• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Demokrasi, Kita dan Hegemoni Partai Politik

Untuk mewujudkan negara yang kuat tentu yang diutamakan adalah kedaulatan rakyat, bagaimana mungkin negara berdiri tanpa adanya kedaulatan.

by Admin
1 November 2021
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kyai M. Hamdan Suhaemi

Negara yang kita pahami itu adalah tersusun dari wilayah (teritorial), isi (konstitusi) dan penduduk (rakyat), hal yang pokok jika kita bicara negara. Lain halnya jika negara dijelaskan secara detil dengan rumusan ilmu tata negara atau hukum tata negara, dan ilmu adminstrasi negara. Ringkasnya kita hanya mau mengulas hal yang nampak kita bisa lihat secara sederhana dan itu bersangkutan dengan kepentingan kita sebagai rakyat.

Untuk mewujudkan negara yang kuat tentu yang diutamakan adalah kedaulatan rakyat, bagaimana mungkin negara berdiri tanpa adanya kedaulatan. Posisi kedaulatan inilah yang kemudian kita sering sebut sebagai demokrasi, sebab negara demokrasi akan selalu diprinsipi oleh kemauan rakyat, beda jika kita melihatnya sebagai negara monarki dan kesultanan. Tentunya kedaulatan ada di tangan raja atau sultan.

Demokrasi yang ingin disampaikan ini adalah tentu demokrasi pancasila, karena Indonesia adalah negeri yang asasnya pancasila. Namun tak salah jika kita perlu sodorkan beberapa pandangan ahli dan politisi tentang demokrasi yang kini kita bicarakan.

Baca Juga

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Pandangan Demokrasi

Charles Costello, membuat definisi demokrasi bahwa demokrasi adalah sistem sosial dan politik pemerintahan diri dengan kekuasaan-kekuasaan pemerintah yang dibatasi hukum dan kebiasaan untuk melindungi hak-hak perorangan warga negara.

Sidney Hook mempertajam arti demokrasi sebagai bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.

Lebih lanjut Robert A. Dahl menjelaskan suatu sistem demokrasi harus memiliki persamaan hak pilih dalam menentukan keputusan kolektif yang bersifat mengikat, adanya partisipasi yang efektif rakyat, pembeberan kebenaran, kontrol terakhir masyarakat terhadap agenda serta pencakupan masyarakat terkait dengan hukum.

Sedangkan International Comission of Journalist mengurai bahwa demokrasi adalah suatu bentuk sistem pemerintahan dimana warga negara memiliki hak untuk ikut membuat keputusan-keputusan politik melalui wakil-wakil rakyat yang mereka pilih dan yang bertanggung jawab kepada mereka melalui sebuah pemilihan yang bebas.

Rumusan tentang demokrasi dari beberapa pandangan diatas tentu akan menjadi guidance (petunjuk) untuk mendudukkan demokrasi dengan sebenarnya, demokrasi yang titik tekannya adalah kedaulatan rakyat, sementara kedaulatan rakyat itu ada pada partai politik sebagai wadah aspirasi, wadah perjuangan politik, dan sebagai lembaga politik yang resmi diakui dalam konstitusi negara (UUD 1945). Pijakan partai politik sebagai bentuk kedaulatan rakyat secara historis kita kenal adanya Maklumat No. X tahun 1946 yang disampaikan oleh Wakil Presiden RI Drs. Mohammad Hatta, kemudian disempurnakan di periode pemerintahan parlementer sejak Syahrir menjadi Perdana Menteri RI.

Hegemoni Partai Politik

Pemilihan Umum (PEMILU), dikenalkan pertama kalinya pada 18 April 1955 untuk memilih wakil-wakil rakyat dan anggota konstituante dengan diikuti banyak partai politik yang masing-masing mewakili ideologinya, misal menerapkan ideologi sosialisme ada PSI (Partai Sosial Indonesia), ideologi nasionalisme ada PNI, ideologi Islam ada partai Masyumi, NU, PSII, kemudian ideologi komunisme ada PKI, sedangkan ideologi kristen ada Parkindo.

Sementara di zaman Orde Baru, partai politik hanya ada 2 yakni PPP dan PDI, sebagai representasi dari golongan santri dan abangan, meski kemudian rezim Orde Baru nyaris mengkerangkeng demokrasi dengan ditandai sikap otoriter dan sentralistik. Saat itu demokrasi secara substantif terpenjara oleh hegemoni politik penguasa. Suara rakyat hampir sama sekali dibungkam dengan pemanfaatan instrumen negara (dwi fungsi ABRI), bahwasannya negara adalah aku (le état cest moi).

Kini, partai politik telah menemukan jati dirinya sebagai kepanjangan tangan rakyat (daulat rakyat) dengan fungsinya sebagai lembaga politik yang ikut dalam menyelenggarakan negara an sich, bagaimanapun bentuk penyelenggaraan negara akan selalu melewati proses dinamika partai politik untuk melahirkan pemimpin-pemimpinnya, yang akan memasuki lembaga eksekutif (pemerintah), legislatif (DPR), dan yudikatif (MA, MK). Tampak ada hegemoni partai politik dalam upaya-upaya distribusi kekuasaan.

Antonio Gramsci, seorang Marxis tulen (di tahun 1920 memimpin Partai Komunis Italy) telah mengingatkan bahwa pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka, dan hegemoni seharusnya mewujudkan kepemimpinan moral dan intelektual.

Dalam pada ini hegemoni yang diharapkan Gramsci adalah bagaimana mengelola kepemimpinan politis tidak dengan dominasi kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik, tapi titik tekan hegemoni partai politik adalah dengan ide, gagasan dan tindakannya itu yang berbasis ideologis tentu mengarah sebagai instrumen revolusioner dalam mewujudkan negara demokratis yang kuat, dengan tujuan keadilan dan kesejahteraan rakyat ( yang berdaulat).

Ujung Kulon, 30-10-2021
Wakil Ketua PW Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

ShareTweetShare
Previous Post

Agama Hanya Dilihat Dari Selangkangan

Next Post

Kritik Atas Hubungan Fungsi Kekuasaan Menurut Jean Jaques Rousseau

Related Posts

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
17

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
25

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
54

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
130

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
61

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
95

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
410

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
79

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
67

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
266
Next Post

Kritik Atas Hubungan Fungsi Kekuasaan Menurut Jean Jaques Rousseau

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

by Admin
26 Oktober 2026
17

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah_Rembang) Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan klaim...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25