Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setahun sekali, melainkan momentum ruhani yang terus mengalirkan makna sepanjang zaman. Dari perjalanan agung inilah umat Islam menerima shalat—bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai poros kehidupan, penyangga iman, dan penuntun akhlak. Nilai inilah yang sejak dulu hingga kini dijaga, dihidupkan, dan diwariskan oleh pesantren dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Pesantren adalah ruang pendidikan yang merawat spirit Isra Mi’raj dalam kehidupan nyata. Di sana, shalat tidak berhenti pada teori dan hafalan, tetapi ditanamkan sebagai laku hidup. Santri dibangunkan sebelum fajar, diajak berdiri rapi dalam saf, dan dibiasakan menundukkan hati sebelum menundukkan badan. Disiplin ibadah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan latihan jiwa agar selalu terhubung dengan Allah, sebagaimana pesan utama Isra Mi’raj: membangun relasi vertikal yang kokoh di tengah realitas dunia.
Isra Mi’raj juga mengajarkan makna ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah. Rasulullah SAW menerima perintah shalat dengan penuh keimanan, meski pada awalnya terasa berat bagi umat. Nilai inilah yang ditanamkan di pesantren melalui adab santri kepada kiai dan guru—ketaatan yang mendidik, bukan membelenggu; kepatuhan yang melahirkan kedewasaan ruhani. Dari proses inilah lahir pribadi-pribadi yang rendah hati, sabar, dan siap mengabdi, bukan hanya pintar berbicara, tetapi matang dalam bersikap.
Lebih dari itu, pesantren adalah laboratorium akhlak, sebagaimana misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW. Dalam kesederhanaan hidup bersama, santri belajar menghormati yang tua, menyayangi sesama, menahan ego, dan menjaga adab dalam setiap keadaan. Akhlak tidak diajarkan sebagai slogan, tetapi dipraktikkan sebagai napas keseharian. Di sinilah Isra Mi’raj menemukan bentuk sosialnya: iman yang naik ke langit, lalu turun kembali menjadi akhlak di bumi.
Maka, momentum Isra Mi’raj seharusnya menjadi bahan bakar spiritual bagi pesantren untuk terus tegak dan relevan di tengah zaman yang terus berubah. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan penjaga tangga langit—yang menghubungkan bumi dengan nilai-nilai langit. Selama pesantren setia merawat shalat, akhlak, dan keikhlasan, selama itu pula cahaya Isra Mi’raj akan terus menyinari perjalanan umat, tanpa redup, tanpa lekang oleh waktu.
Oleh: Abdul Hay Nasuki, S.Pd.I.
(Sekretaris RMI PWNU Banten)