• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Membedah Kedunguan Dalam Beragama

Sisi lain dari sikap beragama yang terlalu kekanak-kanakan, tempramental, egois dan sok suci. Sikap tersebut sebenarnya jauh dari akhlak Rasulullah SAW

by Admin
31 Maret 2022
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Hamdan Suhaemi

Otak, untuk digunakan berfikir memilih apa itu benar, apa itu salah. Memilah apa itu bagus dan apa itu jelek, mencerna apa itu kasar dan apa itu lembut. Bahkan untuk membedakan mana yang lurus dan kemana yang sesat.

Agama, adalah tuntunan, nasihat, petunjuk, bimbingan dan juga kumpulan ajaran, jika agama itu samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) sumbernya dari wahyu ilahi. Sedangkan seperti agama Hindu, Budha, Konghucu, Zoroaster dan Shinto sumbernya ajaran manusia yang telah tercerahkan atau disebut agama ardli (agama bumi). Titik temunya adalah di manusia, yakni manusia menjadi benar. Semua pemeluknya berhak mengatakan agamanya yang benar. Kita yang agamis tentu tidak perlu mengatakan salah atas agamanya orang lain. Kembalinya pada Tuhan.

Sikap, kita beragama khusus dalam hal ini menjadi muslim adalah sikap yang mengikuti ajaran Rosulullah SAW ( صلى الله عليه و سلم ), sebab dalam pribadinya adalah suri tauladan. dalam al-Quran surat al-Ahzab ayat : 21 dijelaskan.

Baca Juga

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجو الله و اليوم الاخر و ذكر الله كثيرا

Dalam tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud اسوة itu adalah ucapan Rasulullah ( اقواله ), perbuatan/tindakan/sikap (افعاله) dan tingkah laku ( احواله). Ketiganya dalam diri Rasulullah SAW adalah baik dan bagus.

Lalu, kalau tidak kepada Rasulullah Muhammad kita muslim mengikuti siapa?

Ulama telah meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW karenanya Ulama adalah pewaris para Nabi, sikap hidupnya, perilakunya ulama akan selalu mengikutinya. Hanya saja kualitas tentu masing-masing berbeda. Terlebih sang Nabi punya khususiat (خواءص) yang tidak harus diikuti oleh umatnya, karena pula Nabi SAW adalah yang ma’shum (sisi pribadi yang dijaga dari perbuatan salah dan dosa).

Akhlaq, para alim ulama terutama Kiai-Kiai NU hampir keseluruhan hidupnya mengikuti ajaran dan pri hidup Rasulullah SAW yang wara’ (kehati-hatian), tawakal (berserah diri atau menyerahkan urusan kepada Allah SWT), qona’ah (merasa cukup), harits (bijaksana), halim (dermawan), zuhud (meninggalkan kenikmatan dunia), tasammuh (menghormati yang berbeda), dan akhlaq-akhlaq Rasulullah SAW yang lainnya. Maka tak jarang kita dapati perilaku seorang kiai pesantren jika kita lihat di buku sejarah atau riwayatnya Nabi SAW hampir meniru perilakunya Nabi SAW terutama dalam hal membimbing umatnya, tak terdapat sikap keras baik anggota badannya maupun ucapannya, begitu sopan dan terbuka pada semua umat.

Lalu, bagaimana kedunguan dalam beragama seringnya kita lihat akhir-akhir ini?

Menurut Hujjatul Islam Imam al-Ghozali ( رضي الله عنه ) bahwa agama itu perlu dengan akal ( berfikir ), tentu akal yang sehat, akal yang memikirkan pada posisi yang benar.

الدين هو العقل لا دين لمن لا عقل له

Agama itu harus dengan akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal (tidak berfikir).

Dawuh sang Imam ini sebenarnya ingin mengingatkan pada kita, bahwa dalam beragama bukan hanya totalitas kepatuhan pada perintah Allah SWT, tetapi juga akal mengantarkan paham dalam sikap tersebut.

Dungu, menjadi titik bahasan kali ini. Juga menjadi perhatian sekaligus keprihatinan. Sisi lain dari sikap beragama yang terlalu kekanak-kanakan, tempramental, egois dan sok suci. Sikap tersebut sebenarnya jauh dari akhlaq Rasulullah SAW meski dalam hal lain terkadang Rasul pun tegas. Namun perilaku akhir-akhir ini di sebagian kecil umat Islam sulit kita akui sebagai yang bersumber dari ajaran Islam apalagi dari akhlaknya Rasulillah SAW.

Meninggalkan kedunguan tersebut menjadi keniscayaan kita sebagai muslim untuk tidak merusak Islam sebagai agama yang mulia, sempurna dan luhur. Dalam hadits hasan ( حديث حسن ) riwayat al-Daruquthni Rasulullah SAW telah bersabda :

الاسلام يعلو ولا يعلى عليه

Artinya : Islam agama yang tinggi dan tidak ada agama yang lebih tinggi darinya.

Memahami sabda Nabi di atas tentunya adalah sikap mengikuti kemuliaan Islam itu sendiri (an sich), dan dengan akal lah ikutan itu tidak menjadi sesat. Meski bukan berarti beragama hanya cukup dengan akal semata. Tapi akal mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah, mana pula yang merusak dan mana juga yang maslahat.

Kalimat akhir, perlunya sikap beragama kita dengan meninggalkan kedunguan. Asal bicara, asal fatwa dan asal umat senang. Beralih pada sikap beragama yang istiqomah mengikuti bimbingan ulama/ kiai dimana pun berada.

Editor: Kang Diens

ShareTweetShare
Previous Post

Nama Cucu Prabu Surosowan Banten Menjadi Nama Baru Jembatan Bogeg

Next Post

Jatman Provinsi Banten Meresmikan Penggunaan Kantor Sekretariat

Related Posts

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
58

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
66

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
151

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
30

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
78

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
127

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
60

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
257

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
242

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
83
Next Post

Jatman Provinsi Banten Meresmikan Penggunaan Kantor Sekretariat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Berita

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

by Admin
5 Juni 2026
41

بقلم عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي (رئيس لجنة الفتوى في مجلس علماء اندونيسيا في محافظة بنتن)کتاب الروض الجلي في...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.1k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25