• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Politik Identitas Di Indonesia Lahir Janin Embrionya Dari Imigran Yaman Hadramaut

by Admin
19 Maret 2024
in Opini, Peristiwa, Pustaka
6 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Perjalanan dimulai dari Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi (disingkat Usman)

Menulis Kitab Minhaj al-Istiqamah fi al-Din bi al-Salamah (1889/1890)

Isinya :
1. 22 praktik bidah yang terlarang
2. Kritik terhadap perlawanan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial (1888)
3. Jihad rakyat Banten dianggap delusi dan ulama yang mendukungnya disebut pengikut setan
4. Doa khusus untuk Ratu Belanda Wilhelmina (1898)
5. Pujian terhadap pemerintah kolonial

Pertanyaan:

  • Bagaimana seorang ba’alwi ( pengaku keturunan Nabi ) bisa bekerja dan memuji penjajah Kristen?

Jawaban:

  • Kenyataan: beberapa ulama kooperatif dengan pemerintah kolonial
  • Pergumulan dengan kekuasaan selalu ada dinamika
  • Pandangan esensialis (etnis X bejat, ras Y mulia) tidak tepat

 
Orang-orang Arab di Hindia Belanda ( di Indonesia masa penjajahan )

Baca Juga

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

  • Berasal dari berbagai kawasan, termasuk Hadramaut
  • Semakin menonjol pada abad ke-19 dan 20
  • Membentuk koloni ( kelompok pengaku Dzuriyyah Rosul Habaib ) di berbagai kota mulai dari Batavia, Cirebon , Semarang sampai Surabaya ( pembentukan koloni Pengaku Dzuriyyah Rosul Habaib) diprakarsai oleh Mufti Batavia Ustman Bin Yahya dan  mendapat  rekomendasi dari  pemerintah kolonial Belanda ( Laporan sezaman yang cukup rinci tentang koloni-koloni Arab ini bisa dibaca dalam buku Hadramaut dan Koloni Arab di Indonesia karya L.W.C van Den Berg, khususnya halaman 67-78 )

Pada waktu itu karena di Indonesia juga sudah datang pendatang dari China dan  karena terpengaruh oleh gagasan- gasan  modern dari orang-orang China maka lahirlah organisasi Hadramaut dengan nama,


Jamiat al-Khair:

  • Didirikan pada 1901
  • Dipimpin oleh kelompok Bin Shahab dan al-Mashur ( Habaib )
  • Membuka sekolah modern di Pekojan, Krukut, Tanah Abang, dan Bogor
  • Mengajarkan Alquran, agama Islam, dan pelajaran “sekuler”


Ahmad Surkati:

  • Diundang pada 1911 untuk menjadi inspektur pendidikan Jamiat al-Khair

Karena perkembangan sekolah Jamiat al-Khair makin pesat, dibutuhkan keseriusan dan perhatian yang lebih besar untuk terus mengembangkan mutu pengajaran. Pada 1911, diundanglah Syekh Ahmad Surkati, kelahiran Sudan ( bukan Habaib ) yang menerima pendidikan di Mesir, Medinah, dan Mekkah. Ia diangkat sebagai inspektur pendidikan di sekolah-sekolah Jamiat al-Khair.

  • Memiliki pandangan reformis yang memicu polemik
  • Memperbolehkan pernikahan habibah dengan  (non Habaib)
  • Menolak keharusan non-habib mencium tangan (habaib)

Salah satu pengikut anjuran Surkati adalah Omar Manqush, seorang Hadrami non-sayid yang aktif dalam pendirian Jamiat al-Khair. Surkati bahkan mengatakan panggilan sebagai gelar kehormatan tidaklah tepat karena baginya itu setara panggilan “Mijnheer” dalam Belanda atau “Monsieur” dalam Perancis (Huub de Jonge, Jakarta-Batavia: Socio-cultural Essays, 2000, hlm. 153).

  • Keluar dari Jamiat al-Khair dan mendirikan al-Irsyad

Para simpatisan Surkati itu mengumpulkan uang untuk mendirikan sekolah yang pengelolaannya diserahkan kepada Surkati. Sekolah itu berada di Jati Petamburan dan dari sanalah cikal bakal berdirinya al-Irsyad al-Islamiyah wa al-Irsyad al-Arabiyah. Organisasi ini mendapatkan pengesahan dari pemerintah kolonial pada 11 Agustus 1915, meski klaim resmi al-Irsyad menyatakan berdiri pada 6 September 1914, bertepatan dengan pembukaan sekolah di Jati Petamburan (Herry Mohammad, dkk., Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, 2006: hlm. 4).


Perbedaan Pandangan:

  • Surkati vs kelompok ( habaib )
  • Perdebatan tentang adat-istiadat dan keistimewaan ( habaib )

Pernyataan itu diungkapkan di Solo pada 1913 dan itulah mengapa kadang disebut sebagai “Fatwa Solo” (Taufik Abdullah, dkk., Muncul dan Berkembangnya Faham-Faham Keagamaan Islam di Indonesia, 2008: hlm. 71)

  • Puncaknya: insiden kekerasan di kediaman Syekh Isa bin Badr

Kedatangan Ahmad Surkati memicu perpecahan di komunitas Arab di Hindia Belanda ( Hadramaut vs Non Hadramaut )  Perbedaan pandangan tentang adat-istiadat dan keistimewaan ( Habaib ) menjadi pemicu utama polemik.


Konflik Alawi-Irsyadi ( Habaib – Non Habaib )

  • Konflik kepentingan antara ba’alwi vs non-ba’alwi

Para sayid diizinkan dan dimungkinkan bergabung dan bahkan ada yang menjadi penyumbang dana, terutama Habib Abdullah bin Alwi Al-Attas, yang juga kecewa kepada Jamiat al-Khair. Ia menyumbangkan uang 60 ribu gulden (Deliar Noer, The Modernist Movement in Indonesia 1900-1942, hlm. 64). Bahkan ada yang menempati posisi penting di al-Irsyad yaitu Abdullah bin Abu Bakar al-Habshi, yang menjadi presiden komite sekolah al-Irsyad yang pertama (Natalie Mobini-Kesheh, The Hadrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1900–1942, 1999: hlm. 63).

  • Terjadi di antara kaum modernis Hadrami
  • Bermula dari perbedaan pandangan tentang privilese habib
  • Al-Irsyad tidak melarang habib bergabung
  • Munculnya ar-Rabithah al-Alawiyah memperuncing konflik
  • Kelompok habib menuduh al-Irsyad anti-pemerintah, Wahabi, Komunis
  • Konflik ini disebut “konflik Alawi-Irsyadi”
  • Ba Alawi merujuk pada pengaku keturunan Nabi dari Hadramaut

Kesimpulan:

Konflik Ba Alawi-Irsyadi lebih kompleks daripada sekadar perselisihan antara habib dan non-habib. Konflik ini dipicu oleh perbedaan pandangan tentang modernitas dan privilese habib.

Konflik Ba’alwi-Irsyadi di Indonesia:

  • Konflik meluas hingga ke isu Arab totok vs peranakan

bahwa pertentangan orang-orang Arab: di Indonesia berkaitan erat dengan semua kekacauan-kekacau­ an yang berada di Hadramaut. perbedaan­ perbedaan antara Arab peranakan dan ·Arab totok. Di antara dua golongan ini memang ada nuansa (perbedaan-perbedaan) tingkah laku, adat-istiadat dan lain-lainnya, sehingga Arab per­ anakan itu sadar atau tidak sadar bahwa dalam kehidupannya sangat berpengaruh dari keluarganya atau dari mana suku itu berasal. Mereka semua adalah bangsa Arab yang orientasinya ke Negeri Arab, menjun­ jung tinggi bangsa Arab dan melakukan tradisi-tradisi yang di­ warnai dari orang tuanya.

  • Muncul usaha mempersatukan keturunan Arab, seperti Indo Arabische Verbond dan Persatoean Arab Indonesia (PAI)
  • A.R. Baswedan, peranakan Hadrami non-habib, mendirikan PAI dan menyatakan Indonesia sebagai Tanah Air

AR. Baswedan bersama-sama bekerja di Sin Tit Po ·dengan Liem Koen Hian pendiri partai PTI, tetapi pada dirinya belum timbul ide untulG mendirikan partai seperti partainya Liem Koen Hian. Pada waktu itu pemikiran AR. Bas­ wedan tentang nasionalisme Indonesia belum matang. Bahkan AR. Baswedan sebagai pembela Al Irsyad segera gunakan harian beritanya di mana ia bekerja untuk membela Al Irsyad dan menyerang Ar Rabitah.( Suratmin, Abdul Rahman Baswedan “ Karya Dan Pengabdianya. 1989.Hlm: 50 )

  • Ketegangan antara kesetiaan pada Hadramaut atau Indonesia masih berlangsung
  • Hadramautisme’ dan Politik Identitas

“Bung Karno menegaskan, kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,” kata Megawati Sukarnoputri pada 10 Januari 2017 dalam perayaan ulang tahun PDI Perjuangan.

“Betapakah si Dulah dan Amat dan Minah dan Maryam itu, kalau mereka malahan lagi hari-hari dan tahun-tahun dice­koki faham-faham kuno dan kolot, takhayul dan mesum, anti-kemajuan dan anti-kemoderenan, hadramautisme yang jumud-maha-jumud?” tulis Sukarno dalam surat bertanggal 18 Augustus 1936. ( Dalam Surat-Surat Islam dari Ende, himpunan korespondensi selama Sukarno dalam pembuangan di Ende )

  • Politik identitas dalam Pilkada DKI Jakarta

Anies: Dulu orangtua kami itu dulu pendiri Partai Arab Indonesia, yang Partai Arab Indonesia itu mendeklarasikan; satu, tanah airnya Indonesia. Dan mengatakan tanah air Indonesia di tahun ’34. Bapak-bapak ibu sekalian, orang Arab mengatakan tanah airnya Indonesia tahunnya ’34.

Anies benar bahwa pada 1934 (tepatnya 4 Oktober 1934) memang ada semacam pertemuan keturunan Arab, didominasi anak muda, yang menyatakan tanah airnya adalah Indonesia, bukan lagi Arab (lebih tepatnya: Hadramaut). Namun pada 1934 tidak ada yang namanya Partai Arab Indonesia (PAI). Yang ada adalah Persatoean Arab Indonesia. PAI sebagai partai baru muncul dalam Kongres PAI IV yang berlangsung pada 18-25 April 1940.

Kelupaan tentu dapat dimaklumi. Ini hal biasa. Namun agar tidak menyepelekan perbedaan antara “Persatuan” atau “Partai”, perlu diterangkan bahwa perubahan dari “Persatuan” menjadi “Partai” memuat cerita yang tidak sepele. Banyak hal terjadi dari 1934 sampai 1940, baik di luar masyarakat keturunan Arab maupun di dalam masyarakat keturunan Arab. Di antara sesama keturunan Arab sendiri berlangsung dinamika yang tidak ringan.

Dinamika ini terkait banyak isu, namun salah satunya adalah perdebatan alot yang tidak tuntas pada 4 Oktober 1934: orientasi keturunan Arab itu harus diarahkan pada tanah asal, homeland, yaitu Hadramaut ataukah kepada Indonesia?

. ( sumber : https://tirto.id/yang-tidak-dikatakan-anies-baswedan-di-markas-fpi-ce1b )

  • Kearaban, atau kehabiban tidaklah berwajah tunggal
  • Bahaya politik identitas yang dimanfaatkan oleh “proficient artisans of terror”

Kesimpulan:

Konflik Ba Alawi-Irsyadi di Indonesia merupakan bagian dari pergulatan identitas dan politik yang lebih kompleks. Politik identitas yang dikipasi oleh polarisasi politik dapat membahayakan persatuan bangsa.

(AW Kertapati)

Tags: ba alawiba alawi rungkadBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDR. Abdullah Al-ShuaibiDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan RasulullahKRT. FAQIH WIRAHADININGRATmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsunasab rungkadpemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulama
ShareTweetShare
Previous Post

DNA Fingerprint, Momok Bagi Kriminal Dan Maling Nasab (Bagian 1)

Next Post

DNA Fingerprint, Momok Bagi Kriminal Dan Maling Nasab (Bagian 2)

Related Posts

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
26

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
32

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
58

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
133

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
61

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
99

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
412

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
81

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
74

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
266
Next Post

DNA Fingerprint, Momok Bagi Kriminal Dan Maling Nasab (Bagian 2)

Paling Banyak Dilihat

Opini

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

by Admin
26 Oktober 2026
26

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah_Rembang) Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan klaim...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25