• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

by Admin
14 Mei 2026
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

JAKARTA – Peneliti dan pakar sosiologi, Dr. Saleh Basyari, mengamati adanya perubahan signifikan dalam peta kekuatan kultural keagamaan di Indonesia pasca mencuatnya riset nasab yang dipelopori oleh Kiai Imaduddin Utsman Albantani. Dalam diskusi daring di Padasuka TV (13/05/2026) ia mengungkapkan tesis-tesis Kiai Imad secara nyata telah menggerus dominasi tokoh-tokoh yang selama ini memegang otoritas aristokrasi keagamaan.

Dalam keterangannya, Dr. Saleh menyebut nama-nama besar yang selama ini identik dengan massa selawat dan pengaruh spiritual luas, seperti Syekh bin Abdul Qadir Assegaf dan Luthfi bin Yahya.

“Kita sudah merasakan hasil dari tesis-tesis Kiai Imaduddin. Kita tidak lagi melihat Habib Syekh merajai panggung-panggung selawat seperti sebelumnya. Begitu juga dengan Habib Luthfi bin Yahya, yang kini tidak lagi seleluasa dulu dalam mengaristokrasikan dirinya melalui label-label seperti waliullah atau simbol kesucian lainnya,” ujar Dr. Saleh.

Menurut Dr. Saleh, riset yang mengedepankan verifikasi sumber primer dan data genetik (DNA) ini telah menciptakan segregasi atau pemisahan di tengah masyarakat. Hal ini mengakibatkan wilayah pengaruh klan Ba’alwi—yang secara organisasi diwakili oleh tokoh seperti Taufik Assegaf—mengalami penyempitan ruang gerak kultural.

Ia menilai fenomena ini sebagai dampak dari “kerja ilmiah” yang berhasil membongkar hegemoni berbasis klaim nasab. Masyarakat kini mulai beralih dari pola penghormatan yang bersifat buta (husnuzon tanpa verifikasi) menuju pola pikir yang lebih kritis dan berbasis data.

Ia menyoroti dampak sosiologis dari tesis nasab Kiai Imaduddin terhadap peta kekuatan organisasi dan budaya keagamaan di Indonesia. Ia secara spesifik menyebutkan adanya penyempitan wilayah pengaruh bagi kelompok yang dipimpin oleh tokoh-tokoh tertentu.

“Ada segregasi dan juga penyempitan wilayah kaum Alawiyin yang diketuai oleh Taufiq Assegaf misalnya,” ujar Dr. Saleh. Ia menilai bahwa riset Kiai Imad telah memberikan sudut pandang baru bagi masyarakat dalam melihat otoritas keagamaan berbasis klan.

Salah satu perubahan nyata yang ia garis bawahi adalah menurunnya dominasi tradisi pembacaan kitab tertentu di masyarakat akar rumput. “Kita tidak mendengar lagi di kampung-kampung ada pembacaan Simtudduror yang masif seperti dulu, yang (sebelumnya sempat) menggeser Maulid Ad-Diba’i,” tambahnya.

Menurut Dr. Saleh, kembalinya masyarakat pada tradisi lokal seperti Maulid Al-Diba’i atau Barzanji dan berkurangnya dominasi Simtudduror merupakan bukti nyata bahwa kerja ilmiah Kiai Imaduddin berhasil membongkar hegemoni kultural yang selama ini dianggap absolut.

Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar masalah suka atau tidak suka, melainkan hasil dari sebuah proses intelektual yang memaksa masyarakat untuk melakukan verifikasi ulang terhadap narasi sejarah dan tradisi yang mereka terima.

Lebih lanjut, Dr. Saleh menegaskan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah bentuk koreksi terhadap “aristokrasi agama” yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang terberikan (given). Dengan runtuhnya narasi kesucian absolut, otoritas keagamaan di Indonesia kini didorong untuk kembali pada prinsip meritokrasi, yakni kapasitas intelektual dan integritas pribadi, bukan semata-mata garis keturunan.

“Ini adalah pergeseran besar. Hegemoni kultural yang selama ini tidak tersentuh kini menemui titik baliknya,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, polemik nasab terus berkembang menjadi diskusi nasional yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pakar genetika, hingga lembaga negara.

ShareTweetShare
Previous Post

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

Next Post

Sejalan Dengan Anti-Nekolim Presiden Prabowo, Gus Rocky Usulkan Kiai Imad Menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Sejarah Islam

Related Posts

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

19 Agustus 2026
14

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

17 Agustus 2026
39

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

13 Agustus 2026
62

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

12 Agustus 2026
43

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

2 Agustus 2026
322

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

2 Agustus 2026
73

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
87

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
171

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
301

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
195
Next Post

Sejalan Dengan Anti-Nekolim Presiden Prabowo, Gus Rocky Usulkan Kiai Imad Menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Sejarah Islam

Paling Banyak Dilihat

Opini

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

by Admin
19 Agustus 2026
14

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Tahun 2021, saya ingat betul karena saat itu masa Covid-19 dan saya sedang nyervis motor,...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.7k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.6k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25