Oleh: Hamdan Suhaemi
Riwayat Kelahiran
Junaidi lahir dari ayah bernama Samar dan ibu bernama Jubaidah pada tanggal 2 Januari 1958 di Kampung Jati Pulo Binuang Kabupaten Serang. Waktu lahir diberi nama oleh orang tuanya yaitu Ahmad Junaidi, mungkin orang tuanya terinspirasi dari nama ulama besar sekaligus peletak tasawwuf ala manhaji Ahli Sunnah wal Jamaah yang hidup di Baghdad abad 3 Hijriyah yaitu Imam Junaidi al-Baghdadi.
Ayahnya Samar adalah putera dari Ramyiun namun nasab ke atasnya tidak dicatat hingga hanya pada nama Ramiyun, sedangkan ibunya Zubaidah puteri dari Syarifah binti H. Kasir bin Kholid bin Ki Kisut bin Hawa dan nama Hawa ini keturunan Syekh Karomudin yang ke atasnya Raden Arya Wiranegara yang masyhur digelari Syekh Ciliwulung.
Menuntut Ilmu
Junaidi kecil disekolahkan oleh orang tuanya ke SR ( Sekolah Rakyat ) hanya 2 tahun dan pindah ke Madrasah Alkhaeriyah hingga sampai kelas 5. Daerah Binuang dan Carenang bahkan umumnya Kabupaten Serang dekade 1960-an hingga 1970-an masih sangat jarang ada pendidikan formal.
Karena kelangkaan pendidikan formal itulah Junaidi kecil sekira usia 12 tahun dititipakan oleh orang tuanya kepada Abuya KH. Fakhri yang mengasuh pesantren salafiyah di Kampung Aslam ( Astana Lampuyang ), figur ulama besar yang berpengaruh kala itu untuk dididik ngaji ilmu-ilmu agama.
Setelah 3 tahun mesantren di Aslam, lalu melanjutkan ke Serewu Cakung untuk ngaji ke Abuya KH. Mufti Asnawi ulama besar pakar fikih yang masyhur dan seringnya tamu-tamu yang datang silaturahmi menanyakan soal sosal hukum Islam kepada beliau. 7 tahun lamanya Junaidi ngaji ke Abuya Mufti Asnawi pengasuh Pesanten Darul Hikmah Serewu.
Dari Serewu kemudian Junaidi muda rihlah ilmiah ke beberapa pesantren di wilayah Pasundan antara lain mesantren di Warudoyong Sukabumi dan Gasol Cianjur. Beberapa tahun kemudian Junaidi ngaji tabarrukan ke Abuya KH. Suhaimi Sasak Keronjo dan ngaji mingguan ke Abuya KH. Amin Koper ( ayah Prof. KH. Ma’ruf Amin ) sampai wafatnya.
Berkeluarga
Menginjak usia yang cukup matang Junaidi yang sudah tampil menjadi kiai muda memutuskan untuk berkeluarga dengan menikahi gadis bernama Badriyah dan dianugerahi 3 anak yaitu Fahrurozi, Fauziyah dan Fauqiyah.
Namun dengan Nyai Badriyah ini tidak lama karena wafat mendahuli suaminya. Lalu selang beberapa bulan H. Junaidi menikah untuk kedua kalinya dengan Aminah dari istri yang kedua ini dikaruniai anak bernama Fitriyah tetapi jodohnya tidak panjang karena hanya beberapa tahun saja lalu cerai.
Pada tahun 1990, KH. Junaidi yang sudah menjadi pengasuh Ponpes Darul Ulum di Jati Pulo menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan Hj. Munawaroh dan dikaruniai putera puteri yaitu Kamal Abduh, Muhammad Abduh, Falahiyah, Ahmad Maariful Laali, Zakiyah Nufus, dan terakhir Maftuhul Alawi.
Pengabdian dan Perjuangan
Abah KH. Junaidi yang kesehariannya mendidik santri sejak 1985 dengan santrinya puluhan orang dan di tahun 90-an santri bertambah menjadi ratusan orang hingga kini. Pesantrennya Darul Ulum awalnya di depan kampung Jati Pulo lalu dikembangkan sehingga pindah ke belakang yang juga masih di kampung Jati Pulo.
Selain pengabdian di bidang pendidikan keagamaan KH. Junaidi pun aktif berharokah di NU di tahun 2018 lalu beliau menjadi Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Banten di era kepemimpinan KH. Bunyamin selaku Ketua Tanfidziyah hingga selesai satu priode dan berakhir di tahun 2023. Setelah Konferwil PWNU di Batu Ceper Kota Tangerang awal tahun 2025 Abah KH. Junaidi ditetapkan sebagai mustasyar PWNU mendampingi Abuya KH. Muhtadi Dimyathi.
Kegiatan di NU antara lain ikut aktif dalam kegiatan Bahtsul Masail yang digelar oleh beberpa LBM baik PCNU maupun PWNU Banten, karena Abah KH. Junaidi sangat konsen di kajian fikih terutama pada soal soal waqiiyyah.
Selain keaktifan di NU beliau aktif di MUI Pusat menemani Prof.Dr. KH. Maruf Amin yang saat itu menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI, belakangan sejak kepimpinam Romo KH. Anwar Iskandar sebagai Ketum MUI Pusat maka Abah KH. Junaidi ditunjuk untuk menjadi Ketua Komisi Fatwanya.
Akhir tahun 2024 oleh KH. Bunyamin selaku ketua DMI Provinisi Banten beliau diminta aktif di DMI sebagai penasihat. Disamping kesibukan lainnya yaitu mengurusi KBIH Darul Ulum yang operasi sejak 1995.
Wafat
Setelah kepulangannya dari ibadah Haji di musim haji 2026 pada tanggal 16 Agustus lalu, Abah KH. Junaidi meniggal dunia. Ulama besar yang berpengaruh itu telah tiada meninggalkan jejak perjuangnnya sekaligus menyisakan air mata umat yang ditinggalkan.
Prof. Dr. H. Asrorun Niam, intelektual NU muda yang kesehariannya dengan Abah KH. Junaifi di komisi fatwa MUI menyampaikan rasa dukanya saat wafatnya Abah KH. Junaidi dan berucapa “beliau adalah ulama yang zuhud dan memilih “khumul”. Setiap ucapan dan penyampaiannya selalu merujuk pada kitab-kitab klasik (turats) dengan referensi keilmuan yang sangat kaya. Beliau sosok ulama faqih, ikhlas, aktif, zuhud, dan wara’…Semoga jadi ahlil jannah “.
Selamat jalan Abah, insya Allah, Abah Yai min ahlil jannah.
Serang 11 Oktober 2026