• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Menziarahi Kanjeng Sunan Giri, Meresapi Keindahan Batin

Sunan Giri, adalah salah satu dari majlis Wali Songo yang berdakwah dan mengajarkan ilmu agama Islam ke penduduk Nusantara dengan basis penguatan pesantren

by Admin
3 Desember 2021
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Hamdan Suhaemi

Setelah pamit dari Kanjeng Sunan Gresik, tujuan seterusnya adalah maqbaroh Kanjeng Sunan Giri masih wilayah Gresik. Pukul 17:00 kami tiba di Giri Kedaton. Kesan pertama, adalah takjub, luar biasa dan romantik, sisi perbedaan dari maqbaroh para wali lainnya. Makam Sunan Giri atau Syaikh Ainul Yaqin, atau Prabu Satmata terletak di atas puncak bukit Giri. Menuju ke atas tentu harus menaiki tangga yang sudah ada, jika dihitung jumlah tangga lantai itu kira-kira 150 anak tangga, mungkin dari bawah bukit (tempat parkiran) ke atas berjarak 600 meter.

Dengan niat ikhlas bi ridloillah, kami menaiki anak tangga menuju pusara Kanjeng Sunan. Hati pasrah, mununduk kepala, menghadap Kanjeng Syaikh Ainul Yaqin. Ta’dhim saya kepada beliau tumbuh dari kesadaran betapa berjasanya beliau telah mendakwahkan risalah Islam ke seluruh penduduk Nusantara, hingga hari ini kita merasakan nikmat iman dan Islam berkat perjuangan para wali Allah dulu abad 15-16 M, terutama jasa besar Kanjeng Syaikh Ainul Yaqin ini.

Memasuki gapura pertama, serasa bahagia sekali. Bertahun-tahun untuk bisa menziarahi makamnya baru ini terlaksana, seperti anak yang merindukan orang tuanya yang lama terpisah. Saya ucapakan salam ” assalamualaikum ya Kanjeng Sunan, assalamualaikum daro qoumi Kanjeng Syaikh Ainul Yaqin “. Bersimpuh kami membacakan fatihah, surat al-Ikhlas, al-Falaq, al-Naas dan al-baqarah, diteruskan dzikir kalimat tauhid hingga tak terasa tenggelam dalam ruang kedamaian, ketenangan batin yang begitu manisnya, terasa begitu indahnya, bahkan ingin lama dalama suasana tersebut. Saya baru nyadar ternyata doa ziarah selesai, dan suara para penziarah lainnya telah membangunkan, peziarah datang dan duduk di posisi dekat saya samping kiri. Kami pamit undur diri dari maqbaroh Kanjeng Sunan Giri dengan perasaan rindu yang masih tersimpan. Dalam benak, suatu ketika nanti saya ingin kembali menziarahi beliau.

Baca Juga

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

Sunan Giri, adalah salah satu dari majlis Wali Songo yang berdakwah dan mengajarkan ilmu agama Islam ke penduduk Nusantara dengan basis penguatan pesantren. Giri adalah pesantren sekaligus pusat spiritualitas sufistik (tarekat Syattariyah) kelanjutan dari sanad Syaikh Maulana Malik Ibrahim, dan sanad dari Syaikh Sayyid Ali Rahmatullah.

Saat lahir, Kanjeng Sunan Giri bernama Raden Paku yang lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya (seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu) ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak, saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga istrinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat di mana Raden Patah juga belajar agama Islam. Sunan Giri muda sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, dia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan, Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka beliau dijuluki Sunan Giri (Kastolani : 2020).

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Maka pesantren itu pun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Jasa besar Kanjeng Sunan Giri dalam penyebaran dan pengajaran Islam dengan wasath dan tasammuh ini menjadi seperti telaga tenang yang mengkanalisasi hidmat dan ghirah kepada kita. Meski kadar kita tipis dan sedikit namun semangat itu masih harus kita tuntaskan demi keajegan Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin untuk selama-lamanya.

Raden Paku, atau Jaka Samudera, atau Syaikh Ainul Yaqin, atau Prabu Satmata, atau Sultan Abdul Faqih nama lain dari kanjeng Sunan Giri, tutup usia pada malam Jumat, 24 Rabiul Awal tahun 913 Hijriah atau 1506 Masehi dalam usia 63 tahun.

Sidomukti, 26-11-21
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

ShareTweetShare
Previous Post

Mendakwahi Diri Dan Dakwah Tauladan

Next Post

Riwayat Liem Kiam Ong, Dalang Ruwat Dari Cikande

Related Posts

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

17 Agustus 2026
38

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

13 Agustus 2026
61

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

12 Agustus 2026
43

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

2 Agustus 2026
319

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

2 Agustus 2026
72

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
87

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
170

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
298

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
195

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
147
Next Post

Riwayat Liem Kiam Ong, Dalang Ruwat Dari Cikande

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

by Admin
17 Agustus 2026
38

​Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 memperlihatkan pergeseran peta kekuatan yang amat dinamis. Di balik layar, pertarungan tidak...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.7k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.6k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25