Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara
Prolog
Pembaca bisa melewati bagian ini.
Saya mengambil tanggal 19-20 Maret sebagai awal penghitungan putaran tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi karena di tanggal itulah saya pribadi mulai masuk pertama kali ke polemik tersebut. Tanggal 19-20 Maret 2023 adalah hari di mana dipersekusinya Gus Fuad Plered oleh Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya yang membuat gempar jagad maya sampai juga di lapangan dan mencuatkan (memviralkan) tesis Kyai Imad. Jadi, bagi saya pribadi, 19-20 Maret 2026 merupakan tahun ke-3 Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi. Bisa juga dikatakan sudah menuju tahun ke-4 jika berdasar pertama kali tesis Kyai Imad dipublikasikan yaitu pada Oktober atau November 2022.
Tahun lalu (2025) saya juga menulis retrospeksi dan refleksi terkait hal ini. Bisa dibaca di link ini https://pwils.net/retrospeksi-tahun-ke-2-polemik-nasab-klan-baalwi-pelaku-kejahatan-luar-biasa-dan-pembelanya-pengkhianat-bangsa-dan-negara-indonesia/. Di tulisan itu saya menulis cukup panjang mengurai banyak hal.
Kembali ke tanggal 13 September 2023 di mana saya mempublikasikan video yang memberikan Clandestine Map Klan Habib Baalwi.[1] Pada video itu ada satu poin framework yang hendak saya angkat kembali sebagai basis refleksi tahun ini yaitu (1) apa yang DILAKUKAN Klan Habib Baalwi, (2) apa yang TIDAK DILAKUKAN Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya, (3) siapa yang DIRUGIKAN dan (4) Siapa yang DIUNTUNGKAN.
Saya ambil 3 (tiga) poin saja.
Baalwisasi-Yamanisasi Sejarah
Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi? Baalwisasi-Yamanisasi Sejarah Bangsa Indonesia. Siapa yang dirugikan? Pribumi Indonesia. Siapa yang diuntungkan? Klan Habib Baalwi. Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya ketika kejahatan itu telah terungkap? Membela Klan Habib Baalwi. Apa yang dilakukan untuk mengkoreksi kejahatannya itu? Tidak ada. Zero.
Baalwisasi-Yamanisasi Kuburan
Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi? Baalwisasi-Yamanisasi ratusan atau ribuan kuburan leluhur Bangsa Pribumi Indonesia. Siapa yang dirugikan? Pribumi Indonesia. Siapa yang diuntungkan? Klan Habib Baalwi. Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya ketika kejahatan itu telah terungkap? Membela Klan Habib Baalwi. Apa yang dilakukan untuk mengkoreksi kejahatannya itu? Tidak ada. Zero.
Baalwisasi-Yamanisasi Islam
Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi? Baalwisasi-Yamanisasi akidah Islam. Menyebarkan doktrin-doktrin sesat dan khurafat yang menempatkan Klan Habib Baalwi dan anasir-anasirnya sebagai lokus pusat akidah agama Islam. Siapa yang dirugikan? Seluruh Umat Islam sedunia khususnya yang di Indonesia. Siapa yang diuntungkan? Klan Habib Baalwi seluruh dunia dan khususnya di Indonesia seluruhnya tanpa terkecuali. Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya ketika kejahatan itu telah terungkap? Membela Klan Habib Baalwi. Apa yang dilakukan untuk mengkoreksi kejahatannya itu? Tidak ada. Zero.
Fakta Sikap Klan Habib Baalwi & Budak-Budaknya
Apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya sepanjang 3 tahun ini? Mati-matian sibuk membela Klan Habib Baalwi. Bahkan rela mengeluarkan banyak uang untuk membela Klan Habib Baalwi seperti yang dilakukan Nusron Wahid dan Savic Ali (islamidotco dan Ketua PBNU).[2] Bukannya turut dalam perjuangan meluruskan sejarah, kuburan dan akidah; malah sampai repot-repot merogoh koceknya membiayai pembelaan terhadap Klan Habib Baalwi. Untuk pelurusan sejarah, kuburan dan akidah yang merupakan kepentingan bangsa pribumi dan negara tempat hidupnya sendiri mereka tidak mau repot-repot sementara untuk membela Klan Habib Baalwi mereka mau repot-repot.
Apakah Rumail Abbas, Savic Ali, Nusron Wahid, Zaini, Idrus Ramli, Kurtubi Lebak, Adi Hidayat, Abdul Somad Pekanbaru, Gus Najih Maimoen, Gus Qoyyum, Fahrur Rozi, Nasarudin Umar, Gus Baha, Gus Faiz, Deddy Corbuzier, Tretan Muslim, Mamat Al Katiri, rombongan Jatma Aswaja seperti Helmy Faisal dll budak-budak Klan Habib Baalwi itu membahas Baalwisasi-Yamanisasi Sejarah, Kuburan, dan Akidah Islam untuk menunjukkan kepeduliannya kepada kaum Pribumi? Tidak sama sekali.
Jadi, mereka mau repot-repot membela Klan Habib Baalwi yang mendzalimi Pribumi dan mengancam eksistensi Bangsa dan Negara; tetapi mereka sama sekali tidak mau repot-repot menunjukkan kepeduliannya kepada Pribumi padahal pribumilah yang dirugikan, dilecehkan martabatnya dan terancam oleh Baalwisasi-Yamanisasi yang dilakukan Klan Habib Baalwi.
Apakah ada klarifikasi dan permohonan maaf dari Adi Hidayat, Abdul Somad, Quraish Shihab yang katanya baik dan alim itu, dll, karena mereka telah turut memanipulasi sejarah dan silsilah leluhur Pribumi Nusantara? Tidak ada sama sekali.
Entah bagaimana pertimbangan mereka. Berbuat dosa besar berskala kolosal Bangsa dan Negara, termasuk pula ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan trah-trah Kesultanan Nusantara dan Wali Songo lainnya, tapi hatinya tak tergerak meminta maaf.
Next Step? What’s Next?
Sudah 3 tahun menuju tahun ke-4, melihat fakta-fakta itu, tidaklah berlebihan kiranya jika kita mengartikan mereka memang mengajak bermusuhan dan berperang dengan pribumi sepanjang hayatnya.
Atau, jika maknanya bisa saja mungkin tidak begitu, bagaimana jika kita mengundang Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya berseminar bersama? Seminar bukan tentang nasab habib karena mereka bisa mengelak ‘percaya silakan tidak percaya silakan’ yang membuat mereka lagi-lagi punya alasan untuk tidak datang dengan segala cara liciknya; bukan seminar nasab habib tetapi seminar tentang Baalwisasi-Yamanisasi Sejarah, Kuburan, dan Akidah yang merupakan urusan Kebangsaan, Kenegaraan, dan Agama—dengan ini mereka tidak punya alasan untuk tidak datang kecuali mungkin mempermasalahkan tentang waktu penyelenggaraan. Itu bisa diatur. Kita bisa beri jarak 6 bulan sejak undangan dikirimkan, kalau perlu 12 bulan. Di seminar itu pribumi bisa menanyakan pernyataan-pernyataan dan sikap Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya selama ini tepat langsung di mukanya. Supaya jelas urusannya: memang sengaja mau bermusuhan dengan pribumi atau masihkah ada celah untuk hidup berdampingan dengan damai? Saya pikir, step forward berikutnya itu yang butuh kita lakukan: sidang kolosal dan konfrontasi langsung secara ilmiah tatap muka tentang sejarah, kuburan dan akidah—mengenai apa yang mereka ucapkan di ruang publik, buku dan medsosnya selama ini.
Kalau mereka diundang lagi-lagi tidak mau datang seperti yang sudah-sudah seperti salah satunya Habib Luthfi bin Yahya diundang di Seminar KRT Sumodiningrat 06 November 2025 dan dia kabur dari seminar itu bagaimana ? Kata Abah saya yang orang Madura: mon lok bisa e-adet-ih pas de’ remmah? (Kalau tidak bisa diperlakukan dengan adat yang baik lantas bagaimana?) Orang diajak omong baik-baik bermartabat kok tidak bisa, ya mau disikapi bagaimana lagi kalau bukan dengan cara yang bukan bicara baik-baik? Ya dicarok, kalau kata orang Madura.
Mungkin begitu mungkin tidak begitu. Juga mungkin tepat konteksnya menerapkan hadits Nabi Saw: “Janganlah kalian mendahului salam kepada Yahudi dan Nasrani. Jika kalian bertemu salah seorang dari mereka di jalan, maka pepetlah/desaklah mereka ke jalan yang paling sempit” (HR. Muslim).
Dalam artian, dengan fakta-fakta kejahatan Baalwisasi-Yamanisasi dan bagaimana respon mereka setelah kejahatannya terungkap, mungkin sudah waktunya Kyai-Kyai NU membuat kitab (buku) panduan bagaimana masyarakat bersikap dan berperilaku kepada Klan Habib Baalwi secara tegas, jelas, terang, tidak ambigu, dan untuk memberi tekanan yang nyata (menciptakan dan menetapkan budaya baru)—sebagai bentuk memerangi kemungkaran mereka yang sistemik dan generasional. Umpamanya: kodifikasi fatwa haram mencium tangan mereka, haram menikahi golongan mereka; bisa juga kita tambahkan fatwa bahwa Klan Habib Baalwi wajib cium tangan pribumi, wajib menunduk di hadapan pribumi dan haram hukumnya menatap wajah pribumi, apabila menatap wajib ditempeleng, bahwa satu pribumi yang bodoh yang maksiat yang nakal lebih mulia daripada 700.000 Habib Baalwi yang alim dan berpangkat—lalu menyebarkannya.
Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya membuat sistem dan ekosistem untuk menjajah pribumi, maka sudah semestinya kita juga membuat sistem dan ekosistem yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi untuk meladeni peperangan yang mereka sulut dan kobarkan padahal sudah diberi rekonsiliasi oleh Kyai-Kyai NU terdahulu. Ini sebagaimana perintah Al Quran surat Al Hujurat ayat 09: Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Itu perintah perang langsung dari Allah dan perintah perangnya harus sampai golongan itu kembali kepada perintah Allah.Dalam konteks memerangi Klan Habib Baalwi, perangnya generasional karena mereka juga generasional melalui sistem dan ekosistem yang mereka bikin.
Ini akan menjadi kebaikan tidak hanya bagi pribumi dan NKRI namun juga ini akan bermanfaat bagi Klan Habib Baalwi sendiri dalam rangka mengembalikan mereka dan anak keturunannya kepada perintah Allah.
Selama mereka tidak kembali kepada perintah Allah, tidak ada rekonsiliasi. Baru ada rekonsilitasi apabila mereka kembali kepada perintah Allah. Ini perintah Allah di Al Hujurat ayat 09: Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil. Jadi, damai itu, rekonsiliasi itu, bersyarat jika golongan yang berbuat aniaya kembali kepada perintah Allah (dalam makna: berhenti melawan dan memberontak, bersedia mendudukkan perkara dengan adil dan bersedia mengakui kesalahan dan bersedia menerima konsekuensi akibat kejahatannya itu)—jika sudah demikian, tugas pihak ke-3 dalam hal ini aparatur negara adalah mendudukkan perkaranya dengan adil dan tegakkan keadilan. Itu jelas begitu perintah Allah tidak butuh ditakwil ke sana ke mari untuk memperoleh ketepatan maksudnya. Tidak ujug-ujug, ndadak, tiba-tiba, makbleng: rekonsiliasi, ayo bersatu—kebodohan ini bisa kita bahas panjang. Jika tidak begitu, maka perang harus terus berlanjut. Dalam konteks berperang melawan kejahatan Klan Habib Baalwi: sistemik, ekosistem, generasional.
Dan jika berdasar dawuh Rasulullah Saw “Muslim sejati adalah muslim yang tidak jatuh di lubang yang sama dua kali” sah apabila ada banyak sekali orang yang tidak mau rekonsiliasi sebab Klan Habib Baalwi sudah pernah diberi rekonsiliasi oleh Kyai-Kyai NU terdahulu namun mereka menyia-nyiakan itu dengan melakukan upaya-upaya nyata dan masif guna membunuh eksistensi dan jati diri pribumi Nusantara dan NKRI melalui Baalwisasi-Yamanisasi. Sah jika banyak sekali orang mengambil sikap ‘tidak ada rekonsiliasi, deportasi Baalwi dari Indonesia!’ sebagai bentuk ikhtiar menjadi muslim sejati berdasar petunjuk parameter Rasulullah Saw.
Wallahualam bisshawab.
[1] MENGUAK KLANDESTIN J4H4D HABIB BAALAWI “DLM 14 MENITAN” – KYAI IMAD GUS FUAD PLERED https://youtu.be/tPTxq8GERvI?si=wyLeLHko02h7BAzk (13 September 2023)
[2] Lihat https://rminubanten.or.id/antara-taipan-yahudi-george-soros-dan-rumail-abbas/