• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Kitab Kuning, Politik dan Teologi Kebangsaan

Berangkat dari tradisi baru yang dibangun, yaitu masuknya ilmu politik dalam kurikulum di pesantren-pesantren, baik sebagai pengantar maupun sebagai bidang kajian tersendiri untuk seterusnya menjadi “kanal“ dalam mewujudkan teologi kebangsaan dengan dasar Islam yang bermadzhab Ahlu Sunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah.

by Hamdan Suhaemi
23 Juni 2021
in Opini, Pesantren
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

Oleh: Kyai M. Hamdan Suhaemi

Kitab kuning bagi pandangan santri adalah lembaran-lembaran tulisan ulama dalam Bahasa Arab yang dominan kertasnya berwarna kuning. Pada tulisan Arab tersebut tidak tedapat harkat atau i’rab. Lembaran tersebut sengaja tidak terjilid sehingga mudah untuk mengambil bagian-bagian lembaran yang diperlukan, meski demikian ada pula lembaran tulisan Arab tersebut ada yang terjilid bahkan berjilid-jilid dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam yang luas dan komprehensif (al-Kulliyat).

Azyumardi Azra mendefinisikan kitab kuning adalah kitab keagamaan yang berbahasa Arab, Melayu atau Jawa dan atau bahasa-bahasa lokal lain di seantero Indonesia dengan menggunakan aksara Arab yang ditulis oleh ulama Timur Tengah dan ditulis pula oleh ulama asli Indonesia. Berbeda dengan pandangan Azra, Ali Yafie (Rois ‘Aam PBNU 1991-1992) menilai bahwa kitab kuning yang diartikan sebagai kitab rujukan mengaji bagi santri dengan penyebutan hanya kuning seakan bersifat negatif, pesantren seolah tertutup hanya di kajian kitab kuning semata padahal pesantren kini sudaah membuka diri pada kitab-kitab yang ditulis ulama dengan aksara Arab atau latin dengan kertas yang warnanya putih.

Umumnya pesantren masih berkutat pada kajian-kajian keislaman dengan mempelajari ilmu-ilmu Islam semata seperti ilmu fiqih, ushul fiqh, tafsir dan hadits, tauhid, tasawwuf serta sastra Arab (prangkat ilmu yang utama dalam mengurai kajian keislaman). Itu pun kita lihat di banyak pesantren salafi (tradisional). Namun berbeda halnya jika kita temukan di berbagai pesantren modern, di dalamnya banyak suguhan kurikulum yang tidak lagi berkutat pada kajian kitab kuning namun lebih pada penguatan linguistik, kajian tematik ilmu-ilmu Islam, serta penguatan bidang ekstra kurikuler (termasuk kurikulum) lainnya.

Pada tulisan ini ada keinginan untuk menyambungkan dengan tema politik, satu tema besar yang kini kita sebut sebagai yang tengah trending di Indonesia, banyaka kalangan tak terkecuali orang-orang biasa yang belum masuk politik praktis pun terkadang bicara politik. Trend-nya naik disebabkan karena situasi politik jelang pileg dan pilpres. Politik sekali lagi telah menjadi tema sentral kita sekarang. Sementara bagi kalangan santri yang kini masih berkutat dengan kitab kuning sebagai basis (maudlu’) utama mendalami ilmu-ilmu Islam tentunya masih dimungkinkan menghindari kajian politik (al-Siyasah).

Politik, bagi kalangan santri secara umum tidak begitu tertarik disamping kajian politik yang tertulis di kitab kuning masih sangat jarang, meski kita bisa temukan di karyanya Imam Mawardi yaitu kitab Ahkamu al-Sulthoniyah, tapi jarang untuk dikaji. Kalangan kiai dan para santri lebih memilih untuk concern bidang kajian ilmu-ilmu Islam dengan menggeluti dan mempelajari teks-teks tertulis dari kitab kuning. Padahal santri dan kehidupannya di pesantren tidak salah juga untuk diberikan materi pelajaran ilmu-ilmu politik dengan maksud bahwa kajian politik dalam perspektif ajaran Islam harus sudah dikenalkan di dunia pesantren.

Ini sebagai pintu masuk untuk menciptakan generasi-generasi santri yang melek politik, paham tata negara, menguasai komunikasi politik serta mampu membaca geo-politik, maka tidak menutupi kemungkinan jika di kemudian hari dari pesantren lah politik Indonesia dimulai sebagai gelombang baru dan wajah baru politik Indonesia dengan basis akhlaq al-karimah, sosio-religius yang konservatif, dan kuatnya prinsip anti-korupsi.

Berangkat dari tradisi baru yang dibangun yaitu masuknya ilmu politik dalam kurikulum di pesantren-pesantren, baik sebagai pengantar maupun sebagai bidang kajian tersendiri untuk seterusnya menjadi “kanal“ dalam mewujudkan teologi kebangsaan dengan dasar Islam yang bermadzhab Ahlu Sunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah. Kelak tahun 2024 Indonesia sudah selesai dari persoalan aliran dan pemikiran keagamaan yang telah disusupi dan dimanfaatkan oleh kelompok kelompok keagamaan trans-nasional.

Teologi kebangsaan dengan tidak bertentangan dengan ideologi negara adalah juga spirit baru dalam menata kebangsaan kita. Dan kita kenali bahwa teologi kebangsaan itu merupakan yang tunggal dalam menguatkan simpul-simpul kebangsaan yang disatukan oleh ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Prinsipnya teologi kebangsaan tidak dalam pengertian sebagai landasan teokratis untuk kemudian merubah tatanan yang sudah ada, melainkan teolog kebangsaan menjadi simpul penguat dari keberagaman paham keagamaan bagi warga negara yang sudah selesai memahami negara bangsa sebagai tujuan dari tegaknya NKRI.

Umat Islam, tentunya harus mampu membedakan antara keharusan menjadi prinsip bernegara dengan gerakan (al-Harakat) perjuangan keagamaannya, dan pada kontek ini teologi kebangsaan menjadi suluh dalam merekatkan keperbedaan yang dimiliki oleh umat Islam sehingga di kemudian hari tidak lagi mengungkit-ungkit cita-cita menegakkan agama Islam sebagai yang tunggal dalam berbangsa dan bernegara. Meski teologi kebangsaan ini prinsipnya Islam namun tidak berarti dikatakan sebagai dasar negara, tapi menguatkan tali kebangsaan, tali persaudaraan sesama bangsa Indonesia.

Sebagai penutup saya kutip syair yang diambil dari kitab Ihya Ulumddin karya Imam Abu Hamid al- Ghozali :

# الطریق شتي و طریق الحق مفردة
والسالكون طريق الحق افراد

Artinya: “Jalan itu bermacam-macam sedangkan jalan kebenaran itu tersendiri dan orang orang yang menempuh jalan kebenaran itu hanya beberapa orang saja”.

ShareTweetShare
Previous Post

Kisah Santri, Pesantren Dan Banten

Next Post

Haul Sulthan Maulana Hasanuddin

Related Posts

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
50

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
63

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
133

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
30

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
76

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
126

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
59

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
252

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
239

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
82
Next Post

Haul Sulthan Maulana Hasanuddin

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Berita

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

by Admin
5 Juni 2026
33

بقلم عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي (رئيس لجنة الفتوى في مجلس علماء اندونيسيا في محافظة بنتن)کتاب الروض الجلي في...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.1k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25