• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Memahami Tafsir Ayat Puasa

by Admin
7 April 2023
in Opini, Pesantren
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

Kebanyakan mengenali puasa di bulan suci Ramadhan itu sebagai kewajiban berdasarkan syari’at Islam tanpa mengetahui seluk beluk ayat al-Quran yang mewajibkan akan hal itu. Sebab kita berpuasa sudah jelas sandaran hukumnya yaitu fardlu (wajib). Ibadah puasa ini jadi istimewa karena ibadah yang hubungannya langsung dengan Allah SWT, bahkan sejajar dengan sholat, zakat dan haji sebagai rukun Islam.

Dalil tentang wajibnya puasa di bulan Ramadhan berdasarkan pada ayat 183 surat Al-Baqarah, tetapi dalam ayat tersebut tidak menggunakan lafadz فرض atau وجب tapi lafadz كتب lalu kita sekarang bertanya-tanya tentang lafadz tersebut, karena lafadznya juga bentuknya fiil bukan isim, bahkan masuknya jumlah khabariyah bukan insyaiyah. Kita tahu kalau insyaiyah selalu menunjukkan perintah ( أمر ) dan atau larangan ( نهي ).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (QS Al-Baqarah: 183).

Ayat 183 ini yang paling masyhur sebagai dalil (qothi’ addilalah) atas kewajiban puasa bagi kaum mukminin, dan tidak menggunakan lafadz muslimin. Ini yang menjadikan kita tergugah untuk memahaminya. Kalau kita tahu murod atau yang dimaksud Allah dari lafadz tersebut tentu kita tidak perlu cari tafsirnya. Tetapi jelas tafsir mendekatkan dan mengantarkan ke kita memahami murodnya Allah SWT mengkhitob lafadz itu.

Saya ingin menengahkan beberapa tafsir atas ayat itu dari berbagai kalangan mufassirin lintas madzhab, dan bagaimana tafsirnya.

Imam Mujtahid Muthlaq Muhammad bin Idris al-Syafi’i dalam tafsirnya “Tafsir al-Imam al-Syafi’i” telah menjelaskan:

قال الشَّافِعِي رحمه الله تعالى: قال الله تبارك وتعالى: (كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) الآية.
قال الشَّافِعِي رحمه الله تعالى: فافترض الله عليهم الصوم، ثم بين أنه شهر، والشهر عندهم ما بين الهلالين، وقد يكون ثلاثين، وتسعاً وعشرين.فكانت الدلالة في هذا كالدلالة في الآيتين، وكان في الآيتين قبله

Dalam kitab tafsir yang ditulisnya, Imam Syafi’i telah menjelaskan bahwa lafadz كتب itu yang dimaksud adalah افترض yaitu telah menjadi kefardluan. Sementara tafsir atas ayat ياايهاالذين آمنوا ditafsirkan sebagai البالغين و العاقلين yakni muslim yang sudah masuk baligh dan tetap dalam keadaan berakal (mukallaf).

Imam Ibnu Jarir al-Thobary dalam tafsirnya “Jami’u al-Bayani” atau masyhur disebut tafsir Ibnu Jarir Thobary telah menjelaskan:

قال أبو جعفر: يعني تعالى ذكره بقوله:”يا أيها الذين آمنوا”، يا أيها الذين آمنوا بالله ورسوله وصدقوا بهما وأقرُّوا. (١)
ويعني بقوله:”كتب عليكم الصيام”، فرض عليكم الصيام. (٢)
و”الصيام” مصدر، من قول القائل:”صُمت عن كذا وكذا” -يعني: كففت عنه-“أصوم عَنه صوْمًا وصيامًا”. و معنى”الصيام”، الكف عما أمر الله بالكف عنه

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir al-Thobary menyatakan bahwa yang dimaksud آمنوا adalah iman kepada Allah, iman kepada Rasulullah dan mereka membenarkan sekaligus mengikrarkan keduanya. Kemudian Ibnu Jarir pun menyatakan bahwa lafadz كتب adalah فرض sedangkan lafadz الصيام dimaksudkan sebagai mencukupi apa yg jadi perintah Allah dan mencegah dari apa yang dilarangnya.

Imam Abu Laits al-Samarqandi dalam kitabnya tafsir “Bahrul Ulum” atau masyhur dikenal dengan “Tafsir Samarqandi” telah menjelaskan berikut ini:

قوله تعالى: يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ، يعني فرض عليكم صيام رمضان، كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، أي فرض على الذين من قبلكم من أهل الملل كلها. لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الأكل والشرب والجماع بعد صلاة العشاء الآخرة وبعد النوم

Imam Abu Laits menyatakan bahwa كتب adalah فرض artinya difardukan atau diwajibkan, sementara lafadz الذين من قبلكم itu adalah من أهل الملل كلها yaitu para penganut agama -agama seluruhnya sebelum Islam. Jadi syari’at agama terdahulu sebelum Islam sudah ada kewajiban puasa.

Imam Makki bin Hammus bin Muhammad al-Andalusyi Cordova, seorang mufassir dari kalangan madzhab Maliki dalam kitabnya “al-Hidayah ilaa Bulughi al-Nihayah” telah menafsirkan begini:

قوله: {يا أيها الذين آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصيام كَمَا كُتِبَ عَلَى الذين مِن قَبْلِكُمْ} إلى قوله: {إِن كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}.
أي: فرض عليكم أن تصوموا أياماً معدودات كما كتب على الذين من قبلكم الصيام، يعني / النصارى.

Lafadz كتب ditafsir beliau فرض sedangkan lafadz من قبلكم itu ditafsiri pemeluk agama Nasrani (Kristen).

Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad al-Nasafi dari kalangan madzhab Hanafi di dalam kitabnya “Taisir fi al-Tafsiri” telah menjelaskan:

وقولُه تعالى: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ}؛ أي: فُرِضَ عليكم، والصِّيامُ والصَّومُ في اللُّغة: هو الإمساك، يُقال: صامَت الدَّابَّةُ على آريِّها (١)، إذا قامَت فلم تعتلِف، ومصامُ الفرسِ: موقفه، وقالت مريم عليها السلام: {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا}.

Syaikh al-Nasafi ini menafsirkan lafadz كتب dengan فرض sedangkan menfasiri lafadz الصيام dengan الامساك yaitu menahan diri dengan sekuat-kuatnya. Sementara menafsiri ayat الذين من قبلكم menurut Syaikh al-Nasafi sebagai berikut.

الصَّومُ على آدمَ عليه السلام أيَّام البيض، وقصَّته معروفةٌ ، وصومُ عاشوراء كان على قومِ موسى عليه السَّلام، وكان على كلِّ أمَّةٍ صومٌ

Yakni puasanya Nabi Adam yang dikenal ayyamu al-baidl, dan puasa ‘Asyura-nya kaum Nabi Musa dan seluruh umat nabi-nabi yang telah menjalankan puasa.

Imam Izzuddin bin Abdul Aziz bin Abdul Salam, seorang yang dikenal Sultannya seluruh ulama yang bermadzhab Syafi’i telah menafsiri surat Al-Baqarah ayat 183 seperti di dalam kitabnya “tafsir al-‘Izzu Abdul Salam ikhtishar ala tafsiri al-Mawardi” sebagai berikut:

{الصِّيَامُ} الصوم عن كل شيء الإمساك عنه، ويقال عند الظهيرة صام النهار، لإبطاء سير الشمس حتى كأنها أمسكت عنه. {كَمَا كُتِبَ} شبّه صومنا بصومهم في حكمه وصفته دون قدره، كانوا يصومون من العتمة الى العتمة {الَّذِينَ من قَبْلِكُمْ} جميع الناس، أو اليهود، أو أهل الكتاب

Imam Izzuddin menafsirkan lafadz كتب dengan وجب atau يجب sedangkan menafsirkan lafadz من قبلكم adalah seluruh manusia sebelum diutusnya al-Musthofa Muhammad Ibnu Abdullah, Rasulillah SAW dan kaum Yahudi dan seluruh ahli kitab (Nasrani).

Dengan demikian kita tentu telah mengenal ragam tafsir dari berbagai ulama lintas madzhab tentang tafsir ayat 183 dari surat Al-Baqarah tersebut. Itu artinya semua sepakat bahwa lafadz كتب dimaksud adalah difardukan atau diwajibkannya puasa kepada seluruh umat Islam. Terutama yang termasuk kriteria syarat wajib puasa yang tertulis dalam kitab “Kasyifatu al-syaja” yaitu Islam (muslim), mukallaf, ithaqah (kuat), shihhat (sehat); dan iqomah (mendirikan puasa selama sebulan).

Serang, 7 April 2023

Oleh: Kiai Hamdan Suhaemi
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten
Idaroh Wustho Jatman Banten
Sekretaris Komisi HAUB MUI Banten

Tags: 144hayat puasaayat quran tentang puasadalil puasapuasapuasa ayyamul bidhpuasa sunnahpuasa wajibramadhanshaum
ShareTweetShare
Previous Post

Keistimewaan Sang Qutub Khotmu al-Auliyai al-Kitmani, Sayyid Ahmad at-Tijani

Next Post

Islam Bukan Agama Darah

Related Posts

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

21 April 2026
17

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

18 April 2026
42

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
66

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

9 April 2026
75

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

9 April 2026
65

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

7 April 2026
37

Melawan Hegemoni Ba’alwi: Menuju Dekolonisasi Mental Pesantren

25 Maret 2026
69

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas

24 Maret 2026
593

Beruntungnya Orang yang Saling Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri

21 Maret 2026
40

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

15 Maret 2026
118
Next Post

Islam Bukan Agama Darah

Paling Banyak Dilihat

Opini

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

by Admin
21 April 2026
17

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara 12 Data Weaponizing Historis dan Sanad Ilmu Untuk Menundukkan dan Menjajah Pribumi Senjata utama Klan...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.8k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25