• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Santri Ideologis Gus Dur

Lagi-lagi Gus Dur mengajarkan begitu dinamisnya memahami teks wahyu pun hadits. Karena menurut Gus Dur larangan bercampur itu ilatnya dikhawatirkan terjadi perbuatan asusila. Gus Dur mengajarkan memahami teks Ilahi dengan konteks lingkup yang mengitarinya. Dari itu tak segan Gus Dur ambil kaidah ushul lengkap dengan contoh aktual sesuai tradisi nusantara

by Admin
9 Januari 2022
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam istilah santri dikenal berkah, dan berkah itu saya rasakan setelah banyak pergulatan pemikiran melalui perjumpaan buku yang awalnya terpampang di rak perpustakaan kampus. Awal kenal kampus tahun 1998 di  era itu Orde Baru tumbang. Lazimnya kampus negeri hiruk pikuk pergerakan mahasiswa begitu kentara. Hampir ada tiap sudut mengenalkan organisasi kemahasiswaan ekstra kampus.

Dari proses marketing kegiatan ekstra kampus itu saya mencoba kultur harokah anak-anak ikhwan-akhwat tujuan utama keingintahuan menata keorganisasian. Disini banyak belajar militansi, ghirah dan setia kawan. Namun saya beruntung tataran ideologi tidak begitu terpengaruh karena mungkin atsar saya pernah di pesantren tradisional. Sehingga liqo yang dihidangkan bagi saya biasa saja sehingga saya tidak tertarik mengikuti liqo mingguan.

Islam politik bagi mahasiswa S1 seperti saya sangat menarik dan harus diperjuangkan begitu pergolakan yang ada. Maka partai politik harus berasaskan Islam. Pun dasar negara itu baru sebuah negara Ideal. Begitulah tataran politik kala itu yang saya idolakan.

Namun seiring waktu karena kuliah sambil numpang tidur di emperan kiai. Dan kebetulan Sang Kiai matang dalam Ilmu logika dan ushul fiqh. Dalam kajian tafsir sempat terjadi tanya jawab. Yang sesungguhnya hal demikian tidak umum. Namun sang kiai muda itu menyadari yang ikut bandongan mahasiswa yang mempelajari teologi Asy’ariah juga Mu’tazilah akhinya membuka ruang itu walau awalnya didasari kenekadan si santri melontarkan pertanyaan. Dan sang Kiai tahu karena si santri membuka mimbar diskusi antar santri tentang pergulatan pemikiran “Liberal vs Fundamentalis”.

Pertanyaan yang terngiang itu adalah tentang keharusan negara menegakkan Syariat Islam. Dengan diplomatis sang kiai menjawab yang bagi saya sebagai memporakporandakan bangunan kontruksi pemikiran politik saya. Karena sang kiai menjawab, pelaksanaan hukum syariat, tidak di khitabkan pada lembaga negara, lihat saja disana penggunaan diksi من  (man) lebih kepada personal (من لم يحكم…). Sang Kiai membawa kepada tinjauan penggunaan kalimat dalam segi tata bahasa nahwu juga sharaf.

Baca Juga

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas

Beruntungnya Orang yang Saling Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri

Terus sang kiai membawa si santri yang  nyeleneh bertanya itu tinjauan ushul fiqh, dan kaidah ushul. “Kata sang Kiai tidak serta merta perintah dalam al-Quran menunjukan kewajiban mutlak yang harus dilaksanakan, karena perintah ataupun amr bisa saja bermakna khobari, atau bisa juga kebolehan.

Tentang  kewajiban salat 5 waktupun itu tidak ujug-ujug hanya melihat nash. Tetapi melihat bagaimana Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat dalam kondisi apapun sehat ataupun sakit, bahkan dalam keadaan perang. Dan betapa berat ancaman meninggalkan salat. Barulah setelah melihat secara komprehensif tentang dasar yang mengitari salat 5 waktu menjadi kewajiban masuk rukun dari salah satu rukun Islam. Sekali lagi sang Kiai bilang tidak ujug-ujug perintah dalam al-Quran jadi wajib.

Melompat ke Gus Dur dari jawaban sang kiai itu saya mulai bisa menerima pandangan pemikiran Gus Dur. Dari dialog dalam mimbar bandongan itu antara santri dan kiai. Saya mendapatkan hal baru tentang memahami syariat Islam. Dari proses bandongan itu pula saya menselaraskan dengan statement-statement Gus Dur terlebih dengan konsep pribumisasi Islam. Sumber al-Quran sebagai spirit yang diambil adalah substansi Islam itu sendiri.

Lompatan pemikiran yang saya alami begitu terasa manakala lanjut studi pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Dikenalkan meneropong Islam dalam kaca pandang ragam disiplin keilmuan. Dari tafsir, fiqh, sejarah, politik, tasawuf, filsafat, kedokteran, hingga kajian lingkungan hidup yang disajikan para Guru Besar sesuai bidang disiplinnya. Walhasil mahasiswa mendapatkan keislaman komprehensif, memandang islam tidak hitam putih.

Dalam perjumpaan pemikiran itu lagi-lagi memperkuat magnet Gus Dur terhadap pemikiran yang bersarang dalam ide dan gagasan. Terlebih tesis yang digarap sebagai tugas akhir pun tentang pemikiran Gus Dur.

Gus Dur secara tidak langsung sudah memberikan konstruksi dasar-dasar pemikiran tentang bagaimana berislam, hidup berbangsa dan ber-Indonesia. Dan konstruksi bangunan pemikiran Gus Dur tidak sama sekali keluar dari koridor Islam. Gus Dur sangat faham kaidah Ushul, tasauf, pun tafsir.

Adapun teori sosial barat itu hanya sebagai faktor pendukung agar pembaca tulisan Gus Dur dari kalangan akademisi didikan barat “terperangah” dan tak bisa membantah sejatinya Islam kaya formula dalam menghadapi dinamisme kehidupan. Jadi tentang islam tidak melulu dogmatisme ada ruang bahkan terbuka terhadap pembaharuan terbatas menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan.

Bagi Gus Dur ada dimensi ta’abudy dan ta’aquli. Diteruskan oleh santri ideologisnya seperti Gus Ulil dengan istilah ada dimensi partikular. Wahyu Ilahi tak turun pada ruang hampa nan kosong. Alhasil Gus Dur memotret bagaimana Kiai NU mau mengkampanyekan program pemerintah tentang KB. Atau bagaimana Kiai NU bisa menyatukan pelajar perempuan dan laki-laki dalam satu ruang kelas.

Lagi-lagi Gus Dur mengajarkan begitu dinamisnya memahami teks wahyu pun hadits. Karena menurut Gus Dur larangan bercampur itu ilatnya dikhawatirkan terjadi perbuatan asusila. Gus Dur mengajarkan memahami teks Ilahi dengan konteks lingkup yang mengitarinya. Dari itu tak segan Gus Dur ambil kaidah ushul lengkap dengan contoh aktual sesuai tradisi nusantara dalam pembaharuan terbatas jauh sebelum konsep mawaris Munawir Sadjali Menag era Orde Baru. Gus Dur mensitir Syekh Arsyad Banjar dengan adat perpantangannya.

Kiai-kiai NU yang dicap tradisional itu sesungguhnya taraf dalam memahami agama lebih maju dan dinamis, tidak terjebak belukar makna teks. Sehingga tak lagi mempermasalahkan dasar negara, presiden perempuan atau laki-laki. Begitulah bagian kecil magnet Gus Dur dari sekian banyak magnet Gus Dur bagi kaum muda-mudi NU dan lainnya.


Ditulis oleh: Akhmad Basuni (Aa Bass),
Ketua Koordinator Pendidikan dan pemeliharaan tradisi RMI PWNU Banten.

Editor: Kang Diens

ShareTweetShare
Previous Post

Gus Yahya Dan Internasionalisasi Ajaran Aswaja NU

Next Post

Istiqomah Dengan Madzhab Ahli Sunnah Wal Jama’ah

Related Posts

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
58

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

9 April 2026
59

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

7 April 2026
35

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas

24 Maret 2026
585

Beruntungnya Orang yang Saling Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri

21 Maret 2026
40

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

15 Maret 2026
116

Titik Balik Thesis al Bantani, Konsensus dan Glorifikasi Nasab Ba’Alwi: Tiga Tahun  Gagal Raih Syuhra Wal Istifadlah (2023 2025)

11 Maret 2026
116

Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik

8 Maret 2026
230

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

6 Maret 2026
208

Ini Sangsi Yang Akan Diterima Oknum Polres dan Jaksa Jika Paksakan RJ Dalam Kasus Pengeroyokan Oleh Bahar Smith Terhadap Anggota Banser

6 Maret 2026
86
Next Post

Istiqomah Dengan Madzhab Ahli Sunnah Wal Jama'ah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Berita

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

by Admin
18 April 2026
11

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Prolog Pembaca bisa melewati bagian ini. Saya mengambil tanggal 19-20 Maret sebagai awal penghitungan putaran...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.8k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25