• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home KH Imaduddin al Bantani

Imam Mahdi, Ba Alawi Dan Klasifikasi Ulama Pendukungnya

by Admin
4 Oktober 2023
in KH Imaduddin al Bantani, Kisah, Kitab, Manuskrip, Tokoh, Ulama
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Keturunan Nabi Muhammad Saw akan lestari sampai hari kiamat. Dalam teologi Ahlussunah Waljama’ah, keturunan Nabi Muhammad Saw adalah mata-rantai penyambung nutfah nubuwah (benih kenabian) untuk Imam Mahdi. Menurut Ahlisunnah Imam Mahdi adalah keturunan Nabi Muhammad Saw dari Sayyidatuna Fatimah RA. Ketika kebatilan memenuhi bumi; Dajjal keluar dengan kekuatannya dan tipu muslihatnya; Ya’juj dan Ma’juj menyertainya, Allah menurunkan Imam Mahdi yang akan dilahirkan diakhir zaman untuk menegakan keadilan dan menghancurkan kebatilan. Ia adalah Satria Piningit dan Ratu Adil yang akan menguasai bumi selama tujuh tahun.

Kedatangannya kemudian membawa bumi menjadi berkah; kebaikan-kebaikan menguasai; harta-benda melimpah ruwah; hujan turun; pohon-pohon menjadi rindang; hewan-hewan menjadi sehat. Ia seorang Syarif keturunan Nabi Muhammad Saw; Namanya Muhammad bin Abdullah gelarnya adalah al-Mahdi. Akhlaknya mirip akhlak Rasulullah; Wajahnya tampan; hidungnya indah; rambutnya menjulai sampai sebahu; ia menjadi imam shalat subuh ketika Nabi Isa AS menjadi makmum. Tentaranya membawa panji hitam dari timur; peperangan antara kebenaran dan kebatilan berkecamuk, sampai Nabi Isa AS membunuh Dajjal.

Itulah kisah al-Mahdi sang Khalifatullah fil ardi.

Dengan demikian jelaslah, bahwa keturunan Nabi Muhammad Saw akan senantiasa ada sampai hari kiamat. Imam Mahdi akan berasal dari keturunannya. Menurut Syi’ah, ia berasal dari keturunan Husain melalui Musa al-kadzim, dan ia telah lahir lalu menghilang, dan akan kembali muncul di akhir zaman. Menurut Sunni, ia belum lahir. Ia akan lahir dari keturunan Nabi Muhammad Saw. Entah dari keturunan yang mana. Bisa jadi dari keturunan Musa al-kadzim juga melalui keturunannya di Nusantara yaitu para Wali Songo. Yang jelas, ia berasal dari keturunan asli bukan hanya mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw tanpa bukti. Maka menjaga nasab Nabi Muhammad Saw jangan sampai masuk ke dalamnya para pemalsu harus menjadi perhatian. Sehingga kelak akan dapat dihindari dari suatu klan pemalsu nasab Nabi yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Padahal nasabnya kepada Nabi Muhammad Saw terbukti palsu.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami al-berkata:

ينبغي لكل احد ان يكون له غيرة في هذا النسب الشريف وضبطه حتى لا ينتسب اليه صلى الله عليه وسلم احد الا بحق (الصواعق المحرقة:2/537(

“Seyogyanya bagi setiap orang mempunyai kecemburuan terhadap nasab mulia Nabi Muhammad Saw dan mendhobitnya (memeriksanya) sehingga seseorang tidak menisbahkan diri kepada (nasab) Nabi Muhammad Saw kecuali dengan sebenarnya. (Ash-Showa’iq al Muhriqoh: 2/537)”

Haram bagi para ulama untuk mendiamkan terjadinya pengakuan nasab seseorang atau sekelompok manusia yang menisbahkan diri sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw dengan dusta, karena yang demikian itu termasuk istihqor bi haqqi al mustofa (merendahkan hak Nabi Muhammad Saw)

Membongkar nasab-nasab palsu kepada nabi Muhammad Saw telah dilakukan ulama-ulama masa lalu. Seperti yang dilakukan Ibnu Hazm al-Andalusi dan Imam Tajuddin As-Subki dalam membongkar kepalsuan nasab Bani Ubaid yang mengaku sebagai keturunan nabi Muhammad Saw.

Begitu pula yang dilakukan Al-hakim An-Naisaburi yang membongkar kepalsuan nasab Abu Bakar ar-Razi yang mengaku keturunan Muhammad bin Ayyub al-Bajali; begitu pula dilakukan oleh Adz-Dzhabi yang membongkar kepalsuan nasab Ibnu Dihyah al-Andalusi; demikian juga Ibnu hajar al-Asqolani yang membongkar kepalsuan nasab Syekh Abu Bakar al-Qumni. (Ushulu wa Qowaid Fi Kasfi Mudda’I al-Syaraf: 11).

Wajib bagi ulama yang mengetahui batalnya nasab seseorang yang menisbahkan dirinya kepada nasab Nabi Muhammad Saw untuk menyebarkannya kepada orang lain.

Syekh Ibrahim bin Qosim berkata:

ولا يجوز للعالم كتمان علمه في هذا الباب فامانة العلم والكشف عن اختلاط الانساب من الامر بالمعروف.

“Dan tidak boleh bagi seorang alim menyembunyikan ilmunya dalam bab ini (nasab), maka amanah dalam ilmu dan membongkar tercampurnya nasab adalah bagian dari amar ma’ruf dan nahi munkar” (Ushulu wa Qowaid Fi Kasfi Mudda’I al-Syaraf: 13).

Dalam menghadapi polemic nasab Ba Alawi ini, sikap ulama Indonesia bermacam-macam tergantung kemampuan ilmiyah dan keinginan mencari kebenaran yang sesungguhnya. Serta ditambah dengan ada atau tidak adanya hubungan subjektifitas dengan Ba Alawi, seperti hubungan persahabatan, ke-kolega-an, ormas, pendidikan dsb. Bagi yang tidak mempunyai hubungan subjektifitas, ada di antara mereka yang ketika mendapatkan informasi adanya keterputusan nasab Ba Alawi berdasarkan penelitian penulis, mereka mengadakan verifikasi secara mandiri, kemudian mempunyai kesimpulan yang sama dengan penulis dan mendukung penulis. Ada diantara mereka yang mempunyai kesimpulan yang sama dengan penulis kemudian memilih sikap menyimpannya untuk diri sendiri. Adapula yang tidak menganggap penting apakah Ba Alawi ini benar keturunan Nabi atau bukan.

Bagi ulama yang memiliki hubungan subjektifitas, mereka inilah yang bersuara keras menentang kesimpulan penulis. Ada di antara mereka yang menyampaikan dalil dari kitab ulama, misalnya bahwa Imam Ibnu hajar, Imam Sakhawi, dan Syekh An-Nabhani mencantumkan nasab Ba Alawi dalam kitabnya tanpa mau memverifikasi di abad berapa mereka hidup, lalu dari mana mereka mendapatkan referensinya. Mereka belum memahami mahallunniza’ dalam permasalahan, namun karena subjektifitas ini kadang kala mereka membabi buta dalam membela nasab Ba Alawi. Mereka tidak memahami bahwa yang penulis permasalahkan adalah Ubaidillah yang hidup di abad 4 yang tidak ada satu kitabpun sampai abad Sembilan yang menyebut ia sebagai anak Ahmad bin Isa. Sementara ulama yang disebutkan itu, seperti Ibnu hajar, ia hidup diabad ke 10 hijriah. Bagaimana ia mendapatkan berita bahwa ubaidillah adalah anak Ahmad bin Isa. Begitu juga Imam As-Sakhaw, Ia ulama yang hidup di abad 10 hijriah. Begitu juga syekh al-Nabhani yang hidup di abad 14 Hiriah. Semua ulama yang menyebutkan nasab Ba Alawi itu hidup setelah abad ke-9 Hiriah, sementara Ubaidillah hidup di abad 4, dan tidak ada ulama nasab yang menyebutkannya sebagai anak Ahmad bin Isa.

Adapula pendukung nasab Ba Alawi yang sudah memahami bahwa memang benar nasab Ba Alawi tidak disebutkan dalam kitab-kitab nasab abad ke empat sampai abad Sembilan, lalu ia menyerang teori standar kitab sezaman. Menurut mereka ulama nasab tidak mensaratkan sebuah nasab harus di catat dalam kitab sezaman atau yang mendekatinya. Menurut mereka ketika nasab itu hari ini ditulis dalam kitab, maka nasab itu sahih. Pernyataan ini cacat logika, karena akan membuka celah banyaknya pengaku nasab yang menisbahkan diri kepada nasab mulia Nabi Muhammad Saw.

Adapula dari mereka yang membuat bermacam framing agar public melupakan substansi. Missal dengan mengatakan kajian penulis hanya menjiplak dari Syekh Murad Syukri dan lainnya yang ada di internet. Jika benar menjiplak dari Syaikh Murad Syukri tentu mereka akan mudah menjawab dan mematahkan tesis penulis, karena tulisan Syekh Murad Syukri sudah dibantah oleh para pendukung Ba Alawi. Tentu Syekh Murad Syukri dan lainnya sebagai ulama terdahulu, mempunyai peran terhadap tesis penulis, tetapi yang penulis suguhkan hari ini jauh lebih konprehensif dan mendetail dari ulama-ulama sebelumnya yang membatalkan nasab Ba Alawi. Bahkan penulis telah banyak menemukan sisi-sisi yang belum diketemukan oleh pembatal nasab Ba Alawi sebelumnya. Dengan semua itu, penulis meyakini batalnya nasab Ba Alawi secara ilmiyah dengan keyakinan yang sangat meyakinkan.

Penulis Imaduddin Utsman Al-Bantani
Editor: Didin Syahbudin

Tags: ba alawiBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan Rasulullahmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsupemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahya
ShareTweetShare
Previous Post

Kitab Sezaman: Ust. Hanif Alatas dan Ust. Wafi Salah Memahami Kitab

Next Post

Ba Alawi, Antara Dongeng Dan Bukti (Lelucon Yang Tiada Akhir Dari Para Badut Peradaban)

Related Posts

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

29 Juli 2026
53

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
221

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
157

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

5 Juni 2026
159

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

4 Juni 2026
92

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

4 Juni 2026
115

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

3 Juni 2026
95

Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern

31 Mei 2026
388

Warga NU Wajib menyayangi 86 Marga Keturunan Nabi Muhammad SAW Ini: Laporan Untuk K.H. Miftahul Akhyar

28 Mei 2026
522

Cara Sederhana Memahami Pohon Genetik Y-DNA Bani Hasyim

21 Mei 2026
244
Next Post

Ba Alawi, Antara Dongeng Dan Bukti (Lelucon Yang Tiada Akhir Dari Para Badut Peradaban)

Paling Banyak Dilihat

Berita

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

by Admin
29 Juli 2026
53

Buku ini berjudul lengkap: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia (Kronik Dialektika Ilmiyah Terbongkarnya Kepalsuan Nasab Habaib Kepada Nabi Muhammad...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

Tablig Akbar PWI-LS di Pemalang Dipadati Puluhan Ribu Jemaah, Rhoma Irama Serukan Pentingnya Meluruskan Sejarah

Pesantren Nahdlatul Ulum Sabet Seluruh Juara Kitab Kasyifatussaja pada MTQ ke-55 Kabupaten Serang 2026

Gemilang di MTQ Banten, Santri Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Borong Juara Pertama Cabang Lomba Kitab Kuning

PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.5k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.5k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25