• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Biografi

Ayahanda KH. Suhaemi, Pencinta Ilmu Sharaf Sepanjang Hayat

by Admin
25 Juni 2023
in Biografi, Tokoh
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Riwayat Lahir

Suhaemi, dilahirkan di Kampung Bolang Pulo Desa Bolang Carenang ( kini Lebak Wangi ) pada 18 Juli 1945 dari ayah bernama Ki Khamsidin dan ibu Hj. Sundari, berasal dari Laes Ciagel Kibin. Suhaemi adalah putera pertama dari 3 bersaudara, yaitu Suhaemi, Syur’ah dan Murdanah.

Ayahnya adalah seorang petani kaya raya, puluhan hektar sawah, hingga puluhan ternak kerbau dan kambing, sementara ibunya pedagang kain keliling, karena kesehariannya bekerja dagang kain dari rumah ke rumah, kombinasi petani dan pedagang.

Masa Kecil

Suhaemi kecil, dididik oleh seorang kiai bernama Kiai Hasan ( ayah dari KH. Sihabudin Bolang ), terutama ngaji Qur’an dan rerukunan, dan paginya bersekolah di sekolah Ongko Loro, kebetulan gurunya yaitu Pak Nuriman adalah kakak ipar misan. Sosok guru yang zaman Jepang pernah jadi Sudanco, karena itu beliau ini pasih bahasa Jepang.

Kiai Hasan, ngajari baca Qur’an pada Suhaemi ini begitu mudahnya, cepat nangkap dan lisannya fasihat. Sisi pribadi Suhaemi kecil yang disayang gurunya karena termasuk anak yang ulet, rajin dan fokus ngaji.

Pendidikan

Setamat sekolah Ongko Loro, Suhaemi remaja pergi mesantren ke daerah Cadasari Pandeglang, dan ngaji pada seorang ulama besar kala itu yaitu Abuya Icot, orang sekitar memanggil gurunya dengan panggilan itu karena tidak yang mengetahui nama aslinya.

Baca Juga

Biografi Abuya KH. Thohir Pelamunan Serang Banten

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Prof. Peter Carey Geram: Klaim Habib Luthfi soal KRT Sumadiningrat Adalah Fiksi Sejarah dan Pelecehan Terhadap Martabat Mataram

Klaim Habib soal Proklamasi: Prof. Anhar Gonggong Tegaskan Itu Ilusi dan Menista Sejarah Bangsa

MUHAMMAD ABUBAKAR BADZIB BONGKAR KEDUSTAAN ZEN BIN SUMET DAN RUMAIL ABBAS TENTANG IBNU HAJAR

Abuya Icot, adalah ulama besar hidup di era tahun 50-an yang masyhur di Kabupaten Pandeglang, terutama Cadasari dan Baros. Lewat tangan dinginnya Abuya Icot mengkader Suhaemi remaja untuk ngaji ilmu alat ( nahwu dan sharaf), titik tekannya terhadap ilmu sharaf. Dari Abuya Icot inilah, Suhaemi remaja jatuh hati pada ilmu sharaf, melebihi kecintaannya atas ilmu-ilmu lainnya.

Sanad Ilmu

Era tahun 60-an tersiar kabar yang diterima oleh Ki Khamsidin yaitu telah tampil kiai muda yang alim, pemberani, sakti, dan tabahhur ilmunya karena termasuk mutafannin yakni al-Alim al-Allamah al-Arif Billah KH. Syanwani yang tengah giat mengasuh santri di pesantrennya yaitu Ashhabul Maimanah di Kampung Sampang Susukan Tirtayasa Serang.

Begitu masyhurnya hingga orang tua Suhaemi tertarik untuk mengantarkan puteranya itu kepada KH. Syanwani agar dididik ngaji dengan harapan puteranya menjadi hamba yang soleh dan bermanfaat.

Pada 1964, Suhaemi muda pergi mesantren di pondok pesantren Ashhabul Maimanah di Kampung Sampang Desa Susukan Tirtayasa Serang, dibawah bimbingan dan pengajaran langsung gurunya yaitu KH. Syanwani.

Seluruh bidang ilmu agama dipelajari, mulai dari fiqh, tauhid, ushul fiqh, tafsir, hadits hingga tasawuf dan tidak ketinggalan ilmu nahwu dan sharaf yang kelak di kemudian hari Suhaemi muda lebih fokus pada ilmu sharaf.

Semua bidang ilmu agama Islam itu sanadnya langsung dari KH. Syanwani, sementara KH. Syanwani berguru kepada santri-santri Syaikh Nawawi al-Bantani di Mekkah, antara lain Mama KH. TB. Bakri atau Mama Sempur Purwakarta, Abuya KH. Siddiq Combong Baros, Abuya KH. Abdul Halim Kadu Peusing Pandeglang, dan Ajengan KH. Abdullah Mubarok Singaparna Tasikmalaya ayahnya Abah Anom.

Perhatian Pada Sharaf

Sejak mesantren di Cadasari Pandeglang, hingga ke Sampang Susukan Tirtayasa Serang di hati Suhaemi muda telah tertanam rasa ingin fokus menggeluti bidang sharat ini, atau istiqaq. Sering saya dengar langsung bila ngaji di depan beliau yang sering diucapkan begini ” tengeti shorofe ” ( fokus pada perubahan huruf dalam lafad Arab ).

Saya pernah mendengar dari sahabat mondoknya yaitu KH. Marzuki, Sindang Asih bahwa Suhaemi muda adalah bintangnya dalam hal Sharaf. Begitupun murid-muridnya antara lain Ust. Mukhlis bilang ke saya saat ia masih hidup ” Abahmu itu sangat detil jika membahas sharaf “.

Pergi Haji

Tahun 1968, Suhaemi muda dinikahkan oleh gurunya yaitu KH. Syanwani dengan puterinya yaitu Afifah Alawiyah, puteri dari hasil pernikahannya dengan Hj. Fatimah binti KH. Abdul Haq Tanara.

Pada Juni 1975, Suhaemi diberangkatkan oleh mertuanya pergi haji tanpa dengan istrinya, karena istrinya baru melahirkan putera keempatnya, jadi Haji Suhaemi berangkat bersama sahabat dekatnya H. Markawi dan istrinya Hj. Fathonah binti KH Syanwani.

Sanad Tarekat

Sejak 1966 setelah lulus dari PGAN 6 tahun, dan masih mengaji kepada KH. Syanwani diperbantukan untuk mengajar di pesantren mertuanya hingga 1996, cukup panjang hidmat KH. Suhaemi di pesantren Ashhabul Maimanah Sampang Susukan, membantu mertuanya.

Pada 1998, KH. Suhaemi setelah hijrah dari Sampang pasca wafat mendiang mertuanya yakni KH Syanwani, mendirikan pesantren di Desa Bolang ( masih Carenang ) yang ia namakan Yayasan Pesantren Darul Hikmah.

Di sela kesibukannya mengajar ngaji dan masyarakat, KH. Suhaemi masuk dan istiqomah dalam amaliah ajaran tasawuf dengan mengambil sanad tarekat kepada Abah KH. TB Khisni, menantu dari Abah KH. TB. Ahmad Sukamandi Kasemen ( mertua Abuya Muhtadi Cidahu ) yaitu Tarekat Qodriyah Naqsyabandiyah.

Awal dekade 2000, KH. Suhaemi hingga wafatnya di tahun 2021, beliau istiqomah di jalur tasawuf dengan intensitas dzikir yang rutin sesuai tingkatan jumlah dzikir yang ditentukan sang mursyid yakni Abah KH. TB. Khisni. Sementara sanad tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah KH. TB Khisni berasal dari mertuanya yakni KH. TB. Ahmad dan KH TB Ahmad berasal dari murid-murid Syaikh Abdul Karim Lempuyang.

Hidmat di NU

Saat PCNU Kabupaten Serang diketuai oleh Drs. KH. Markawi, menantu KH. Syanwani yang juga pengasuh Pesantren Ma’had Tarbiyah Ashhabul Maimanah Sidayu, Ayahanda KH. Suhaemi diminta untuk aktif di NU dan diamanatkan sebagai mustasyar PCNU Kabupaten Serang priode 2007-2013.

Ketika saya pun aktif di NU melalui GP Ansor, ayahanda KH Suhaemi selalu mengingatkan ” aja jaluk-jaluk jabatan ng NU, wis ikhlas hidmat be ” dan alhamdulillah amanat itu saya pertahankan.

Wafat

Ayahanda KH. Suhaemi tutup usia pada Selasa siang pukul 11. 15 Wib, 9 Maret 2021 atau 25 Rajab 1442 H, dan telah meninggalkan putera puterinya berjumlah 9 orang, yaitu.

Dra. Hj. Khaeriyah
Ust. Ali Imron, S.Ag
Ust. M. Furqon, S.Ag
Hamdan Suhaemi
Asep Syukron
Ust. Subhan, M.Pd
Ust. Iwan Ridwan, S.Pd
Umu mutamimah, SE
Inah Mutmainah,S. Pd

KH. Suhaemi, adalah figur kiai kampung yang sederhana, dan natural. Pahamnya akan ilmu sharaf hingga detil ” wadlo’ Arab ” ini, maka telah mengantarkan sebutan kepada beliau yaitu kiai yang ahli ilmu sharaf, sekaligus pencinta ilmu sharaf sepanjang hayat.

Serang 24 Juni 2023
Oleh: Hamdan Suhaemi
Penulis, putera keempat.

ShareTweetShare
Previous Post

Sunan Ampel Peletak Islam Nusantara, Tinjauan Sanad dan Nasab Penyebar Islam Abad 15-17 M

Next Post

Membaca Kitab Ra’ihatu Al-Wardiyah Karya Syaikh Tubagus Ahmad Bakri Sempur Purwakarta

Related Posts

Biografi Abuya KH. Thohir Pelamunan Serang Banten

3 Maret 2026
71

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

22 Januari 2026
169

Prof. Peter Carey Geram: Klaim Habib Luthfi soal KRT Sumadiningrat Adalah Fiksi Sejarah dan Pelecehan Terhadap Martabat Mataram

18 Januari 2026
204

Klaim Habib soal Proklamasi: Prof. Anhar Gonggong Tegaskan Itu Ilusi dan Menista Sejarah Bangsa

18 Januari 2026
227

MUHAMMAD ABUBAKAR BADZIB BONGKAR KEDUSTAAN ZEN BIN SUMET DAN RUMAIL ABBAS TENTANG IBNU HAJAR

25 Desember 2025
288

Tokoh-Tokoh Fiktif Yang Disebut Dalam Sejarah Hadramaut

11 Desember 2025
448

Pengakuan Akademik Prof. Ahmad Zahro atas Penelitian Genealogi Kiai Imaduddin: Ketelitian yang Mengguncang Kesahihan Nasab Ba Alawi

16 November 2025
495

KH Mubarok, Tokoh NU Solo Raya, Mendesak Kapolri Segera Proses Bahar Smith dan Pelaku Penganiayaan Banser

26 September 2025
113

Biografi KH. Syatibi Hambali, Kharisma Sang Rois dari Tanah Multatuli

18 September 2025
198

Sesalkan Menag Hadiri Acara Habib Lutfi di Istiqlal: Tokoh NU Prof Abdul Hadi Tulis Surat Terbuka

11 Agustus 2025
306
Next Post

Membaca Kitab Ra'ihatu Al-Wardiyah Karya Syaikh Tubagus Ahmad Bakri Sempur Purwakarta

Paling Banyak Dilihat

Opini

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

by Admin
15 Maret 2026
13

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Tulisan ini bertujuan untuk merefleksikan koordinat kesadaran nalar menganalisis peran krusial kejujuran intelektual Habib dan Muhibbin...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

“Dari Masjid untuk Indonesia”, Posko Mudik DMI di Kab. Serang Layani Pemudik Hingga Sepekan Usai Lebaran

Meluruskan Sejarah NU Yang Ditikung

Titik Balik Thesis al Bantani, Konsensus dan Glorifikasi Nasab Ba’Alwi: Tiga Tahun  Gagal Raih Syuhra Wal Istifadlah (2023 2025)

Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.6k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.8k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.2k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25