• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Penerapan Dakwah Yang Humanis

Dasar dakwah itu adalah ajakan, kemudian dakwah pun menjadi seruan, himbauan kepada jalan yang benar, jalan yang diridhoi Tuhan.

by Admin
28 Mei 2022
in Opini
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Era keterbukaan publik ini selalu menyuguhkan kepada kita fenomena yang unik sekaligus sarat akan perdebatan. Pada segmen agama pun bisa kita lihat ada yang bisa kita ikuti dan bisa kita akui sebagai hal yang baru terutama dalam hal penyampaian pesan agama (al-tabligh), seperti tablig lewat instrumen media sosial antara lain Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram, seolah telah menggeser metode dakwah yang konvensional yakni tatap muka (muwajahah). Suka atau tidak metode dakwah ini tengah menjadi keharusan bagi kebanyakan para mubalig di Indonesia. Meski demikian dakwah secara metode terbagi 2 cara, yang sering diterapkan oleh para pendakwah kita.

Dakwah Ucapan (al-Qouli)

Dasar dakwah itu adalah ajakan, kemudian dakwah pun menjadi seruan, himbauan kepada jalan yang benar, jalan yang diridhai Tuhan. Firman Allah yang artinya “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125). Dalam surat lain, Allah berfirman : “ dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran: 104). dari ayat tersebut dapat kita lihat bahwa tujuan dakwah itu mengajak manusia kepada Allah.

Firman Allah dalam QS. Ibrahim: 4 yang artinya: “ dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memeberi penjelasan kepada mereka”. Hal ini dapat dipahami bahwa ketika sesorang berdakwah dikalangan intelektual, bisa menggunakan bahasa-bahasa ilmiah.

Baca Juga

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

Ketika kita berdakwah di kalangan masyarakat yang tingkat pendidikannya lebih rendah baiknya menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah mereka pahami. Kalau menggunakan bahasa-bahasa ilmiah untuk mereka yang tingkat pengetahuannya rendah tentunya akan sulit bagi mereka untuk memahaminya. Dengan demikian dapat menggunakan bahasa sesuai dengan objek yang hendak kita dakwahi.

Penjelasan tentang hikmah dapat memudahkan dan menjadikan seseorang tertarik mendengar, bersemangat sesuatu yang disampaikan seorang pendakwah tentu dengan dengan lemah lembut, dakwah harus dengan bahasa yang dipahami, berbantahan dengan cara yang baik, memakai perumpamaan-perumpamaan dalam berdakwah, tidak memaki orang yang tidak beragama Islam , dakwah yang mempermudah dan tidak mempersulit, serta dengan hikmah dan nasehat yang baik.

Dakwah Sikap (al-Hali)

Dakwah bil-hal adalah merupakan usaha menyampaikan ajaran Islam kepada umat baik perorangan maupun kelompok dengan cara membantu mengatasi masalah yang dihadapi umat.

Masalah tersebut merupakan masalah hidup dan kehidupan umat, usaha pemecahan masalah ini berangkat dari akar masalah, yang pada akhirnya umat itu sendiri yang mengatasi masalah mereka dengan dasar kesadaran, sumber-sumber daya yang mereka miliki digali, dimobilisir, diorganisasi oleh mereka untuk memenuhi kebutuhan. Ini artinya bahwa dakwah merupakan usaha rnembangun manusia seutuhnya (rohani dan jasmani). Rohani menumbuhkan kesadaran membangun dan jasmaninya memunculkan tindakan tindakan yang nyata dalam pembangunan.

Dalam hal ini lebih merupakan fasilitator (agen) dalam pelaksanaan pembangunan tersebut, artinya dari sebagai pembuka pintu pembangunan yang akan memunculkan perubahanperubahan yang dilakukan oleh jamaah (umat), mengapa demikian, karena dakwah memiliki sifat taghyir (perubahan) yang muncul dari, oleh, dan untuk jamaah.

Dalam surat al-Isra’ ayat 84, Allah SWT berfirman: “Katakanlah tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Dari Anas RA berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW dimintai sesuatu melainkan pasti ia memberikannya. Sungguh telah datang seorang peminta kepadanya, maka diberinya kambing yang berada di antara dua bukit, maka ia kembali kepada kaumnya dan mengajak mereka “Hai kaumku, segeralah kamu masuk Islam, karena Muhammad memberi kepada seseorang yang sama sekali tidak khawatir habis atau menjadi miskin”. Sesungguhnya dahulu orang masuk Islam karena ingin dunia tetapi tiidak lama kemudian tumbuh kecintaannya pada Islam melebihi semua kekayaan dunia.

Kiranya menjadi perhatian untuk para pendakwah agar tetap berprinsip pada keutamaan bahwa “ دعوة الحال اولي من دعوة القول “ (dakwah tingkah itu lebih utama dari dakwah ucapan).

Dakwah Yang Humanis

Dua metode di atas jika penerapannya menggunakan pendekatan kemanusian, sikap penghargaan atas manusia serta menjungjung tinggi nilai kemanusiaan, terelpeas menggunaan perspektif siapapun. Ini menjadi langkah kekinian yang perlu dilakukan oleh para pendakwah kita, jika tujuan dan hasil dakwah secara signifikan dapat diperoleh.

Tantangan pendakwah bukan sekedar menghadapai medan lapangan semata, tapi karaketristik masa pendengar (jama’ah) yang berbeda, kadang terkonsentrasi oleh pembentukan opini, kadang pula terbawa arus isu. Keadaan seperti ini patut dipertimbnagan untuk kemudian sebagai pijakan setrategis dalam upaya keberhasilan berdakwah.

Beberapa figur pendakwah yang sedikit nyeleneh dengan pendekatan budaya yang titik tujuannya adalah pencerahan dan penyadaran telah memperlihatkan keberhasilannya, mereka ini tergolong pendakwah yang penerapannya sangat manusiawi, dan berprinsip menjungjung tinggi kemanusiaan sehingga mereka yang didakwahi terkesan tidak digurui, tidak pula merasa dipaksa-paksa. Sebab mereka mengakui dan memahami dakwahnya dengan kesadaran.

Bebrapa ulama NU yang memilih cara penerapan dakwahnya berbeda dengan kebanyakan pendakwah lainnyayang sedkit ganjil, antara lain seperti cara dakwah Gus Mik (KH. Hamim Jazuli) yang cenderung humanis, beliau mencari titik ujung kesadaran manusia tanpa pemaksaan sedikitpun, memberi pencerahan dan pengetahuan kepada orang-orang tanpa memberatkan.

Ujung yang diambil kemanfaatan mengajak orang kepada kebaikan bukan dengan cara yang tidak baik tapi mengajak orang sadar dengan cara baik. Contoh lain seperti Gus Miftah (KH. Miftahudin) yang dengan pendekatan humanisnya ia berdakwah di tempat-tempat hitam (club malam dan lokasi prostitusi), Gus muda ini lebih mengutamakan touching of heart dalam setiap dakwah Islam-nya, hingga banyak orang telah kembali ke jalan yang benar, mereka tobat nasuha dan menjalankan kehidupan normalnya sebagai muslim dan muslimat yang menjalankan syariat Islam. Berbeda dengan 2 figur di atas ada pula peran Gus Jibril yang keseharaiannya mengobati banyak orang yang terdampak gangguan jiwa, dengan sikapnya “ memanusiakan “ orang-orang tersebut hingga sembuh untuk kemudian mereka pun dibimbing dengan pengajaran ilmu dan amaliyah agama.

Tokoh NU lainnya yang dengan pendekatan humanis ini pun sering dilakukan oleh Abuya Muhtadi (al-Alim al-Allamah al-Hafidh KH. Muhtadi Dimyathi) yaitu dengan mendatangi banyak Lapas (Lembaga Pemsyarakatan) terkhusus yang terkena dampak Narkoba, sang guru mulia ini sangat telaten untuk menyentuh kesadaran warga Lapas dengan tidak membeda-bedakannya, cara beliau juga seperti mengadakan pengajian dan istighosah di Lapas sebagai medium dalam upaya membangkitkan spiritualitas mereka yang secara manusiawi mereka merasa direndahkan dan terkucilkan.

Tokoh agama lain (non Islam) pun yang kita masukan di sini sebagai perbandingan bahwasannya dakwah humanis bisa diterapkan oleh para pendakwah.

Kita perlu menyimak figur Bunda Theresia ( Santa Theresia ), Suster Katolik yang tinggal dan menetap di Calcuta India, beliau menginspirasi banyak orang terutama dalam hal perhatiannya pada kemanusiaan. Perilakunya yang melayani tanpa memandang agamanya, tanpa memandang kasta (di India banyak Kasta), tanpa memandang miskin atau kaya, tanpa memandang orang baik ataukah orang jahat, beliau tulus demi kemanusiaan dengan cara menyantuni, mengobati, memandikan anak-anak, memberi pakaian anak-anak yang terlantar, meski Bunda Theresia tidak sekali-kali mengajak mereka untuk masuk agama Kristen Katolik, namun perilaku yang humanistik inilah menjadikannya diterima oleh semua kalangan umat beragama. Ini satu prinsip misi yang tak ada bandingannya, dalam istilah Katolik adalah christ beyond christianity . Penerapan sikap humanis seperti Bunda Theresia ini perlu diikuti oleh kita sebab ajaran Islam itu rahmatan lil ‘alamain.

Ungaran, 21-5-2022

Oleh: Kiai M. Hamdan Suhaemi
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

ShareTweetShare
Previous Post

Menanggalkan Pengakuan Menguatkan Kemuliaan, Jejak Sejarah Pangeran Gebang Cirebon

Next Post

Sanad Ilmu KH. Syanwani bin Abdul Aziz Hingga Tersambung Kepada Rasulullah SAW

Related Posts

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
11

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
152

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

21 April 2026
60

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

18 April 2026
61

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
94

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

9 April 2026
72

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

7 April 2026
40

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas

24 Maret 2026
628

Beruntungnya Orang yang Saling Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri

21 Maret 2026
40

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

15 Maret 2026
121
Next Post

Sanad Ilmu KH. Syanwani bin Abdul Aziz Hingga Tersambung Kepada Rasulullah SAW

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

by Admin
29 April 2026
11

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Baalwisasi-Yamanisasi masif terjadi di Indonesia (Nusantara). Bagaimana itu bisa terjadi? Dari mana awal mulanya? Jawabannya:...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

Riziq Syihab Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW Secara Absolut

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.9k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25