• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home KH Imaduddin al Bantani

Ulama Kok Taqlid Buta

by Admin
12 Desember 2023
in KH Imaduddin al Bantani, Kitab, Manuskrip, Opini, Tokoh
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

Pengasuh pesantren, tentu mestinya adalah seorang ulama. Ia sudah minimal mampu membaca dan memahami kitab kuning yang tidak bertanda baca (tidak berharkat, tidak bertitik, tidak bertanda tanya, tidak bertanda seru dan tidak ada tanda baca lainnya).

Dari kemampuan membaca dan memahami itu, seorang ulama mempunyai kesempatan untuk “tahqiq” dalam setiap masalah yang dihadapinya. Bukan hanya membaca, tetapi juga menganalisa. Apalagi untuk suatau masalah yang menjadi diskursus publik, misalnya tentang nasab Ba Alawi.

Kata Gus Rumail, entah kabar ini benar atau dusta, ada seorang ulama pengasuh pesantren yang ketika ditanya nasab Ba Alawi lalu ia bulak balik mengambil kitab dari kamarnya lalu mengitsbat nasab itu hanya dengan kitab” al-Gurar” atau “al-Masyraurrawi”. Tanpa memperhatikan “Mahallunniza” dari diskursus itu.

Seharusnya, cara kerja ulama itu, ia mendalami dulu titik poin masalah dari diskursus nasab Ba Alawi ini. Misalnya, ia harus mengetahui nasab siapa yang menjadi “titik pengakuan” dari nasab Ba Alawi, yaitu Ahmad bin Isa. setelah ia mengetahui bahwa yang menjadi “titik pengakuan” nasab Ba Alawi adalah Ahmad bin Isa, kemudian ia mencari tahu, tahun berapa Ahmad bin Isa wafat? Setelah diketahui bahwa Ahmad bin Isa wafat tahun 345 Hijriah, lalu ia mencari apakah ada kitab-kitab nasab keturunan Nabi Muhammad SAW yang sudah ditulis di masa itu atau yang paling dekat dengan masa itu.

Setelah diketahui bahwa banyak kitab-kitab di masa itu atau yang mendekatinya yang ditulis, ia melihat, apakah dalam kitab-kitab itu benar disebut bahwa Ubaidillah adalah anak dari Ahmad bin Isa? Demikian seharusnya ulama dalam menganalisa sebuah berita. Tidak bisa ia langsung mengambil dari kamar sebuah kitab, misalnya “al-Gurar” yang dikarang abad 10 Hijriah untuk mengitsbat orang yang ada di abad 4 Hijriah, kemudian kitab itu di “kbet” dan dikatakan “ini ada dalam kitab ‘al-Gurar’ nama Ubadillah disebut sebagai anak Ahmad bin Isa”. itu bukan cara kerja ulama. Itu cara kerja orang awam yang mengikuti berita dari ulama tanpa harus mengetahui dalilnya.

Bagi ulama, taqlid itu seperti setan. Ia menjauhkan manusia untuk dapat mencapai kebenaran yang hakiki. Al-Qur’an dengan segala makna dan rahasianya yang menakjubkan, inti ajarannya, tidak akan dapat diraih oleh orang yang terhalang fanatisme suatu pemahaman sebelumnya, padahal pemahaman itu tanpa ada dalil sedikitpun.

Sebuah konklusi yang ditaqlidi seorang ulama secara buta, menunjukan bahwa hatinya telah tersegel oleh fanatisme dari apa yang telah ia dengar dan ia baca padahal ia tidak mengetahui apakah yang ia dengar dan ia baca itu bersumber dari dalail atau tidak. Lehernya telah terikat oleh tali taqlid yang kuat yang ditautkan di tiang pemahaman sebelumnya, sehingga ia tidak bisa berjalan jauh untuk mencapai “bashirah” dan “musyahadah” dari hakikat suatu kebenaran.

Jika berkemilau cahaya kebenaran yang hakiki dari kejauhan, lalu hampir saja hatinya menerima kebenaran itu, maka tali setan taqlid itu akan langsung menariknya dan berkata “Bagaimana sampai terlintas dihatimu kesimpulan yang berbeda dengan gurumu atau leluhurmu?”

Itulah cara kerja setan dalam mempermainkan ulama dan menjerumuskannya untuk tetap berada dalam kubangan taqlid dan menghalanginya untuk menaiki tangga-tangga hakikat.

Ulama itu ada tiga: Pertama, ulama yang diberikan kemampuan ilmu yang interdisiplin dari berbagai sisi pengetahuan yang dengannya ia dapat berijtihad secara mutlak, langsung dari al-Qur’an dan Hadits. Bagi ulama semacam ini haram bertaqlid kepada ulama lainnya.

Yang kedua, adalah ulama yang mengetahui pendapat ulama mujtahid beserta dalil-dalilnya, maka ia men-“tarjih” mana diantara para mujtahid itu yang pendapatnya didukung oleh dalil yang kuat, lalu ia mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil yang kuat itu. Walau pendapat itu berbeda dengan madzhabnya sendiri.

Yang ketiga adalah ulama yang mengetahui pendapat-pendapat para mujtahid, ia mengetahui bahwa pendapat para ulama ini masing-masing mempunyai dalil, namun ia tidak mempunyai kemampuan mentarjihnya, atau ia mampu, namun ia tidak mempunyai waktu, maka ia boleh bertaqlid kepada para mujtahid itu. Dalam masalah inipun, sebenarnya terjadi perbedaan pendapat para ulama: ada yang membolehkan baginya taqlid ada yang mengharamkannya.

Namun, jika ulama mengetahui bahwa pendapat itu tidak mempunyai dalil apapaun, baik dari al-Qur’an, ijma’ dan Qiyas, maka haram baginya mengikuti pendapat itu.

Bagaimana dengan orang awam? Orang awam dibolehkan untuk mengikuti pendapat ulama walaupun ia tidak mengetahui dalilnya. Bahkan hukum taqlid bagi orang awam adalah wajib. Lalu bagaimana ulama yang mengetahui bahwa nasab Ba Alawi tercipta tanpa adanya dalil lalu ia tetap mengikuti kitab “al-Gurar” yang menulis tanpa adanya dalil di masa Ahmad bin Isa? Apakah ia berdosa? Menurut penulis, ia berdosa; ia melalaikan kewajibannya sebagai ulama untuk memberi jalan kebenaran bagi orang awam.

Dalam tulisan ini, penulis tidak menyajikan ibarat dari kitab-kitab sedikitpun, kenapa? Karena masalah yang penulis sampaikan di atas telah mafhum diketahui dan dipahami serta terdapat dalam berbagai literatur kitab-kitab ushul fikih dan kitab lainnya yang mu’tabar.

Penulis: Imaduddin Utsman al-Bantani

Tags: ba alawiba alawi rungkadBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan RasulullahKRT. FAQIH WIRAHADININGRATmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsunasab rungkadpemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahya
ShareTweetShare
Previous Post

Penyematan “Syarif/Sayyid” Pasti Menunjukkan Status “Keturunan Rasulullah SAW”? 

Next Post

Ba Alwi Dan Rohingya, Kebajikan Nusantara Yang Disalahgunakan Para Imigran

Related Posts

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

13 Agustus 2026
43

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

12 Agustus 2026
40

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

2 Agustus 2026
307

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

2 Agustus 2026
68

جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

1 Agustus 2026
317

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

29 Juli 2026
310

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
83

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
163

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
293

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
190
Next Post

Ba Alwi Dan Rohingya, Kebajikan Nusantara Yang Disalahgunakan Para Imigran

Paling Banyak Dilihat

Opini

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

by Admin
13 Agustus 2026
43

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Tanggal 13 Juli 2024 penulis telah menguraikan permasalahan penggunaan diksi ‘habib’ yang saat itu banyak...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.6k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.6k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25