SERANG — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kasemen menggelar pengajian akbar dalam rangka Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Milad ke-12 Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Al-Mubarak, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh ulama, pengurus Nahdlatul Ulama, serta unsur pemerintah Kecamatan Kasemen dan Kota Serang. Di antaranya Ketua PWNU Banten KH Hafis Gunawan, KH Daelami Pelamunan, jajaran PCNU Kota Serang, Kabag Kesra Kota Serang, Camat Kasemen, serta para lurah se-Kecamatan Kasemen.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana pengajian dan silaturahmi. Selain memperingati haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan perjalanan 12 tahun Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Al-Mubarak, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara ulama, pesantren, NU, pemerintah, dan masyarakat.
Santri Harus Meneruskan Perjuangan Muassis NU
Pengasuh Pondok Pesantren Madarijul Ulum Pusat, KH Daelami Pelamunan, dalam sambutannya menekankan posisi strategis santri sebagai generasi penerus perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, santri tidak cukup hanya mendalami ilmu agama di pesantren, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para muassis NU melalui pengabdian di tengah masyarakat.
“Santri adalah penerus perjuangan muassis NU. Maka dari itu, sudah sepatutnya seorang santri meneruskan perjuangan melalui NU,” pesan KH Daelami.
Ia menempatkan pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, akhlak, dan kader yang mampu melanjutkan perjuangan keumatan.
“Ruh NU adalah Ngaji”
Sementara itu, Pengurus PCNU Kota Serang, Kiai Saudi Muin, menegaskan bahwa tradisi mengaji merupakan bagian fundamental dalam kehidupan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, identitas NU tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan pesantren dan kegiatan pengajian.
“Ruh NU adalah ngaji. Jika pengurus NU tidak ngaji, maka diragukan ke-NU-annya,” tegas Kiai Saudi Muin.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar aktivitas organisasi tidak hanya berorientasi pada struktur dan kegiatan administratif, tetapi tetap bertumpu pada tradisi keilmuan, pengajian, dan pembinaan keagamaan.
Ulama dan Umaro Harus Bersinergi
Dari unsur pemerintah, Kabag Kesra Kota Serang Tatang Taufik Rohman menyampaikan pentingnya sinergi antara ulama dan umaro dalam membangun kehidupan masyarakat.
Ia menilai kerja sama antara tokoh agama, pemerintah, pesantren, dan masyarakat diperlukan agar cita-cita para pendiri bangsa dapat terus diwujudkan dan dijaga.
“Ulama dan umaro harus bersinergi agar cita-cita para pendiri bangsa terlaksana dan terjaga,” ujar Tatang Taufik Rohman.
Menurutnya, pesantren dan ulama memiliki peran penting dalam membangun moral serta kehidupan sosial masyarakat, sementara pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menghadirkan pelayanan dan kebijakan yang mendukung kemaslahatan masyarakat.
KH Hafis: Kecintaan kepada Ulama dan Guru
Ketua PWNU Banten KH Hafis Gunawan dalam sambutannya mengajak jamaah untuk menjadikan momentum haul dan milad sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada ulama, guru, serta tradisi keilmuan pesantren.
Ia mengatakan, kehadiran masyarakat dalam kegiatan tersebut bukan semata-mata karena undangan, tetapi juga merupakan wujud kecintaan kepada para ulama dan guru.
KH Hafis juga mengajak masyarakat untuk senantiasa mengikuti bimbingan para kiai dan ulama serta menjaga ukhuwah Islamiyah.
Menurutnya, kehidupan masyarakat harus dibangun dengan semangat kebaikan, kemaslahatan, persatuan, dan menghindari berbagai bentuk permusuhan maupun perpecahan.
“Jangan salah pilih. Ikuti para kiai kita,” pesannya kepada jamaah.
Ia juga menekankan bahwa kedamaian dan keamanan masyarakat merupakan bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang penuh keberkahan. Karena itu, ia mengingatkan agar perbedaan tidak berkembang menjadi perselisihan dan permusuhan.
Keluarga dan Pendidikan Anak Jadi Perhatian
Dalam sambutannya, KH Hafis turut menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi yang saleh.
Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan keluarga tidak hanya ditentukan oleh kesalehan orang tua, tetapi juga oleh kualitas pendidikan dan pergaulan anak-anak.
Orang tua, kata dia, perlu memberikan perhatian terhadap perkembangan anak, termasuk dalam menghadapi tantangan zaman dan perkembangan teknologi digital.
Penggunaan telepon seluler yang tidak terkontrol, lingkungan pergaulan yang buruk, hingga paparan judi online dan pinjaman online menjadi tantangan yang perlu diantisipasi bersama.
Karena itu, pendidikan agama, pengawasan orang tua, lingkungan yang baik, serta keteladanan dari keluarga menjadi bagian penting dalam menjaga generasi muda.
Menjaga Tradisi Pesantren di Tengah Perubahan Zaman
KH Hafis juga mengingatkan bahwa metode pendidikan harus mampu menyesuaikan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
Menurutnya, pola pendidikan pada masa lalu memiliki karakter tersendiri, sementara generasi sekarang tumbuh dalam kondisi yang berbeda. Karena itu, orang tua dan guru perlu menemukan cara mendidik yang sesuai dengan karakter zaman, tetapi tetap mempertahankan nilai ilmu, adab, disiplin, dan penghormatan kepada guru.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang disampaikan KH Daelami bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan para pendiri NU.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang kaderisasi generasi yang memiliki ilmu, akhlak, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian.
Perkuat Sinergi NU, Pesantren, Pemerintah dan Masyarakat
Pengajian akbar MWCNU Kasemen tersebut pada akhirnya menjadi momentum yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam satu ruang silaturahmi.
Pesan para tokoh yang hadir memiliki titik temu pada pentingnya ilmu, ulama, pesantren, kaderisasi santri, persatuan masyarakat, serta sinergi antara ulama dan pemerintah.
Milad ke-12 Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Al-Mubarak pun tidak hanya menjadi penanda perjalanan lembaga pendidikan pesantren, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjadi ruang untuk menghidupkan kembali tradisi kecintaan kepada ulama dan para guru, sekaligus mengambil nilai-nilai keteladanan untuk kehidupan umat dan masyarakat.
Dengan semangat ngaji, mengabdi, menjaga ukhuwah, dan meneruskan perjuangan para muassis NU, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat peran pesantren dan NU dalam kehidupan masyarakat Kota Serang, khususnya di Kecamatan Kasemen. (Din)