (konsep pokok) dari pemikiran J.J. Rousseau sama linear-nya dengan pemikiran politik lainnya yang punya semangat sama dalam memberi pondasi kuat terhadap tegaknya negara demokrasi modern. Sumbangsih pemikiran Rousseau ini patut kita apresiasi sebagai the genuine of democratic thought.

Wa Allah A’lam bi Al-Showaab

Wakil Ketua PW Ansor Banten
Serang 7 November 2021

ShareTweetShare
Previous Post

Demokrasi, Kita dan Hegemoni Partai Politik

Next Post

Halaqoh Kiai NU Muda se-Banten

Related Posts

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
85

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
86

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya

24 Juni 2026
88

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

24 Juni 2026
109

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
123

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
130

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
117

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
219

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
40

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
112
Next Post

Halaqoh Kiai NU Muda se-Banten

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

KH Imaduddin al Bantani

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

by Admin
6 Juli 2026
85

Setelah sekian lama tenggelam dalam kesunyian, Rumail kembali melangkah ke pelataran wacana. Kali ini, ia membawa narasi baru tentang misteri...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Daftar Reportase Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya

Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.4k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.5k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25