• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Diktum Tahaffut Al-Ghazali Atas Filsafat

by Admin
20 Oktober 2025
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Umat IsIam dimana pun hampir dipastikan tahu siapa Al-Ghazali, meski belum mengetahui biografi dan perjalanan hidupnya. Informasi tentang Imam Al-Ghazali hanya diketahui lewat karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, soal kesejarahannya mungkin jarang mengetahuinya. Padahal orang besar ini adalah mujaddid abad 5 Hijriyah dan termasuk sufi agung di masanya.

Imam Al-Ghazali lahir di Thus, Khurasan pada 1058 M dari orang tua bernama Syaikh Muhammad, yang dikenal seorang Sufi yang kesehariannya penjual kain wol atau penjahit kulit wol, orang tuannya pun memberi nama yang sama dengannya yaitu Muhammad, hingga kemudian nama itu masyhur dengan nama Al-Ghazali, karena dua hal, satu karena ayahnya adalah penjual kulit Ghazal ( wol) dan satu hal lainnya memang nisbat leluhurnya ke Al-Ghazali.

Lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusy al-Syafii yang kemudian masyhur dengan gelarnya Hujjatul Islam. Salah seorang ulama di zamannya bersaksi jika al-Quran tidak ada di dunia ini, dan hadits Rasulullah S.a.w sudah lenyap, maka Ihya Ulumuddin adalah penggantinya dari dua pedoman IsIam tersebut ( lihat Hermawan, Al-Ghazali, Jakarta : 1997, hlm. vii ).

Sebagai pemikir besar yang berkehidupan di Baghdad, Imam Al-Ghazali adalah salah satu filsuf muslim klasik, penolakannya atas diktum-diktum filsuf muslim sebelumnya yang mengatakan bahwa alam itu tidak berawal, dan bahkan meyakininya alam adalah qodim ( azali) dan baqa ( abadi). Ternyata diktum itu pernah dikemukakan oleh Ibnu Sina dan al-Farabi, atas diktum tersebut membuat al-Ghazali menganggap kedua tokoh ini secara teologis telah keluar dari Islam. Maka Al-Ghazali menyampaikan persoalan-persoalan kerancuan ini dalam kitabnya yang diberi judul Tahafut al-Falasifah disertai dengan argumentasinya ( lihat Muhammad Nuruddin, Ilmu Maqulat dan Esai-Esai Pilihan Seputar Logika, Kalam dan Filsafat, Depok: 2021, hlm. 33 ).

Baca Juga

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

Mari kita tengok beberapa diktum tahaffut ( kerancuan) dari karya Imam Al-Ghazali, yakni kitab Tahaffut al-Falasifah

النظر في الفلسفة ليس مذمومًا لذاته، فإنّ الله تعالى دعا إلى النظر والتفكّر في خلقه، ولكن المذموم هو الغلوّ فيها إلى حدٍّ يؤدّي إلى مخالفة الشريعة.

Artinya : Mempelajari filsafat tidaklah tercela pada dirinya, karena Allah Ta‘ala telah menyeru manusia untuk merenung dan berpikir tentang ciptaan-Nya. Namun yang tercela adalah berlebihan di dalamnya hingga menimbulkan penyimpangan dari syariat.

Tanggapan keras Imam Al-Ghazali tentang pernyataan kekekalan alam yang diyakini oleh sebagian filsuf muslim.

زعموا أنّ العالم قديمٌ لا أوّل له، وأنّه صادرٌ عن الله صدور النور عن الشمس، لا عن إرادةٍ واختيار

Artinya : Mereka (para filsuf) beranggapan bahwa alam ini qadīm (kekal), tidak memiliki permulaan, dan bahwa ia memancar dari Tuhan sebagaimana cahaya memancar dari matahari bukan karena kehendak dan pilihan.

Dalam kaitannya dengan hukum kausalitas, Imam Al-Ghazali telah bmenjelaskan berikut ini.

الاحتراق عند ملامسة النار للقطن ليس ضروريًّا، بل هو من عادات الله تعالى التي أجراها في خلقه، إذ ليس في الوجود إلا الله وحده الفاعل على الحقيقة.

Artinya : Terbakarnya kapas ketika bersentuhan dengan api bukanlah sesuatu yang niscaya, melainkan kebiasaan yang ditetapkan Allah dalam ciptaan-Nya. Tiada yang benar-benar berbuat di alam ini selain Allah semata.

Imam Al-Ghazali pun sangat menyesali pandangan filosofis pendahulunya tentang pengetahuan Tuhan terhadap hal partikular atau juziyat ( bagian-bagian kecil hingga terkecil).

زعموا أنّ الله يعلم الكليات دون الجزئيات، وهذا كفرٌ صريح، إذ كيف يُعقل أن يجهل الخالقُ أفعال المخلوقين؟

Artinya : Mereka beranggapan bahwa Allah mengetahui hal-hal universal tetapi tidak mengetahui hal-hal partikular; dan ini adalah kekufuran yang nyata. Bagaimana mungkin Sang Pencipta tidak mengetahui perbuatan makhluk-Nya?.

Bahkan, ada pandangan filsuf muslim sebelumnya yang menyatakan secara gamblang pengingkaran teologis atas kebangkitan jasmani ( bi’tsah ) di akhirat, pasca kehidupan di dunia.

أنكروا البعث الجسماني، وقالوا إنّ المعاد روحانيٌّ فقط، وهذا مخالفٌ لصريح الشرع، فإنّ النصوص دلّت على إعادة الأجسام والأرواح جميعًا.

Artinya : Mereka menolak kebangkitan jasmani dan mengatakan bahwa kebangkitan hanyalah rohani. Ini bertentangan dengan nash syariat yang dengan jelas menunjukkan bahwa tubuh dan jiwa akan dibangkitkan bersama.

Diktum pamungkas dari Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Tahaffut al-Falasifah terhadap pandangan teologis dan metafisis yang justru mereduki ajaran IsIam yang dikuatkan oleh dalil, bahwa beliau Imam Al-Ghazali telah menyatakan kesesatan dan kerancuan teologis yang telah diyakini oleh filsuf sebelumnya.

فقد تبيّن أن هؤلاء الفلاسفة ضلّوا في مسائل كثيرة، وكفروا في ثلاثٍ منها، فوجب التحذير منهم ومن كتبهم.

Artinya : telah jelas bahwa para filsuf ini telah sesat dalam banyak persoalan, dan telah kafir dalam tiga di antaranya. Maka wajiblah memperingatkan manusia dari mereka dan dari kitab-kitab mereka.

Penggalan-penggalan diktum Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Tahaffut al-Falasifah adalah babak baru perlawanan Imam Al-Ghazali terhadap Hellenisme yang menjadi pakem peradaban Dinasti Abbasiyah, terutama mendapat momentumnya ketika Abbasiyah mengelaborasi Filsafat Yunani dengan rasionalitas Islam yang diinisiasi oleh kelompok Muktazilah.

Serang 20 Oktober 2025

Oleh: Hamdan Suhaemi

ShareTweetShare
Previous Post

Abuya Muhtadi dan KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Menjadi Mustafad JATMAN Banten

Next Post

Pesantren Era Post Modernisme

Related Posts

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
54

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
64

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
140

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
30

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
76

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
126

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
59

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
253

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
239

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
82
Next Post

Pesantren Era Post Modernisme

Paling Banyak Dilihat

Berita

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

by Admin
5 Juni 2026
36

بقلم عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي (رئيس لجنة الفتوى في مجلس علماء اندونيسيا في محافظة بنتن)کتاب الروض الجلي في...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.1k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25