Baca Juga
Pernyataan Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf dalam siaran langsung di Sunsal Media bersama Taufiq segaf memicu banyak tanda tanya. Dalam kesempatan tersebut, ia menyatakan di hadapan Taufiq segaf bahwa nasab Ba’alawi adalah nasab yang mutawatir. Publik pun heran mengapa seorang akademisi bergelar Doktor begitu mudah menetapkan (isbat) sebuah nasab yang dinilai tidak memiliki dukungan data historis serta gagal dalam tes Y-DNA.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, Syekh Muhammad Syarif berasal dari keluarga Al-Shawwaf di Suriah, sebuah keluarga yang klaim nasabnya sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Syekh Qadib al-Ban, juga mengalami penolakan (batal) karena tidak tercatat dalam kitab-kitab nasab otoritatif. Diskusi di kalangan ulama nasab pun telah banyak menyimpulkan batalnya klaim nasab dari keluarga tersebut.
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari fenomena ini adalah adanya kecenderungan saling mendukung di antara pihak yang nasabnya sama-sama palsu.
Oleh karena itu, jika ada ulama dari luar negeri yang melakukan isbat terhadap nasab Ba’alawi, penting untuk meneliti latar belakang asal-usul dan keluarga mereka. Perlu diperiksa apakah mereka juga mengklaim sebagai keturunan Nabi, dan jika iya, apakah nasab mereka sahih secara metodologi genealogis. Sejauh ini, para ulama luar negeri yang mengisbat nasab Ba’alawi, seperti Syekh Ibrahim bin Mansur dan Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Idrisi dari Makkah, kedudukan nasabnya tidak terbukti sahih dan tes Y-DNA mereka melenceng.
Imaduddin Utsman Al-Bantani