• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Sejarah

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

by Admin
17 April 2026
in Sejarah
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Imaduddin Utsman Al-bantani

Kiai Raden Mas Muhammad Salim bin Kiai Raden Mas Muhammad Mughni (Kiai Salim) yang beralamat di Pondok pesantren Bumi Sholawat Kanjeng sunan Ampel Jl Arda menawi RT 06/07 Rawajaya bantarsari Cilacap –pemilik ratusan manuskrip peninggalan Walisongo terutama Sunan Ampel Ali Rahmatullah– bersedia memperlihatkan kepada penulis dan rombongan (termausk Raden Tubagus Mogy Nurfadil) beberapa contoh manuskrip peninggalan leluhurnya tersebut (Rabu, 15 April 2026) di kediamannya. Contoh manuskrip yang diperlihatkan tersebut terdiri dari tiga buntalan besar. Buntalan itu terbuat dari kain putih. Satu buntalan itu terdiri sekitar 17 manuskrip. Jadi tiga buntalan itu kira-kira terdiri dari 50 manuskrip. Selain tiga buntalan besar itu, Kiai Salim memperlihatkan dalam video peti-peti berupa manuskrip serupa.

Manuskrip-manuskrip itu berupa manuskrip kitab-kitab berbahasa Arab dan Jawa, ditulis dengan dua jenis hurup: hurup Arab dan hurup Jawa. Jenis kertas yang digunakan adalah kertas daluwang asli Nusantara. Di antara manuskrip2 itu adalah manuskrip mushaf Al-Qur’an yang berangka tahun 994 H. (1586 M.), manuskrip tentang ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu tasawuf, ilmu falak, ilmu faraid, catatan nasab, award, tahlil, yasin fadilah dan lain-lain. Manuskrip itu yang berhurup Jawa lebih tua dari yang berhuruf Arab, diperkirakan ditulis oleh Sunan Ampel sendiri atau juru-tulisnya di rentang waktu antara tahun (1471-1481 M.). manuskrip berhuruf Jawa ada dua manuskrip tipis sekitar 70 halaman kebawah, sedangkan sisanya berhuruf Arab baik yang berbahasa Arab atau Bahasa Jawa. Jumlah halaman manuskrip berbahasa Arabrelatif berukuran tebal di atas 150 halaman.

Baca Juga

Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

Rizieq Syihab Mengaku Keturunan Si Pitung, Data Sezaman: Si Pitung Mencuri Setrika Baju

Logika Mantiqi Tentang Batalnya Nasab Ba’alwi: Ustadz Nuruddin dan Santri Pondok Sarang Harusnya Sudah Faham

Tidak semua manuskrip mempunyai kolofon karena dalam tradisi penulisan Islam masa lalu, kolofon diletakan di akhir kitab dan banyak lembaran akhir yang hilang karena robek atau tidak usang sehingga tidak terbaca. Kendati demikian, perkiraan waktu beberapa manuskrip mudah di prediksi karena mencantumkan nama pemilik yang merupakan runutan silsilah nasab dari Kiai Salim. Kita bisa menghitung perkiraan itu berdasar urutan silsilah itu. Rupanya, manuskrip-manuskrip yang banyak itu merupakan warisan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, setiap generasi mewarisi lebih banyak dari generasi berikutnya. Sunan Ampel mewariskan hanya beberapa manuskrip kepada putranya Sunan Derajat, kemudian Sunan Derajat mewariskan peninggalan Sunan Ampel kepada anaknya Maulana Muhammad Arif plus manuskrip milik atau tulisan Sunan Derajat Sendiri demikian selanjutnya. Di antara manuskrip yang sempat penulis baca kepemilikannya adalah manuskrip milik atau tulisan Maulana Muhammad Arif (putra Sunan Derajat), manuskrip milik Maulana Nururrahman dan manuskrip milik Maulana Muhammad Musa, semuanya adalah leluhur dari Kiai Muhammad Salim.

Adapun silsilah Kiai Muhammad Salim sampai Sunan Ampel adalah: Sunan Ampel mempunyai anak Sunan Derajat mempunyai anak Maulana Muhammad Arip mempunyai anak Maulana Muhammad mempunyai anak Maulana Muhammad Ilyas mempunyai anak Maulana Muhammad Zamzam mempunyai anak Maulana Nur Muhammad mempunyai anak Maulana Muhammad Nururahman mempunyai anak Maulana Muhammad Huda mempunyai anak Maulana Muhammad Aliyah mempunyai anak Maulana Muhammad Musa mempunyai anak Maulana Muhammad Hasan mempunyai anak Maulana Muhammad Isa mempunyai anak Kiai raden Mas Muhammad Jufri mempunyai anak Kiai Raden Mas Muhammad Mughni mempunyai anak Kiai Raden Mas mUhammad Salim Cilacap. Jumlah silsilah ini dilihat dari titimangsa Ketika dibandingkan dengan jumlah keturunan Walisongo lainnya, misalnya keturunan Sunan Gunung Jati yang berada di 16, 17 dan 18 generasi, sangat presisi.

Manuskrip-manuskrip Bantarsari di atas adalah warisan tidak terkira dan sangat berharga. Ia merupakan bukti empiris akan keberadaan Walisongo terutama Sunan Ampel dan Sunan Derajat. Membuktikan bahwa keduanya adalah sosok historis dan bahwa Islam, sesuai dengan penelitian para sejarawan, benar-benar telah berkembang luas di Jawa pada abad ke 15 Masehi. Kertas daluwang yang dipakai dengan keusangan tertentu membuktikan bahwa manuskrip itu ditulis sebelum masa kolonial, jadi manuskrip-manuskrip itu suci dari intervensi kolonial. Kertas daluang diperkirakan mulai digunakan di Nusantara sebagai media tulis sejak abad ke-14 Masehi, namun keberadaannya sebagai bahan pakaian sudah tercatat jauh sebelumnya, yakni sekitar abad ke-9 Masehi. Daluang (sering disebut dluwang atau dlancang) pada abad ke-9 digunakan sebagai bahan pakaian untuk para pandita atau orang bijaksana, sebagaimana disebutkan dalam naskah kuno Kakawin Ramayana. Bukti tertua penggunaan daluang sebagai media tulis ditemukan pada naskah Undang-Undang Tanjung Tanah di Gunung Kerinci.

Penggunaan daluang meluas seiring penyebaran Islam, terutama di lingkungan pesantren untuk menulis Mushaf Al-Qur’an, naskah keagamaan, dan bahan baku wayang beber. Di Jawa, kertas ini juga dikenal sebagai “Kertas Ponoragan” karena pusat produksinya yang terkenal di wilayah Ponorogo. Karakteristik Utama daluwang terbuat dari kulit kayu pohon Saeh (Broussonetia papyrifera), daluang memiliki tekstur berserat, berwarna cokelat alami, dan diproses dengan cara ditempa atau dipukul-pukul secara tradisional.

Sementara mansukrip-manuskrip tentang Walisongo yang sebelumnya ditemukan kebanyakan ditulis di atas kertas Eropa menunjukan waktu yang relative lebih muda dan isinya bias kolonial. Kertas Eropa diperkirakan mulai digunakan di Indonesia (Nusantara) sekitar abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Penggunaannya semakin meluas seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan dan pengaruh bangsa Eropa di wilayah ini. Kertas ini mulai beredar di Nusantara secara signifikan pada abad ke-17, terutama dibawa oleh para pedagang dan misionaris dari negara-negara seperti Belanda, Inggris, dan Italia. Kertas Eropa umum digunakan untuk menyalin naskah keagamaan, seperti Mushaf Al-Qur’an kuno, dan dokumen administratif pada masa kolonial VOC. Ciri Khas kertas Eropa dari periode ini dapat dikenali melalui adanya watermark (cap air) dan countermark yang bisa dilihat dengan menerawang kertas di bawah cahaya. Selain itu, kertas ini sering memiliki garis-garis tipis dan tebal yang khas dari proses pembuatannya. Sekian. (KD)

ShareTweetShare
Previous Post

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

Next Post

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Related Posts

Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

15 Mei 2026
17

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

16 April 2026
246

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

10 April 2026
195

Rizieq Syihab Mengaku Keturunan Si Pitung, Data Sezaman: Si Pitung Mencuri Setrika Baju

7 April 2026
278

Logika Mantiqi Tentang Batalnya Nasab Ba’alwi: Ustadz Nuruddin dan Santri Pondok Sarang Harusnya Sudah Faham

15 Februari 2026
264

Bantah Riziq Syihab, Dr. KH Abbas Bili Yahsyi: Habib Ba ‘Alwi Bukan Penyebar Islam di Indonesia

5 Februari 2026
143

Sebelas Kemungkinan Mengapa DNA Bani Hasyim Ada Yang Berhaplogrup Bukan J1

22 Januari 2026
233

Prof. Peter Carey Geram: Klaim Habib Luthfi soal KRT Sumadiningrat Adalah Fiksi Sejarah dan Pelecehan Terhadap Martabat Mataram

18 Januari 2026
231

Klaim Habib soal Proklamasi: Prof. Anhar Gonggong Tegaskan Itu Ilusi dan Menista Sejarah Bangsa

18 Januari 2026
260

الحمض النووي يجوز استخدامه لنفي النسب ولا يجوز لإثباته

13 Januari 2026
81
Next Post

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Paling Banyak Dilihat

Sejarah

Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

by Admin
15 Mei 2026
17

Dalam bukunya: “Islam, Kolonialisme dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, Nico J.G. Kaptein --seorang akademisi dan pakar studi Islam terkemuka asal...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

Sidik Jari Genetika dan Proyek Genetika Quraisy

Sejalan Dengan Anti-Nekolim Presiden Prabowo, Gus Rocky Usulkan Kiai Imad Menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Sejarah Islam

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

DR. Saleh Basyari: Bung Karno Nasionalisasi Aset Ekonomi, Kiai Imad Nasionalisasi Sosial-Keagamaan

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25