• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Moderasi Beragama, Jalan Besar Kemajuan Bangsa

Saat ini, menurut Gus Mus, banyak orang mengaku berdakwah, mengajak kepada Islam, tapi dia sendiri menjauh dari akhlak Islam. Bukannya memberi contoh moral yang mulia, malah mengajarkan untuk membenci sesama, lalu mengobarkan permusuhan kepada siapa saja di luar kelompoknya. Puncaknya menebar teror di mana-mana. Selain menyalahi cara Rasulullah, menurut Gus Mus, cara itu juga mengingkari perintah Gusti Allah. Ia mengajarkan agar mengasihi sesama dan menghormati tetangga. Harus pula membangun persatuan dan mengutamakan kerukunan antar umat beragama.

by Admin
30 Desember 2021
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kiai Hamdan Suhaemi

Ingin sekali, menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan berbagai kalangan, suku dan agama yang berbeda-beda, yang sudah lama hidup di bumi negeri ini. Mereka adalah anak-anak bangsa ini yang hak-haknya harus dihormati dan dihargai. Konstitusi negara pun sudah jelas mengayomi seluruh bangsa. Persaudaraan kita dilandasi karena kita lahir, hidup dan mati di tanah tumpah darah Indonesia. Tidak ada sekat yang membuat jarak, karena kebangsaan kita sejak dulu dicontohkan oleh para orang tua kita. Dalam aspek sosiologis ini tampakan persaudaraan antar pemeluk agama, jauh lebih indah dan prinsipil dalam upaya menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Moderasi beragama, perlu ditengahkan sebagai “jalan besar” yang akan dilalui oleh kita. Takdir kita sebagai bangsa yang heterogen, plural tentu menjadi dasar kenapa wajib ada saling hormat-menghormati, saling menghargai, saling membantu Pada soal keyakinan, keimanan suatu agama, mutlak sebagai dimensi khususiatnya masing-masing orang. Bahkan harusnya sudah selesai memperdebatkan soal-soal ini (aqidah). Kini arah kita perlu menguatkan tali kebangsaan dengan moderasi beragama.

Menurut Prof. Quraish Shihab, moderasi beragama dalam konteks Islam sebenarnya sulit didefinisikan. Hal itu karena istilah moderasi baru muncul setelah maraknya aksi radikalisme dan ekstremisme. Pengertian moderasi beragama yang paling mendekati dalam istilah Al-Qur’an yakni “wasathiyah”. Wasath berarti pertengahan dari segala sesuatu. Kata ini juga berarti adil, baik, terbaik, paling utama. Hal ini diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 143 (wa kadzalika ja’alanakum ummatan wasathan) yang dijadikan sebagai titik tolak moderasi beragama.

Baca Juga

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Dalam hal ini, kita pun perlu mengambil saripati pemikiran Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) terkait moderasi beragama, sebagai jawaban dari kegelisahan melihat fenomena fundamentalisme agama yang digerakan oleh pengasong Wahabisme, Bagi Gus Dur pembaruan dakwah moderasi Islam dengan menegaskan Islam harus menerima pluralitas situasi lokal, serta mengakomodasikannya sangatlah penting.

Gus Dur, menyuarakan gagasan tentang Islam sebagai komplementer dalam kehidupan sosio-kultural dan politik Indonesia serta pribumisasi Islam. Dimensi pertama gagasan Gus Dur tersebut adalah seruan kepada rekan-rekannya sesama muslim untuk tidak menjadikan Islam sebagai suatu ideologi alternatif terhadap konstruk negara-bangsa Indonesia yang ada saat ini. Dalam pandangannya, sebagai satu komponen penting dari struktur sosial Indonesia, Islam tidak boleh menempatkan dirinya dalam posisi yang bersaing vis-a vis. Ini kita pahami sikap inklusif jauh lebih perlu dicontohkan sebagai upaya menolak destruksi kehidupan berbangsa dan bernegara atas nama agama.

Adalah KH. Musthofa Bisri, seorang Kiai dan panutan kita semua telah memberikan pandangannya atas keharusan sikap kita kepada semua anak bangsa. KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus menyoroti model dakwah yang berkembang di Indonesia. Saat ini, menurut Gus Mus, banyak orang mengaku berdakwah, mengajak kepada Islam, tapi dia sendiri menjauh dari akhlak Islam. Bukannya memberi contoh moral yang mulia, malah mengajarkan untuk membenci sesama, lalu mengobarkan permusuhan kepada siapa saja di luar kelompoknya. Puncaknya menebar teror di mana-mana. Selain menyalahi cara Rasulullah, menurut Gus Mus, cara itu juga mengingkari perintah Gusti Allah. Ia mengajarkan agar mengasihi sesama dan menghormati tetangga. Harus pula membangun persatuan dan mengutamakan kerukunan antar umat beragama.

Tiga tokoh ulama yang saya kutip pemikirannya ini, cukup untuk jadi acuan dalam sikap kita hidup dalam moderasi beragama, jauh lebih masalahat, menguntungkan posisi Indonesia di mata dunia, menjadi catatan baik di masa yang akan datang bahwa negeri ini selalu damai dan bersatu dalam lingkup masyarakat Madani yang saling tolong menolong, saling hormat menghormati, saling melengkapi, dan saling dukung apapun keyakinan agamanya, apapun suku dan adat istiadatnya. Sekali bhineka tunggal Ika, sekali itu kita langgengkan hingga hari kiamat tiba.

Walantaka, 29-12-21

ShareTweetShare
Previous Post

Muskerwil II PWNU Banten 2021, Fokus Pendidikan Tinggi Warga Nahdliyyin

Next Post

Sekilas Sejarah Ratu Bagus Buang (Pangeran Ahmad Burhan)

Related Posts

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
46

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
103

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
210

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
153

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
121

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Muhibbinnya

24 Juni 2026
112

Membaca Lima Arus Kepentingan Eksternal dalam Muktamar NU 2026

24 Juni 2026
130

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
141

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
139

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
126
Next Post

Sekilas Sejarah Ratu Bagus Buang (Pangeran Ahmad Burhan)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Berita

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

by Admin
29 Juli 2026
13

Buku ini berjudul lengkap: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia (Kronik Dialektika Ilmiyah Terbongkarnya Kepalsuan Nasab Habaib Kepada Nabi Muhammad...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

Tablig Akbar PWI-LS di Pemalang Dipadati Puluhan Ribu Jemaah, Rhoma Irama Serukan Pentingnya Meluruskan Sejarah

Pesantren Nahdlatul Ulum Sabet Seluruh Juara Kitab Kasyifatussaja pada MTQ ke-55 Kabupaten Serang 2026

Gemilang di MTQ Banten, Santri Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Borong Juara Pertama Cabang Lomba Kitab Kuning

PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.5k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.5k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25