• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home KH Imaduddin al Bantani

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

by Admin
22 April 2026
in KH Imaduddin al Bantani, Opini
44 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Diskursus batalnya nasab Ba’alwi di ruang public adalah salah satu diskursus yang menarik selama kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1945. Tidak ada diskursus ilmiyah yang menyita perhatian public seperti disukursus batalnya nasab Ba’alwi. Diskursus ini dimulai pada tanggal 13 Oktober 2022 ketika saya mengeluarkan sebuah tulisan (kemudian disebut tesis dalam dinamika diskursus) yang membatalkan nasab Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Tulisan saya diberi judul “Menakar Kesahihan Nasab Habaib di Indonesia: Sebuah Penelitian Ilmiyah”. Awalnya saya hanya menggunakan study analisis kitab-kitab nasab abad ke-5 sampai ke-14 Hijriyah, tetapi kemudian dalam buku-buku dan artikel-artikel selanjutnya saya memadukan study historis dan hasil uji tes DNA dalam memperkuat argumnetasi saya. Diskursus itu sangat menarik karena terjadi begitu masiv. Artikel dijawab dengan artikel; video dijawab dengan video; buku dijawab dengan buku; kitab berbahasa Arab dijawab dengan kitab berbahasa Arab.

Dalam tesis itu, saya menyatakan bahwa nasab Ba’alwi batal secara ilmiyah karena pengakuan Ba’alwi yang mengklaim sebagai keturunan Nabi dari Ahmad bin Isa (w. 345 H.) tidak terbukti dan baru muncul pengakuan itu di abad 9 H. sebelumnya tidak ada. Ba’alwi mengklaim mereka keturunan Ahmad bin Isa dari anaknya yang Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah. Menurut saya klaim itu tidak terverifikasi karena Ahmad bin Isa hanya mempunyai anak tiga: Muhammad, Ali dan Husain, tidak ada anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah. Tesis saya itu berdasarkan kitab-kitab nasab mulai abad ke-5 sampai abad ke-9 Hijriyah yang tidak mencantumkan nama Ubed sebagai anak Ahmad bin Isa. Munculnya klaim itu baru di abad 9 H dimulai dari keluarga Ba’alwi sendiri yang Bernama Ali al-Sakran dalam kitabnya Al-Burqah al-Musyiqah. Saya juga menyatakan bahwa sebelas nama dalam silsilah Ba’alwi mulai dari Ubed sampai Maula Dawilah adalah fiktif tidak ada dalam kitab-kitab sejarah. Nama-nama itu sengaja difabrikasi demi kepentingan menyembungkan nasab saja.

Hasil uji tes Y-DNA yang telah dilakukan oleh para Ba’alwi yang berhaplogroup G juga saya jadikan penguat argumentasi. Seluruh keturunan Nabi yang sahih nasabnya seperti keluarga Kerajaan Yordania, Bani Qatadah Makkah, Bani Sulaimaniyah Makkah, Bani Rassi Yaman, Bani A’raji Madinah, Bani Qanadil Mesir, Bani Husaini Karbala dan lain-lain telah keluar hasil tes Y-DNA mereka dengan haplogroup J1. Ba’alwi yang berhaplogroup G menurut mustahil sebagai keturunan paternal Nabi Muhammad SAW, karena akan berkonsekwensi membatalkan seluruh nasab-nasab keturunan Nabi yang sahih. Hal itu dikarenakan sepupu garis laki dari kakek bersama 1400 tahun yang silam harus mempunyai haplogroup yang sama.

Saya memberi tantangan kepada Ba’alwi agar klaimnya dapat diterima dengan:

Baca Juga

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

  1. Menghadirkan kitab nasab abad ke-lima yang lebih tua dari kitab Al-Syajarah al-Mubarakah (abad ke-6 H.) dan Muntaqilat al-Thalibiyah (abad ke-5 H.) yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah;
  2. Menghadirkan kitab nasab abad ke 8 H. yang menyebut bahwa Jadid mempunyai adik Bernama Alwi (hal ini untuk menjawab klaim bahwa apa yang disebut kitab Al-Suluk adalah Ba’alwi Abdurrahman Assegaf;
  3. Hasil tes Y-DNA keluarga Ba’alwi yang berhaplogroup J1 atau pakar yang menyebut bahwa haplogroup Bani Hasyim adalah G.

Tulisan ini akan menyajikan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh kaum Ba’alwi dan pembela-pembela nasab kaum Ba’alwi untuk menjawab tesis saya, dan pembaca akan mengetahui bahwa satu pun dari mereka tidak ada yang berhasil menjawab tesis saya tersebut.

Pertama Usaha Taufiq Assegaf dan Rabitah Alawiyah Menjawab Tesis Saya

Seacara resmi Rabitah Alawiyah (RA) melalui Lembaga nasabnya yang Bernama Maktab Daimi Rabitah Alawiyah (MDRA) telah berusaha menjawab tesis saya pada tanggal 8 November 2022. Sehari sebelumnya Taufiq Assegaf membuat Voice Note mengenai tesis saya yang ia sebarkan kepada kaum Ba’alwi. Jadi tidak benar klaim Taufiq Assegaf belakangan yang mengatakan bahwa Rabitah Alawiyah mengabaikan tesis saya dan tidak menganggapnya penting. Justru taufiq assegaf dan RA lah yang pertama kali bereaksi dan berusaha menjawab, namun gagal, lalu setelah itu mereka pura-pura diam.

Taufiq Assegaf dan RA tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-lima yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah; tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-8 H. yang menyebut bahwa jadid mempunyai adik Bernama Alwi; tidak bisa mengahdirkan anggota Ba’alwi yang berhaplogroup J1 atau pakar yang mengatakan bahwa haplogroup Bani Hasyim adalah G. Taufiq Assegaf dan RA hanya mampu membawa dua kitab: yang pertama kitab yang terbukti palsu yaitu kitab Abna’ul Imam karya Yusuf Jamalullail (w. 2022 M.) yang dinisbahkan kepada Thobathoba abad ke-5 H; yang kedua kitab Al-Musyajjar al-Kasyaf (Bahrul Ansab). Dalam surat edaran itu RA menyebut bahwa kitab tersebut adalah kitab abad ke-5 H. tetapi setelah saya telusuri ternyata kitab itu adalah karya Al-Najafi abad ke-10 H. dengan bermodal kedua kitab itu Taufiq Assegaf dan RA telah gagal menjawab tesis batalnya nasab mereka.

Kedua usaha Riziq Syihab Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 11 November 2022 Riziq Syihab berusaha menjawab tesis saya. Jawaban itu berupa video ceramahnya yang berisi dalil-dalil nasab Ba’alwi. Dalam usahanya itu Riziq pun gagal dalam menjawab tesis batalnya nasab Ba’alwi. Riziq tidak mampu mengahdirkan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed, Ia hanya mampu membawakan kitab Khulashatul Atsar karya Al-Muhibbi ulama abad ke-12 H.

Ketiga Usaha Jafar Assegaf Menjawab tesis Saya

Pada tanggal 17 maret 2023 DR. jafar Assegaf berusaha menjawab tesis saya. Jawabannya disampaikan dalam bentuk sebuah buku setebal 77 halaman. Usaha Jafar Assegaf ini pun gagal. Ia tidak mampu menghadirkan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed. Ia hanya bisa membawakan kitab Abnaul Imam yang telah terbukti palsu dan kitab Addaullami’ karya Assakhawi ulama abad ke-10 H.

Usaha Ulama Iran Melawan Ulama Banten

Seorang ulama Iran Bernama Syekh Mahdi Arrojai diminta pertolongan oleh kaum Ba’alwi untuk memberi tazkiyah (rekomendasi) bahwa nasab Ba’alwi sahih. Menurut Ba’alwi, mungkin saya akan terkesima mendengar nama ulama dari luar negeri. Bagi kibin mungkin tapi tidak bagi orang Banten. Orang Banten tidak silau dengan nama besar orang luar dari belahan dunia manapun. Yang paling penting adalah dalil. Orang Banten dari dulu tidak pernah menganggap bangsa lain termasuk Eropa, Persia atau Arab lebih tinggi dari orang Banten.

Apakah ulama Iran ini mampu membawa dalil kitab abad ke-5 H? tidak. Ia hanya berargumen ngalor ngidul. Dalam rekomendasi yang dikeluarkan 6 April 2023 itu menyebutkan bahwa walau tidak ada kitab abad ke-5 H. yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubed, bukan berarti nasab Ba’alwi batal, karena mungkin saja tidak tercatat itu disebabkan karena jauhnya lokasi Ubed dari para ahli nasab. Ini adalah alasan yang sangat konyol dari ulama Iran tersebut, bagaimana bisa ia berkata demikian sementara anak-anak Ahmad bin Isa lainnya tercatat. Kecuali di kitab abad ke-5 H Ahmad bin Isa dicatat lalu Ahmad bin Isa hijrah dalam keadaan belum beristri, sehingga karena ia sudah berhijrah jauh dari negerinya nama anak-anaknya tidak diketahui, baru masuk akal. tetapi yang terjadi dalam kasus Ahmad bin Isa adalah ia dicatat, nama anak-anaknya dicatat ada tiga: Muhammad, Ali dan Husain. Tidak ada nama anaknya Bernama Ubed atau Abdullah atau ubaidillah, ia baru muncul di abad ke-9 hijriyah, ini menunjukan bahwa nama Ubed ini adalah susupan yang dimasukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Kesimpulannya, usaha ulama Iran untuk membaantah tesis saya gagal. Kita tidak membutuhkan rekomendasi atau pernyataan, yang kita membutuhkan adalah data. Tanpa data, pernyataan siapapun tentang nasab Ba’alwi wajib ditolak secara ilmiyah. Itulah ilmu standar Kresek Banten.

Usaha Muhammad Lutfi Rahman Menjawab Tesis

Pada tanggal 7-8 April 2023 Muhammad Lutfi Rahman (aktifis ormas terlarang FPI) berusaha menjawab tesis saya. Usahanya itu ia tampilkan dalam bentuk artikel yang dimuat di media online FPI Fakta Kini. Lutfi pun Kembali gagal menjawab sama seperti pendahulunya, Ia tidak mampu menghadirkan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed. Ia hanya mampu menghadirkan kitab: pertama, kitab Addaullami’ abad 10 H, kedua kitab Ibnu Hajar abad 10 H., ketiga kitab Syadaratudzahab karya Ibnul Imad abad 11 H., keempat kitab Syarhul Ainiyah karya Ahmad bin Zen Al-Habsyi Ba’alwi, yaitu seseorang yang hidup pada abad 12 H. selain kitab-kitab itu Lutfi juga menghadirkan kitab Al-Jauhar al-Syafaf yang katanya dikarang oleh Abdurrahman Khatib abad ke-9 H. jadi usaha Lutfi membela Ba’alwi gagal karena tidak mampu memenuhi tantangan saya untuk menghadirkan kitab nasab abad ke-5 H. yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah. Dengan gagalnya Lutfi ini, sampai di sini, sudah empat kali usaha dilakukan untuk menolong nasab Ba’alwi dan semuanya gagal total.

Usaha Kocak Bahar Sumet Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 8 April 2023 Bahar Sumet membuat kekocakan. Orang yang dikenal karena membaca kitab dari kiri ke kanan ini berusaha menjawab tesis saya. Bantahan itu ditampilkan dalam chanel Youtubenya. Bantahan itu disebut kocak karena memperlihatkan kwalitas Nahwu Sharaf di bawah standar rata-rata orang yang berusaha membantah “ulama Banten”. dengan segala kekocakannya Bahar Sumet menghadirkan kitab Syarhul Ainiyah karya Ba’alwi yang hidup di abad ke-12 H. selain gagal dalam membantah tesis saya, Bahar telah memberitahu kepada dunia kwalitas ulama Ba’alwi yang jauh di bawah standar santri-santri ibtidaiyyah dari Jawa.

Usaha ustadz Yahya Al-Bahjah lulusan Tarim menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 13 April 2023 seorang penceramah lulusan Tarim Bernama Ustad Yahya dari Pesantren Al-Bahjah berusaha menjawab tesis saya di chanel Yotubenya. Kali ini pembela nasab ba’alwi kapok membawa kitab karena selalu gagal. Ustadz Yahya membela nasab Ba’alwi bukan dengan menghadirkan kitab tetapi dengan perasaan. Kata dia “Jika anda menolak nasab seseorang apalagi dzuriyah Nabi, maka jika nasab itu tersambung kepada Nabi alangkah besar kezaliman kita…”. Pembelaan yang tanpa dalil seperti Ustad Yahya ini akan patah hanya dengan pertanyaan: bagaimana jika terbukti ia berdusta dalam mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi seperti Baalwi: apakah pembela-pembela semacam anda itu akan selamat dari murka Allah SWT?

Usaha Ulama Tarim Amjad bin Salim BSA dari Tarim Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 15 April 2023 seorang ulama Ba’alwi yang Bernama Amjad bin Salim BSA dari Tarim Yaman mengadu nasib melawan ulama Banten. untuk membela nasab Ba’alwi ia menulis sebuah kitab berjudul “Arrad fi man Yunkiru Ansaba al-Sadat al Ba’alwi” (menolak orang yang inkar terhadap nasab Ba’alwi). Dilihat dari judulnya keren, seakan ia akan menjadi penolong nasab Ba’alwi, tetapi Ketika dilihat isinya kosong melompong. Ulama Tarim ini di bawah standar santri-santri Jawa. Ia hanya berkutat dengan masalah Syuhrah wal Istifadoh yang ada dalam kitab-kitab fikih yang salah difahami karena kekurangan literasi dan minimnya pemahaman. Bahkan ulama Tarim ini mengutip kedustaan atas nama Imam Ubaidili ulama abad ke-5 H. katanya Imam Ubaidili sudah menulis bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut Yaman, padahal dalam kitab Imam Ubadili tidak ada keterangan seperti itu. Kitab Tahdzibul Ansab milik Imam Ubaidili adalah kitab muktabar dalam nasab, ia sudah dicetak dan siapapun bisa membacanya bahwa tidak ada Imam Ubadili menulis bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut Yaman.

Ulama Tarim inipula menyatakan dalam kitab sanggahannya itu, bahwa dalam kitab Al-Suluk abad ke-8 H sudah ditulis bahwa Ahmad Bin Isa mempunyai anak Abdullah. Saya menjawab bahwa:

Pertama, kitab Assuluk itu tertolak menjadi hujjah Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Abdullah karena melawan banyak kitab nasab yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa tidak mempunyai anak Bernama Abdullah. Lihat kitab Tahdzibul Ansab abad ke-5, Muntaqilatuttalibiyah abad ke-5, Al-majdi abad ke-5, Al-Syajarah al-Mubarakah abad ke-6, kitab Al-fakhri abad ke-7, kitab al Ashili abad ke-8, kitab Al-Tsabat al-Mushon abad ke-8, semuanya tidak menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah. Lalu dari mana Assuluk ujug-ujug menyatakan bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah?

Kedua: Abdullah itu bukanlah Ubed yang dimaksud dalam nasab Ba’alwi Abdurrahman Assegaf. Karena, Abdullah dalam Assuluk hanya mempunyai anak Bernama Jadid, tidak punya anak Alwi. Jadi ulama dari Tarim yang Bernama Amjad ini, jika ingin menjadi Ba’alwi pun, sebenarnya tidak sah. Karena tidak ada satu kitab pun sebelum abad ke Sembilan yang menyatakan bahwa Jadid punya adik Bernama Alwi. Kecuali hari ini mereka bersiap-siap membuat sebuah kitab palsu untuk dijadikan dalil seperti beberapa kitab palsu yang telah mereka buat. Tetapi serapih-rapihnya anda berdusta Allah akan utus setiap masa ulama yang akan membongkar segala kedustaanmu.

Usaha Hamid Al-Qadri Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 18 April 2023 Hamid Alqadri berusaha menjawab tesis saya dalam sebuah podcas. Apakah ia bisa mendatangkan kitab nasab abad ke-5 H? tidak, ia tidak mampu memenuhi tantangan untuk membawa kitab abad ke-5 Hijriyah. Ia hanya mampu membawa kitab palsu karya Hasan Muhammad Qasim (w. 1974 M.) yang Bernama Arraudul Jali yang diatributkan sebagai karya Imam Murtada Al-Zabidi (ulama abad ke-13 H.). seandainya pun kitab itu benar karya Murtada Azzabidi, tetap kitab itu tidak bisa menolong nasab Ba’alwi, apalagi telah terbukti palsu seperti itu. Kehancuran di atas kehancuran.

Usaha Hanif Alatas Ba’alwi menjawab Tesis saya

Pada tanggal 19 April 2023 Hanif Alatas, menantu dari eks pimpinan ormas terlarang FPI Riziq Syihab, dan suami dari cucu Usman bin Yahya antek Belanda, menjalankan suatu usaha untuk menjawab tesis saya. Ia membuat buku berjudul “Risalah Ilmiyah Jawaban atas Syubhat Imaduddin Utsman”. Apa yang berhasil ia dapatkan? Apakah ada kitab nasab abad ke-5 yang ia bawa? Tidak ada. Pertama Hanif mempersembahkan kitab Riyadul Jannah karya Annabhani ulama abad ke-14 H. bukan abad ke-5 H. jauh sekali. Bagai langit dan bumi.

Semua kitab yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau ubaidillah setelah abad ke 9 Hijriyah, dapat dipastikan semuanya mengutip dari kitab Baalwi yang mulai mengaku sebagai keturunan Nabi di abad ke-9 H. jadi “mahallunniza’nya” (titik point tantangannya) apakah ada kitab nasab sebelum abad ke-9 yang menyebut nama alwi bin ubed bin ahmad bin isa? Hanif dalam bukunya itu tidak bisa menghadirkan sama sekali. Bahkan ia menapaki jalan Amjad bin Salim ulama Tarim yang telah gagal menjawab pada tanggal 15 April 2023 sebelumnya, yaitu mengutip kitab palsu Arraudul Jali yang menyebut bahwa seorang ulama abad ke-5 yang Bernama Al-Ubaidili telah menyatakan bahwa Ahmad bin Isa hijrah ke Yaman. Padahal kitab Al-Ubaidili Tahdzibul Ansab tidak menyebutkannya. Seharusnya Hanif tidak mengulang kesalahan dan kedustaan yang sama.

Dalam usahanya itu juga, Hanif mengutip bahwa ada seorang ulama yang Bernama Al-Yafi’I (w.768 H. ) dalam kitab Mir’atul Jinan menyebut nama Ba’alwi, walau tidak menyebut silsilahnya tetapi Al-yafi’I memujinya. Ini sebuah bukti bahwa Baa’alwi ada di abad ke-8 H. begitu mungkin kata Hanif. Ini namanya tidak ada rotan akar pun jadi. Nama Ba’alwi memang ada di Yaman pada abad ke 8 H. seperti yang disebut oleh kitab Assuluk juga, tetapi Baalwi itu Ba’alwi asli, bukan Ba’alwi “KW”. Ba’alwi itu keluarga Jadid bin Abdullah, bukan Ba’alwi Abdurrahman Asegaf atau Ba’alwi Bani Mirbat atau ada yang menyebut Ba’alwi Bani Barhut. Kalau Baalwi Abdurrahman Assegaf sebelumnya bukan Ba’alwi, tetapi di akhir abad ke-9 H, tepatnya tahun 895 H, setelah membaca kitab Assuluk ada nama Ba’alwi, Ali Assakran mengaku dirinya dan keluarganya sebagai Ba’alwi. Pengakuan itu terjadi 163 tahun setelah wafatnya pengarang Assuluk. Jadi Ba’alwi Abdurrahman Assegaf ini sebenarnya mengaku sebagai Ba’alwi saja tidak mempunyai dalil apapun.

Begitu juga dengan kitab-kitab lain yang dikutif Hanif seperti kitab Al-Athoya tahun 778 H, kitab Al-Iqdul Fakhir tahun 812 H, kitab Thobaqat al-Khawas tahun 893 H. semua itu menyebut Ba’alwi tetapi bukan Ba’alwi Abdurrahman Assegaf atau Bani Mirbat atau bani Barhut, tetapi Ba’alwi Jadid. Keduanya tidak ada kaitan.

Setelah gagal menjawab tesis saya dalam buku tersebut, pada tanggal 27 April 2023 Hanif Kembali membuat buku setebal 20 halaman isinya sama saja tidak bisa mengahdirkan kitab abad ke-lima H yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubed. Kita menghargai usaha Hanif untuk membela nasab Ba’alwi, tetapi maaf, anda belum beruntung. Anda tidak bisa membawa dalil kitab nasab abad ke-5 H. anda dan keluarga anda memang bukan keturunan Nabi. Itu fakta ilmiyah yang tidak bisa anda bantah dalam buku sanggahan itu.

Usaha Ketua Naqobatul Asrof Kubro Ba’alwi Membantah Tesis Saya

Pada tanggal 10 Mei 2023 Ali Zainal Abidin Assegaf, ketua Nqobatul Asyrof Al-Kubro, sebuah lembaga nasab kaum Ba’alwi, mencoba peruntungan membantah ulama Banten. setelah Rabitah Alawiyah melalui lembaga nasab resminya yaitu Maktab Daimi Rabitah Alawiyah (MDRA) tidak mampu menjawab tesis saya, sekarang lembaga nasab pinggiran kaum Ba’alwi mau coba -coba. Bagaimana hasilnya? Dalam chanel youtube sikam TV Ali Zainal berusaha membela nasabnya yang saya batalkan secara ilmiyah, ia menyatakan bahwa nasab Ba’alwi sudah dicatat oleh keluarga Ba’alwi yang Bernama Salim bin Bashri bin Abdullah bin Ubed bin Ahmad bin Isa pada tahun 604 H. dalam kitabnya yang Bernama Al-Syajarah al-Kubra. Ini jawaban sekelas ketua Naqobah dari kaum Ba’alwi.

Saya katakan tidak ada orang bernama Salim bin Bashri bin Abdullah bin Bashri bin Ubed bin Ahmad bin Isa. Tidak ada Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed, tidak ada pula Ubed mempunyai anak Bernama Bashri. Nama Bashri muncul sebagai pelengkap cerita fiksi yang dipabrikasi Ali al Sakran tahun 895 H. sebelumnya tidak pernah ada. Cari dalam kitab nasab dan sejarah orang bernama Salim bin Bashri di abad ke-6 tidak akan menemukan, cari di abad ke-7 tidak akan menjumpai. Kitab yang disebut sebagai karya Salim bin Bashri, Al-syajarah al-Kubra, pun tidak pernah ada. Ia hanya ada di alam khayal Ali Zainal Abidin Assegaf.

Usaha Kedua Taufiq Assegaf Ketua Rabitah Alawiyah Membela Nasab Ba’alwi

Pada tanggal 11 Juni 2023 sebuah chanel youtube Umar al-Hamid menampilkan Taufiq Assegaf ketua Rabitah Alawiyah sedang membahas batalnya nasab Ba’alwi menurutnya Ba’alwi tidak perlu meladeni ulama-ulama yang membatalkan nasab Ba’alwi, lebih baik meladeni murid-muridnya dari pada meladeni orang sok ngerti yang membuat orang semakin bingung. Ini adalah pernyataan menyerah dari Taufiq Assegaf setelah ia tidak bisa menjawab dan menghadirkan kitab abad ke-5 H, sebagaimana kita ketahui bahwa Taufiq Assegaf adalah orang yang pertama “meladeni” tesis saya, jadi kata-katanya dalam video itu bahwa kita tidak perlu meladeni adalah sebuah kedustaan, Taufiq sudah meladeni tetapi gagal.

Taufiq Assegaf telah berusaha menjawab tesis saya dua kali: pertama dengan voice note pada tanggal 7 Nopember 2023, dalam VN itu ia mengajak para Ba’alwi untuk menunjukan akhlak, dan bahwa serangan semacam ini kepada nasab Ba’alwi sudah ada sejak Ali al-Sakran. Yang kedua Taufiq melalui Maktab Daimi sudah berusaha menjawab tesis penulis dengan surat resmi pada tanggal 8 Nopember 2023 tetapi sayang dalam surat resmi itu Taufiq hanya bisa membawa kitab Abnaul Imam yang baru ditulis tahun 2004 M. yang diatributkan sebagai karya ulama abad ke-5 dengan dusta, dan kitab Al-Musyajjar al-Kasyaaf abad ke-10 Hijriah.

Dari sini kita dapat mengerti bahwa klaim nasab yang selalui diiklankan di hadapan public selama ini tidak mempunyai dasar sama sekali. Sekelas ketua Rabitah Alawiyah seperti Taufiq Assegaf dan ketua Naqobah seperti Ali Zainal Assegaf sama sekali tidak mempunyai data apapun mengenai nasab Ba’alwi. Memalukan.

Usaha Kiai Sukabumi Menjawab tesis Saya

Pada tanggal 3 Agustus 2023 saya menyelesaikan kitab saya berjudul “I’anatul Akhyar”. Kitab tersebut adalah jawaban untuk kitab berjudul “Al-Husam al-Maslul” karya seorang kiai pembela nasab Ba’alwi yang Bernama K.H. Muhammad Abdullah Mukhtar (Kiai Mukhtar), katanya kakeknya berasal dari Kresek Banten juga. Dalam kitabnya ia mencoba membela nasab Ba’alwi dengan teori Syuhrah wal Istifadlah (kabar burung). Menurutnya, jika sebuah nasab sudah dikenal oleh masyarakat luas seperti nasab Ba’alwi, maka nasab itu sahih sebagaimana pengakuannya.

Dalam kitab saya, saya utarakan bahwa Kiai Mukhtar salah dalam memahami syuhrah walistifadlah sebagaimana diatur dalam Ilmu Fikih. Syuhrah Walistifadlah yang diatur dalam fikih bahwa suatu nasab atau kepemilikan bisa diisbat dengan kabar burung selama tidak terbukti sebaliknya. Missal jika sudah terkenal bahwa sawah ini adalah milik Ahmad maka seorang saksi bisa bersaksi bahwa sawah itu adalah milik Ahmad tanpa dianggap berdusta walaupun ia tidak melihat surat-surat sawah tersebut. Itulah yang disebut syuhrah wal istifadlah. Tetapi jika kemudian terbukti sebaliknya, misalnya ditemukan dokumen yang menyatakan bahwa sawah itu telah dijual kepada Umar, maka kesaksian saksi itu batal. Begitupula nasab. Yang demikian itu telah disebutkan dalam banyak kitab fikih semacam Fathul Muin, Bahrul Madzhab dsb.

Apakah Kiai Mukhtar berhasil membawakan kitab nasab abad ke-5 H.? tidak. Kiai Abdullah Mukhtar hanya mampu mempersembahkan Assuluk sebagai kitab tertua dari beberapa kitab yang dihadirkan, ia adalah kitab sejarah abad ke-8 H. Kitab Assuluk tertolak Ketika mengatakan bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah, karena, pertama, ia bukan kitab nasab, kedua karena kitab-kitab nasab yang ada sejak abad ke-5 sampai ke-8 H hanya menyebut Ahmad mempunyai anak tiga: Muhammad, Ali dan Husain. Dan seperti yang telah sering saya bahas, kata Ba’alwi yang ada dalam Assuluk bukanlah Ba’alwi Abdurrahman Assegaf, tetapi ia adalah Ba’alwi keluarga Jadid, lalu Assakran, cucu Abdurrahman Assegaf, mengklaim bahwa mereka adalah Ba’alwi yang ada dalam kitab Assuluk itu. Dalam Assuluk itu disebutkan bahwa Abdullah mempunyai anak Bernama Jadid dan disebut keluarga ini sebagai Ba’alwi. Lalu assakran mengklaim Jadid mempunyai adik Bernama Alwi, padahal dalam kitab Assuluk itu tidak disebutkan Jadid mempunyai adik. Agar para habib sekarang ini bisa sahih disebut Ba’alwi maka harus dapat menghadirkan kitab nasab yang menyebut bahwa Jadid mempunyai adik Bernama Alwi. Kesimpulannya, Kiai Mukhtar gagal dalam menjawab tesis saya.

Usaha Rumail Abas Menjawab Tesis Saya

Pada bulan Desember 2023, Ahmad Romli atau yang dikenal dengan nama Rumail Abbas, berusaha menjawab tesis saya dalam sebuah buku berjudul “Menakar Kesahihan pembatalan Ba’alwi”. Buku setebal 53 halaman itu memuat beberapa argumen-argumen lucu untuk menjawab tesis saya dan mensahihkan nasab Ba’alwi. Argumen-argumen komedi itu seharusnya masuk dalam wilayah “perdukunan” bukan dalam wilayah ilmiyah. Agar pembaca tidak penasaran saya ambil contoh misalnya Ketika saya menggunakan kitab Al-Majdi karya Al-Umari (w.490 H.) untuk dalil bahwa nama Ubed tidak disebut sebagai anak Ahmad bin Isa, Rumail bertanya: apa tidak mustahil Al-Umari mempunyai kitab lain selain Al-Majdi yang menyebut nama Ubed? Ini kan lucu. Saya peneliti bukan dukun yang dapat menebak-nebak sesuatu yang masuk dalam kategori “mumkinat”. Dalam akidah, “mumkinat” adalah hal yang mungkin terjadi dan mungkin juga tidak terjadi. Bisa saja Al-Umari membuat kitab lain yang tidak kita ketahui, bisa juga tidak. Kita para peneliti bukan berada diposisi harus menebak-nebak begitu, kite bekerja di sesuatu yang ril yaitu data dan sumber materil bukan halusinasi.

Hal lucu lainnya dari buku Rumail misalnya tentang para pengarang kitab nasab yang saya jadikan refernsi telah menyatakan bahwa kitabnya adalah “mukhtashar” (ringkasan), kemudian Rumail menyatakan: bisa jadi tidak disebutkannya nama Ubed itu karena penulis kitab nasab berniyat meringkas! Ini lucu: orang yang anaknya empat lalu ditulis oleh ahli nasab anaknya tiga karena berniyat meringkas. tidak masuk logika ilmiyah. Rumail tidak faham arti “mukhtasar” dalam kitab nasab. Arti ringkasan dalam kitab nasab itu bahwa pengarang tidak menyebutkan semua jalur nasab keluarga Nabi yang ada, karena tentu itu akan banyak sekali, bukan meringkas orang yang anaknya empat menjadi tiga, itu cara berfikir yang sukar bisa dimasukan dalam nalar ilmiyah.

Hal yang penting diketahui adalah: apakah Rumail membawakan kitab nasab abad ke-5 H? jawabannya tidak. Kecuali kitab palsu Abnaul Imam yang ditulis tahun 2004 oleh Yusuf Jamalullail (w.2022) lalu disebut bahwa kitab ini ditulis oleh Thabathaba abad ke-5 H. kitab Abnaul Imam ini direkayasa sedemikian rupa oleh Yusuf Jamalullail lalu dicetak dan diterbitkan atas nama orang lain tanpa sanggup memberi bukti manuskripnya.

Selain kitab palsu Abnaul Imam, Rumail juga dengan malu-malu menghadirkan nama kitab palsu lainnya yaitu Al-Arbain yang disebut sebagai kitab Musnadnya Faqih Al-Muqoddam, lalu Rumail mengatakan manuskripnya koleksi pribadi. Ini sebuah kelucuan internasional, bahkan kelucuan galaksi Bimasakti: seseorang yang fiktif seperti Faqih Muqoddam bisa mempunyai kitab yang bisa dibaca, lalu Ketika ditanya mana manuskripnya dijawab manuskripnya tidak bisa ditampilkan karena koleksi pribadi. Mungkin maksud Rumail dengan “pseudo epigrapha” (membuat kitab palsu) kitab Musnad Faqih Muqoddam ini, mudah-mudahan Faqih Muqoddam tidak akan dianggap fiktif lagi. Tidak semudah itu, Ferguso! Sumber palsu yang diciptakan hari ini akan mudah terlacak oleh metodologi ilmiyah. Nama-nama yang anda sebutkan seperti Al-Mawazini dan Umar bin Sa’duddin al-Dzifari yang dikatakan hidup di abad ke-7 H. itu, akan diteliti oleh peneliti, dan memang setelah diteliti terbukti bahwa keduanya adalah sosok fiktif. Jadi Faqih Muqoddamnya fiktif, kitabnya fiktif, muridnya fiktif dan cucu muridnya yang katanya pemilik kitab itu fiktif juga. Fiktif di atas fiktif kwadrat.

Selain kitab palsu Al-Arbain, Rumail juga menyebut nama kitab palsu Al-Baha fi Tarikh Hadramaut atau disebut Tarikh Ibnu Hassan/Ibnu Hisan. Kitab ini adalah kitab palsu karya Abdullah Muhammad Al-Habsyi (masih hidup) yang diatributkan kepada Ibnu Hisan (w.818 H.). Muhammad Abu Bakar badzib (masih hidup) juga kemudian menerbitkan kitab Tarikh Ibnu Hisan ini dengan isi berbeda. Bayangkan, satu kitab masa lalu diterbitkan oleh dua orang berbeda lalu isinya berbeda 360 derajat. Kenapa bisa terjadi demikian? Jawabannya: karena kedua-duanya adalah palsu. Tidak ada Ibnu Hisan mempunyai kitab sejarah bernama Al-Baha atau Tarikh Ibnu Hisan, itu hanya rumor yang diciptakan Ba’alwi sejak masa Al-Syili, lalu Ba’alwi masa kini berhalusinasi menemukan manuskrip kitab itu lalu menerbitkannya, jika ditanya mana manuskripnya, maka mereka akan menjawab manuskripnya koleksi pribadi. Itu terjadi dikasus Abdullah bin Muhammad al-Habsyi. Sedangkan dalam kasus Badzib: ia menemukan sebuah manuskrip tanpa judul, tanpa nama penulis, tanpa tahun tulisan, lalu berasumsi bahwa mansukrip itu adalah kitab Tarikh Ibnu Hisan lalu menerbitkannya. Saya mempunyai Salinan manuskrip palsu tersebut.

Ada yang mengatakan kitab Tarikh Ibnu Hisan sudah disebut oleh Attoyyib Bamakhramah dalam Qiladatunnahar, saya menjawab: nanti pembahasan tentang skandal ilmiyah Qiladatunnahar, Al-Nur al-Safir, Al-jauhar al-syafaf dan Al-Burqah sangat kompleks membutuhkan banyak halaman. Intinya itu semua skandal ilmiyah orang-orang belakangan atas nama keluarga besar Bamakhramah.

Kitab palsu selanjutnya yang Rumail sebut adalah kitab Al-Arbun karya Abul Qasim al-Nafat (w. <581 H.), kata Rumail, ia menyebut bahwa Ahmad bin Isa tinggal di Yaman. Mana kitabnya? Rumail menjawab: koleksi pribadi. Saya katakan: bukankah manuskrip itu karya Salim bin Jindan? Saya katakan lagi: kitab karya Abul Qasim ini tidak pernah ada di alam dunia, kecuali kitab dengan sanad-sanad palsu di lemari Salim bin Jindan. Salim bin Jindan adalah tokoh Ba’alwi dari Jakarta yang banyak menulis kitab hadis dengan sanad-sanad palsu yang menyebut tokoh-tokoh fiktif Ba’alwi.

Kitab palsu selanjutnya yang Rumail sebut adalah kitab Al-Arbaun karya Hasan bin Muhammad al-Allal (w. <490 H.). kata Rumail, dalam kitab ini Hasan menyebut nama-nama Ba’alwi. Mana kitabnya? Dokumen pribadi tidak untuk konsumsi public. Bos, kalua dokumen pribadi tidak berani menunjukan lebih baik anda yakini pribadi saja jangan dijadikan dalil dalam sebuah perdebatan. Saya katakan: kitab itu palsu dengan isi palsu. Salah satu sanad palsunya telah penulis bahas dalam tulisan “Membongkar Manuskrip Sanad Wayang Gus Rumail” dan dalam buku “Manuskrip-Manuskrip Palsu Ba’alwi versi Rumail Abbas”.

Selain kitab palsu, Rumail juga, menyebutkan nama-nama “Kutubun La Wujuda laha” (kitab-kitab yang tidak ada wujudnya), seperti kitab “Risalah fi Ushuli Syajarah al-Sadah Alu Abi Alwi” katanya ini adalah kitab karya Ibnu Inabah (w. 819 H.). saya katakan: kitab ini tidak ada wujudnya, dan memang Ba’alwi pun belum membuat manuskrp palsunya. Ibnu Inabah adalah pengarang kitab Umdatuttalib yang menyebut Ahmad bin Isa tetapi tidak menyebut bahwa ia mempunyai anak bernama Ubed. Lalu Ba’alwi berhalusinasi: walau Ibnu Inabah tidak menyebut nama Ubed dalam kitab Umdatuttalib, tetapi ia menyebutnya dalam kitabnya yang lain yang berjudul “Risalah fu Ushuli Syajarah al-Sadah Alu Abi Alwi”. Padahal tidak ada Ibnu Inabah mempunyai kitab dengan nama tersebut.

Lalu bagaimana tentang Al-Zirikli, yang telah menyebut di dalam kitabnya tahun 1976 M. bahwa Ibnu Inabah mengarang kitab khusus untuk Ba Alwi? jelas itu hanya mengutip dari sumber yang salah. Dari mana penulis bisa mengetahui bahwa Al-Zirikli mengutip dari sumber yang salah? Lihat sendiri dalam kitabnya Al-A’lam itu, ia mengatakan: kitab Ibnu Inabah yang membahas khusus kaum Baalwi itu terdapat di sebuah perpustakaan di Tarim. Apa artinya? Artinya, ia mendapatkan berita dari orang Tarim, kemungkinan besar seseorang dari kaum Ba’alwi, bahwa ada manuskrip karya Ibnu Inabah di Tarim yang khusus menulis tentang keluarga Ba Alwi. lalu ditulis oleh Al-Zirikli dalam kitabnya tanpa memverifikasinya. Mengenai benar atau tidak berita itu, itu hal lain. Yang jelas, kalau manuskrip itu ada, Alwi bin Tahir akan menyebutkannya dalam kitabnya Uqud al-Almas. Nyatanya tidak. Kasusnya mirip dengan kasus Imam Ubaidili yang tidak menyebut nama Ubaidillah dalam kitab terkenalnya, Tahdzibul ansab, lalu Baalwi mengatakan nama Ubaidillah disebut dalam kitab Al-Ubaidili yang lain yang belum ditemukan.

Kitab yang kedua adalah kitab Manaqib Syekh Ali bin Ahmad Bamarwan yang katanya karya Umar bin Sa’duddin al-Dzifari. Umar ini terbukti adalah tokoh fiktif, tentu kitabnya juga adalah kitab fiktif juga. Kitab selanjutnya adalah kitab Tuhftaul Murid yang katanya karya Batahan, tokoh ini pula tokoh fiktif, kitabnya jelas fiktif juga. Menurut klaim Ba’alwi, cerita tentang surat menyurat antara Faqih Muqodam dan Al-Dzifari terdapat dalam kitab ini, tetapi kitabnya kemudian diklaim hilang. Saya katakan: kitab itu bukan hilang, tetapi memang kitab itu tidak pernah ada di alam dunia. Cerita itu adalah cerita fiksi antara dua tokoh fiksi Faqih Muqodam dan al-Dzifari.

Dari semua uraian di atas, usaha Rumail Abbas untuk menjawab tesis saya gagal total, bahkan menurut saya, dialah non-Ba’alwi yang paling berani mempertaruhkan surga demi usahanya itu. Semoga ia kelak akan membuat tulisan yang menganulir dan mengakui bahwa sanad-sanad itu memang sanad palsu dan kitabnya adalah kitab palsu, agar kesalahan itu tidak menjadi “jariyah sayyi’ah” baginya tanpa ada batasnya.

Usaha Idrus Ramli Membantah Tesis Penulis

Di Chanel Youtubnya, Idrus Romli, seorang pengkotbah NUGL, beberapa kali berusaha menjawab tesis saya. Contohnya pada 16 Februari 2024 dalam video yang diungghanya ia berusaha menjawab tesis saya. Apakah ia berhasil mambawakan kitab nasab abad ke-5- H.? tidak. Ia tidak bisa membawakan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed. Ia juga tidak bisa membawa kitab nasab abad ke-8 H yang menyaatkan Jadid mempunyai adik Bernama Alwi. Ia hanya berargumen level awam yang Ketika menemukan sebuah kitab lalu mempercayainya tanpa verifikasi. Contohnya ia menyatakan bahwa nasab Ba’alwi adalah nasab yang “sahih” karena telah terdapat di dalam sebuah kitab yang berjudul “Tabaqat al-Khawas” karya Ahmad al-Shurji al-Zabidi (w.893 H.). padahal kitab tersebut bertentangan dengan 8 kitab nasab mulai abad 5-9 hijriyah. Kitab Tabaqat al-Khowas itu kitab abad ke-9 Hiriah, sedangkan hidupnya Ahmad bin Isa adalah abad ke-3 hijriah, jaraknya 600 tahun, lalu dari kitab apa Al-Shurji mendapatkan informasi bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Ubaidillah, tidak ada kecuali dari khayalan saja.

Usaha Professor Said Aqil Husen Al-Munawwar Membantah Tesis Saya

Pada tanggal 19 Januari 2024 dalam halaman komunitas Youtubenya, Professor Said Aqil Husin al-Munawar, membuat tulisan yang menyebut bahwa isu nasab ini adalah isu lama yang telah banyak dipermasalahkan ulama, diantaranya Syekh Murad Syukri, Syekh Tantawi dan Syekh al-Muhibbi. Menurutnya pula, bahwa hal-hal yang dipermasalahkan kurang lebih sama. Artinya, menurut Sang Profesor, jika dulu masalah itu sudah muncul dan permasalahannya sama, sementara dulu juga sudah di jawab, maka ia berharap keadaan akan seperti dulu, yaitu nasab Ba Alwi akan tetap diakui sebagai keturunan Nabi. Itu harapan Sang Professor Baalwi ini. Apakah ia membawakan dalil kitab nasab abad ke-5 H.? tidak. Ia hanya berdalil dengan harapan hatinya itu saja. Harapan hanya tinggal harapan; Ratapan hanya tinggal ratapan, kenyataan tidak bisa berubah dengan ratapan. Air mata tidak bisa merubah realitas, ia hanya bisa meringankan luka.

Usaha Gus Fahrurozi Membantah Tesis Saya

Salah seorang pembela nasab Ba’alwi adalah Gus Fahrurozi asal Malang. Pada 19 April 2024 Padasuka TV menjebak Gus Fahrur bisa tampil di siaran livenya. Sebelumnya, Padasuka menghubungi saya agar bisa masuk dalam live di tengah-tengah siaran nanti. Karena Gus Fahrur, katanya, tidak mau berdiskusi dengan saya, ia hanya mau monolog saja. setelah Gus Fahrur masuk dan berdialog beberapa saat saya masuk ke live itu agar bisa mengetahui dalil apa yang bisa ia hadirkan dalam membela nasab Ba’alwi. Setelah saya masuk ia nampak kaget. Mas Yusuf melakukan itu karena sebelumnya, Gus Fahrus bersedia dialog nasab berdua dengan saya, namun ketika waktunya tiba ia hanya mau sendirian, terpaksa Mas Yusuf membuat scenario itu.

Lalu apakah Gus Fahrur mampu membawa kitab nasab yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Ubed. Tidak. Bahkan dialog lebih kepada hal lain, bukan tentang tesis saya yang membatalkan nasab Baalwi, yaitu tentang ia keberatan tulisan saya di muat di website RMI. Jadi kesimpulannya, Gus Fahrur yang dikenal getol membuat narasi di group-group WA itu ternyata tidak mempunyai dalil apapun dalam membela nasab Ba’alwi.

Usaha Najih Maimun Membantah Tesis Saya

Pada 21 Mei 2024 beredar sebuah tulisan dalam format PDF sebanyak enam lembar di media sosial. Konon tulisan itu adalah tulisan Najih Maimun, seorang pimpinan pesantren di Jawa Tengah. ia adalah seorang kiai pendukung FPI dan Riziq Syihab. Jejak digital tentangnya tahun 2014 mengungkap ia berpendapat: FPI Sangat Dibutuhkan di Indonesia. Ia juga tereportase sowan ke Rizik Syihab di Petamburan. Tahun 2022 ia juga menuduh PBNU banyak makan uang haram. Tahun 2021 ia dipolisikan oleh Barisan Ksatria Nusantara karena membuat pernyataan bahwa vaksinasi merupakan upaya pembunuhan massal. Tulisan Najih Maimun itu nampaknya ditujukan untuk sebuah forum diskusi tertutup yang dilaksanakan di Kuningan Jawa Barat oleh para Ba’alwi diantaranya Quraisy Baharun dan Hanif Al-Athos. Dalam akhir tulisan tertera titimangsa tulisan tanggal 1 Mei 2024 dan terdapat nama Najih Maimun tanpa dibubuhi tandatangan.

Dalam tulisan itu Najih banyak membawakan narasi-narasi khas ormas terlarang FPI seperti tentang oligarki, kelompok jahat dsb.

Apakah Najih bisa membawakan kitab nasab abad ke-5 H.? tidak. Ia hanya membawakan 17 kitab dimulai abad ke 8.H. itupun bukan bicara tentang Ba’alwi Abdurrahman Aseegaf tetapi bicara tentang Baalwi Jadid. Kitab-kitab itu adalah kitab Al Suluk, Al Athoya dan Al Iqdul fakhir, kitab abad ke delapan dan sembilan awal. ketiga kitab ini sama sekali tidak bisa menjadi dalil bagi klan baalwi Abdurrrahman assegaf karena ketiga kitab ini kitab sejarah yang menjelaskan Syarif Abul Jadid, bukan menjelaskan keluraga Baalwi Abdurrahman Assegaf. Keluarga Abdurrahman mencangkokan leluhur mereka yang bernama Alwi kepada Jadid, Alwi disebut sebagai adik dari Jadid. Silsilah Jadid disebut tiga kitab sejarah itu, sementara Alwi tidak pernah disebutkan. Agar ada benang merah untuk mengklaim nasab Ba’alwi Jadid, lalu Ali assakran di abad ke-9 H. mengaku-ngaku bahwa Alwi adalah saudara Jadid. Padahal Jadid bukan saudara Alwi. Jadid tidak punya adik bernama Alwi.

Kitab lain yang disebut Najih adalah kitab abad sembilan dan setelahnya. Usaha Najih untuk membantah tesis saya gagal total.

Usaha Muhdor Tanggul Membantah Tesis Saya

Pada tanggal 29 Juni 2024 saya melihat video seorang yang marah-marah. Orang dalam video itu saya lihat berbadan besar bermuka mirip tokoh film India Tuan Takur, setelah saya membaca keterangan namanya ternyata Muhdor Ba’alwi dari Kecamatan Tanggul Jember. Dalam video itu Muhdor mengklaim telah menemukan kitab abad ke-4 H. ia mengatakan bahwa kitab itu adalah dalil yang kuat untuk menjawab keterputusan nasab Ba’alwi. Kitab ap aitu? Ternyata kitab itu adalah kitab “Abnaul Imam”. Rupanya Muhdor ketinggalan kereta. Kitab Abnaul Imam adalah kitab yang sudah lama terbukti kepalsuannya. Sungguh sangat disayangkan, orang yang dianggap jama’ahnya sebagai ulama, ternyata tidak mempunyai wawasan yang dalam tentang kitab-kitab kuning terutama kitab tentang nasabnya sendiri. nasab yang selama ini diyakini dan dibanggkan serta digembar-gemborkan di hadapan khalayak umum itu, ternyata tidak berbasis pengetahuan dan data dari para pengasongnya, contohnya Muhdor ini.

Selain kebodohannya tentang kitab Abna’ul Imam ini, Muhdor juga telah menampakan kebodohan beberapa waktu lalu dengan menyebutkan bahwa para Imam Madzhab yang empat: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, tidak menolak nasab Ba’lawi. Ini adalah sebuah pernyataan yang jauh dari ilmiyah. Bagaimana mereka menolak nasab Ba’lawi, sedangkan Imam Abu Hanifah contohnya, ia wafat tahun 150 H? Bagaimana orang yang wafat tahun 150 H bisa menerima atau menolak nasab Ubed yang wafat tahun 838 H? Muhdor bukan hanya gagal menjawab tesis saya, ia juga gagal membuktikan bahwa ulama Ba’alwi layak disandingkan dengan ulama-ulama Jawa yang mumpuni.

Usaha kurtubi lebak membantah Tesis Penulis

Seorang pimpinan ormas terlarang FPI yang bernama Kurtubi dari Lebak berusaha membuat kitab selama kurang lebih setahun untuk menjawab tesis penulis. Akhirnya sekitar bulan September 2024 kitab itu berhasil dirampungkan. Kitab itu diberi judul Ihyaul Mauta. Sebelum kitab itu jadi, Kurubi sesumbar bahwa kitabnya adalah “bom nuklir” yang akan menghancurkan tesis saya. Lalu, apakah kitabnya tersebut sesuai dengan sesumbarnya? Jauh panggang dari api. Kurtubi tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-5 H. kecuali mengutip dari kitab palsu Arraudul Jaliy. Dalam kitab palsu Arraudul jaliy dikatakan bahwa Imam Al-Ubaidili mengatakan Ahmad bin Isa berhijrah ke Yaman. Padahal itu hanya dusta yang disisipkan oleh Hasan Muhammad Qasim dalam kitabnya Arraudul Jaliy, lalu kitab karyanya ini disebut olehnya sebagai karya Murtada al-Zabidi.

Imam Al-Ubaidili dalam kitabnya tidak menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah atau Ubed, ia juga tidak menyebut bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Yaman. Kurtubi, selain ia tidak memahami palsunya kitab Arraudul Jaliy, ia juga tidak faham cara berhujjah dalam diskursus nasab dan sejarah. Kitab yang dijadikan hujjah tidak boleh berupa kutipan, tetapi harus kitab asli, karena kutipan tidak bisa dijamin kesahihannya, bisa jadi seseorang berdusta atas nama ulama di masa lalu.

Selain kitab Arraudul Jaliy, andalan Kurtubi juga adalah kitab Al-Suluk abad ke-8 H. lagi-lagi Kurtubi tidak faham dan tidak bisa membedakan antara Ba’alwi Jadid yang ada di dalam kitab Al-Suluk dan antara Ba’alwi Abdurrahman assegaf yang mengaku sebagai Ba’alwi di abad ke-9 H. kalau sudah tidak faham demikian kita akan sulit mengambil manfaat dari kitab karyanya itu, apalagi untuk bisa menjawab tesis saya.

Kesimpulannya kitab paling tua yang bisa dibawakan oleh Kurtubi adalah Al-Suluk yang ditulis di abad ke-8 H. ia tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-5 H.; ia pula tidak bisa membawakan kitab abad ke-8 H. yang menyatakan bahwa Jadid mempunyai anak Bernama Alwi. Dengan demikian Kurtubi telah gagal menjawab tesis saya. Saya telah menulis kitab yang memuat kegagalan Kurtubi dalam menjawab tesis saya, kitab itu saya beri judul “Al-ma’arif al-Rabbaniyah”.

Usaha Ulama Oman Menjawab tesis Saya

Ada seorang ulama dari negara Oman bernama Ahmad bin ‘Aod bin ‘Alwi al Ibrahim berusaha menjawab tesis saya. Usahanya itu dituangkan dalam kitabnya “Idzhar al Haqiqat li Mudda’I Kasfi al Fadihat al ‘Ilmiyyah li Tarikh wa Nasab al Sadat Ba’alwi” (selanjutnya kita sebut Al-Idzhar). Kitab itu diselesaikan pada 12 Juli 2024 M.

Kitab Ahmad bin Aod ini telah saya jawab tuntas dalam kitab saya berjudul “Tahafutul Ansab”, intinya kitab Al-Idzhar ini tidak bisa menghadirkan kitab nasab Abad ke-5 H. yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah; tidak bisa menghadirkan kitab abad ke-8 H. yang menyebut Jadid mempunyai anak Bernama Alwi.

Di bawah ini, penulis akan sampaikan contoh-contoh dari usaha-usaha Ahmad bin Aod untuk menjawab tesis saya:

Pertama, hijrahnya ahmad bin isa telah disebut oleh Yahya bin Abdul Adzim al Hatimi al Tarimi. Katanya, ia wafat setelah tahun 512 H. katanya pula, ia mempunyai qasidah yang memuji Alwi bin Muhamad bin alwi bin Ubed. Benarkah Ahmad bin Aod mendapatkan qasidah ini langsung dari kitab abad ke-6 H.? ternyata ia mengatakan bahwa qasidah ini, terdapat dalam kitab al Gurar karya Ali Khirid Ba’alwi (w.996 H.) berarti berita ini bukan berita yang ditulis abad 6 H, tetapi berita dari abad 10 H tentang cerita abad ke 6 H. Kita tidak pernah tahu apakah berita itu benar atau tidak; Dari mana Ali khirid mendapatkan berita ini; siapa perawinya; apakah Ali Khirid jujur dalam masalah ini, atau ia berdusta? kita tidak pernah tahu. banyak kitab, qasidah, syair dan puisi yang ditulis di masa kini lalu ia diatributkan ulama di masa lalu. Itulah yang disebut “skandal ilmiyah”.

Kedua, Ahmad bin Aod menyatakan bahwa hijrahnya ahmad bin isa telah disebutkan oleh kitab “Al Yaqut al Samin”, pengarangnya, katanya, orang Tarim abad ke- 7 H. benarkah Ahmad bin Aod melihat kitab itu langsung? Ternyata ia menyatakan bahwa ia mendapatkannya dari kitab Al-Gurar juga. Kita menjadi heran akan kwalitas ulama Oman, berdiskusi tentang sumber primer tetapi kitab yang dihadirkan adalah kitab kutipan yang menyebut kejadian masa lalu. Membuktikan mereka tidak faham apa yang dimaksud sumber primer.

Kitab Ahmad bin Aod hampir dipenuhi oleh narasi “bodoh” semacam itu, ia tidak sanggup membawakan kitab nasab muktabar abad ke-5 H. Cara-cara yang “tidak berintegritas” seperti ini hampir merata menjadi metode kitab-kitab Ba’alwi ketika bicara nasab.

Ahmad bin Aod juga dalam kitab Idzhar nya itu menampilkan beberapa salinan manuskrip ijajah Abul Jadil dari Amr al Tiba’I, Ali bin Mansur al Siba’I, juga mansukrip kitab Turmudzi tahun 771 H. yang terdapat dalam maktabah Imam Zaid di Shan’a nomor 617. Ditampilkan juga manuskrip Tuhfatuzzaman karya Husen Al Ahdal (w. 855 H.) yang semuanya menulis silsilah Syarif Abul Jadid. Pertanyaannya kenapa Ahmad bin Aod menampikan manuskrip Jadid, Padahal Jadid tidak ada kaitannya dengan Ba’alwi Abdurrahman, ia hanya di cangkok oleh Ba’alwi Abdurrahman Asegaf.

Seharusnya sebelum Ahmad bin Aod dengan tanpa malu mengklaim Jadid sebagai bagian keluarganya ia harus membawakan kitab abad ke-8 H. yang menyebut Jadid mempunyai adik Bernama Alwi, karena hanya dengan itulah, klaim dalil Jadid digunakan untuk Ba’alwi Assegaf bermanfaat. Kesimpulan dari usaha Ahmad bin Aod ini: dia tidak sanggup untuk menjawab tesis saya; ia tidak bisa membuktikan bahwa nasab Ba’alwi sahih; ia juga tidak bisa membuktikan bahwa nama keluarga Ba’alwi semisal Ubed, Alwi, Sahib Mirbat, Faqih Muqoddam dan Ali Khaliqasam sebagai manusia-manusia yang pernah lahir di alam dunia. Jika mereka tidak bisa menjawab tesis saya lalu kenapa mereka ngotot masih ingin diakui sebagai cucu Nabi Muhammad SAW. Apakah tidak takut dosa? Wassalam.

DAFTAR NAMA-NAMA KIAI, TOKOH DAN LEMBAGA YANG TELAH GAGAL MENJAWAB TESIS BATALNYA NASAB BA’ALWI

Diskursus batalnya nasab Ba’alwi di ruang public adalah salah satu diskursus yang menarik selama kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1945. Tidak ada diskursus ilmiyah yang menyita perhatian public seperti disukursus batalnya nasab Ba’alwi. Diskursus ini dimulai pada tanggal 13 Oktober 2022 ketika saya mengeluarkan sebuah tulisan (kemudian disebut tesis dalam dinamika diskursus) yang membatalkan nasab Ba’alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Tulisan saya diberi judul “Menakar Kesahihan Nasab Habaib di Indonesia: Sebuah Penelitian Ilmiyah”. Awalnya saya hanya menggunakan study analisis kitab-kitab nasab abad ke-5 sampai ke-14 Hijriyah, tetapi kemudian dalam buku-buku dan artikel-artikel selanjutnya saya memadukan study historis dan hasil uji tes DNA dalam memperkuat argumnetasi saya. Diskursus itu sangat menarik karena terjadi begitu masiv. Artikel dijawab dengan artikel; video dijawab dengan video; buku dijawab dengan buku; kitab berbahasa Arab dijawab dengan kitab berbahasa Arab.

Dalam tesis itu, saya menyatakan bahwa nasab Ba’alwi batal secara ilmiyah karena pengakuan Ba’alwi yang mengklaim sebagai keturunan Nabi dari Ahmad bin Isa (w. 345 H.) tidak terbukti dan baru muncul pengakuan itu di abad 9 H. sebelumnya tidak ada. Ba’alwi mengklaim mereka keturunan Ahmad bin Isa dari anaknya yang Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah. Menurut saya klaim itu tidak terverifikasi karena Ahmad bin Isa hanya mempunyai anak tiga: Muhammad, Ali dan Husain, tidak ada anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah. Tesis saya itu berdasarkan kitab-kitab nasab mulai abad ke-5 sampai abad ke-9 Hijriyah yang tidak mencantumkan nama Ubed sebagai anak Ahmad bin Isa. Munculnya klaim itu baru di abad 9 H dimulai dari keluarga Ba’alwi sendiri yang Bernama Ali al-Sakran dalam kitabnya Al-Burqah al-Musyiqah. Saya juga menyatakan bahwa sebelas nama dalam silsilah Ba’alwi mulai dari Ubed sampai Maula Dawilah adalah fiktif tidak ada dalam kitab-kitab sejarah. Nama-nama itu sengaja difabrikasi demi kepentingan menyembungkan nasab saja.

Hasil uji tes Y-DNA yang telah dilakukan oleh para Ba’alwi yang berhaplogroup G juga saya jadikan penguat argumentasi. Seluruh keturunan Nabi yang sahih nasabnya seperti keluarga Kerajaan Yordania, Bani Qatadah Makkah, Bani Sulaimaniyah Makkah, Bani Rassi Yaman, Bani A’raji Madinah, Bani Qanadil Mesir, Bani Husaini Karbala dan lain-lain telah keluar hasil tes Y-DNA mereka dengan haplogroup J1. Ba’alwi yang berhaplogroup G menurut mustahil sebagai keturunan paternal Nabi Muhammad SAW, karena akan berkonsekwensi membatalkan seluruh nasab-nasab keturunan Nabi yang sahih. Hal itu dikarenakan sepupu garis laki dari kakek bersama 1400 tahun yang silam harus mempunyai haplogroup yang sama.

Saya memberi tantangan kepada Ba’alwi agar klaimnya dapat diterima dengan:

  1. Menghadirkan kitab nasab abad ke-lima yang lebih tua dari kitab Al-Syajarah al-Mubarakah (abad ke-6 H.) dan Muntaqilat al-Thalibiyah (abad ke-5 H.) yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah;
  2. Menghadirkan kitab nasab abad ke 8 H. yang menyebut bahwa Jadid mempunyai adik Bernama Alwi (hal ini untuk menjawab klaim bahwa apa yang disebut kitab Al-Suluk adalah Ba’alwi Abdurrahman Assegaf;
  3. Hasil tes Y-DNA keluarga Ba’alwi yang berhaplogroup J1 atau pakar yang menyebut bahwa haplogroup Bani Hasyim adalah G.

Tulisan ini akan menyajikan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh kaum Ba’alwi dan pembela-pembela nasab kaum Ba’alwi untuk menjawab tesis saya, dan pembaca akan mengetahui bahwa satu pun dari mereka tidak ada yang berhasil menjawab tesis saya tersebut.

Pertama Usaha Taufiq Assegaf dan Rabitah Alawiyah Menjawab Tesis Saya

Seacara resmi Rabitah Alawiyah (RA) melalui Lembaga nasabnya yang Bernama Maktab Daimi Rabitah Alawiyah (MDRA) telah berusaha menjawab tesis saya pada tanggal 8 November 2022. Sehari sebelumnya Taufiq Assegaf membuat Voice Note mengenai tesis saya yang ia sebarkan kepada kaum Ba’alwi. Jadi tidak benar klaim Taufiq Assegaf belakangan yang mengatakan bahwa Rabitah Alawiyah mengabaikan tesis saya dan tidak menganggapnya penting. Justru taufiq assegaf dan RA lah yang pertama kali bereaksi dan berusaha menjawab, namun gagal, lalu setelah itu mereka pura-pura diam.

Taufiq Assegaf dan RA tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-lima yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah; tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-8 H. yang menyebut bahwa jadid mempunyai adik Bernama Alwi; tidak bisa mengahdirkan anggota Ba’alwi yang berhaplogroup J1 atau pakar yang mengatakan bahwa haplogroup Bani Hasyim adalah G. Taufiq Assegaf dan RA hanya mampu membawa dua kitab: yang pertama kitab yang terbukti palsu yaitu kitab Abna’ul Imam karya Yusuf Jamalullail (w. 2022 M.) yang dinisbahkan kepada Thobathoba abad ke-5 H; yang kedua kitab Al-Musyajjar al-Kasyaf (Bahrul Ansab). Dalam surat edaran itu RA menyebut bahwa kitab tersebut adalah kitab abad ke-5 H. tetapi setelah saya telusuri ternyata kitab itu adalah karya Al-Najafi abad ke-10 H. dengan bermodal kedua kitab itu Taufiq Assegaf dan RA telah gagal menjawab tesis batalnya nasab mereka.

Kedua usaha Riziq Syihab Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 11 November 2022 Riziq Syihab berusaha menjawab tesis saya. Jawaban itu berupa video ceramahnya yang berisi dalil-dalil nasab Ba’alwi. Dalam usahanya itu Riziq pun gagal dalam menjawab tesis batalnya nasab Ba’alwi. Riziq tidak mampu mengahdirkan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed, Ia hanya mampu membawakan kitab Khulashatul Atsar karya Al-Muhibbi ulama abad ke-12 H.

Ketiga Usaha Jafar Assegaf Menjawab tesis Saya

Pada tanggal 17 maret 2023 DR. jafar Assegaf berusaha menjawab tesis saya. Jawabannya disampaikan dalam bentuk sebuah buku setebal 77 halaman. Usaha Jafar Assegaf ini pun gagal. Ia tidak mampu menghadirkan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed. Ia hanya bisa membawakan kitab Abnaul Imam yang telah terbukti palsu dan kitab Addaullami’ karya Assakhawi ulama abad ke-10 H.

Usaha Ulama Iran Melawan Ulama Banten

Seorang ulama Iran Bernama Syekh Mahdi Arrojai diminta pertolongan oleh kaum Ba’alwi untuk memberi tazkiyah (rekomendasi) bahwa nasab Ba’alwi sahih. Menurut Ba’alwi, mungkin saya akan terkesima mendengar nama ulama dari luar negeri. Bagi kibin mungkin tapi tidak bagi orang Banten. Orang Banten tidak silau dengan nama besar orang luar dari belahan dunia manapun. Yang paling penting adalah dalil. Orang Banten dari dulu tidak pernah menganggap bangsa lain termasuk Eropa, Persia atau Arab lebih tinggi dari orang Banten.

Apakah ulama Iran ini mampu membawa dalil kitab abad ke-5 H? tidak. Ia hanya berargumen ngalor ngidul. Dalam rekomendasi yang dikeluarkan 6 April 2023 itu menyebutkan bahwa walau tidak ada kitab abad ke-5 H. yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubed, bukan berarti nasab Ba’alwi batal, karena mungkin saja tidak tercatat itu disebabkan karena jauhnya lokasi Ubed dari para ahli nasab. Ini adalah alasan yang sangat konyol dari ulama Iran tersebut, bagaimana bisa ia berkata demikian sementara anak-anak Ahmad bin Isa lainnya tercatat. Kecuali di kitab abad ke-5 H Ahmad bin Isa dicatat lalu Ahmad bin Isa hijrah dalam keadaan belum beristri, sehingga karena ia sudah berhijrah jauh dari negerinya nama anak-anaknya tidak diketahui, baru masuk akal. tetapi yang terjadi dalam kasus Ahmad bin Isa adalah ia dicatat, nama anak-anaknya dicatat ada tiga: Muhammad, Ali dan Husain. Tidak ada nama anaknya Bernama Ubed atau Abdullah atau ubaidillah, ia baru muncul di abad ke-9 hijriyah, ini menunjukan bahwa nama Ubed ini adalah susupan yang dimasukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Kesimpulannya, usaha ulama Iran untuk membaantah tesis saya gagal. Kita tidak membutuhkan rekomendasi atau pernyataan, yang kita membutuhkan adalah data. Tanpa data, pernyataan siapapun tentang nasab Ba’alwi wajib ditolak secara ilmiyah. Itulah ilmu standar Kresek Banten.

Usaha Muhammad Lutfi Rahman Menjawab Tesis

Pada tanggal 7-8 April 2023 Muhammad Lutfi Rahman (aktifis ormas terlarang FPI) berusaha menjawab tesis saya. Usahanya itu ia tampilkan dalam bentuk artikel yang dimuat di media online FPI Fakta Kini. Lutfi pun Kembali gagal menjawab sama seperti pendahulunya, Ia tidak mampu menghadirkan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed. Ia hanya mampu menghadirkan kitab: pertama, kitab Addaullami’ abad 10 H, kedua kitab Ibnu Hajar abad 10 H., ketiga kitab Syadaratudzahab karya Ibnul Imad abad 11 H., keempat kitab Syarhul Ainiyah karya Ahmad bin Zen Al-Habsyi Ba’alwi, yaitu seseorang yang hidup pada abad 12 H. selain kitab-kitab itu Lutfi juga menghadirkan kitab Al-Jauhar al-Syafaf yang katanya dikarang oleh Abdurrahman Khatib abad ke-9 H. jadi usaha Lutfi membela Ba’alwi gagal karena tidak mampu memenuhi tantangan saya untuk menghadirkan kitab nasab abad ke-5 H. yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah. Dengan gagalnya Lutfi ini, sampai di sini, sudah empat kali usaha dilakukan untuk menolong nasab Ba’alwi dan semuanya gagal total.

Usaha Kocak Bahar Sumet Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 8 April 2023 Bahar Sumet membuat kekocakan. Orang yang dikenal karena membaca kitab dari kiri ke kanan ini berusaha menjawab tesis saya. Bantahan itu ditampilkan dalam chanel Youtubenya. Bantahan itu disebut kocak karena memperlihatkan kwalitas Nahwu Sharaf di bawah standar rata-rata orang yang berusaha membantah “ulama Banten”. dengan segala kekocakannya Bahar Sumet menghadirkan kitab Syarhul Ainiyah karya Ba’alwi yang hidup di abad ke-12 H. selain gagal dalam membantah tesis saya, Bahar telah memberitahu kepada dunia kwalitas ulama Ba’alwi yang jauh di bawah standar santri-santri ibtidaiyyah dari Jawa.

Usaha ustadz Yahya Al-Bahjah lulusan Tarim menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 13 April 2023 seorang penceramah lulusan Tarim Bernama Ustad Yahya dari Pesantren Al-Bahjah berusaha menjawab tesis saya di chanel Yotubenya. Kali ini pembela nasab ba’alwi kapok membawa kitab karena selalu gagal. Ustadz Yahya membela nasab Ba’alwi bukan dengan menghadirkan kitab tetapi dengan perasaan. Kata dia “Jika anda menolak nasab seseorang apalagi dzuriyah Nabi, maka jika nasab itu tersambung kepada Nabi alangkah besar kezaliman kita…”. Pembelaan yang tanpa dalil seperti Ustad Yahya ini akan patah hanya dengan pertanyaan: bagaimana jika terbukti ia berdusta dalam mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi seperti Baalwi: apakah pembela-pembela semacam anda itu akan selamat dari murka Allah SWT?

Usaha Ulama Tarim Amjad bin Salim BSA dari Tarim Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 15 April 2023 seorang ulama Ba’alwi yang Bernama Amjad bin Salim BSA dari Tarim Yaman mengadu nasib melawan ulama Banten. untuk membela nasab Ba’alwi ia menulis sebuah kitab berjudul “Arrad fi man Yunkiru Ansaba al-Sadat al Ba’alwi” (menolak orang yang inkar terhadap nasab Ba’alwi). Dilihat dari judulnya keren, seakan ia akan menjadi penolong nasab Ba’alwi, tetapi Ketika dilihat isinya kosong melompong. Ulama Tarim ini di bawah standar santri-santri Jawa. Ia hanya berkutat dengan masalah Syuhrah wal Istifadoh yang ada dalam kitab-kitab fikih yang salah difahami karena kekurangan literasi dan minimnya pemahaman. Bahkan ulama Tarim ini mengutip kedustaan atas nama Imam Ubaidili ulama abad ke-5 H. katanya Imam Ubaidili sudah menulis bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut Yaman, padahal dalam kitab Imam Ubadili tidak ada keterangan seperti itu. Kitab Tahdzibul Ansab milik Imam Ubaidili adalah kitab muktabar dalam nasab, ia sudah dicetak dan siapapun bisa membacanya bahwa tidak ada Imam Ubadili menulis bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Hadramaut Yaman.

Ulama Tarim inipula menyatakan dalam kitab sanggahannya itu, bahwa dalam kitab Al-Suluk abad ke-8 H sudah ditulis bahwa Ahmad Bin Isa mempunyai anak Abdullah. Saya menjawab bahwa:

Pertama, kitab Assuluk itu tertolak menjadi hujjah Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Abdullah karena melawan banyak kitab nasab yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa tidak mempunyai anak Bernama Abdullah. Lihat kitab Tahdzibul Ansab abad ke-5, Muntaqilatuttalibiyah abad ke-5, Al-majdi abad ke-5, Al-Syajarah al-Mubarakah abad ke-6, kitab Al-fakhri abad ke-7, kitab al Ashili abad ke-8, kitab Al-Tsabat al-Mushon abad ke-8, semuanya tidak menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah. Lalu dari mana Assuluk ujug-ujug menyatakan bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah?

Kedua: Abdullah itu bukanlah Ubed yang dimaksud dalam nasab Ba’alwi Abdurrahman Assegaf. Karena, Abdullah dalam Assuluk hanya mempunyai anak Bernama Jadid, tidak punya anak Alwi. Jadi ulama dari Tarim yang Bernama Amjad ini, jika ingin menjadi Ba’alwi pun, sebenarnya tidak sah. Karena tidak ada satu kitab pun sebelum abad ke Sembilan yang menyatakan bahwa Jadid punya adik Bernama Alwi. Kecuali hari ini mereka bersiap-siap membuat sebuah kitab palsu untuk dijadikan dalil seperti beberapa kitab palsu yang telah mereka buat. Tetapi serapih-rapihnya anda berdusta Allah akan utus setiap masa ulama yang akan membongkar segala kedustaanmu.

Usaha Hamid Al-Qadri Menjawab Tesis Saya

Pada tanggal 18 April 2023 Hamid Alqadri berusaha menjawab tesis saya dalam sebuah podcas. Apakah ia bisa mendatangkan kitab nasab abad ke-5 H? tidak, ia tidak mampu memenuhi tantangan untuk membawa kitab abad ke-5 Hijriyah. Ia hanya mampu membawa kitab palsu karya Hasan Muhammad Qasim (w. 1974 M.) yang Bernama Arraudul Jali yang diatributkan sebagai karya Imam Murtada Al-Zabidi (ulama abad ke-13 H.). seandainya pun kitab itu benar karya Murtada Azzabidi, tetap kitab itu tidak bisa menolong nasab Ba’alwi, apalagi telah terbukti palsu seperti itu. Kehancuran di atas kehancuran.

Usaha Hanif Alatas Ba’alwi menjawab Tesis saya

Pada tanggal 19 April 2023 Hanif Alatas, menantu dari eks pimpinan ormas terlarang FPI Riziq Syihab, dan suami dari cucu Usman bin Yahya antek Belanda, menjalankan suatu usaha untuk menjawab tesis saya. Ia membuat buku berjudul “Risalah Ilmiyah Jawaban atas Syubhat Imaduddin Utsman”. Apa yang berhasil ia dapatkan? Apakah ada kitab nasab abad ke-5 yang ia bawa? Tidak ada. Pertama Hanif mempersembahkan kitab Riyadul Jannah karya Annabhani ulama abad ke-14 H. bukan abad ke-5 H. jauh sekali. Bagai langit dan bumi.

Semua kitab yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau ubaidillah setelah abad ke 9 Hijriyah, dapat dipastikan semuanya mengutip dari kitab Baalwi yang mulai mengaku sebagai keturunan Nabi di abad ke-9 H. jadi “mahallunniza’nya” (titik point tantangannya) apakah ada kitab nasab sebelum abad ke-9 yang menyebut nama alwi bin ubed bin ahmad bin isa? Hanif dalam bukunya itu tidak bisa menghadirkan sama sekali. Bahkan ia menapaki jalan Amjad bin Salim ulama Tarim yang telah gagal menjawab pada tanggal 15 April 2023 sebelumnya, yaitu mengutip kitab palsu Arraudul Jali yang menyebut bahwa seorang ulama abad ke-5 yang Bernama Al-Ubaidili telah menyatakan bahwa Ahmad bin Isa hijrah ke Yaman. Padahal kitab Al-Ubaidili Tahdzibul Ansab tidak menyebutkannya. Seharusnya Hanif tidak mengulang kesalahan dan kedustaan yang sama.

Dalam usahanya itu juga, Hanif mengutip bahwa ada seorang ulama yang Bernama Al-Yafi’I (w.768 H. ) dalam kitab Mir’atul Jinan menyebut nama Ba’alwi, walau tidak menyebut silsilahnya tetapi Al-yafi’I memujinya. Ini sebuah bukti bahwa Baa’alwi ada di abad ke-8 H. begitu mungkin kata Hanif. Ini namanya tidak ada rotan akar pun jadi. Nama Ba’alwi memang ada di Yaman pada abad ke 8 H. seperti yang disebut oleh kitab Assuluk juga, tetapi Baalwi itu Ba’alwi asli, bukan Ba’alwi “KW”. Ba’alwi itu keluarga Jadid bin Abdullah, bukan Ba’alwi Abdurrahman Asegaf atau Ba’alwi Bani Mirbat atau ada yang menyebut Ba’alwi Bani Barhut. Kalau Baalwi Abdurrahman Assegaf sebelumnya bukan Ba’alwi, tetapi di akhir abad ke-9 H, tepatnya tahun 895 H, setelah membaca kitab Assuluk ada nama Ba’alwi, Ali Assakran mengaku dirinya dan keluarganya sebagai Ba’alwi. Pengakuan itu terjadi 163 tahun setelah wafatnya pengarang Assuluk. Jadi Ba’alwi Abdurrahman Assegaf ini sebenarnya mengaku sebagai Ba’alwi saja tidak mempunyai dalil apapun.

Begitu juga dengan kitab-kitab lain yang dikutif Hanif seperti kitab Al-Athoya tahun 778 H, kitab Al-Iqdul Fakhir tahun 812 H, kitab Thobaqat al-Khawas tahun 893 H. semua itu menyebut Ba’alwi tetapi bukan Ba’alwi Abdurrahman Assegaf atau Bani Mirbat atau bani Barhut, tetapi Ba’alwi Jadid. Keduanya tidak ada kaitan.

Setelah gagal menjawab tesis saya dalam buku tersebut, pada tanggal 27 April 2023 Hanif Kembali membuat buku setebal 20 halaman isinya sama saja tidak bisa mengahdirkan kitab abad ke-lima H yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak bernama Ubed. Kita menghargai usaha Hanif untuk membela nasab Ba’alwi, tetapi maaf, anda belum beruntung. Anda tidak bisa membawa dalil kitab nasab abad ke-5 H. anda dan keluarga anda memang bukan keturunan Nabi. Itu fakta ilmiyah yang tidak bisa anda bantah dalam buku sanggahan itu.

Usaha Ketua Naqobatul Asrof Kubro Ba’alwi Membantah Tesis Saya

Pada tanggal 10 Mei 2023 Ali Zainal Abidin Assegaf, ketua Nqobatul Asyrof Al-Kubro, sebuah lembaga nasab kaum Ba’alwi, mencoba peruntungan membantah ulama Banten. setelah Rabitah Alawiyah melalui lembaga nasab resminya yaitu Maktab Daimi Rabitah Alawiyah (MDRA) tidak mampu menjawab tesis saya, sekarang lembaga nasab pinggiran kaum Ba’alwi mau coba -coba. Bagaimana hasilnya? Dalam chanel youtube sikam TV Ali Zainal berusaha membela nasabnya yang saya batalkan secara ilmiyah, ia menyatakan bahwa nasab Ba’alwi sudah dicatat oleh keluarga Ba’alwi yang Bernama Salim bin Bashri bin Abdullah bin Ubed bin Ahmad bin Isa pada tahun 604 H. dalam kitabnya yang Bernama Al-Syajarah al-Kubra. Ini jawaban sekelas ketua Naqobah dari kaum Ba’alwi.

Saya katakan tidak ada orang bernama Salim bin Bashri bin Abdullah bin Bashri bin Ubed bin Ahmad bin Isa. Tidak ada Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed, tidak ada pula Ubed mempunyai anak Bernama Bashri. Nama Bashri muncul sebagai pelengkap cerita fiksi yang dipabrikasi Ali al Sakran tahun 895 H. sebelumnya tidak pernah ada. Cari dalam kitab nasab dan sejarah orang bernama Salim bin Bashri di abad ke-6 tidak akan menemukan, cari di abad ke-7 tidak akan menjumpai. Kitab yang disebut sebagai karya Salim bin Bashri, Al-syajarah al-Kubra, pun tidak pernah ada. Ia hanya ada di alam khayal Ali Zainal Abidin Assegaf.

Usaha Kedua Taufiq Assegaf Ketua Rabitah Alawiyah Membela Nasab Ba’alwi

Pada tanggal 11 Juni 2023 sebuah chanel youtube Umar al-Hamid menampilkan Taufiq Assegaf ketua Rabitah Alawiyah sedang membahas batalnya nasab Ba’alwi menurutnya Ba’alwi tidak perlu meladeni ulama-ulama yang membatalkan nasab Ba’alwi, lebih baik meladeni murid-muridnya dari pada meladeni orang sok ngerti yang membuat orang semakin bingung. Ini adalah pernyataan menyerah dari Taufiq Assegaf setelah ia tidak bisa menjawab dan menghadirkan kitab abad ke-5 H, sebagaimana kita ketahui bahwa Taufiq Assegaf adalah orang yang pertama “meladeni” tesis saya, jadi kata-katanya dalam video itu bahwa kita tidak perlu meladeni adalah sebuah kedustaan, Taufiq sudah meladeni tetapi gagal.

Taufiq Assegaf telah berusaha menjawab tesis saya dua kali: pertama dengan voice note pada tanggal 7 Nopember 2023, dalam VN itu ia mengajak para Ba’alwi untuk menunjukan akhlak, dan bahwa serangan semacam ini kepada nasab Ba’alwi sudah ada sejak Ali al-Sakran. Yang kedua Taufiq melalui Maktab Daimi sudah berusaha menjawab tesis penulis dengan surat resmi pada tanggal 8 Nopember 2023 tetapi sayang dalam surat resmi itu Taufiq hanya bisa membawa kitab Abnaul Imam yang baru ditulis tahun 2004 M. yang diatributkan sebagai karya ulama abad ke-5 dengan dusta, dan kitab Al-Musyajjar al-Kasyaaf abad ke-10 Hijriah.

Dari sini kita dapat mengerti bahwa klaim nasab yang selalui diiklankan di hadapan public selama ini tidak mempunyai dasar sama sekali. Sekelas ketua Rabitah Alawiyah seperti Taufiq Assegaf dan ketua Naqobah seperti Ali Zainal Assegaf sama sekali tidak mempunyai data apapun mengenai nasab Ba’alwi. Memalukan.

Usaha Kiai Sukabumi Menjawab tesis Saya

Pada tanggal 3 Agustus 2023 saya menyelesaikan kitab saya berjudul “I’anatul Akhyar”. Kitab tersebut adalah jawaban untuk kitab berjudul “Al-Husam al-Maslul” karya seorang kiai pembela nasab Ba’alwi yang Bernama K.H. Muhammad Abdullah Mukhtar (Kiai Mukhtar), katanya kakeknya berasal dari Kresek Banten juga. Dalam kitabnya ia mencoba membela nasab Ba’alwi dengan teori Syuhrah wal Istifadlah (kabar burung). Menurutnya, jika sebuah nasab sudah dikenal oleh masyarakat luas seperti nasab Ba’alwi, maka nasab itu sahih sebagaimana pengakuannya.

Dalam kitab saya, saya utarakan bahwa Kiai Mukhtar salah dalam memahami syuhrah walistifadlah sebagaimana diatur dalam Ilmu Fikih. Syuhrah Walistifadlah yang diatur dalam fikih bahwa suatu nasab atau kepemilikan bisa diisbat dengan kabar burung selama tidak terbukti sebaliknya. Missal jika sudah terkenal bahwa sawah ini adalah milik Ahmad maka seorang saksi bisa bersaksi bahwa sawah itu adalah milik Ahmad tanpa dianggap berdusta walaupun ia tidak melihat surat-surat sawah tersebut. Itulah yang disebut syuhrah wal istifadlah. Tetapi jika kemudian terbukti sebaliknya, misalnya ditemukan dokumen yang menyatakan bahwa sawah itu telah dijual kepada Umar, maka kesaksian saksi itu batal. Begitupula nasab. Yang demikian itu telah disebutkan dalam banyak kitab fikih semacam Fathul Muin, Bahrul Madzhab dsb.

Apakah Kiai Mukhtar berhasil membawakan kitab nasab abad ke-5 H.? tidak. Kiai Abdullah Mukhtar hanya mampu mempersembahkan Assuluk sebagai kitab tertua dari beberapa kitab yang dihadirkan, ia adalah kitab sejarah abad ke-8 H. Kitab Assuluk tertolak Ketika mengatakan bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah, karena, pertama, ia bukan kitab nasab, kedua karena kitab-kitab nasab yang ada sejak abad ke-5 sampai ke-8 H hanya menyebut Ahmad mempunyai anak tiga: Muhammad, Ali dan Husain. Dan seperti yang telah sering saya bahas, kata Ba’alwi yang ada dalam Assuluk bukanlah Ba’alwi Abdurrahman Assegaf, tetapi ia adalah Ba’alwi keluarga Jadid, lalu Assakran, cucu Abdurrahman Assegaf, mengklaim bahwa mereka adalah Ba’alwi yang ada dalam kitab Assuluk itu. Dalam Assuluk itu disebutkan bahwa Abdullah mempunyai anak Bernama Jadid dan disebut keluarga ini sebagai Ba’alwi. Lalu assakran mengklaim Jadid mempunyai adik Bernama Alwi, padahal dalam kitab Assuluk itu tidak disebutkan Jadid mempunyai adik. Agar para habib sekarang ini bisa sahih disebut Ba’alwi maka harus dapat menghadirkan kitab nasab yang menyebut bahwa Jadid mempunyai adik Bernama Alwi. Kesimpulannya, Kiai Mukhtar gagal dalam menjawab tesis saya.

Usaha Rumail Abas Menjawab Tesis Saya

Pada bulan Desember 2023, Ahmad Romli atau yang dikenal dengan nama Rumail Abbas, berusaha menjawab tesis saya dalam sebuah buku berjudul “Menakar Kesahihan pembatalan Ba’alwi”. Buku setebal 53 halaman itu memuat beberapa argumen-argumen lucu untuk menjawab tesis saya dan mensahihkan nasab Ba’alwi. Argumen-argumen komedi itu seharusnya masuk dalam wilayah “perdukunan” bukan dalam wilayah ilmiyah. Agar pembaca tidak penasaran saya ambil contoh misalnya Ketika saya menggunakan kitab Al-Majdi karya Al-Umari (w.490 H.) untuk dalil bahwa nama Ubed tidak disebut sebagai anak Ahmad bin Isa, Rumail bertanya: apa tidak mustahil Al-Umari mempunyai kitab lain selain Al-Majdi yang menyebut nama Ubed? Ini kan lucu. Saya peneliti bukan dukun yang dapat menebak-nebak sesuatu yang masuk dalam kategori “mumkinat”. Dalam akidah, “mumkinat” adalah hal yang mungkin terjadi dan mungkin juga tidak terjadi. Bisa saja Al-Umari membuat kitab lain yang tidak kita ketahui, bisa juga tidak. Kita para peneliti bukan berada diposisi harus menebak-nebak begitu, kite bekerja di sesuatu yang ril yaitu data dan sumber materil bukan halusinasi.

Hal lucu lainnya dari buku Rumail misalnya tentang para pengarang kitab nasab yang saya jadikan refernsi telah menyatakan bahwa kitabnya adalah “mukhtashar” (ringkasan), kemudian Rumail menyatakan: bisa jadi tidak disebutkannya nama Ubed itu karena penulis kitab nasab berniyat meringkas! Ini lucu: orang yang anaknya empat lalu ditulis oleh ahli nasab anaknya tiga karena berniyat meringkas. tidak masuk logika ilmiyah. Rumail tidak faham arti “mukhtasar” dalam kitab nasab. Arti ringkasan dalam kitab nasab itu bahwa pengarang tidak menyebutkan semua jalur nasab keluarga Nabi yang ada, karena tentu itu akan banyak sekali, bukan meringkas orang yang anaknya empat menjadi tiga, itu cara berfikir yang sukar bisa dimasukan dalam nalar ilmiyah.

Hal yang penting diketahui adalah: apakah Rumail membawakan kitab nasab abad ke-5 H? jawabannya tidak. Kecuali kitab palsu Abnaul Imam yang ditulis tahun 2004 oleh Yusuf Jamalullail (w.2022) lalu disebut bahwa kitab ini ditulis oleh Thabathaba abad ke-5 H. kitab Abnaul Imam ini direkayasa sedemikian rupa oleh Yusuf Jamalullail lalu dicetak dan diterbitkan atas nama orang lain tanpa sanggup memberi bukti manuskripnya.

Selain kitab palsu Abnaul Imam, Rumail juga dengan malu-malu menghadirkan nama kitab palsu lainnya yaitu Al-Arbain yang disebut sebagai kitab Musnadnya Faqih Al-Muqoddam, lalu Rumail mengatakan manuskripnya koleksi pribadi. Ini sebuah kelucuan internasional, bahkan kelucuan galaksi Bimasakti: seseorang yang fiktif seperti Faqih Muqoddam bisa mempunyai kitab yang bisa dibaca, lalu Ketika ditanya mana manuskripnya dijawab manuskripnya tidak bisa ditampilkan karena koleksi pribadi. Mungkin maksud Rumail dengan “pseudo epigrapha” (membuat kitab palsu) kitab Musnad Faqih Muqoddam ini, mudah-mudahan Faqih Muqoddam tidak akan dianggap fiktif lagi. Tidak semudah itu, Ferguso! Sumber palsu yang diciptakan hari ini akan mudah terlacak oleh metodologi ilmiyah. Nama-nama yang anda sebutkan seperti Al-Mawazini dan Umar bin Sa’duddin al-Dzifari yang dikatakan hidup di abad ke-7 H. itu, akan diteliti oleh peneliti, dan memang setelah diteliti terbukti bahwa keduanya adalah sosok fiktif. Jadi Faqih Muqoddamnya fiktif, kitabnya fiktif, muridnya fiktif dan cucu muridnya yang katanya pemilik kitab itu fiktif juga. Fiktif di atas fiktif kwadrat.

Selain kitab palsu Al-Arbain, Rumail juga menyebut nama kitab palsu Al-Baha fi Tarikh Hadramaut atau disebut Tarikh Ibnu Hassan/Ibnu Hisan. Kitab ini adalah kitab palsu karya Abdullah Muhammad Al-Habsyi (masih hidup) yang diatributkan kepada Ibnu Hisan (w.818 H.). Muhammad Abu Bakar badzib (masih hidup) juga kemudian menerbitkan kitab Tarikh Ibnu Hisan ini dengan isi berbeda. Bayangkan, satu kitab masa lalu diterbitkan oleh dua orang berbeda lalu isinya berbeda 360 derajat. Kenapa bisa terjadi demikian? Jawabannya: karena kedua-duanya adalah palsu. Tidak ada Ibnu Hisan mempunyai kitab sejarah bernama Al-Baha atau Tarikh Ibnu Hisan, itu hanya rumor yang diciptakan Ba’alwi sejak masa Al-Syili, lalu Ba’alwi masa kini berhalusinasi menemukan manuskrip kitab itu lalu menerbitkannya, jika ditanya mana manuskripnya, maka mereka akan menjawab manuskripnya koleksi pribadi. Itu terjadi dikasus Abdullah bin Muhammad al-Habsyi. Sedangkan dalam kasus Badzib: ia menemukan sebuah manuskrip tanpa judul, tanpa nama penulis, tanpa tahun tulisan, lalu berasumsi bahwa mansukrip itu adalah kitab Tarikh Ibnu Hisan lalu menerbitkannya. Saya mempunyai Salinan manuskrip palsu tersebut.

Ada yang mengatakan kitab Tarikh Ibnu Hisan sudah disebut oleh Attoyyib Bamakhramah dalam Qiladatunnahar, saya menjawab: nanti pembahasan tentang skandal ilmiyah Qiladatunnahar, Al-Nur al-Safir, Al-jauhar al-syafaf dan Al-Burqah sangat kompleks membutuhkan banyak halaman. Intinya itu semua skandal ilmiyah orang-orang belakangan atas nama keluarga besar Bamakhramah.

Kitab palsu selanjutnya yang Rumail sebut adalah kitab Al-Arbun karya Abul Qasim al-Nafat (w. <581 H.), kata Rumail, ia menyebut bahwa Ahmad bin Isa tinggal di Yaman. Mana kitabnya? Rumail menjawab: koleksi pribadi. Saya katakan: bukankah manuskrip itu karya Salim bin Jindan? Saya katakan lagi: kitab karya Abul Qasim ini tidak pernah ada di alam dunia, kecuali kitab dengan sanad-sanad palsu di lemari Salim bin Jindan. Salim bin Jindan adalah tokoh Ba’alwi dari Jakarta yang banyak menulis kitab hadis dengan sanad-sanad palsu yang menyebut tokoh-tokoh fiktif Ba’alwi.

Kitab palsu selanjutnya yang Rumail sebut adalah kitab Al-Arbaun karya Hasan bin Muhammad al-Allal (w. <490 H.). kata Rumail, dalam kitab ini Hasan menyebut nama-nama Ba’alwi. Mana kitabnya? Dokumen pribadi tidak untuk konsumsi public. Bos, kalua dokumen pribadi tidak berani menunjukan lebih baik anda yakini pribadi saja jangan dijadikan dalil dalam sebuah perdebatan. Saya katakan: kitab itu palsu dengan isi palsu. Salah satu sanad palsunya telah penulis bahas dalam tulisan “Membongkar Manuskrip Sanad Wayang Gus Rumail” dan dalam buku “Manuskrip-Manuskrip Palsu Ba’alwi versi Rumail Abbas”.

Selain kitab palsu, Rumail juga, menyebutkan nama-nama “Kutubun La Wujuda laha” (kitab-kitab yang tidak ada wujudnya), seperti kitab “Risalah fi Ushuli Syajarah al-Sadah Alu Abi Alwi” katanya ini adalah kitab karya Ibnu Inabah (w. 819 H.). saya katakan: kitab ini tidak ada wujudnya, dan memang Ba’alwi pun belum membuat manuskrp palsunya. Ibnu Inabah adalah pengarang kitab Umdatuttalib yang menyebut Ahmad bin Isa tetapi tidak menyebut bahwa ia mempunyai anak bernama Ubed. Lalu Ba’alwi berhalusinasi: walau Ibnu Inabah tidak menyebut nama Ubed dalam kitab Umdatuttalib, tetapi ia menyebutnya dalam kitabnya yang lain yang berjudul “Risalah fu Ushuli Syajarah al-Sadah Alu Abi Alwi”. Padahal tidak ada Ibnu Inabah mempunyai kitab dengan nama tersebut.

Lalu bagaimana tentang Al-Zirikli, yang telah menyebut di dalam kitabnya tahun 1976 M. bahwa Ibnu Inabah mengarang kitab khusus untuk Ba Alwi? jelas itu hanya mengutip dari sumber yang salah. Dari mana penulis bisa mengetahui bahwa Al-Zirikli mengutip dari sumber yang salah? Lihat sendiri dalam kitabnya Al-A’lam itu, ia mengatakan: kitab Ibnu Inabah yang membahas khusus kaum Baalwi itu terdapat di sebuah perpustakaan di Tarim. Apa artinya? Artinya, ia mendapatkan berita dari orang Tarim, kemungkinan besar seseorang dari kaum Ba’alwi, bahwa ada manuskrip karya Ibnu Inabah di Tarim yang khusus menulis tentang keluarga Ba Alwi. lalu ditulis oleh Al-Zirikli dalam kitabnya tanpa memverifikasinya. Mengenai benar atau tidak berita itu, itu hal lain. Yang jelas, kalau manuskrip itu ada, Alwi bin Tahir akan menyebutkannya dalam kitabnya Uqud al-Almas. Nyatanya tidak. Kasusnya mirip dengan kasus Imam Ubaidili yang tidak menyebut nama Ubaidillah dalam kitab terkenalnya, Tahdzibul ansab, lalu Baalwi mengatakan nama Ubaidillah disebut dalam kitab Al-Ubaidili yang lain yang belum ditemukan.

Kitab yang kedua adalah kitab Manaqib Syekh Ali bin Ahmad Bamarwan yang katanya karya Umar bin Sa’duddin al-Dzifari. Umar ini terbukti adalah tokoh fiktif, tentu kitabnya juga adalah kitab fiktif juga. Kitab selanjutnya adalah kitab Tuhftaul Murid yang katanya karya Batahan, tokoh ini pula tokoh fiktif, kitabnya jelas fiktif juga. Menurut klaim Ba’alwi, cerita tentang surat menyurat antara Faqih Muqodam dan Al-Dzifari terdapat dalam kitab ini, tetapi kitabnya kemudian diklaim hilang. Saya katakan: kitab itu bukan hilang, tetapi memang kitab itu tidak pernah ada di alam dunia. Cerita itu adalah cerita fiksi antara dua tokoh fiksi Faqih Muqodam dan al-Dzifari.

Dari semua uraian di atas, usaha Rumail Abbas untuk menjawab tesis saya gagal total, bahkan menurut saya, dialah non-Ba’alwi yang paling berani mempertaruhkan surga demi usahanya itu. Semoga ia kelak akan membuat tulisan yang menganulir dan mengakui bahwa sanad-sanad itu memang sanad palsu dan kitabnya adalah kitab palsu, agar kesalahan itu tidak menjadi “jariyah sayyi’ah” baginya tanpa ada batasnya.

Usaha Idrus Ramli Membantah Tesis Penulis

Di Chanel Youtubnya, Idrus Romli, seorang pengkotbah NUGL, beberapa kali berusaha menjawab tesis saya. Contohnya pada 16 Februari 2024 dalam video yang diungghanya ia berusaha menjawab tesis saya. Apakah ia berhasil mambawakan kitab nasab abad ke-5- H.? tidak. Ia tidak bisa membawakan kitab nasab abad ke-5 yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed. Ia juga tidak bisa membawa kitab nasab abad ke-8 H yang menyaatkan Jadid mempunyai adik Bernama Alwi. Ia hanya berargumen level awam yang Ketika menemukan sebuah kitab lalu mempercayainya tanpa verifikasi. Contohnya ia menyatakan bahwa nasab Ba’alwi adalah nasab yang “sahih” karena telah terdapat di dalam sebuah kitab yang berjudul “Tabaqat al-Khawas” karya Ahmad al-Shurji al-Zabidi (w.893 H.). padahal kitab tersebut bertentangan dengan 8 kitab nasab mulai abad 5-9 hijriyah. Kitab Tabaqat al-Khowas itu kitab abad ke-9 Hiriah, sedangkan hidupnya Ahmad bin Isa adalah abad ke-3 hijriah, jaraknya 600 tahun, lalu dari kitab apa Al-Shurji mendapatkan informasi bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Ubaidillah, tidak ada kecuali dari khayalan saja.

Usaha Professor Said Aqil Husen Al-Munawwar Membantah Tesis Saya

Pada tanggal 19 Januari 2024 dalam halaman komunitas Youtubenya, Professor Said Aqil Husin al-Munawar, membuat tulisan yang menyebut bahwa isu nasab ini adalah isu lama yang telah banyak dipermasalahkan ulama, diantaranya Syekh Murad Syukri, Syekh Tantawi dan Syekh al-Muhibbi. Menurutnya pula, bahwa hal-hal yang dipermasalahkan kurang lebih sama. Artinya, menurut Sang Profesor, jika dulu masalah itu sudah muncul dan permasalahannya sama, sementara dulu juga sudah di jawab, maka ia berharap keadaan akan seperti dulu, yaitu nasab Ba Alwi akan tetap diakui sebagai keturunan Nabi. Itu harapan Sang Professor Baalwi ini. Apakah ia membawakan dalil kitab nasab abad ke-5 H.? tidak. Ia hanya berdalil dengan harapan hatinya itu saja. Harapan hanya tinggal harapan; Ratapan hanya tinggal ratapan, kenyataan tidak bisa berubah dengan ratapan. Air mata tidak bisa merubah realitas, ia hanya bisa meringankan luka.

Usaha Gus Fahrurozi Membantah Tesis Saya

Salah seorang pembela nasab Ba’alwi adalah Gus Fahrurozi asal Malang. Pada 19 April 2024 Padasuka TV menjebak Gus Fahrur bisa tampil di siaran livenya. Sebelumnya, Padasuka menghubungi saya agar bisa masuk dalam live di tengah-tengah siaran nanti. Karena Gus Fahrur, katanya, tidak mau berdiskusi dengan saya, ia hanya mau monolog saja. setelah Gus Fahrur masuk dan berdialog beberapa saat saya masuk ke live itu agar bisa mengetahui dalil apa yang bisa ia hadirkan dalam membela nasab Ba’alwi. Setelah saya masuk ia nampak kaget. Mas Yusuf melakukan itu karena sebelumnya, Gus Fahrus bersedia dialog nasab berdua dengan saya, namun ketika waktunya tiba ia hanya mau sendirian, terpaksa Mas Yusuf membuat scenario itu.

Lalu apakah Gus Fahrur mampu membawa kitab nasab yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Ubed. Tidak. Bahkan dialog lebih kepada hal lain, bukan tentang tesis saya yang membatalkan nasab Baalwi, yaitu tentang ia keberatan tulisan saya di muat di website RMI. Jadi kesimpulannya, Gus Fahrur yang dikenal getol membuat narasi di group-group WA itu ternyata tidak mempunyai dalil apapun dalam membela nasab Ba’alwi.

Usaha Najih Maimun Membantah Tesis Saya

Pada 21 Mei 2024 beredar sebuah tulisan dalam format PDF sebanyak enam lembar di media sosial. Konon tulisan itu adalah tulisan Najih Maimun, seorang pimpinan pesantren di Jawa Tengah. ia adalah seorang kiai pendukung FPI dan Riziq Syihab. Jejak digital tentangnya tahun 2014 mengungkap ia berpendapat: FPI Sangat Dibutuhkan di Indonesia. Ia juga tereportase sowan ke Rizik Syihab di Petamburan. Tahun 2022 ia juga menuduh PBNU banyak makan uang haram. Tahun 2021 ia dipolisikan oleh Barisan Ksatria Nusantara karena membuat pernyataan bahwa vaksinasi merupakan upaya pembunuhan massal. Tulisan Najih Maimun itu nampaknya ditujukan untuk sebuah forum diskusi tertutup yang dilaksanakan di Kuningan Jawa Barat oleh para Ba’alwi diantaranya Quraisy Baharun dan Hanif Al-Athos. Dalam akhir tulisan tertera titimangsa tulisan tanggal 1 Mei 2024 dan terdapat nama Najih Maimun tanpa dibubuhi tandatangan.

Dalam tulisan itu Najih banyak membawakan narasi-narasi khas ormas terlarang FPI seperti tentang oligarki, kelompok jahat dsb.

Apakah Najih bisa membawakan kitab nasab abad ke-5 H.? tidak. Ia hanya membawakan 17 kitab dimulai abad ke 8.H. itupun bukan bicara tentang Ba’alwi Abdurrahman Aseegaf tetapi bicara tentang Baalwi Jadid. Kitab-kitab itu adalah kitab Al Suluk, Al Athoya dan Al Iqdul fakhir, kitab abad ke delapan dan sembilan awal. ketiga kitab ini sama sekali tidak bisa menjadi dalil bagi klan baalwi Abdurrrahman assegaf karena ketiga kitab ini kitab sejarah yang menjelaskan Syarif Abul Jadid, bukan menjelaskan keluraga Baalwi Abdurrahman Assegaf. Keluarga Abdurrahman mencangkokan leluhur mereka yang bernama Alwi kepada Jadid, Alwi disebut sebagai adik dari Jadid. Silsilah Jadid disebut tiga kitab sejarah itu, sementara Alwi tidak pernah disebutkan. Agar ada benang merah untuk mengklaim nasab Ba’alwi Jadid, lalu Ali assakran di abad ke-9 H. mengaku-ngaku bahwa Alwi adalah saudara Jadid. Padahal Jadid bukan saudara Alwi. Jadid tidak punya adik bernama Alwi.

Kitab lain yang disebut Najih adalah kitab abad sembilan dan setelahnya. Usaha Najih untuk membantah tesis saya gagal total.

Usaha Muhdor Tanggul Membantah Tesis Saya

Pada tanggal 29 Juni 2024 saya melihat video seorang yang marah-marah. Orang dalam video itu saya lihat berbadan besar bermuka mirip tokoh film India Tuan Takur, setelah saya membaca keterangan namanya ternyata Muhdor Ba’alwi dari Kecamatan Tanggul Jember. Dalam video itu Muhdor mengklaim telah menemukan kitab abad ke-4 H. ia mengatakan bahwa kitab itu adalah dalil yang kuat untuk menjawab keterputusan nasab Ba’alwi. Kitab ap aitu? Ternyata kitab itu adalah kitab “Abnaul Imam”. Rupanya Muhdor ketinggalan kereta. Kitab Abnaul Imam adalah kitab yang sudah lama terbukti kepalsuannya. Sungguh sangat disayangkan, orang yang dianggap jama’ahnya sebagai ulama, ternyata tidak mempunyai wawasan yang dalam tentang kitab-kitab kuning terutama kitab tentang nasabnya sendiri. nasab yang selama ini diyakini dan dibanggkan serta digembar-gemborkan di hadapan khalayak umum itu, ternyata tidak berbasis pengetahuan dan data dari para pengasongnya, contohnya Muhdor ini.

Selain kebodohannya tentang kitab Abna’ul Imam ini, Muhdor juga telah menampakan kebodohan beberapa waktu lalu dengan menyebutkan bahwa para Imam Madzhab yang empat: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, tidak menolak nasab Ba’lawi. Ini adalah sebuah pernyataan yang jauh dari ilmiyah. Bagaimana mereka menolak nasab Ba’lawi, sedangkan Imam Abu Hanifah contohnya, ia wafat tahun 150 H? Bagaimana orang yang wafat tahun 150 H bisa menerima atau menolak nasab Ubed yang wafat tahun 838 H? Muhdor bukan hanya gagal menjawab tesis saya, ia juga gagal membuktikan bahwa ulama Ba’alwi layak disandingkan dengan ulama-ulama Jawa yang mumpuni.

Usaha kurtubi lebak membantah Tesis Penulis

Seorang pimpinan ormas terlarang FPI yang bernama Kurtubi dari Lebak berusaha membuat kitab selama kurang lebih setahun untuk menjawab tesis penulis. Akhirnya sekitar bulan September 2024 kitab itu berhasil dirampungkan. Kitab itu diberi judul Ihyaul Mauta. Sebelum kitab itu jadi, Kurubi sesumbar bahwa kitabnya adalah “bom nuklir” yang akan menghancurkan tesis saya. Lalu, apakah kitabnya tersebut sesuai dengan sesumbarnya? Jauh panggang dari api. Kurtubi tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-5 H. kecuali mengutip dari kitab palsu Arraudul Jaliy. Dalam kitab palsu Arraudul jaliy dikatakan bahwa Imam Al-Ubaidili mengatakan Ahmad bin Isa berhijrah ke Yaman. Padahal itu hanya dusta yang disisipkan oleh Hasan Muhammad Qasim dalam kitabnya Arraudul Jaliy, lalu kitab karyanya ini disebut olehnya sebagai karya Murtada al-Zabidi.

Imam Al-Ubaidili dalam kitabnya tidak menyebut bahwa Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Abdullah atau Ubed, ia juga tidak menyebut bahwa Ahmad bin Isa berhijrah ke Yaman. Kurtubi, selain ia tidak memahami palsunya kitab Arraudul Jaliy, ia juga tidak faham cara berhujjah dalam diskursus nasab dan sejarah. Kitab yang dijadikan hujjah tidak boleh berupa kutipan, tetapi harus kitab asli, karena kutipan tidak bisa dijamin kesahihannya, bisa jadi seseorang berdusta atas nama ulama di masa lalu.

Selain kitab Arraudul Jaliy, andalan Kurtubi juga adalah kitab Al-Suluk abad ke-8 H. lagi-lagi Kurtubi tidak faham dan tidak bisa membedakan antara Ba’alwi Jadid yang ada di dalam kitab Al-Suluk dan antara Ba’alwi Abdurrahman assegaf yang mengaku sebagai Ba’alwi di abad ke-9 H. kalau sudah tidak faham demikian kita akan sulit mengambil manfaat dari kitab karyanya itu, apalagi untuk bisa menjawab tesis saya.

Kesimpulannya kitab paling tua yang bisa dibawakan oleh Kurtubi adalah Al-Suluk yang ditulis di abad ke-8 H. ia tidak bisa menghadirkan kitab nasab abad ke-5 H.; ia pula tidak bisa membawakan kitab abad ke-8 H. yang menyatakan bahwa Jadid mempunyai anak Bernama Alwi. Dengan demikian Kurtubi telah gagal menjawab tesis saya. Saya telah menulis kitab yang memuat kegagalan Kurtubi dalam menjawab tesis saya, kitab itu saya beri judul “Al-ma’arif al-Rabbaniyah”.

Usaha Ulama Oman Menjawab tesis Saya

Ada seorang ulama dari negara Oman bernama Ahmad bin ‘Aod bin ‘Alwi al Ibrahim berusaha menjawab tesis saya. Usahanya itu dituangkan dalam kitabnya “Idzhar al Haqiqat li Mudda’I Kasfi al Fadihat al ‘Ilmiyyah li Tarikh wa Nasab al Sadat Ba’alwi” (selanjutnya kita sebut Al-Idzhar). Kitab itu diselesaikan pada 12 Juli 2024 M.

Kitab Ahmad bin Aod ini telah saya jawab tuntas dalam kitab saya berjudul “Tahafutul Ansab”, intinya kitab Al-Idzhar ini tidak bisa menghadirkan kitab nasab Abad ke-5 H. yang menyebut Ahmad bin Isa mempunyai anak Bernama Ubed atau Abdullah atau Ubaidillah; tidak bisa menghadirkan kitab abad ke-8 H. yang menyebut Jadid mempunyai anak Bernama Alwi.

Di bawah ini, penulis akan sampaikan contoh-contoh dari usaha-usaha Ahmad bin Aod untuk menjawab tesis saya:

Pertama, hijrahnya ahmad bin isa telah disebut oleh Yahya bin Abdul Adzim al Hatimi al Tarimi. Katanya, ia wafat setelah tahun 512 H. katanya pula, ia mempunyai qasidah yang memuji Alwi bin Muhamad bin alwi bin Ubed. Benarkah Ahmad bin Aod mendapatkan qasidah ini langsung dari kitab abad ke-6 H.? ternyata ia mengatakan bahwa qasidah ini, terdapat dalam kitab al Gurar karya Ali Khirid Ba’alwi (w.996 H.) berarti berita ini bukan berita yang ditulis abad 6 H, tetapi berita dari abad 10 H tentang cerita abad ke 6 H. Kita tidak pernah tahu apakah berita itu benar atau tidak; Dari mana Ali khirid mendapatkan berita ini; siapa perawinya; apakah Ali Khirid jujur dalam masalah ini, atau ia berdusta? kita tidak pernah tahu. banyak kitab, qasidah, syair dan puisi yang ditulis di masa kini lalu ia diatributkan ulama di masa lalu. Itulah yang disebut “skandal ilmiyah”.

Kedua, Ahmad bin Aod menyatakan bahwa hijrahnya ahmad bin isa telah disebutkan oleh kitab “Al Yaqut al Samin”, pengarangnya, katanya, orang Tarim abad ke- 7 H. benarkah Ahmad bin Aod melihat kitab itu langsung? Ternyata ia menyatakan bahwa ia mendapatkannya dari kitab Al-Gurar juga. Kita menjadi heran akan kwalitas ulama Oman, berdiskusi tentang sumber primer tetapi kitab yang dihadirkan adalah kitab kutipan yang menyebut kejadian masa lalu. Membuktikan mereka tidak faham apa yang dimaksud sumber primer.

Kitab Ahmad bin Aod hampir dipenuhi oleh narasi “bodoh” semacam itu, ia tidak sanggup membawakan kitab nasab muktabar abad ke-5 H. Cara-cara yang “tidak berintegritas” seperti ini hampir merata menjadi metode kitab-kitab Ba’alwi ketika bicara nasab.

Ahmad bin Aod juga dalam kitab Idzhar nya itu menampilkan beberapa salinan manuskrip ijajah Abul Jadil dari Amr al Tiba’I, Ali bin Mansur al Siba’I, juga mansukrip kitab Turmudzi tahun 771 H. yang terdapat dalam maktabah Imam Zaid di Shan’a nomor 617. Ditampilkan juga manuskrip Tuhfatuzzaman karya Husen Al Ahdal (w. 855 H.) yang semuanya menulis silsilah Syarif Abul Jadid. Pertanyaannya kenapa Ahmad bin Aod menampikan manuskrip Jadid, Padahal Jadid tidak ada kaitannya dengan Ba’alwi Abdurrahman, ia hanya di cangkok oleh Ba’alwi Abdurrahman Asegaf.

Seharusnya sebelum Ahmad bin Aod dengan tanpa malu mengklaim Jadid sebagai bagian keluarganya ia harus membawakan kitab abad ke-8 H. yang menyebut Jadid mempunyai adik Bernama Alwi, karena hanya dengan itulah, klaim dalil Jadid digunakan untuk Ba’alwi Assegaf bermanfaat. Kesimpulan dari usaha Ahmad bin Aod ini: dia tidak sanggup untuk menjawab tesis saya; ia tidak bisa membuktikan bahwa nasab Ba’alwi sahih; ia juga tidak bisa membuktikan bahwa nama keluarga Ba’alwi semisal Ubed, Alwi, Sahib Mirbat, Faqih Muqoddam dan Ali Khaliqasam sebagai manusia-manusia yang pernah lahir di alam dunia. Jika mereka tidak bisa menjawab tesis saya lalu kenapa mereka ngotot masih ingin diakui sebagai cucu Nabi Muhammad SAW. Apakah tidak takut dosa? Wassalam.

ShareTweetShare
Previous Post

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Related Posts

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

21 April 2026
24

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

18 April 2026
44

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
67

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

9 April 2026
66

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

7 April 2026
38

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas

24 Maret 2026
597

Beruntungnya Orang yang Saling Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri

21 Maret 2026
40

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

15 Maret 2026
118

Titik Balik Thesis al Bantani, Konsensus dan Glorifikasi Nasab Ba’Alwi: Tiga Tahun  Gagal Raih Syuhra Wal Istifadlah (2023 2025)

11 Maret 2026
118

Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik

8 Maret 2026
233

Paling Banyak Dilihat

KH Imaduddin al Bantani

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

by Admin
22 April 2026
2

Diskursus batalnya nasab Ba’alwi di ruang public adalah salah satu diskursus yang menarik selama kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1945. Tidak...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.8k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25