• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Fanatisme Delusi Para Muhibbin Habaib Di Indonesia

by Admin
5 Maret 2024
in Opini, Santri
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Keturunan Nabi Muhammad SAW, memiliki posisi istimewa dalam Islam. Pengikut mereka, menunjukkan kesetiaan dan penghormatan luar biasa. Namun, beberapa menunjukkan perilaku fanatik yang mendekati delusi.

Narasi diskursus tentang keshahihan nasab klan Ba’alwi (habaib)  di Indonesia, seperti yang diusung dalam tesis KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, menyoroti perbedaan antara keyakinan dan fakta yang dialami dalam realitas sehari-hari. Para pengikut muhibbin klan Ba’alwi cenderung sulit untuk menerima fakta yang disajikan, terutama jika hal tersebut bertentangan dengan keyakinan mereka selama ini.

Tesis KH Imaduddin Utsman Al-Bantani membawa perdebatan tentang validitas nasab klan Ba’alwi, yang selama ini diyakini sebagai keturunan Nabi. Meskipun telah menjadi muhibbin habaib dan memiliki keyakinan kuat akan nasab mereka yang mulia, namun kemunculan tesis ini Jeetbuzz menghadirkan tantangan baru. Tidak adanya konfirmasi ilmiah secara tegas mengenai status nasab habaib sebagai cucu Nabi menjadi pertanyaan kritis yang memicu perdebatan dalam komunitas tersebut.

Diskursus ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara keyakinan spiritual dan pengetahuan ilmiah. Meskipun keyakinan religius merupakan bagian integral dari identitas seseorang, namun pemahaman yang lebih mendalam dan kritis terhadap fakta-fakta historis dan ilmiah juga diperlukan. Perdebatan mengenai keshahihan nasab habaib Ba’alwi menjadi sebuah refleksi tentang kompleksitas hubungan antara keyakinan agama dan pemahaman rasional dalam masyarakat. Narasi ilmiah ini mengeksplorasi fenomena ini dari sudut pandang psikologi dan sosiologi.

Faktor Psikologis

Beberapa faktor psikologis dapat berkontribusi pada fanatisme delusi Muhibbin Habaib:

  1. Kebutuhan akan kepastian dan rasa aman: Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, Habaib menawarkan rasa aman dan kepastian melalui koneksi dengan Nabi Muhammad.
  2. Keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok istimewa: Mengidentifikasi diri sebagai Muhibbin Habaib dapat memberikan rasa belonging dan eksklusivitas.
  3. Penghormatan terhadap otoritas: Habaib, sebelum diskursus nasab ini mencuat,  dianggap sebagai figur otoritas yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan religius yang superior.
  4. Keterikatan emosional: Pengalaman spiritual yang intens dalam acara keagamaan atau interaksi dengan Habaib dapat memicu keterikatan emosional yang kuat.


Faktor Sosiologis:

Baca Juga

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Isra Mi’raj di Pesantren Sidadung: Spirit Santri Putri Menjemput Cahaya dan Amanah Peradaban

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Al-Jawi Asy-Syafi’i Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Fase Akhir Bung Karno dan Kedekatannya dengan Ulama NU (1960–1967)

Faktor sosiologis juga berperan:

  1. Stratifikasi sosial: Di beberapa komunitas, sebelum terbongkarnya nasab mereka,  Habaib memiliki status sosial yang tinggi. Menjadi Muhibbin Habaib dapat meningkatkan status sosial individu.
  2. Kurangnya pendidikan: Kurangnya pengetahuan agama dan kritis dapat membuat individu lebih rentan terhadap pengaruh dan ideologi.
  3. Pengaruh media sosial: Media sosial dapat memperkuat echo chamber dan menyebarkan informasi yang salah, memperkuat keyakinan delusi.


Dampak Fanatisme Delusi

Fanatisme delusi dapat memiliki dampak negatif pada individu dan masyarakat:

  1. Penurunan pemikiran kritis: Pengikut Habaib dengan delusi mungkin tidak mampu mempertanyakan keyakinan mereka secara rasional.
  2. Kecenderungan pada perilaku ekstrem: Delusi dapat mendorong tindakan ekstrem seperti kekerasan atau intoleransi terhadap kelompok lain.
  3. Ketegangan sosial: Fanatisme berlebihan dapat menyebabkan ketegangan dan konflik antar kelompok dalam masyarakat.


Kesimpulan

Fanatisme delusi Muhibbin Habaib adalah fenomena kompleks dengan faktor psikologis dan sosiologis yang saling terkait. Fenomena ini dapat memiliki dampak negatif pada individu dan masyarakat. Diperlukan upaya untuk meningkatkan pendidikan, mempromosikan pemikiran kritis, dan memerangi informasi yang salah untuk mengurangi dampak negatif fanatisme.

Catatan kaki :

  1. Pada tahun 1898, Mufti Batavia, utsman Bin Yahya,  menantu dari Syaikh Abdurrahman Al-Mishri dan guru dari Hm Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi alias Habib Kwitang, ditunjuk oleh pemerintah kolonial, diminta untuk menyusun doa khusus untuk pelantikan Ratu Belanda Wilhelmina. Doa tersebut kemudian dibacakan di Masjid Pekojan pada 2 September 1898 setelah salat Jumat. Meskipun Mufti Batavia dianggap (waktu itu) sebagai keturunan Nabi, dia menunjukkan kerjasama dan penghormatan kepada pemerintah kolonial dengan membuat doa tersebut.

    Kisah ini mengingatkan bahwa tidak ada kelompok yang terbebas dari pergumulan dengan kekuasaan, dan dinamika dalam pergumulan tersebut sering kali kompleks. Tindakan Mufti Batavia menegaskan bahwa dalam sejarah, sikap terhadap pemerintah kolonial tidak selalu hitam-putih, dan bisa jadi melibatkan kooperasi yang tergantung pada konteks dan dinamika politik pada waktu tersebut.
  2. Sejak kemunculan Rizieq Shihab dengan FPI-nya pasca lengsernya Suharto pada Mei 1998, terjadi pergulatan internal di tubuh klan Ba Alwy. Popularitas dan penerimaan Rizieq Shihab di kalangan ba Alwy terus meningkat seiring dengan partisipasi politik FPI yang semakin meluas.
  3. FPI, awalnya dikenal sebagai pelaku aksi sweeping warung remang-remang, berkembang menjadi salah satu organisasi massa yang turut berperan dalam sejumlah peristiwa sosial politik. Bersama dengan elemen-elemen Islam kanan lainnya seperti HTI, Laskar Jihad, dan Majelis Mujahidin Indonesia, FPI terlibat dalam berbagai peristiwa, termasuk kerusuhan rasial di Jakarta Pusat pada 1998, perusakan masjid Ahmadiyah, penyerangan terhadap AKBB di Monas pada 2008, dan kegiatan sukarelawan kemanusiaan saat bencana tsunami di Aceh pada 2004.
  4. Ketika kasus “Surat Al-Maidah” meledak pada 2016 dan mengakibatkan penjara bagi Ahok, serta keberhasilan Anies Baswedan – Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI 2017, serta kampanye untuk kemenangan Prabowo – Sandi pada Pilpres 2019, nama Rizieq Shihab dan FPI semakin berkibar.
  5. Dengan berbagai operasi dan investasi dalam aksi sosial politik, mereka berhasil merombak karakter dan praksis sosio-religi baAlwy dari tasawuf yang damai, toleran, pasif, dan apolitis, menjadi aktivisme politik yang konfrontatif dan sarat konflik.

Penulis: AW Kertapati

Tags: ba alawiba alawi rungkadBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan RasulullahKRT. FAQIH WIRAHADININGRATmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsunasab rungkadpemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahya
ShareTweetShare
Previous Post

Mengenal Hasil Tes DNA Ba’Alwi

Next Post

Mukernas Ke-1 Perjuangan Walisongo Indonesia (PWI) Targetkan 1 Juta Anggota

Related Posts

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

23 Januari 2026
107

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

22 Januari 2026
81

Isra Mi’raj di Pesantren Sidadung: Spirit Santri Putri Menjemput Cahaya dan Amanah Peradaban

19 Januari 2026
49

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Al-Jawi Asy-Syafi’i Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

10 Januari 2026
181

Fase Akhir Bung Karno dan Kedekatannya dengan Ulama NU (1960–1967)

29 Desember 2025
70

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Ahmad Bin Hasan Al-Athas Ba’Alwi: Untuk Rumail Abbas

22 Desember 2025
299

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Klan Habib Ba’Alwi

19 Desember 2025
364

Indonesia Milik Bangsa Nusantara

14 Desember 2025
82

اَلشَّخْصِيَّاتُ الوَهْمِيَّةُ المذكورة في تاريخ حضرموت

10 Desember 2025
199

Rumail, Ustad Ajir, Taufik Assegaf dan Syekh Zen bin Sumet

8 Desember 2025
423
Next Post

Mukernas Ke-1 Perjuangan Walisongo Indonesia (PWI) Targetkan 1 Juta Anggota

Paling Banyak Dilihat

Berita

ABUYA MUHTADI TEGASKAN: “GAK ADA HABIB YANG CUCU NABI”

by Admin
23 Januari 2026
299

Cidahu, Pandeglang – Dalam sebuah video yang ditayangkan oleh Arah 9 Channel, pada 20 Januari 2026, tampak Abuya Muhtadi menerima...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

ABUYA MUHTADI TEGASKAN: “GAK ADA HABIB YANG CUCU NABI”

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Sebelas Kemungkinan Mengapa DNA Bani Hasyim Ada Yang Berhaplogrup Bukan J1

21 Januri 2026 Jagat Tangerang Akan Gelar Haul Akbar ke-345 Raden Aria Wangsakara Sang Pahlawan Nasional

Isra Mi’raj di Pesantren Sidadung: Spirit Santri Putri Menjemput Cahaya dan Amanah Peradaban

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.4k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.7k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.1k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25