• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Berita

Beberapa Catatan Diskusi Banten

by Admin
30 Agustus 2023
in Berita, KH Imaduddin al Bantani, Kitab, Manuskrip, Tokoh
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

Tablig Akbar PWI-LS di Pemalang Dipadati Puluhan Ribu Jemaah, Rhoma Irama Serukan Pentingnya Meluruskan Sejarah

Pesantren Nahdlatul Ulum Sabet Seluruh Juara Kitab Kasyifatussaja pada MTQ ke-55 Kabupaten Serang 2026

Al-Ustadz Wafi (selanjutnya disebut Wafi), mempertanyakan apakah ada dalil yang mengharuskan adanya kitab sezaman untuk kesahihan sebuah nasab, sedangkan para ahli nasab menyatakaan bahwa sebuah nasab bisa dikatakan sahih, apabila sudah mendapat legitimasi seorang nassabah?

Begini, kebenaran itu sederhana, adalah ia yang masuk akal dan dapat diterima semua orang. Tidak bisa bagusnya sebuah sepeda motor hanya dengan kesepakatan para dealer motor, ia juga harus bagus menurut logika konsumen. Ada sepeda motor bekas, lalu sepakat para dealer motor mengatakan, bahwa motor ini bagus, apakah motor itu memang bagus? Harus diuji terlebih dahulu oleh konsumen, agar bagusnya sepeda motor itu bukan hanya menurut kalangan dealer motor, tetapi juga oleh konsumen bahkan semua orang.

ketika diuji konsumen ternyata suara mesinnya jelek, tentu logika konsumen akan mengatakan ini sepeda motor jelek. Kata sang dealer “motor ini bagus, kalau tidak percaya tanyakan dealer sebelah, pasti menjawab motor ini bagus”, Kata sang konsumen dalam hati “ya jelas kalian saling menjaga, wong kalian saling tahu kualitas barang kalian masing-masing ada masalah, kalau yang lain mengatakan sepeda motor ini jelek, maka anda juga akan membuka kejelekan barang milik dealer lain itu”.

Begitu pula nasab. Tidak bisa nasab itu sahih hanya karena kesepakatan ahli nasab. Kata Ibnu Mas’ud, “para ahli nasab itu pendusta”. Syekh Mahdi Roja’I mengatakan: nasab Ba Alawi sahih. Ini iklan. Lalu kita uji. Alasan disebut sahihnya apa? “pokoknya paling sahih!”; dalilnya mana? “Pokoknya sahih”. Tidak bisa. Kebenaran harus dapat diterima semua orang. Kok bisa, Syekh Mahdi Roja’I mengatakan Ubaidillah anak Ahmad bin Isa, sementara ulama yang dekat zamannya dengan Ahmad bin Isa mengatakan Ahmad tidak punya anak bernama Ubaidillah. Sanadnya mana? Kitabnya mana? Kecuali kalau anak lainnya sama-sama tidak dicatat sejak dahulu kala, mungkin bisa diterima. Lah wong anak lainnya sudah dicatat semua, ada tiga, Muhammad, Ali dan Husain, lalu 550 tahun berikutnya baru ada nama Ubaidillah ditambahkan. Logika awam saja tidak akan menerima. Ini bikin-bikin. Ini pasti palsu.

Kata Wafi, penulis tidak jujur ketika mengutip dari google, tentang sarat kasahihan nasab harus tercatat dikitab nasab, tapi penulis tidak mengambil kelanjutan narasi berikutnya, yaitu selama dua abad. Ya jelas harus dihilangkan. Karena tidak masuk akal, masa iya nasab yang sudah 11 abad, kesahihannya cukup selama dua abad kebelakang. Bagaimana jika ditemukan bukti 500 tahun lalu nasab ini hanya nyantol? Jelas ketercatatan dua abad itu tidak ada artinya. Dalam ilmu fikih, ketercatatan dua abad itu disebut “qarinah”, ciri bahwa sebelumnya tercatat, tetapi, jika memang ada bukti sebaliknya sebelum dua abad itu, maka qorinah itu gugur. Nasab para habib ini sudah tercatat dua ratus tahun lalu, bahkan lima ratus tahun, apakah itu menunjukan sahih? Tidak. Kenapa? Karena ada bukti bahwa nasabnya baru ada abad 9 Hijriah, sebelumnya tidak ada, dan banyak bukti kuat nasab ini memang baru diciptakan keyakinannya di abad itu.

Wafi juga menyatakan: penulis mengambil pendapat Syekh Mahdi Roja’i dalam satu hal, namun hal lain menolaknya. Betul, karena penulis mengambil pendapat orang hanya yang benar menurut logika. Jika kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran syar’I, maka ukurannya adalah logika syari’at yaitu Al-Qur’an, Hadits, ‘ijma dan qiyas. Jika kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran umum, maka harus tidak bertabrakan dengan logika kebenaran secara umum pula. Semua orang, kata Imam Malik, bisa diterima dan bisa juga ditolak, kecuali Nabi Muhammad Saw. Para ahli nasab membuat kaidah antar mereka, siapapun bisa menguji kaidah itu, jika ada penyimpangan harus diluruskan, apalagi banyak ahli nasab yang bukan seorang fakih, dimana istilah fikih banyak diadopsi namun kemudian maknanya diinterpretasi sendiri dikalangan mereka, seperti tentang syuhro dan istifadloh.

Elanor Rosevelt berkata: orang besar bicara ide; orang biasa bicara peristiwa; dan orang kecil bicara orang lain. Kita juga bisa mengatakan: orang besar membuat kaidah; orang biasa menganalisa kaidah; orang kecil berpegang teguh dengan kaidah orang lain.

Yang dilakukan orang kecil adalah mempertengkarkan kaidah-kaidah yang dibuat orang lain, lalu berhenti sampai disitu, tidak menganalisanya dengan karunia besar akal yang Allah anugrahkan kepada semua orang. Masa sudah berganti, umat Islam Indonesia semakin cerdas.PBNU mencanangkan “Fikih Peradaban”, kita verivikasi setiap tafsir yang lemah untuk dibawa ketengah-tengah pertengkaran pikiran, kita hadapkan dengan dalil-dalil agama yang sahih, sehingga mencapat titik kebenarannya yang hakiki.

Dalam kitab I’anatul Akhyar yang dibedah kemarin di Banten misalnya (walaupun tidak pernah ada konfirmasi sebelumnya, karena konfirmasi yang ada bukan membedah kitab tetapi membedah nasab Ba Alawi yang mardud dan munqoti’), banyak pikiran-pikiran yang lebih layak dipertengkarkan, misalnya tentang kesimpulan penulis bahwa tidak ada dalil agama yang secara khusus mewajibkan mencintai keturunan Nabi Muhammad Saw, yang ada adalah kewajiban mencintai ahli bait, dan keturunan Nabi itu tidak termasuk ahli bait.

Kesimpulan itu, berbeda dengan salah satu tafsir agama yang selama ini diyakini dan diiklankan sebagian orang yang mengaku keturunan Nabi dalam setiap mimbar. Seperti itulah mestinya pertengkaran-pertengkaran orang besar, bukan mempertengkarakan “yu’rafu” dan “tu’rafu”, alif yang ditulis atau seharusnya tidak ditulis, “fi” yang seharusnya disambung dengan “ma” atau tidak, sehingga lalu dari kesalahan penulisan huruf-huruf itu lalu dihitung puluhan kesalahannya, dan kitab ini ditolak karena salah nulis alif, sementara pikiran-pikirannya tidak dipertengkarkan. Atau mungkin, pikiran-pikiran itu akan dipertengkarkan dalam kitab yang katanya sudah ditulis. Mudah-mudahan saja kitabnya segera dirilis dan disebar, sehingga kita bisa melihat “pikiran-pikiran orang besar” yang mencerahkan peradaban. Sementara ini kita hanya melihat jilid kitabnya yang sudah disebar tanpa isi.

Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani
Editor: Didin Syahbudin

Tags: ba alawiBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantradiskusi bantenDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan Rasulullahmakammakam palsumanuskripmunaqosah bantenNasabnasab palsupemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahyawalisongo
ShareTweetShare
Previous Post

Di Banten Hanif Alatas Menganulir Ali Al-Sakran

Next Post

Nasab Ba Alawi Tertolak Kajian Pustaka Dan Tes DNA

Related Posts

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

17 Agustus 2026
44

جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

1 Agustus 2026
363

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

29 Juli 2026
379

Tablig Akbar PWI-LS di Pemalang Dipadati Puluhan Ribu Jemaah, Rhoma Irama Serukan Pentingnya Meluruskan Sejarah

29 Juli 2026
79

Pesantren Nahdlatul Ulum Sabet Seluruh Juara Kitab Kasyifatussaja pada MTQ ke-55 Kabupaten Serang 2026

28 Juli 2026
47

Gemilang di MTQ Banten, Santri Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Borong Juara Pertama Cabang Lomba Kitab Kuning

23 Juli 2026
40

PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

21 Juli 2026
165

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
304

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
196

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

5 Juni 2026
138
Next Post

Nasab Ba Alawi Tertolak Kajian Pustaka Dan Tes DNA

Paling Banyak Dilihat

Opini

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

by Admin
19 Agustus 2026
28

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Tahun 2021, saya ingat betul karena saat itu masa Covid-19 dan saya sedang nyervis motor,...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.7k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.6k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25