• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Islam, Standar Kebenaran Dan Kebaikan Tuhan

Akibat dari paham yang ekstrim, dan akibat dari paham yang radikal inilah pemicu kekerasan dalam beragama. Pemeluk yang model begini sudah merasa menjadi eksekutor atas nama agama, padahal tidak sama sekali ajaran Islam mengajarkan pemaksaan atas orang lain.

by Admin
19 Mei 2022
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Menarasikan menyeluruh pada sesuatu yang tidak termasuk bagiannya, seperti memaksakan berucap bohong ketika jujur sudah jadi prinsip, menuduh mencuri pada seseorang yang tidak sama sekali berbuat itu. Bagaimana sikapnya jika mengalami demikian?, tentu menolak atau membantahnya. Soal keyakinan agama yang berbeda-beda di kita, yang perlu itu saling menghargai dan saling pengertiannya. Bukan mengambil posisi layaknya hakim yang menentukan salah dan benar suatu perkara hukum, dan agama tidak bisa dihakimi manusia. Semua berawal dari pandangan, ijtihad hingga kita diberi petunjuk dari manhaj dan syariat yang bersumber dari Kalam Allah.

Setiap pemeluk agama pasti meyakini bahwa agamanya yang benar, terkadang terhadap agama yang lainya dianggap salah, jahat dan kejam padahal masih apriori. Yang tidak benar adalah hubungan perilaku pemeluk agama yang jahat, kejam, sadis, berutal, barbar itu dipengaruhi ajaran agamanya. Ini perlu diluruskan. Jika sumbernya langsung dari ajaran agama, apapun agamanya itu pasti tidak ada hal itu. Lalu fenomena pemeluk agama ada yang sikap berutal, kejam, radikal dan kasar itu sumbernya dari apa kalau bukan dari ajaran agama, tentu ada faktor yang merubahnya bukan ajaran an sich tetapi faktor politis, faktor ekonomis, dan faktor pemahaman yang keliru.

Ini, saya ingin mengatakan bahwa Islam sebagai ajaran Rasulullah SAW, sebagai syari’at Allah yang tersempurnakan, semua aspek kehidupan manusia diberikan petunjuknya dengan Islam. Kalau fakta ajarannya seperti ini jangan lantas dianggap sebagai ajaran barbar, sesat dan radikal. Jauh sekali jika disandingkan seperti itu. Mari sama-sama kita telaah, kita timbang-timbang, kita analisa dimana letaknya orang beragama diduga cenderung keras, kejam, bar-bar atau macamnya radikalisme. Titik fokus macam beragama seperti yang dijelaskan model keras dan radikal itu adalah paham agama yang berlebihan (ekstrim), paham yang dangkal, paham yang dicampuri unsur agnostisisme, paham klaim paling benar, paling suci, paling baik dan ke yang lain adalah salah, bid’ah, sesat dan murtad. Sekali lagi ini soal paham dari sekian pemeluk Islam yang ekstrim, bukan inti ajaran Islam yang sudah benar, lengkap dan sempurna itu.

Akibat dari paham yang ekstrim, dan akibat dari paham yang radikal inilah pemicu kekerasan dalam beragama. Pemeluk yang model begini sudah merasa menjadi eksekutor atas nama agama, padahal tidak sama sekali ajaran Islam mengajarkan pemaksaan atas orang lain. Kepada soal pelanggaran syariat pun tidak ada ajaran Islam mengajarkan pemeluknya untuk mengeksekusi saudaranya yang bersalah dengan tindakan sendiri (main hakim sendiri) tapi ada aturan al-qadla (peradilan), ada al-mahkamah (pengambil keputusan hukum), ada al-syahidain (kesaksian), dan ada istifta, fatwa, dan mufti, Ini semua dijelaskan oleh ilmu fiqih.

Baca Juga

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

Maka bedakan antara Islam sebagai risalah Allah (agama Allah) dengan paham pemeluk Islamnya. Karena ada yang ikut madzhab (kodifikasi ijtihad dan manhaj), ada pula yang secara teks ayat-ayat yang langsung diartikan sendiri tanpa instrumen ilmu, tanpa sanad, tanpa pemahaman atas qiyas. Ini pemicu paham dan pengamalan agama yang sempit, karena dianggap yang tidak ada di zaman Nabi adalah bid’ah, haram dan dicap kafir. Pokoknya adalah tidak mengambil ijtihad sahabat Rasulullah, tidak menerima ijtihad tabi’in, tidak juga mengambil ijtihadnya ulama tabi’tabi’in, padahal sudah jelas Nabi telah menegaskan bahwa “wajib bagi kalian untuk ikut sunnahku dan sunnahnya para sahabat setelahku”. Seolah bahwa cara mereka belajar pada teks ayat langsung sudah mengganggap posisinya sejajar dengan para sahabat Rasulullah sebagai murid yang belajar langsung pada Rosulullah. Hingga kita dengar kata-kata mereka ikut Rosulullah atau ikut Ulama. Bahkan yang sontoloyo adalah pengakuan sebagai murid langsung Rasulullah, hanya karena menerima hadits dari buku terjemahan.

Bedakan pula antara Islam yang diperuntukkan bagi semesta raya (rahmatan lil ‘alamin) dengan paham Wahabisme yang dicetuskan akhir abad 18 M di Nejd (Hijaz), kalau ini Wahabisme dikatakan sebagai paham gurun, mungkin ada benarnya. Tapi agama gurun itu dialamatkan pada Islam jelas salah, bahkan tuduhan keji. Bagaimana Wahyu Allah diidentikan berasal dari gurun sementara Gusti Allah tidak bertempat dan tidak dibatasi waktu. Wahyu adalah Kalam Allah yang qadim (jumeneng kang wis dimin ing zat Allah), dari Wahyu Allah itulah Islam bersumber. Karena Islam adalah risalah Allah yang disampaikan untuk semesta raya, dan ditafshili (dengan hadits) oleh Kanjeng Rosul hingga bisa dipahami secara benar dan detil oleh umatnya. Maka itu tidak bisa diklaim bahwa menerima Islam langsung dari Kanjeng Rasul, tetapi penyampaian Islam yang sudah ditafshili oleh Kanjeng Rosul kemudian disampaikan oleh para sahabatnya, para tabi’in hingga generasi tabi’it tabi’in secara ketat dan istiqomah yang kuat tersampaikan secara bersambung (sanad) hingga sekarang dan sampai yaumil qiyamat (hari akhir).

Wa Allahu a’lam bi al-Showwabi

Petir, 17-5-2022
Oleh: Hamdan Suhaemi
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten
Editor: Kang Diens

ShareTweetShare
Previous Post

Riwayat Hidup Nyai Ratu Salhah, Ibunya Sang Ulama Besar

Next Post

Menanggalkan Pengakuan Menguatkan Kemuliaan, Jejak Sejarah Pangeran Gebang Cirebon

Related Posts

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
52

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
124

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
55

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
92

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
404

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
77

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
67

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
264

“Laknat Allah, Malaikat, dan Manusia”: Telaah atas Pemaknaan Hadis dalam Polemik Nasab Ba Alwi

16 September 2026
147

Prof. Ahmad Zahro Bersumpah Habaib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

10 September 2026
155
Next Post

Menanggalkan Pengakuan Menguatkan Kemuliaan, Jejak Sejarah Pangeran Gebang Cirebon

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Sejarah

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

by Admin
24 Oktober 2026
25

Oleh: Hamdan Suhaemi Belakangan Hari Santri Nasional begitu gegap gempita diperingati di setiap tanggal 22 Oktober di seluruh pesantren-pesantren di...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25