• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Santri Hikmah

Meditasi Mina Muzdalifah: Aku Lempar Batu Batu Itu

Di saat setan menampakkan wujud aslinya, dan berdiri dihadapannya untuk mempengaruhi Nabi Ibrahim A.S. secara langsung, Beliau pun langsung mengusir jelmaan itu dengan mengambil beberapa batu kecil dan melemparkan kepadanya. Inilah yang disebut Jumrah Ula.

by Admin
8 Juli 2022
in Hikmah, Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

Titik Balik Thesis al Bantani, Konsensus dan Glorifikasi Nasab Ba’Alwi: Tiga Tahun  Gagal Raih Syuhra Wal Istifadlah (2023 2025)

Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Ini Sangsi Yang Akan Diterima Oknum Polres dan Jaksa Jika Paksakan RJ Dalam Kasus Pengeroyokan Oleh Bahar Smith Terhadap Anggota Banser

Pasca wukuf, aku bermeditasi diri di tanah Muzdalifah pada malam hari sampai batas waktu yang ditentukan sambil mengumpulkan sejumlah batu kerikil kecil di hamparan tanah. Setelah melewati tengah malam pukul 00.00 waktu Saudi tanda memasuki tanggal 10 Dzulhijjah, aku berangkat menuju Mina untuk melempar 7 butir batu di Jumrah Aqabah, setelah itu aku melakukan tahallul awal dengan memotong beberapa helai rambut sebagai tanda dibolehkan untuk melakukan pantangan ritual haji. Kemudian aku istrirahat di kemah Mina dan bermalam dua atau tiga malam (nafar awal, tanggal 11 & 12 Dzulhijjah atau nafar tsani, tanggal 11, 12 & 13 Dzulhijjah) dan melemparkan batu-batu di tiga titik jamarat (ula, wustha dan aqabah) pada siang harinya. Ritual itu dilakukan untuk memeditasikan diri sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakseimbangan medan naluri yang sering kali melewati batas ukurannya di saat mengalami peristiwa yang secara adat cukup memilukan. Inilah yang disebut aku melawan setan yang menyusup disela-sela ototku.

Aku membaca beberapa buku sejarah terkait ritual lempar jamarat bahwa ritual ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putranya, Ismail. Tuhan menguji sang ayah dengan memerintahkannya untuk menyembelih sang putra. Kemudian setan menyusupi rongga dada (medan naluri) sang ayah untuk mempengaruhinya agar ia mengabaikan perintah penyembelihan sang anak.  Namun sang Khalilullah tak tergoda sedikitpun, ia tidak memperdulikan segala bisikan buruk di dalam batinnya. Di saat setan menampakkan wujud aslinya, dan berdiri di hadapannya untuk mempengaruhinya secara langsung, Nabi Ibrahim pun langsung mengusir jelmaan itu dengan mengambil beberapa batu kecil dan melemparkan kepadanya. Inilah yang disebut Jumrah Ula.

Tidak mampu mempengaruhi Ibrahim AS, Iblis datang untuk memanipulasi Siti Hajar. Iblis memperhitungkan seorang ibu tidak akan tega membiarkan putranya disembelih. Namun Hajar menolak dan melempari setan dengan kerikil. Lokasi pelemparan Siti Hajar kemudian dijadikan sebagai lokasi pelemparan Jamrah Wusta.

Semangat Iblis tidak berhenti di situ. Ia menoleh kepada Ismail AS. Ia berpraduga sang anak memiliki keimanan dan ketakwaan yang lemah. Ternyata anggapannya sangat tidak tepat. Ismail memegang teguh imannya dan sepenuh hati percaya pada perintah Allah SWT. Kemudian Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail secara bersama-sama melempari setan dengan batu kerikil. Lokasi pelemparan dikenal dengan Jamrah Aqabah.

Melontar jumroh merupakan simbol perlawanan sepanjang umur manusia terhadap godaan setan sebagai bentuk kutukan kepada unsur kejahatan yang muncul dari medan naluri yang tidak stabil dan sering kali membinasakan manusia.

Sungguh aku mendapat banyak pelajaran dari sejarah ritual ini. Bahwa aku harus bermujahadah agar aku tidak terkuasai oleh naluri syaithaniku dan aku tetap netral bersama informasi ke-Tuhan-an. Aku harus selalu hening untuk mengusir godaan setan yang menjelma di kegenitan sentra pikiranku, dan medan naluriku sehingga aku menyadari tentang siapa sejatinya aku, dan semesta adalah keluargaku. Inilah modal awal bagiku yang mengenali Allah sebagai Tuhanku.

Oleh: Dr. KH. Mohamad Mahrusillah, MA
Ketua RMI PCNU Kab. Tangerang dan Rais Syuriyah MWC NU Kec. Teluknaga

Editor: Kang Diens

ShareTweetShare
Previous Post

Meditasi Arafah: Aku Dan Kamu Adalah Objek Tuhan

Next Post

Pasar Kresek Dikelilingi 9 Pesantren

Related Posts

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

15 Maret 2026
13

Titik Balik Thesis al Bantani, Konsensus dan Glorifikasi Nasab Ba’Alwi: Tiga Tahun  Gagal Raih Syuhra Wal Istifadlah (2023 2025)

11 Maret 2026
52

Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik

8 Maret 2026
181

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

6 Maret 2026
91

Ini Sangsi Yang Akan Diterima Oknum Polres dan Jaksa Jika Paksakan RJ Dalam Kasus Pengeroyokan Oleh Bahar Smith Terhadap Anggota Banser

6 Maret 2026
66

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

3 Maret 2026
151

MELEPAS BAHAR SMITH POLRES METRO TANGERANG KOTA ADA APA?

25 Februari 2026
109

Alidin Assegaf Tegas Walisongo Dan Keturunannya Bukan Marga Habib B Alwi: Riziq Syihab Tetap Mengemis Keturunan Walisongo Agar Percaya Bahwa Mereka Adalah Ba Alwi

24 Februari 2026
138

Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

24 Februari 2026
99

Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

23 Februari 2026
141
Next Post

Pasar Kresek Dikelilingi 9 Pesantren

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

by Admin
15 Maret 2026
13

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji Tulisan ini bertujuan untuk merefleksikan koordinat kesadaran nalar menganalisis peran krusial kejujuran intelektual Habib dan Muhibbin...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

“Dari Masjid untuk Indonesia”, Posko Mudik DMI di Kab. Serang Layani Pemudik Hingga Sepekan Usai Lebaran

Meluruskan Sejarah NU Yang Ditikung

Titik Balik Thesis al Bantani, Konsensus dan Glorifikasi Nasab Ba’Alwi: Tiga Tahun  Gagal Raih Syuhra Wal Istifadlah (2023 2025)

Jahil Murakkab dan Runtuhnya Fabrikasi Nasab: Validasi Ilmiah KH. Imaduddin melalui Verifikasi Mustanad dan Genetik

Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.6k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.8k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.2k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25