Jakarta – melalui Lembaga Falakiyah PBNU resmi mengeluarkan ikhbar (pemberitahuan) terkait penetapan awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Berdasarkan hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik di seluruh, tidak ada laporan yang menyatakan terlihatnya hilal.
Dalam keterangan resminya, tim rukyat yang berada di bawah koordinasi Lembaga Falakiyah PBNU telah melaksanakan pemantauan hilal sebagai bagian dari pelaksanaan fardlu kifayah. Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi kriteria visibilitas.
Dengan dasar tersebut, serta mengikuti metode istikmal (penyempurnaan bulan), maka umur bulan Ramadan 1447 H ditetapkan menjadi 30 hari.
“Atas dasar itu, dan sesuai dengan pendapat al-madzahib al-arba’ah, maka diberitahukan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu Pahing, 21 Maret 2026 M,” demikian isi ikhbar resmi PBNU.
Keputusan ini juga ditandatangani oleh jajaran pimpinan PBNU, di antaranya KH. Miftachul Akhyar selaku Rais Aam, KH. A. Said Asrori selaku Katib Aam, KH. Yahya Cholil Staquf, serta Saifullah Yusuf.
PBNU mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama dan umat Islam pada umumnya untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan memperbanyak amal saleh, mempererat ukhuwah, serta menjaga tradisi silaturahmi.
Momentum Idul Fitri diharapkan tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga sebagai titik awal untuk mempertahankan nilai-nilai ibadah dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. (KD)