Baca Juga
Oleh: Hamdan Suhaemi
Kelahiran
Entol Ahmad Asrori lahir di Desa Menes, Kewedanaan Menes, Pandeglang Karesidenan Banten pada tahun 1911 dari ayah H. Entol Isra dan Siti Saudah Mariyah. Entol Asrori ini dikenal orok Menes yang cerdas, suatu pengakuan dari gurunya yaitu KH. Mas Abdurrahman Janake saat Entol kecil ngaji kepadanya.
Ayahnya H. Entol Isra adalah anak keturunan dari Ki Agus Jong, salah satu tokoh sejarah di abad 16 M yang telah membersamai Pangeran Sebakingkin, dalam dakwah Islam di tanah Banten, ia adalah kakak dari Ki Mas Jong yang juga turut membantu sang pangeran.
Versi lain bersumber dari Surat Kabar Surosoewan terbit tahun 1929 di Rangkasbitung Lebak, bahwa gelar Entol disematkan oleh Pangeran Sebakingkin untuk Ki Andong Mohol, seorang yang paling setia menemani perjalanan penyebaran IsIam di pegunungan Pulosari.
Pendidikan
Masa kecil Entol Asrori banyak dihabiskan di Cibinglu dalam bimbingan dan didikan dasar agama, setelah dari Cibinglu kemudian Entol Asrori ngaji kepada KH. Mas Abdurrahman, ulama besar pendiri Mathlaul Anwar di Menes.
Ketika Entol Asrori dalam bimbingan KH. Mas Abdurrahman dikenalnya anak cerdas yang sanggup lebih cepat menyerap ilmu yang disampaikan oleh gurunya tersebut.
Melihat potensi muridnya ini KH. Mas Abdurrahman menganjurkan ayahnya Entol Asrori, agar segera memondokkan puteranya ke Tebuireng Jombang Jawa Timur, untuk menuntut ilmu kepada Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Setelah beberapa tahun mondok di Tebuireng, maka pada tahun 1934, Entol Asrori pulang ke Menes, dan mengabdi di madrasah Mathlaul Anwar. Dua tahun kemudian KH. Mas Abdurrahman menugaskan muridnya tersebut agar mensyiarkan dakwah Islam ahli sunnah wal Jamaah di Lampung, sekaligus membantu pendirian NU di sana.
Hidmat dan Kiprahnya di NU
Setibanya di Lampung, Entol Asrori tinggal di Menggala, disana ia mengajarkan penduduk setempat dasar dasar ilmu agama IsIam, beberapa bulan disana, kemudian Entol Asrori pindah ke Tanjungraja, Lampung Utara, kebetulan disana telah berdiri cabang NU pertama di Lampung, yang dibentuk pada tahun 1934 oleh KH. Fadlil Amin (mungkin muridnya KH. Mas Abdurrahman Menes).
Menurut Faruq Khairudin putra Abu Katsir (1904-1968) bahwa ” Kiai Entol Asrori adalah tokoh agama yang jasanya selalu dikenang, bicara tentang NU di Tanjungraja, tak bisa lepas dari peran beliau “.
Selama di Tanjungraja tepatnya tahun 1936, ada peristiwa yang kemudian menjadikan Entol Asrori terkenal, karena kealiman dan kepintarannya bicara yaitu perdebatan dengan beberapa tokoh yang berbeda pandangan tentang hukum agama dalam beberapa masail.
Perdebatan yang memakan waktu 3 hari 3 malam yang kemudian Entol Asrori sanggup menyelesaikannya dan mematahkan argumentasi lawan debatnya tersebut. Hingga tersiar kealimannya di seantero Lampung Utara.
Ternyata dibalik acara debat tersebut, ada sayembara yang diumumkan salah satu tokoh ulama, siapa yang sanggup menjawab masail maka kalau laki laki akan dinikahkan dengan puterinya yang bernama Siti Sarah. Karena debat tersebut dimenangkan oleh Entol Asrori dari Menes, maka Siti Sarah dinikahkan dengannya hingga pesta pernikahannya berlangsung selama 7 hari.
Dari pernikahannya dengan Siti Sarah, kiai Entol Asrori dianugerahi putera puteri hingga 10 orang, namun yang hidup hanya 2, pertama Nyai Enong Latifah yang kedua adalah KH. Entol Ali Sibromalisi, namun kini Nyai Enong sudah wafat, hingga yang masih hidup putranya Kiai Entol Asrori hanya KH. Entol Ali.
Panitia Muktamar NU
Dalam Swara Nahdlatoel Oelama edisi bundel hal 172-173, ada Voorstel (pengajuan) kepada Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), Voorstel tersebut diajukan oleh KH. Mas Abdurrahman dan KH. Entol Yasin, terkait kesiapan Menes menjadi tempat diselenggarakannya Muktamar NU yang ke-13.
Dengan latar belakang voorstel itulah akhirnya Hoofd Bestuur Nahdlatul Ulama di Surabaya telah memutuskan muktamar di tahun 1938 digelar di Kawedanan Menes Kabupaten Pandeglang, dan telah ditetapkan KH. Tb. Rusydi menjadi ketua pelaksanaanya, sedangkan ketua persidangan Muktamar ditunjuk KH. Zainul Arifin, berdasarkan usulan KH. Wahid Hasyim.
Terdengar kabar dari Menes, bahwa akan diselenggarakan Muktamar NU yang ke 13 bertempat di Menes, maka pasangan muda Entol Asrori dan Siti Sarah yang tinggal di Tanjungraja Lampung Utara akhirnya pulang ke Menes, ikut membantu gurunya KH. Mas Abdurrahman dalam perhelatan besar tersebut.
Dalam momentum muktamar itulah, istrinya Kiai Entol Asrori yakni Nyai Siti Sarah untuk pertama kalinya naik podium dan menyampaikan usulannya agar perempuan dilibatkan dalam kepengurusan NU. Voorstel ( usulan) itu ternyata diterima oleh para muktamirin, hingga dari usulan itu menjadi cikal bakal berdirinya Muslimat NU.
Mendirikan Lembaga Pendidikan
Jauh setelah muktamar NU yang ke 13 itu, KH. Entol Asrori bersama istrinya mendirikan lembaga pendidikan yang beliau namakan pesantren Ahlisunnah wal Jamaah pada 11 Februari 1953 di Menes, dekat gedung MA lama, pertigaan menuju alun-alun Menes. Hingga kini pesantren Ahlisunnah wal jamaah itu diasuh oleh putranya yakni KH. Entol Ali Sibromalisi.
Hasil didikan KH. Entol Ahmad Asrori antara lain Mama KH. Tb. Maani Rusdi ( Ketum PB Malnu) dan KH. Agus Muzani, Rois Syuriah PWNU Lampung priode 1985-1990 dan KH. Entol Ahmad Asrori adalah juga mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah ( sanad Caringin).
Wafat
Mama KH. Entol Ahmad Asrori bin H. Entol Isra wafat pada malam Senin 20 Dzulhijjah 1396 berketepatan pada 12 Desember 1976, dan meninggalkan jejaknya yang hebat antara lain karya karya tulis yang berbahasa Arab, antara lain Asasul Islam, juga telah mewariskan jejak monumentalnya yakni Ponpes Ahli Sunnah wal Jamaah.
Serang 29 Juli 2025