• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Peneliti, NU dan Tradisionalisme

Menurut peneliti Alexander Pelletier, NU unik karena lihai dalam meramu perbedaan termasuk perbedaan di internal sendiri sehingga memunculkan satu kebijakan yang moderat dan akhirnya diterima semua pihak.

by Hamdan Suhaemi
10 September 2021
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kyai M. Hamdan Suhaemi

Kekaguman Peneliti Asing

Nama-nama seperti Andree Feillard (Jerman), Greg Barton, Greg Fealy (Australia) Martin Van Bruinsen (Belanda), Douglas Ramage (AS), Mitsuo Nakamura (Jepang) diantara peneliti asing yang secara komprehensif memahami intelektualisme dan tradisionalisme NU sejak Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU dimulai 1984 silam, mereka memaknai NU sebagai pesantren besar yang konsisten dalam prinsip moderat ( wasathiyah ), dan secara khusus memaknai tradisional dan enigmatik ( khusus pada pribadi Gus Dur ).

Selanjutnya Karel Streenbrink ( Belanda ) yang punya kesan mendalam ketika meneliti tentang Islam di Pesantren Modern Gontor Ponorogo sekira tahun 1970-an. Dari hasil penelitian tersebut Streenbrink menulis buku yang terkenal Pesantren, Madrasah, Sekolah. Pergumulannya dengan pesantren-pesantren yang diasuh oleh ulama NU di Sumatrea dan Jawa, hampir memakan waktu satu dekade hingga Streenbrink menyimpulkan bahwa pesantren NU rerata menerima perbedaan dengan kehangatan sikap dan perlakuan saling menghormati, welas asih dan memuliakan manusia meski beda dalam keyakinan.

Baca Juga

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Belakangan ada peneliti yang tertarik dan menaruh kekagumannya pada NU yaitu Alexander Pelletier, kesannya atas NU seperti yang ia ucapakan “Saya tertarik ke Indonesia dan meneliti NU karena di organisasi ini ada ruang terbuka untuk diskusi. Itu bagus untuk tumbuhnya demokrasi. “

Alexander Pelletier, ini meneliti NU dan perannya dalam membangun toleransi di masyarakat Indonesia. Fokus penelitiannya ialah kekuatan struktur NU dalam menyebarkan nilai-nilai moderat. Menurut peneliti tersebut, NU unik karena lihai dalam meramu perbedaan termasuk perbedaan di internal sendiri sehingga memunculkan satu kebijakan yang moderat dan akhirnya diterima semua pihak.

Nahdlatul Ulama

NU menampilkan sikap toleransi terhadap nilai-nilai lokal. NU berakulturasi dan berinteraksi positif dengan tradisi dan budaya masyarakat lokal. Dengan demikian NU memiliki wawasan multikultural, dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau budaya setempat, tetapi mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup di Republik tercinta ini. Sikap ini sesuai dengan inti faham keislaman NU yang sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW :

الحكمة دالة المؤمن فحيث وجدها فهو احق بها

Hikmah atau nilai-nilai positif untuk umat Islam, darimanapun asalnya ambillah karena itu miliknya umat Islam.

Proses akulturasi tersebut telah menampilkan wajah Islam yang berkeIndonesiaan, wajah yang ramah terhadap nilai budaya lokal dan terbuka dengan nilai-nilai universal yang positif. NU juga menghargai perbedaan agama, tradisi, dan kepercayaan, yang merupakan yang merupakan warisan budaya Nusantara. Sikap yang demikian inilah yang memudahkan NU diterima di semua lapisan masyarakat di seluruh kepulauan Nusantara.

Tradisionalisme NU

Akar tradisionalisme yang menjadi tampakan keseharian dari ulama dan warga NU adalah tampaksn kebersahajaan atau kesederhanaan, tidak hanya lahir dari perilakunya, tetapi juga dari kedalaman ilmu agamanya. Tebalnya ilmu seorang kiai tidak lantas membuatnya sombong, melainkan justru semakin membuatnya rendah hati dan tidak merendahkan orang lain.

Gambaran singkat sikap sederhana dari para kiai tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari kearifan lokal atau nilai-nilai tradisi dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Masyarakat Indonesia diantaranya melakukan aktivitas pertanian, menanam padi, dan lain-lain. Filosofi rendah hati juga muncul ketika seorang ulama merenungi pertumbuhan padi. Padi semakin berisi, semakin merunduk.

Filosofi padi merupakan nilai yang adiluhung, dimana karakter kuat sebuah masyarakat terbentuk dari kearifan lokalnya. Seorang kiai juga tidak pernah melepaskan diri dari teladan yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Ini perlu menjadi perhatian penting dan utama mengingat fenomena masyarakat Islam saat ini yang lebih mengedepankan sisi emosional ketimbang sisi rasional dan spiritual yang diteladankan.

Penutup

Untuk menjadi pegangan dalam upaya merawat nilai dan filosofi kesederhanaan dalam tatanan perilaku tradisionalitas kita, maka tak salah jika kita merawatnya dengan konsisten berharokah dalam jami’iyyah NU (berorganisasi di NU).

Wakil Ketua PW Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

ShareTweetShare
Previous Post

Pendapat DR. Tholabi Kharli Tentang Buku Induk Fikih Islam Nusantara Karya Ulama Banten KH. Imaduddin Utsman Albantani

Next Post

Musik, Hukum dan Peradaban

Related Posts

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
17

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
26

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
54

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
130

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
61

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
95

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
410

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
79

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
67

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
266
Next Post

Musik, Hukum dan Peradaban

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

by Admin
26 Oktober 2026
17

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah_Rembang) Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan klaim...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25