• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Meditasi Arafah: Aku Dan Kamu Adalah Objek Tuhan

Wukuf Arafah ini mengajarkanku untuk berdiam diri merenungi siapa sebenarnya aku. Aku bersama tamu Tuhan lainnya berkumpul, berdiam, dan berhenti dari kegiatan apapun dari berbagai status sosial, ras, warna kulit, dan lintas negara dengan banyak kesamaan

by Admin
4 Juli 2022
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Telingaku sering mendengar kata “Wukuf Arafah” di setiap tanggal 9 bulan Dzulhijjah yang menjadi saksi sejarah pertemuan pertama kali Bapak Adam dan Ibu Hawa di dunia. Kata “Wukuf” memiliki arti berdiam diri atau berhenti, sedangkan arti kata “Arafah”, yaitu “mengenal” atau “mengakui.”

Orang yang tak mampu diam untuk mengenali diri adalah orang yang tak mengenali diri. Jika ia tak mengenali diri, maka tak akan mengenali kehadiran Tuhan di dalam diri. Penampakan kehebatan semesta diri dapat terlihat jika ia mengenal utuh tentang siapa dirinya. Jika ia belum mengenal siapa dirinya, maka tanda-tanda kehebatan Tuhan akan tertutup darinya.

Kutipan bahasa guru semesta ini membuatku tercengang dan memunculkan pertanyaan dalam benakku: “Aku ini siapa?”, “Apa hakikat sejati aku?”, “Dari mana asalku?” “Untuk apa aku berada disini?”.

Aku terdiam saat akan menjawab beberapa pertanyaan itu. Diamku karena aku bingung dengan diriku tentang siapa sejatinya aku. Ternyata selama ini pengenalanku tentang aku hanyalah sisi lahiriyah saja; seperti ini tanganku, kakiku, kepalaku dan tubuhku, sedangkan aku belum mengenali aku sejatiku. Urusanku hanya bertengkar jika aku marah, bersetubuh jika libidoku memuncak, menyantap makanan jika aku lapar, dan meminum air jika aku haus. Tanpa aku sadari, ternyata hewan serupa denganku. Tidak ada yang lebih dekat dari rangkaian aku kecuali aku. Aku belum mengerti tentang sejatinya aku, lalu bagaimana aku mengenal kehebatan diriku dan keistimewaan semesta di sekitarku?

Wukuf Arafah ini mengajarkanku untuk berdiam diri merenungi siapa sebenarnya aku. Aku bersama tamu Tuhan lainnya berkumpul, berdiam, dan berhenti dari kegiatan apapun dari berbagai status sosial, ras, warna kulit, dan lintas negara dengan kesamaan gaya berpakaian di tanggal 9 Dzulhijjah dimulai sejak matahari tergelincir hingga terbitnya fajar di 10 Dzulhijjah. Nabiku bersabda : “al-Hajj ‘Arafah” artinya Haji adalah ‘Arafah.

Dari perenungan ritual ini membuatku sadar bahwa aku hanyalah objek dari Subjek Pemiliki Semesta, begitu pun semua makhluk beposisi sama denganku. Aku tidak boleh merasa menjadi subjek terhadap makhluk semesta selain diriku karena aku dan semua makhluk adalah keluarga dalam jalinan persahabatan antar objek. Aku harus memposisikan mereka semua sebagai subjek yang setara dalam jalinan kemitraanku, meskipun secara kasat mata mereka berposisi sebagai objekku, karena makhluk semesta selain aku adalah mitra keberlangsungan hidupku di dunia.

Sungguh perkumpulan itu memberi kontemplasi perenungan sunyi dalam benakku bahwa apapun latar belakang setiap individu memiliki posisi yang sama di sisi Tuhan, si kaya sama dengan si miskin, dan rakyat jelata serupa dengan penguasa. Faktor yang menjadi pembeda di antara aku dan mereka adalah tingkat ketakwaan yang sesuai dengan tugas dan fungsi dirinya, karena Sang Maha Pencipta tidak melihat status sosial dari semua ciptaan-Nya. Itulah makna berdiam diri dalam perenungan sunyi dalam ritual wukuf di Arafah.

Oleh: Dr. KH. Mohamad Mahrusillah, MA
Ketua RMI PCNU Kab. Tangerang dan Rais Syuriyah MWC NU Kec. Teluknaga

ShareTweetShare
Previous Post

Do’a Untuk Jama’ah Haji Indonesia

Next Post

Meditasi Mina Muzdalifah: Aku Lempar Batu Batu Itu

Related Posts

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
109

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
23

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
173

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

21 April 2026
70

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

18 April 2026
65

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
96

Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

9 April 2026
76

Muktamar NU 2026 and The Art of Letting Go

7 April 2026
40

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas

24 Maret 2026
629

Beruntungnya Orang yang Saling Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri

21 Maret 2026
40
Next Post

Meditasi Mina Muzdalifah: Aku Lempar Batu Batu Itu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

by Admin
1 Mei 2026
109

Tangerang, (30 April 2026) - Wilayah Kresek dan Tanara merupakan dua wilayah yang secara geografis berdekatan serta memiliki keterkaitan historis...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

Riziq Syihab Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW Secara Absolut

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.9k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25