• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Sa’i, Perjalanan Hidup Siti Hajar dan Ismail Yang Butuh Keikhlasan

by Admin
28 Juni 2023
in Opini
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini penulis sarikan dari berbagai sumber bacaan dan pengalaman penulis selama ibadah di tanah suci Mekkah. Tulisan berupa renungan untuk hidup lebih ikhlas menerima takdir Allah. Semoga bisa kita ambil hikmahnya.

Saat ini semua mata tertuju pada jutaan umat muslim dunia yang sedang menjalankan ritual ibadah haji, di tanah suci Mekkah Arab Saudi.

Rangkain ibadah haji pada intinya tapak tilas apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail.

Rangkaian ibadah haji yang penulis maksud adalah Sa’i, perjalanan (lari-lari kecil) dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah.

Keikhlasan dalam hal ini penulis awali dengan kisah Siti Hajar beserta bayi Ismail ditinggal Nabi Ibrahim di lahan tandus tak berpenghuni.

Tentunya Siti Hajar protes, mengapa suaminya meninggalkan dia dan Ismail anaknya yang masih bayi di padang pasir yang tak bertuan, gersang, panas dan tidak ada satupun rumah penduduk. Siti Hajar dan bayi Ismail dibawa di lokasi yang ada pohon Daulah. Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan gentong berisi air.

Seperti pada umumnya perempuan, Siti Hajar hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberinya putra. Sehingga Siti Hajar dan bayi Ismail harus dibawa jauh ke luar tempat tinggal mereka.

Baca Juga

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

Perjalanan mereka menuju tempat yang gersang dan tidak berpenghuni. Mereka berjalan kaki menuju tempat yang asing bagi Siti Hajar. Ketika sampai di suatu tempat (sekarang tempat di sekitar masjidil haram), Siti Hajar dan bayi Ismail di tinggal sendiri.

Tatkala Nabi Ibrahim berniat pergi meninggalkan Siti Hajar dan Ismail, Siti Hajar mengikutinya.

Hajar mengejar Nabi Ibrahim AS, suaminya, dan berteriak :
“Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini, bagaimana kami bisa bertahan hidup?”

“Hai Ibrahim, kau hendak ke mana? Engkau meninggalkan kami di lembah tandus, tiada teman atau apa pun?

Nabi Ibrahim AS terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, Ibrahim tak bergeming, Memandang Siti Hajarpun tidak, seakan-akan cuek. Namun sebenarnya hati Ibrahim tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam, dia terus berjalan tanpa memperlihatkan air matanya yang basah dan meleleh.

Hatinya remuk redam perasaannya koyak, karena harus memilih antara pengabdian dan pembiaran. Mengabdi melaksanakan perintah Allah atau membiarkan Istri dan anaknya tinggal sendirian di bukit yang tandus.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit.

“Apakah ini Perintah Tuhanmu?”

Kali ini Nabi Ibrahim AS, Sang Kholilullah, berhenti melangkah.
Dunia seolah berhenti berputar.
Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Nabi Ibrahim AS.

Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seakan berhenti mendesah.
Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semuanya terkesiap.

Nabi Ibrahim AS membalikkan badan secara sigap, dan berkata “benar,” jawab Ibrahim.

Hajar berhenti mengejar, dan dia terdiam.
Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semua Malaikat, butir pasir dan angin.

“Jikalau ini perintah Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Allah Ta’ala akan menjaga kami,” kata Hajar dengan penuh kepasrahan.

Nabi Ibrahim AS pun beranjak pergi. Dilema itupun punah sudah.

Kemudian Siti Hajar pergi ke tempat semula yang ditunjuk Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanan meninggalkan anak dan istrinya.

Di bukit yang tandus, tinggal Siti Hajar dan bayi Ismail. Suatu ketika Siti Hajar menyusui Ismail. Karena tidak ada yang dimakan, maka air susu Hajar mengering. Sementara gentong tempat air juga sudah mengering. Siti Hajar kehausan, demikian juga Ismail.

Bayi Ismail menangis minta air, si kecil itu berguling-guling menangis kehausan. Siti Hajar tidak tega melihat anaknya kehausan.

Maka beranjaklah Hajar ke bukit Shafa, tempat yang paling dekat darinya. Dia berdiri di puncaknya sambil mengarahkan pandangannya ke lembah dengan harapan melihat seseorang. Namun satupun tak terlihat. Kemudian dia turun, melewati lembah tersebut dengan menyingsingkan kain lalu berjalan seperti orang tergesa-gesa, jalan biasa, kemudian lari-lari kecil melintasi lembah tersebut hingga menuju bukit Marwah. Sesampainya di bukit Marwah dia mencari seseorang, tapi tidak ditemukan satupun, sepi.

Siti Hajar mencari bantuan dan mencari air dari bukit Shafa ke bukit Marwah sampai tuju kali.

Tiba-tiba dia melihat Malaikat. Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya atau dengan sayapnya sehingga muncullah air. Maka Hajarpun mulai membendung air dengan tangannya. Dia menciduk air ditaruh di gentong, sumber air itu terus menyembur setelah diciduk.

Siti Hajar minum lalu menyusui anaknya. Malaikat berkata, “Kamu jangan kuwatir akan disia-siakan karena di sana ada Baitullah yang akan dibangun kembali oleh anak ini dan bapaknya. Dan bahwa Allah tidak akan menelantarkan penduduknya.”

Singkat cerita Nabi Ibrahim kembali menemui Siti Hajar dan Ismail. Nabi Ibrahim dan Ismail kemudian membangun Baitullah.

Nabi Ibrahim pun menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi Rumah-Mu yang suci. Mudah-mudahan mereka berterima kasih.”

Ibnu Abbas berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “oleh karena itulah manusia bersa’i antara keduanya (dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwa).”

Peristiwa Siti Hajar dan Nabi Ibrahim AS adalah Romantisme Keberkahan.
Itulah Ikhlas.

Ikhlas adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah.
Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilih patuh dan tunduk.

Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain, tapi ikhlas menerima atas kehendak Allah SWT.

“Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari perginya Nabi Ibrahim AS dan diamnya Hajar?”

Wallaahu A’lam

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama.

SELAMAT menyambut Hari Raya Iedul Adha. Mohon maaf lahir dan batin.🕋👏

Penulis: Nurul Azizah, penulis buku “Muslimat NU Di Sarang Wahabi” dan “Muslimat NU Militan Untuk NKRI.”

ShareTweetShare
Previous Post

Membaca Kitab Ra’ihatu Al-Wardiyah Karya Syaikh Tubagus Ahmad Bakri Sempur Purwakarta

Next Post

MASIH BANYAK ‘PR’ BUAT ‘HABIB’ RUMAIL ABBAS

Related Posts

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
16

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
99

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
46

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
84

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
349

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
71

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
63

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
257

“Laknat Allah, Malaikat, dan Manusia”: Telaah atas Pemaknaan Hadis dalam Polemik Nasab Ba Alwi

16 September 2026
141

Prof. Ahmad Zahro Bersumpah Habaib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

10 September 2026
147
Next Post

MASIH BANYAK 'PR' BUAT ‘HABIB’ RUMAIL ABBAS

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

by Admin
20 Oktober 2026
16

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Islam UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah Rembang) Fenomena self-love yang mengisi...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Banten

Lepas Jalan Sehat Sarungan Hari Santri Nasional 2026 di Pandeglang, Andra Soni Tegaskan Peran Strategis Santri bagi Banten

Biografi Abah KH. Junaidi, Sang Fakih dari Jati

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25